MENSYUKURI NI’MAT UMUR 40 TAHUN

Oleh: Hartiwi— Kondisi yang tak pernah terlintas dalam benak saya, yang memiliki kesenangan berolahraga dimana dengan hobi tersebut berharap dapat andil dalam menjaga kesehatan raga ini. Tetapi ketika takdir berkata lain, siapa yang mampu melawan takdir ilahi? Tepatnya di penghujung  tahun 2020 dalalm usia 43 tahun Allah menunjukkan kuasa-Nya melalui perantara dokter yang memberikan informasi bahwa ada sel yang hidup dalam raga ini. Dokter  menyebutnya dengan sel kanker ganas. Saat mendapat informasi dari dokter atas keberadaan sel tersebut, sempat membuat rasa pesimis dalam diri ini, seakan semua akan berakhir waktu itu. Alhamdulillah Allah menempatkan saya di lingkungan orang-orang baik, sehingga saya selalu mendapatkan dukungan baik berupa doa, motivasi dan segala hal yang mendukung dalam upaya memperoleh kesembuhan. Read more

MENYAMBUT KEHIDUPAN SESUDAH MATI

Oleh: Hadi Mustamid

وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ۖ وَلَلدَّارُ ٱلْءَاخِرَةُ خَيْرٌ لِّلَّذِينَ يَتَّقُونَ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

 “Dan tidaklah kehidupan di dunia ini kecuali hanya sebagai permainan dan sendau gurau belaka. Dan sungguh  kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka apakah kamu tidak mau memikirnya?( QS.Al An’am [6]: 32)

Begitulah Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan sebuah  gambaran perumpamaan akan kehidupan antara dunia dan kehidupan akhirat. Gambaran tersebut bisa dijadikan sebuah  renungan dan  kesadaran bersama bahwasanya tujuan hidup yang sebenarnya adalah kehidupan akhirat, tempat kita kembali. Manusia itu bagaikan musafir yang sedang melakukan perjalanan jauh asal manusia kampung akhirat pergi dan singgah ke alam dunia dan selanjutnya transit ke alam barzah hingga kita sampai dan kembali ke  kampung  akhirat.  Kehidupan dunia ini pada hakikatnya tempat singgah sebentar untuk mencari bekal sebelum melanjutkan perjalanan pulang. 

Persiapan bekal di dunia sangat menentukan keadaan  dalam perjalanan hingga sampai ke kampung akhirat.Bagi yang tidak memiliki cukup bekal maka dia akan menderita  susah dan kepayahan. Bekal dalam menghadapi kematian dan hari pembalasan bukan harta benda, bukan juga   jabatan atau kedudukan dan ketenaran tapi shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat  dan anak yang sholih yang mau  mendoakan orang tua, ya hanya Amal itu yang akan menyertai dan mebersamai, menemani  mulai dari ketika masih hidup sampai ketika mati  bahkan akan mengikuti sampai di alam barzah hingga kelak di bangkitkan ketika datangnya hari kiamat tiba.Harta benda dan kekayaan  kedudukan jabatan ketenaran akan sirna  bersama ketika telah tiada dan tidak berguna lagi.

Marilah kita melakukan refleksi dan mengoreksi  terhadap diri  sendiri sudahkah kita masuk dalam kriteria ketiga amalan tersebut ,bagaimanakah kita mengelola  memanfaatkan karunia rizki harta benda yang kita miliki sudah pada jalur yang  benar,bagai mana dengan anugrah ilmu yang kita miliki sudah memberikan manfaat buat orang di sekitarkita, bagaimana dengan amanah anak anak yang di titipkan kepada kita sudahkan di berikan pendidikan tentang , adab ,akhlak yang baik pengetahuan yang tepat untuk di kenalkan mengenai agama tauhit yang benar tentang  agama Islam ,tentang ke Esaan Alloh dan  di kenalkan pada  sosok panutan pembawa risalah Islamiyah Rasul Muhammad  utusan Alloh.

Kalua belum marilah kita mulai dari lingkungan terkecil keluarga kita semoga diridhoi Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kita berusaha untuk menjaga keluarga kita dari kerusakan dan dari siksa api neraka.

Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam QS Fatir ayat 37

وَهُمْ يَصْطَرِخُونَ فِيهَا رَبَّنَآ أَخْرِجْنَا نَعْمَلْ صَٰلِحًا غَيْرَ ٱلَّذِى كُنَّا نَعْمَلُ ۚ أَوَلَمْ نُعَمِّرْكُم مَّا يَتَذَكَّرُ فِيهِ مَن تَذَكَّرَ وَجَآءَكُمُ ٱلنَّذِيرُ ۖ فَذُوقُوا۟ فَمَا لِلظَّٰلِمِينَ مِن نَّصِيرٍ

Dan mereka berteriak di dalam neraka itu: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh berlainan dengan yang telah kami kerjakan”. Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun

Hendaklah tidak menyia-nyiakan dan untuk memanfaatkan akan ilmu harta benda kesempatan karunia  waktu  nikmat sempat dan nikmat sehat  atau dengan kata lain mengoptimalkan potensi yang ada dengan sebaik-baiknya   agar  tidak masuk golongan orang yang rugi, kalua kerugian di dunia bersifat sementara kalua di akhirat akan menderita selamanya.

Untuk itu hendaklah sebagai seorang muslim menjaga agar  tetap istiqomah  pada jalan yang lurus jalan yang diridhoi dengan  selalu memohon perlindungan  dan pertolongan  Allah dengan memperbanyak mengingat  Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengan memperbanyak  zikir , membaca beristighfar seraya mengharap  rahmat karunia dan kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala  dan bershalawat atas Baginda  Nabi Muhammad  Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam , yang kita harapkan syafaatnya kelak  di yaumul akhir agar di penghujung kehidupan kita diberi husnul khotimah.

 

Peran Orang Tua Terhadap Anak Dari Bahaya MedSos

Oleh: Imadi Sekarang memang sangat berbeda jauh dibanding dengan zaman dahulu. Pada zaman dahulu, banyak kegiatan maupun aktivitas yang dilakukan oleh banyak orang dengan cara alami dan seadanya. Banyak sekali perubahan dan perbedaan yang kita alami dan kita rasakan pada saat ini. Saat ini kita semua memasuki di era atau zaman yang serba canggih dan serba digital. Sebagai umat Islam yang hidup di dunia saat ini, mau tidak mau harus beradaptasi  dengan alur kehidupan perkembangan zaman yang berlangsung–Tentu saja dengan tetap memegang teguh rambu-rambu yang ada dalam agama Islam. Read more

Setitik Kebaikan

Oleh: FariyantoPernah mendengar istilah mengorbankan yang kecil untuk mendapatkan yang lebih besar? Dengan berbuat baik hal tersebut bisa saja terwujud.

Berbuat baik kepada orang lain, termasuk memberikan bantuan kepada orang lain merupakan cerminan seorang Muslim yang beriman dan bertakwa. Ketika ada orang yang sedang menghadapi kesusahan maka kita karena Allah Ta’ala semata-mata dianjurkan untuk membantu. Ketika ada saudara Muslim yang mengalami kesulitan ekonomi kita diajarkan untuk karena Allah Ta’ala semata-mata memberikan sedekah kepadanya. Tidaklah rugi membantu orang lain terlebih terhadap sesama muslim atau bahkan kepada kerabat terdekat kita karena Allah SWT melalui malaikat-Nya akan senantiasa mencatat kebaikan kita. Read more

Mengurai Benang Kusut

Oleh:  Diana Rahma Qadari — “Menyelesaikan masalah itu sama seperti ngudari benang bundet (mengurai benang kusut), ibaratnya benang bundet itu adalah masalahmu. Jika kamu ingin masalahmu selesai maka bersabarlah karena Allah Ta’ala semata-mata, maka perlahan dalam mengurainya. Jangan putus asa, terburu-buru dan kesal. Jika tidak pelan-pelan benangnya semakin kusut, jika tidak sabar benangnya bisa putus, jika semakin kesal akhire ora dadi opo-opo (akhirnya tidak jadi apa-apa). Lalu siapa yang rugi? Tentu saja kamu. tatapan Ibu begitu lekat kepada saya dan seperti biasa kalimat campurannya yang khas penuh penekanan memaksa saya untuk cam kan baik-baik kalimatnya. Ibu ketika menasehati bermacam-macam caranya mulai dengan nada alto hingga sopran dan apapun pilihan nada beliau saya tetap fans garis kerasnya, buktinya kalimatnya sering saya jadikan quotes dan tercatat rapih dalam notes pada ponsel saya. Ibu dengan pribadi sederhana tapi kalimatnya sangat istimewa dan rengkuhnya mampu meredakan letupan-letupan dalam pikiran dan perasaan saya.  Read more

Muhasabah Diri

Oleh: Tri Purnama

Berapa lama umur kita?, Berkahilah sisa umur hamba Ya Allah SWT. Akhir dalam kehidupan manusia hanyalah menjadi rahasia Allah SWT, tidak satupun manusia yang mengetahui kepastian waktu kematian kita. Sebelum kematian menjemput sudahkah kita terbiasa bermuhasabah diri? Read more

Mengingat Kematian

Oleh: Surya Utama

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۖ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Artinya: “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.”

Firman Allah SWT dalam surah Ali Imran ayat 185 di atas mengingatkan bahwa setiap makhluk bernyawa akan mengalami kematian, dan sebagai seorang Muslim yang beriman, kita diminta untuk mempersiapkan diri menghadapi akhirat dan mampu mengaplikasikan pesan ini menjadikan seseorang sebagai mukmin cerdas. Read more

“International Day of Solidarity of Palestine”, Sebuah Refleksi atas Nama Islam dan Kemanusiaan

Willi Ashadi

Dosen Prodi Hubungan Internasional

Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya

 

Muqoddimah

Sudah sepatutnya yang mengklaim dirinya manusia pasti akan bergejolak hati, jiwa dan raganya, apabila melihat seorang individu ataupun kelompok melakukan sesuatu yang zholim seperti menindas, menganiaya bahkan sampai membunuh orang orang dari kalangan anak anak, wanita dan orang tua. Ini merupakan Sunnatullah yang artinya bagi individu ataupun kelompok melihat hal sadis tersebut pasti akan mengutuk pelakunya. Bahkan si pelaku yang melakukan hal tersebut juga akan merasakan pergolakan hati dan pikiran bahwa yang dilakukan adalah salah. Inilah yang disebut dengan nurani kemanusiaan. Rasulullah SAW sudah menyatakan dalam hadisnya bahwa setiap orang terlahir didunia tercipta dengan memiliki hati nurani (fitrah), dan hati nurani (fitrah) manusia mengarah kepada kebaikan, bukan kejahatan. Read more

Sejarah Baru, Dosen Prodi Ilmu Komunikasi Raih Gelar Profesor Pertama di FPSB UII

Foto: Foto Bersama (Kiri) Plt. Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah V DIY, (Tengah) Prof. Masduki dan Prof. Hanafi Amrani, (Kanan) Fathul Wahid Selaku Rektor UII, Ketua Umum Pengurus Yayasan Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia

Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya mencatatkan sejarah baru sepanjang 28 tahun berdiri. FPSB UII kini resmi memiliki Guru Besar sekaligus Profesor pertama yaitu Prof. Dr. rer. .soc., Masduki, S.Ag., M.Si., M.A. , Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi sebagai Guru Besar dalam bidang Ilmu Media dan Jurnalisme, Setelah menerima surat keputusan (SK) kenaikan jabatan akademik Profesor yang berlangsung pada Senin (27/11/2023) bertempat di Ruang Sidang Datar Gedung Kuliah Umum Prof. Dr. Sardjito Lantai 2 Kampus Terpadu UII.

Rangkaian acara dibuka dengan pembacaan Al-Qur’an dan menyanyikan lagu kebangsaan serta Himne UII, Selanjutnya adalah pembacaan Surat Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia (Kemendikbudristek) tentang Kenaikan Jabatan Akademik Profesor. Kemudian sesi selanjutnya adalah serah terima Surat Keputusan Kemendikbudristek tentang kenaikan Jabatan Akademik Profesor, dari Taufiqurrahman, S.E. Selaku Kepala Bagian Umum Lembaga Layanan Dikti (LLDikti) Wilayah V Daerah Istimewa Yogyakarta  dan diteruskan dari Rektor UII kepada Dr.rer.soc. Masduki, S.Ag., M.Si.

Acara selanjutnya adalah Sambutan oleh Prof. Fathul Wahid, S.T., M.Sc., Ph.D selaku Rektor Universitas Islam Indonesia,  Sambutan oleh Prof. Drs. Allwar, M.Sc., Ph.D. selaku Ketua Umum Pengurus Yayasan Badan Wakaf UII serta Sambutan oleh Taufiqurrahman, S.E. selaku Plt. Kepala Bagian Umum LLDikti Wilayah V DIY.

Dalam sambutanya, Prof Fathul Wahid  menyampaikan bahwa pencapaian gelar Profesor yang diraih oleh Dosen UII ini adalah hasil investasi panen dari bibit yang ditanam puluhan tahun yang lalu serta berkat diadakanya program percepatan profesor dan lektor kepala. Beliau juga berharap program seperti ini dapat dikawal secara konsisten namun dengan tetap menjaga etika akademik tertinggi bukan sekedar ingin memperbanyak profesor dengan melanggar aturan.

Dalam sambutan ini beliau juga mengajak kepada para hadirin termasuk Dosen peraih gelar profesor baru untuk merespon dan mematangkan ide dalam refleksi lanjutan yaitu Scientific Freedom atau Freedom of Scientific, karena selama ini kita masih sangat kekurangan waktu dalam melakukan refleksi, hal ini berbeda dengan kebebasan akademik karena akademik lebih luas sedangkan scientific merupakan bagian dari kebebasan akademik, hal ini sangat penting karena dapat menjadi pondasi bagi para peneliti untuk menjelajahi Ide, mencari kebenaran dan berinovasi tanpa hambatan yang tidak perlu. Beliau menambahkan alasan mengapa perlu menjaga dan merawat scientific freedom antara lain karena dapat melahirkan ide-ide inovatif dan penemuan yang membawa kemajuan besar bagi manusia, selain itu juga dapat mendukung pertukaran ide dan pengetahuan antar ilmuwan dan ini dapat menghasilkan kerja kolaboratif untuk penemuan-penemuan bersama. Scientific freedom juga dapat mendorong pemikiran kritis karena ilmuwan memiliki kebebasan dalam mengeksplorasi ide dan tidak takut terhadap represi dan ancaman apapun.

Dalam Islam  sendiri, mengembangkan ilmu pengetahuan adalah perintah agama terutama ilmu yang mencerahkan dan dapat digunakan untuk meraih kesejahteraan seluruh manusia namun sebaliknya tidak boleh digunakan untuk mengeksploitasi sesama manusia. Dalam Scientific Freedom atau kebebasan scientific juga tetap ada batasan dan etika sehingga dapat terhindar dari potensi penyalahgunaan kebebasan, contohnya adalah ada ilmuwan yang menganggap dirinya bebas/otonom dan bermartabat dan terlalu bahagian dengan terkooptasi akhirnya hanya menjadi ilmuwan stempel sehingga Scientific Freedom ilmuwan tersebut sudah tergadai pada kepentingan dan kuasa tertentu. Scientific Freedom  ini juga perlu dibingkai dengan nilai untuk kepentingan publik, bukan hanya kepentingan personal saja, sehingga apapun itu ketika bertentangan dengan kepentingan publik maka perlu hati hati karena akan berpotensi melanggar koridor etika. Diakhir sambutan, Prof Fathul Wahid juga mengucapkan selamat kepada Prof Masduki dan keluarga, semoga tidak hanya dapat bermanfaat bagi diri sendiri namun juga khalayak luas dan tidak hanya terbatas dalam ruang lingkup universitas saja. Beliau turut mengucapkan terimakasih dan apresiasi yang tinggi kepada semua pihak yang telah membantu proses pengusulan jabatan akademik mulai dari dosen, Tendik, Program Studi, Fakultas, Direktorat Sumber Daya Manusia, Tim Penilai Angka Kredit, Majelis Guru Besar, Senat Universitas, Pengurus Yayasan Badan Wakaf UII, dan apresiasi yang tinggi bagi Kepala LLDikti Wilayah 5 dan semua jajaran, Dirjen Diktiristek serta Menteri Kemdikbudristek.

Sementara Prof. Allwar, dalam sambutanya menyampaikan bahwa perlu strategi yang khusus terutama bagi Fakultas, baik Ketua Jurusan maupun Prodi agar dapat memacu dosen agar lebih aktif untuk mencapai jabatan akademik tertinggi. Beliau manambahkan bahwa gelar profesor ini dapat menjadi hal yang positif bagi UII didalam menjalin kerjasama terutama dengan mitra dari luar negeri yang selalu melihat jumlah profesor yang ada pada suatu perguruan tinggi sehingga ini adalah momen yang tepat untuk menjaring kerjasama dengan mitra Luar negeri yang lebih luas jangkauanya. Selain itu beliau juga berharap agar research  atau penelitian tidak hanya berhenti pada Jurnal, jadi bagaimana hasil penelitian yang dilakukan oleh profesor yang akan datang tersebut dapat diimplementasikan untuk mensejahterakan masyarakat. Terakhir dalam sambutanya beliau juga mengharapkan Dewan Profesor dapat kita ajak untuk bersama-sama memfokuskan bagaimana untuk memajukan hasil-hasil riset yang sudah ada.

Foto: Sesi Foto bersama Prof Masduki beserta Istri (Tengah), Dekan FPSB UII Dr.Phil. Qurotul Uyun, S.Psi., M.Si, Psikolog (Kiri), Wadek Bidang Sumber Daya FPSB UII Resnia Novitasari, S.Psi., M.A.(Kanan), Wadek Bidang KKA FPSB UII Nizamuddin Sadiq, S.Pd., M.Hum, Ph.D (Kiri), dan Perwakilan Tim Pendamping Kenaikan Jabatan Akademik FPSB UII.