Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh

Sebagai salah satu upaya tindak lanjut dalam program pembinaan bagi mahasiswa penerima beasiswa yang tergabung dalam UII Excellent Community, maka dengan ini akan diselenggarakan kegiatan Individual Profiling untuk melihat potensi dan profil dari mahasiswa UII Excellent Community. Kegiatan ini WAJIB DIIKUTI oleh seluruh mahasiswa penerima beasiswa UII Excellent Community (Duafa, Bidikmisi, Hafiz Alquran, dan Unggulan) Angkatan 2019.

Kegiatan tersebut insya Allah akan diselenggarakan pada:

  • Hari, tanggal : Sabtu, 16 November 2019
  • Waktu             : 07.00 – 16.00 WIB
  • Tempat           : Ruang Kuliah Lantai 3 Sayap Timur Gedung Kuliah Umum (GKU) Prof. Sardjito
  • Agenda           : Pelaksanaan serangkaian psikotes (individual profiling)

Informasi Penting untuk Peserta:

  1. Peserta wajib hadir secara penuh (full time) dan tidak diperkenankan untuk izin meninggalkan lokasi dengan alasan apapun.
  2. Peserta wajib hadir memakai pakaian sesuai dengan aturan berpakaian yang berlaku di UII dan memenuhi ketentuan warna khusus, yakni mengenakan celana atau rok warna hitam dan baju warna putih serta bersepatu.
  3. Psikotes akan dimulai tepat waktu. Oleh karena itu setiap peserta wajib hadir tepat waktudi lokasi kegiatan sebelum pukul 07.00 WIB.
  4. Setiap peserta wajib membawa:
  5. Papan alas menulis (writing board)
  6. Alat tulis (termasuk pulpen cadangan)
  7. Pasfoto 3×4 sebanyak 2 lembar

PERINGATAN

Segala ketentuan di atas bersifat wajib. Peserta yang tidak mematuhi ketentuan di atas dengan alasan apapun, akan dipulangkan oleh panitia dan wajib menerima konsekuensi tertentu yang akan ditetapkan oleh Direktorat Pembinaan Kemahasiswaan UII.

Adapun daftar nama peserta Individual Profiling dapat dilihat pada lampiran berikut (.pdf). Informasi lebih lanjut dapat menghubungi Direktorat Pembinaan Kemahasiswaan (DPK) UII di nomor (0274) 898444 Ekstensi 1221/1212, atau dapat langsung datang ke kantor DPK di lantai 2 Gedung Rektorat UII (gedung GBPH Prabuningrat) pada jam kerja.

Demikian pengumuman ini kami sampaikan untuk dapat dijadikan perhatian.

Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Lampiran

Selaku Orangtua Muslim, apa sih tantangan terbesar/terberat/terkini/ter… yang Bapak/Ibu rasakan, alami, pikirkan dalam mengasuh, mendidik, membersamai putra/putrinya yang kuliah di Perguruan Tinggi? Demikian pertanyaan pembuka yang disampaikan oleh Irwan Nuryana Kurniawan, S.Psi., M.Si pada Seminar Parenting yang merupakan rangkaian agenda kegiatan Pertemuan Orangtua/Wali Mahasiswa (POTMA) Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB) Universitas Islam Indonesia (UII), 9 November 2019 di GKU. Prof. Dr. Sardjito, M.Ph. POTMA sendiri merupakan kegiatan rutin yang diadakan setiap tahun guna menyambung komunikasi antara orangtua/wali mahasiswa FPSB UII dengan pengelola prodi dan fakultas. Disini orangtua/wali bisa langsung menyampaikan harapan-harapan kepada pihak prodi dan atau fakultas, serta bisa mendaptkan informasi terkait proses belajar mengajar yang diterima oleh anak-anaknya. Read more

“Negosiasi merupakan seni untuk mencapai kesepakatan dengan cara mencari solusi kreatif atas berbagai kemugnkinan. Negosiasi penting karena permasalahan saat ini semakin komplek. Negosiasi itu tidak semata-mata untuk mencapai kepentingan kita tapi juga memahami kepentingan orang/pihak lain. Kita tidak memperjuangkan kepentingan satu pihak. Kita lebih mencari win-win solution”. Demikian diungkapkan oleh Kasubdit Kerjasama Forum, Lembaga Regional dan Entitas ASEAN, Direktorat Kerjasama Politik Keamanan ASEAN, Kementerian Luar Negeri RI, Andri P. Nugroho pada kegiatan Diplomatic Course yang diselenggarakan oleh Prodi Hubungan Internasional (HI) Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB) Universitas Islam Indonesia (UII), Jumat, 8 November 2019 di Gedung Moh. Hatta (Perpustakaan UII). Kegiatan dibuka secara langsung oleh Dekan FPSB UII, Dr. H. Fuad Nashori, S.Psi., M.Si., M.Ag., Psikolog. Read more

Melalui kegiatan yang diberi label Psycholand 2019, Himpunan Mahasiswa Psikologi (HIMAPSI) Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB) Universitas Islam Indonesia (UII) berhasil  menghadirkan sosok seorang dokter, wirausahawan sosial, sekaligus CEO Indonesia Medika yang masih terbilang sangat muda namun sangan menginspirasi kaum muda, dr. Gamal Albinsaid, M.Biomed pada sesi seminar Psycholand yang dihelat Jumat, 1 November 2019 di Auditorium KH. Abd. Kahar Muzakir, Kampus Terpadu UII dan ditemani oleh Lifthya Ahadiati Akmala, S.Psi., MA selaku moderator. Read more

Program Studi Hubungan Internasional (HI), Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB) Universitas Islam Indonesia (UII) menggelar Workshop & call for Papers “RESEARCH DAY” pada Sabtu, 1 November 2019 di ruang auditorium FPSB UII Lt.1. Read more

Program Pascasarsajana Magister Psikologi Profesi (MAPPRO) Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB) Universitas Islam Indonesia (UII) kembali mengambil sumpah (periode 46) terhadap 7 orang lulusannya pada Sabtu, 26 Oktober 2019 di ruang Auditorium FPSB UII Lt. 3. Read more

Untuk kali kedua kegiatan Pembekalan dan Pelepasan Calon Alumni Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB) Universitas Islam Indonesia (UII) mengangkat tema “Bekerja di Perusahaan Start Up” dengan menghadirkan salah satu alumni pengurus RELASI (IKA Alumni Prodi Ilmu Komunikasi FPSB UII) yang saat ini juga sedang menikmati pekerjaannya di PT. GOJEK Indonesia, Novan Elhamdy, S.I.Kom, Rabu, 23 Oktober 2019 di ruang Auditorium FPSB UII Lt. 3. Dekan FPSB UII, Dr. H. Fuad Nashori, S.Psi., M.Si., M.Ag., Psikolog berkenan membuka secara langsung kegiatan yang diharapkan mampu memberi kesan positif pada para calon alumni FPSB UII tersebut. Read more

Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta (UNS) bertandang ke Fakult Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB) Universitas Islam Indonesia (UII), Selasa, 29 Oktober 2019. Kehadiran rombongan yang dipimpin langsung oleh Dr. Aditya Nanda Priyatama, S.Psi., M.Si selaku Ka. Prodi Psikologi disambut hangat oleh Dekan FPSB UII, Dr. H. Fuad Nashori, S.Psi., M.Si., M.Ag., Psikolog beserta Wakil Dekan, Ka. Prodi Psikologi FPSB UII, Yulianti Dwi Astuti, S.Psi., M.Soc-Sc beserta beberapa staf pengajar/dosen Prodi Psikologi FPSB UII. Read more

Oleh : Hasbi Aswar (Dosen Prodi Hubungan Internasional, FPSB UII)

Salah satu poin menarik dari buku “Towards an Islamic Theory of International Relations: New Directions for Methodology and Thought” karya Abdul Hamid Abu Sulayman (1993) adalah sebagai muslim, selain melihat nabi Muhammad SAW sebagai nabi pembawa pesan dan pemimpin agama, kita juga bisa melihat beliau dari sisi beliau sebagai manusia yang memimpin masyarakat dan negara. Dari situ kita bisa memahami dan belajar cara berpolitik dari sang nabi.

Sebagai muslim, kebanyakan dari kita melihat nabi terbatas kepada sisi kenabian beliau sehingga segala hal yang beliau raih selama hidupnya adalah pertolongan dari Allah SWT. Sebab beliau adalah Rasul Allah dan sosok paling dekat dan dicintai oleh Allah. Pandangan ini benar dan tidak salah. Ini adalah konsep yang harus kita imani, bahwa segala nikmat yang kita dapatkan adalah karunia dari Allah SWT. Namun, yang sering dilupakan adalah aspek syariat dari pencapaian – pencapaian yang nabi dapatkan.  Aspek syariat maksudnya adalah jalan yang ditempuh nabi untuk meraih itu.

Sebagai muslim kita memahami bahwa untuk meraih sesuatu, mendekatkan diri kepada Allah adalah cara mendapatkan pertolongan dari Allah SWT, namun tidak cukup sampai di situ. Ikhtiar yang maksimal juga disyariatkan agar tujuan yang diinginkan bisa tercapai secara mudah.  Inilah yang nabi ajarkan kepada kita.

Dalam konteks hubungan internasional, kita pun bisa mengambil pelajaran dari pencapaian politik yang nabi lakukan khususnya pasca negara Madinah berdiri dan pada peristiwa fathul Makkah atau penaklukkan Makkah.

Saat tiba di Madinah, yang pertama kali beliau lakukan adalah stabilisasi politik domestik. Di bawah kepemimpinan nabi, masyarakat disatukan baik yang Muslim, Yahudi dan kalangan Musyrik. Mereka semua tunduk dan patuh serta mengakui kepemimpinan nabi dan aturan-aturan yang ditetapkannya. Hal ini tertuang dalam Piagam Madinah (Qol`ahji, 2011).

Dalam aspek politik luar negeri, nabi menggunakan potensi militer yang dimiliki oleh suku Aus dan Khazraj untuk melakukan ekspedisi militer untuk mengganggu kepentingan geopolitik dan ekonomi kaum Quraish. Wilayah-wilayah tempat operasi militer nabi difokuskan pada jalur – jalur perdagangan Quraish dari Makkah menuju Syam.  Selain itu, nabi melakukan penaklukan suku – suku Yahudi yang beraliansi dengan Quraish, serta mengadakan perjanjian damai dengan suku-suku dan kelompok-kelompok Yahudi di wilayah Jazirah Arab.

Madinah sempat hampir ditaklukkan oleh koalisi Quraish dan Yahudi dalam perang Ahzab atau perang Khandaq, namun koalisi tersebut gagal karena strategi militer Madinah yang canggih dan semangat perang yang gigih oleh umat Islam di Madinah. Hal yang lebih penting lagi adalah kelihaian politik dan negosiasi diplomat nabi yang mampu melemahkan solidaritas di tubuh pasukan koalisi dan akhirnya meruntuhkan semangat perang koalisi Quraish (Ibnu Katsir, 2003).

Perjanjian Hudaibiyah, adalah salah satu momentum politik yang paling signifikan dalam membantu nabi untuk menaklukkan Makkah. Perjanjian untuk tidak saling berperang satu sama lain selama sepuluh tahun, membuat Madinah lebih leluasa menaklukkan semua mitra koalisi Quraish Makkah, khususnya kalangan Yahudi. Ini berdampak besar dalam mereduksi aliansi Quraish dan sekaligus melemahkan kekuatan dari kalangan Quraish.

Selain itu, perjanjian untuk mengembalikan ke Makkah orang – orang yang sudah hijrah ke Madinah tetapi tidak direstui oleh keluarganya, berdampak pada semakin banyaknya Muslim yang tinggal di Makkah dan  menyebarkan Islam serta segala kebaikan-kebaikan nabi di Madinah. Efeknya adalah semakin banyak masyarakat Makkah termasuk petinggi Quraish serta para panglima militer yang bergabung ke Madinah dan menjadi Muslim,  seperti panglima perang Khalid bin Al-Walid, diplomat ulung Quraish, Amr bin al-Ash.

Dikuasainya jalur perdagangan menuju Syam oleh negara Madinah, ditaklukkannya suku-suku di wilayah jazirah Arab, masuknya petinggi-petinggi Quraish dalam Islam dan narasi Islam yang semakin dominan di Makkah akhirnya semakin melemahkan semua variabel kekuatan Quraish di Makkah. Sebaliknya, semakin memperkuat posisi politik internasional negara Madinah.

Dampak dari berbagai manuver politik nabi yang terjadi inilah yang menjadi alasan mengapa fathul Makkah berlangsung dengan damai tanpa peperangan, Bahkan perintah nabi kepada masyarakat Makkah diikuti dengan patuh seperti jaminan keamanan bagi masyarakat Makkah yang menutup pintu rumahnya, yang masuk rumah Abu Sufyan, dan masuk Masjidil Haram.

Sejarah politik nabi yang singkat ini menggambarkan dan mengajarkan pentingnya usaha maksimal agar segala tujuan tercapai. Nabi adalah orang yang paling sholeh dan paling dekat pada Allah. Di samping beliau meyakini pertolongan Allah pada beliau, namun beliau juga meyakini dan memahami bahwa pertolongan hanya akan datang ketika ikhtiar dilaksanakan dengan sebaik dan semaksimal mungkin.

Meskipun beliau adalah Rasul Allah namun beliau tidak selamanya menang dan sukses dalam semua aktifitas politiknya.  Buktinya adalah kekalahan beliau pada perang Uhud melawan Quraish. Awalnya nabi menang perang, namun karena kelalaian pasukan pemanahnya, akhirnya nabi kalah. Bahkan pamannya, Hamzah, meninggal serta nabi sendiri luka-luka karenanya.  Fakta ini semakin menegaskan bahwa, dalam konteks politik, kemenangan beliau terhadap Quraish Makkah karena ikhtiar beliau dalam aspek kepemimpinan, strategi perang, pemahaman geopolitik, dan kemampuan diplomasi.

Bagi umat Islam saat ini, mempelajari politik nabi tidak boleh hanya sebatas dalam aspek normatif teologis semata namun juga perlu memahami aspek syariatnya yaitu, ikhtiar yang maksimal melalui penguasaan ilmu dan teknologi agar mampu memenangkan pertarungan politik. Dengan itu, umat Islam bisa mendapatkan kesuksesan politik di kancah internasional seperti yang pernah diraih oleh nabi di zamannya.

 

Referensi:

Ibnu Katsir, Al-Hafidz. (2010). Sirah Nabi Muhammad. Jakarta: Pustaka Imam As-Syafi`i

Qol`ahji, Muh. Rawwas. (2011) Sirah Nabawiyah: Sisi Politis Perjuangan Rasulullah saw. Bogor: Al-Azhar Press

Abu Sulayman, Abdul Hamid A. (1993). Towards an Islamic Theory of International Relations: New Directions for Methodology and Thought. Virginia: The International Institute of Islamic Thought.