Jadwal Kuliah Semester Genap FPSB UII TA. 2021-2022

Untuk Jadwal Kuliah FPSB UII Semester Genap TA. 2021/2022 dapat di DOWNLOAD di Sini 

Atau klik pada gambar tersebut.

DOA ORANG TUA KEPADA ANAKNYA

Oleh : Tri Wartoyo—

Di awal tahun 90 an ketika saya baru saja lulus Sekolah Menengah Atas. Ketika keinginan untuk melanjutkan sekolah kejenjang lebih tinggi tidak memungkinkan Karena biaya yang tinggi, penulis akhirnya memutuskan untuk merantau di Jakarta, dengan bekal doa dan restu kedua orang tua terutama ibu atau kami menyebutnya “Simbok”. Saya berangkat ke Jakarta dengan uang sangu yang terbatas tapi dengan tekad yang kuat. Berangkatlah kami ber 5 dengan teman SMA dan teman main ke Jakarta. Di Jakarta kami tinggal di tempat saudara teman yang kebetulan seorang guru Sekolah Dasar. Setelah 2 minggu kami masih menganggur belum mendapatkan pekerjaaan padahal uang sangu semakin menipis. Tapi diminggu ke 3 di Jakarta kami alhamdulillah mendapatkan pekerja di sebuah perusahaan pembuat tiang pancang dengan shiff pagi jam 07.00 wib sampai jam 17.00 wib dan Shiff malam jam 17.00 wib sampai jam 07.00 wib. Pekerjaan yang lumayan berat. Read more

Adab Bertetangga

Oleh: Banatul Murtafi’ah——-

Beberapa bulan lalu sempat viral video seorang ibu-ibu yang mencibir tetangganya dengan mengatakan bahwa tetangganya tersebut nganggur tapi uangnya banyak. Nampaknya si ibu dalam video tersebut sama sekali belum bertabayyun dengan tetangganya dan hanya berasumsi. Namun parahnya, asumsi itu dia sebar-sebarkan ke orang lain. Pada akhirnya diketahui bahwa Bu Wati, sosok dalam video tersebut, mengunggah video permintaan maaf atas ucapannya setelah dikecam netizen dari berbagai penjuru media sosial. Setahun sebelum video Bu Wati ini viral, ada sosok Bu Tejo yang juga sempat viral sebab mencibir Bu Lurah dan keluarganya, tetangganya sendiri, yang bahkan dikisahkan sedang sakit. Bedanya, Bu Tejo ini tokoh fiktif dalam sebuah film pendek. Sosok Bu Wati dan Bu Tejo agaknya cukup familiar untuk ditemui dalam masyarakat kita. Jika Anda kebetulan tidak memiliki tetangga seperti Bu Wati atau Bu Tejo, maka bersyukurlah banyak-banyak. Yang kebetulan memiliki tetangga mirip sosok tersebut, mari bersabar banyak-banyak. Read more

Understanding Politics in Our Daily Lives: An Islamic Perspective

By : Hasbi Aswar (Lecturer of International Relations)—

­For some people, politics belongs to the elite or educated people, which is not suitable for the public who are thinking merely about fulfilling their lives. This assumption is not accurate. Politics is not something far from our lives instead it is an integral part. Simply put, politics is the art of exercising power or government or a strategy to regulate society through policies made.

From the Islamic point of view, politics cannot be understood as limited to government affairs but is the art of regulating life individually, family, society, and state. This concept is based on the prophet’s explanation through his hadith narrated by imam Bukhari & Muslims. From ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu ‘anhu: Read more

Seberapa Besar Kita Meyakini Ketetapan Allah SWT?

OLeh : Diana Rahma Qadari —– 

Jika seseorang ditanya bagaimana bila harapannya berakhir dengan kesedihan? Seringkali terjawab “tidak mau” atau “tidak siap”. Suatu hal yang lumrah jika yang diinginkan berakhir dengan kebahagiaan. Apabila Allah memberikan kesedihan berupa patah hati, kehilangan, kegagalan, tidak mendapatkan apa yang diinginkan, apakah kita bersedia menerima dengan hati yang lapang?

Selama kita masih bernafas, ujian dan cobaan hadir dalam hidup kita. Kesedihan dan kebahagiaan saling bersisihan. Tentunya, setiap manusia tidak bisa memperoleh semua kebahagiaan meski itu menjadi sebuah harapan dan doa yang kerap dilangitkan. Kita boleh meletakkan ekspektasi bahwa apa yang diinginkan akan menjadi milik kita, namun siapkan hati yang lapang untuk menerima segala kemungkinkan karena diatas segala pinta kita, Allah lebih dulu tahu apa yang terbaik untuk kita. Allah Maha Mengetahui apa-apa saja yang terbaik bagi tiap manusia karena pemegang hak prerogatif atas takdir manusia. Tugas manusia tetap harus berprasangka baik terhadap kehendak Allah hingga saatnya Allah putuskan.

 Terkadang saat kita mengupayakan sesuatu, kita terlalu fokus kepada proses untuk mendapatkan sebuah keberhasilan. Bagaimana caranya berhasil, persiapan apa yang harus dilakukan untuk mencapai yang diinginkan, dan tak sedikitpun menyiapkan diri dengan kemungkinan menghadapi kegagalan. Ketika kegagalan datang menghampiri, diri kita sibuk menyalahkan karena persiapan yang kurang maksimal atau bahkan larut dalam kesedihan. Kegagalan seakan membuat dunia tampak tidak ramah untuknya. Usaha dan upaya dikerahkan baik pikiran, energi, maupun waktu, dimaksimalkan untuk sebuah keberhasilan. Seringkali kita lupa bahwa di atas usaha dan upaya yang dilakukan ada kehendak Allah. Apabila Allah berkehendak lain maka tak akan sampai pada genggaman bahkan menyentuh ujung jaripun tidak.

Ketetapan Allah adalah yang terbaik

Sebagai hamba, kita haruslah meyakini bahwa Allah pasti memberikan yang terbaik kepada hambaNya. Allah mengetahui apapun yang tidak kita ketahui, jika Allah selalu memberi keberhasilan, mungkin kita tidak akan  menemukan diri kita yang lebih baik saat setelah melewati kegagalan. Karena saat diberikan kegagalan, maka ibadah sejatinya semakin khusyu’, semakin deras dalam melantunkan dzikir. Kegagalanpun pasti tetap memiliki makna. Ikhtiar kita untuk mencari keridhoanNya tidak akan sia-sia. Luaskan hati untuk menerima dan meyakini bahwa segala urusannya Allah telah mengaturnya, seharusnya tak menyisakan keraguan dihati kita dan cemas menghadapinya. Apapun yang menjadi ketetapan yang Allah adalah yang terbaik bagi hambaNya. Menerima setiap ketetapanNya dengan hati yang luas dan lisan yang tak henti mengucapkan syukur karena saat itu diri kita sedang diberikan jalan paling baik. Kita perlu berlindung dari ekspektasi diri sendiri yang nantinya akan membawa diri kita dari kekecewaan yang terlalu dalam dan berlarut yang pada akhirnya akan merugikan diri sendiri. Keyakinan utuh kepada Allah justru akan membuat diri kita ringan dalam menjalani hidup disertai hati yang tenang. Jaga diri kita dari ‘nglokro’ ketika Allah hadapkan dengan sesuatu di luar ekspektasinya. Lisannya sibuk berkeluh kesah dan menganggap keadaan yang ia terima tidak akan membawa perubahan yang lebih baik apapun ikhtiarnya. Agaknya, kita perlu membiasakan mengawali segala penerimaan atau takdir dengan berkhusnudzon pada Allah. Bagaimana Allah akan mengubah keadaan kita jika tanpa disertai ikhtiar. Kita harus pantang menyerah membawa harapan dalam doa untuk terus mengetuk pintu rizkiNya. Adapun kenikmatan atau kesedihan yang diterima di akhir, jangan sampai membawa diri kita untuk melangkah menjauh dariNya.

Harapan yang Allah ijabah menjadi sebuah kebahagiaan tersendiri untuk kita. Bisa jadi kebahagiaan tersebut didapat karena sujud panjang setelah ujian bertubi-tubi dengan tetap meyakini bahwa Allah akan segera mengangkat beban di atas pundak, mengangkat kesedihan dalam hati dan Allah akan memberikan kebahagiaan seperti matahari terbit seusai malam berakhir. Namun, yang perlu kita hindari adalah saat diri kita menjadi jumawa saat mendapatkan kebahagiaan atas sesuatu yang di idam-idamkan. Kadang manusia mudah berbangga hati bahwa pencapaian yang didapatkan adalah karena kepandaiannya. Kesuksesan yang ia peroleh semata karena kerja kerasnya. Jangan sampai dibalik kebahagiaan yang kita terima justru menimbulkan kesedihan bagi oranglain.

Keadaan maupun ketetapan yang sampai pada kita, kelola hati ketika Allah hadirkan kebahagiaan dan bersabar apabila cobaan menyapa kita seperti yang dijelaskan dalam QS. Al Baqarah:155-156 :

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar,” (QS. Al Baqarah:155).

 Dari QS Al Baqarah : 155 dapat kita pahami bahwa setiap manusia akan diberikan cobaan oleh Allah dan kita diminta bersabar yang tentunya menjadi hal sulit apabila hati kita dalam kondisi yang tidak menentu. KetetapanNya adalah hal yang misterius bagi manusia, namun dalam kekecewaan yang kita terima saat ini bisa jadi menjadi sesuatu yang melegakan diwaktu kedepan. Kesedihan yang kita terima saat ini sangat mungkin berujung kebahagiaan di waktu yang lain dan hal tersebut baru dapat kita sadari saat hati kita mampu menerima ketetapanNya. Cobaan yang dihadirkan dalam hidup kita untuk menguji kita, kemana diri dan hati kita akan berlari dan mengadu. Ujian hidup diberikan sesuai kemampuan manusia, jangan sampai pikiran kita yang membatasi bahkan mendorong untuk melakukan hal-hal yang semakin menjauh dari titik terang. Banyak kehidupan diluar sana yang bertubi-tubi diberikan ujian, namun tetap berjuang untuk bertahap hidup. Masalah yang dialami oranglain lebih pelik dari masalah kita yang mungkin hanya persoalan patah hati. Oranglain berfikir bagaimana urusan makan esok hari sementara kita membuang makanan sisa yang kita dapatkan hari ini. Apapun ujian yang sedang kita alami, jangan menyerah untuk mendekat padaNya dan sesering mungkin lekatkan dahi kita untuk bersujud. Jika saat ini kita berbangga hati dengan harga yang kita terima, sempatkanlah menengok kehidupan orang-orang di pinggiran.

Segala fase hidup yang diberikan Allah untuk kita pasti memiliki banyak catatan yang dapat diambil poin pentingnya dan tentu tidak sama pada masing-masing orang. Proses menjalani kehidupan yang dikawal dengan keimanan akan menjadi benteng diri sehingga diri kita tidak melakukan sesuatu yang tidak disukai olehNya dan menjadikan pandangan kita lebih luas untuk melihat kebaikan-kebaikan atas keadaan yang dihadirkan oleh Allah. Mungkin saat ini kita sedang menjalani kehidupan yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya bahkan kehidupan yang tidak kita inginkan. Namun satu hal yang sangat penting adalah ikhlas dan jalani takdirNya dengan lapang dada. Hidup yang kita jalani bagaimanapun ceritanya adalah yang terbaik bagi kita. Semoga di sisa umur kita penuh hikmah, memiliki kebaikan diri yang semakin bertambah, dan istiqomah dijalanNya.