Oleh : Fenty Puspitasari, S.Psi.—————–

Ibu, apa kabarmu?

Masihkah terdengar kalimat-kalimat sejenis di bawah ini mampir di harimu?

Kok si ibu itu rela ya anaknya diasuh pembantu yang lulusan SD? Padahal kan ibunya lulusan S1”

Ah tahu apa si ibu itu tentang anaknya. Kerjanya kan pergi pagi, pulang malam”

“Pantas ya anaknya nakal, ditinggal kerja terus oleh ibunya sih

Ah ya, bagi ibu bekerja rasanya kalimat tersebut adalah nyinyiran yang selalu datang pergi. Kadang mengabaikannya terasa sangat mudah saat hati sedang kokoh. Namun tak jarang, runtuh semua ketegaran saat bertubi-tubi kalimat itu mampir ke telinga. Kalimat-kalimat yang merendahkan seorang ibu itu bisa disebut mom shaming.

Psikolog Roslina Verauli mengatakan pada CNN Indonesia, mom shaming adalah tindakan memberikan kritik menjatuhkan pada seorang ibu tentang pengasuhan anaknya. Sangat jamak ditemui bahwa seorang perempuan harus melakukan adaptasi besar setelah memiliki anak. Proses hamil dan melahirkan, kemudian berlanjut mengasuh anak bukan hal yang mudah. Allah menggambarkan proses itu dalam Surat Al Ahqaf ayat 15 “…ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan…” Rasa kepayahan, canggung, dan serba tidak tahu yang dialami seorang ibu tersebut sering menjadi sasaran empuk komentar negatif orang di sekitarnya.

Penelitian C.S Mott Children’s Hospital Universitas Michigan tahun 2017 yang dikutip majalah.tempo.co memaparkan bahwa dari 475 ibu dengan anak balita, 61% dari mereka pernah mengalami mom shaming. Umumnya mereka menerima kritik tentang pendisiplinan anak, walaupun soal remeh temeh juga sering menjadi bahan kritikan. Mom shaming biasanya justru dilakukan oleh keluarga dekat seperti ibu kandung, suami, dan mertua. Para pelaku yang berasal dari keluarga itu mungkin awalnya berniat memberi nasehat namun disampaikan dengan kalimat yang menjatuhkan korban.

Selain itu terdapat fakta bahwa sebagian pelaku mom shaming adalah para perempuan yang juga memiliki anak. Bahkan di era digital, seorang perempuan yang tidak dikenalpun bisa merendahkan cara pengasuhan ibu lain di ujung dunia. Banyak public figure yang menerima mom shaming melalui media sosial. Misalnya saja penyanyi Andien Aisyah yang di-bully oleh sesama ibu di media sosial karena mengajarkan telanjang kaki dan metode makan BLW pada anaknya. Selebgram Rachel Venya juga menerima hujatan kaum ibu ketika ia memutuskan untuk tidak mengizinkan tamu-tamu yang menjenguk untuk menyentuh bayinya.

Mengapa sesama ibu seringkali bersikap menjatuhkan? Dalam laman parents.com, Melissa Divaris Thompson, seorang terapis di New York City, menyatakan bahwa mengkritik ibu lain membuat seorang perempuan merasa sedikit lebih baik dalam hal mengasuh anak. Para ibu memang cenderung mudah lelah, bosan, cemburu dengan sesamanya, dan akhirnya melampiaskan emosi yang terpendam pada ibu yang lain. Bagi ibu kandung atau ibu mertua, kritik pedas yang diberikan pada anak perempuannya bisa jadi adalah pelampiasan rasa bersalah terhadap pengasuhan mereka dahulu.

Korban mom shaming sejatinya tidak pandang bulu. Ibu rumah tangga ataupun ibu bekerja tidak luput dari ucapan merendahkan tentang pengasuhan yang mereka terapkan. Namun demikian, menurut Psikolog Saskhya Aulia Prima dari Tiga Generasi yang dikutip Republika.co.id, kebanyakan korban mom shaming  adalah ibu bekerja dengan anak yang dititipkan kepada pengasuh. Hal tersebut terjadi karena anggapan bahwa ibu bekerja tidak punya waktu untuk mengurus anak dan menyerahkan semua urusan pengasuhan pada orang lain.

Di masyarakat, seorang ibu yang baik biasanya didefinisikan mampu melahirkan secara normal, memberi ASI, menyediakan makanan rumahan olahan sendiri, hingga mengasuh anak tanpa menitipkan ke pihak lain. “Kriteria” tersebut tentu saja tidak bisa dipenuhi oleh semua ibu, khususnya ibu bekerja. Mereka memiliki beban ganda untuk berperan di dunia kerja sekaligus menjadi orang pertama yang bertanggung jawab pada pengasuhan anak. Mereka harus bekerja sama dengan pengasuh dan berkompromi dengan aturan tempat bekerja dalam mendidik anak-anaknya. Saat ibu bekerja tidak bisa mencapai kriteria ibu yang baik itulah mom shaming terjadi.

Psikolog Saskhya Aulia Prima dalam laman cantik.tempo.co mengatakan bahwa mom shaming memiliki dampak buruk yang tidak bisa disepelekan. Seorang ibu yang menerima komentar negatif biasanya merasa disalahkan dan menganggap dirinya gagal menjadi ibu yang baik. Lebih jauh lagi, kritik yang bertubi-tubi akan membuat perubahan struktur kimia di otak yang menyebabkan gangguan kecemasan dan depresi. Padahal ibu yang optimis dan bahagia akan mampu mendidik anak yang gemilang. Sebaliknya, seorang ibu yang tidak bahagia akan menjalani perannya dengan tidak optimal. Anak-anaknya akan mendapat pengasuhan yang tidak sehat dan berpengaruh pada masa depan mereka.

Menilik betapa besar dampak mom shaming ini, maka lingkungan sekitar ibu diharapkan mampu memberikan dukungan positif. Seperti yang dituliskan pada paragraf sebelumnya, pelaku mom shaming seringkali adalah keluarganya. Mereka merendahkan ibu melalui perkataan yang tidak menyenangkan. Dalam suatu hadits diceritakan Rasulullah pernah ditanya, “Siapakah Muslim yang paling utama?” Beliau menjawab,“Orang yang bisa menjaga lisan dan tangannya dari berbuat buruk kepada orang lain.” (HR. Bukhari). Sayangnya, menjaga lisan adalah hal yang berat. Mom shaming terjadi karena banyak orang yang tidak bisa menahan berkomentar negatif pada ibu yang tampak melakukan “cacat pengasuhan” seperti pada kasus ibu bekerja. Hujatan, sindiran, pertanyaan basa-basi, atau bahkan nasehat pengasuhan yang tidak disampaikan dengan tepat seringkali menjadi pisau tajam bagi ibu.

Lingkungan keluarga hendaknya menjadi tempat ternyaman ibu di tengah PR pengasuhan dan tuntutan pekerjaan yang begitu melelahkan, bukan malah menjadi ancaman baru baginya. Garda terdepan yang seharusnya melindungi ibu dari bahaya mom shaming  adalah suami.  Mengutip jargon organisasi Ayah Asi Indonesia, “Bikinnya Berdua, Ngurus Anaknya Juga Berdua”, maka sudah sewajarnya suami dan istri saling mendukung pengasuhan anak.  Islam sendiri dalam Surat Al Baqarah ayat 187 mengumpamakan istri sebagai pakaian bagi suami dan suami adalah pakaian untuk istrinya. Suami istri seharusnya saling melindungi, bekerja sama, dan menutupi aib pasangannya. Jika istri menerima mom shaming dari pihak-pihak yang lebih senior seperti orang tua, mertua atau saudara ipar, maka menjadi tugas suaminya untuk melindungi dan membela istri. Tentu saja pembelaan itu disampaikan dengan cara yang baik dan memiliki dasar ilmu yang benar. Keputusan perempuan untuk bekerja adalah keputusan yang seharusnya sudah dipikirkan oleh suami istri dengan berbagai pertimbangan. Sehingga ketika istri bekerja dianggap tak becus mengurus anak, tugas suami adalah meluruskan anggapan yang tak benar itu.

Mom shaming juga bisa terjadi karena perasaan dengki sesama ibu. Seorang ibu akan cenderung membandingkan kondisi dirinya dengan ibu lain. Hal ini memunculkan rasa tidak senang saat melihat orang lain menerima nikmat dari Allah. Kondisi dengki akan memicu seseorang untuk memberikan komentar merendahkan untuk seorang ibu. Rasulullah pernah bersabda, “Janganlah kalian saling dengki, saling menipu, saling benci membenci, saling membelakangi, jangan menjual atas penjualan orang lain, dan jadilah kalian hamba Allah yang bersaudara. (HR. Muslim). Memang sangat sulit untuk menghindari sifat dengki dalam kehidupan sosial. Namun Ibnu Taimiyyah seperti yang dikutip dalam muslimah.or.id mengatakan bahwa dengki yang buruk adalah saat ditampakkan. Sedangkan dengki yang disembunyikan adalah hal yang mulia.  Maka tidak berkomentar merendahkan posisi ibu bekerja dalam pengasuhan anak adalah cara terbaik  untuk menyembunyikan dengki yang dirasakan.

Korban mom shaming memang dianjurkan bersikap rasional menghadapi berbagai kritik. Tidak mudah terbawa perasaan, percaya diri, membekali diri dengan pengetahuan seputar anak, hingga mengabaikan saja komentar-komentar yang ia terima. Dalam kasus ibu bekerja, toh si ibu sendiri yang tahu benar alasannya bekerja dengan segenap pertimbangan yang sudah dipikirkan. Namun adilkah jika hanya korban saja yang berusaha setengah mati menghadapi mom shaming? Kita, orang-orang yang berpotensi menjadi pelaku mom shaming tentu juga harus menahan diri dari berkomentar negatif. Bukan hanya untuk menjaga perasaan seorang ibu, namun lebih daripada itu, untuk menunjukkan kualitas diri kita sebenarnya. Yahya bin Mu’adz seperti yang dikutip laman muslim.or.id, berkata, “Hati itu bagaikan periuk dalam dada yang menampung isi di dalamnya. Sedangkan lisan itu bagaikan gayung. Lihatlah kualitas seseorang ketika dia berbicara. Karena lisannya itu akan mengambil apa yang ada dari dalam periuk yang ada dalam hatinya, baik rasanya itu manis, asam, segar, asin (yang sangat asin), atau selain itu. Rasa (kualitas) hatinya akan tampak dari perkataan lisannya.”

Setiap ibu menghadapi medan berat pertempurannya masing-masing.  Maka berbuat baiklah pada mereka.  Semoga sikap baik kita akan menguatkan ibu menjalani harinya dan mampu menjawab pertanyaan judul dengan senyum lebar bukan basa-basi, “I’m fine. Thank you.”

 

*Judul lagu yang dinyanyikan oleh Maywood