Oleh: Astri Hapsari, S.S., M.TESOL —-

Pandemi COVID 19 telah membawa banyak perubahan dalam kehidupan sehari-sehari kita. Munculnya beragam varian baru virus berdiameter 65-125 nm (Shereen, Khan,Kazmi, Bashir, Siddique, 2020) ini menyebabkan resiko terjangkit semakin meningkat. Pada tanggal 27 Juni 2021, tercatat terdapat 21.342 kasus baru, dengan rata-rata kasus selama 7 hari berturut-turut sebesar 17.914 di wilayah Kabupaten Sleman.  Alhamdulillah pada saat revisi artikel ini akan dikirim, angka kasus COVID-19 di Kabupaten Sleman telah mengalami penurunan. Rata-rata kasus selama 7 hari berturut-turut menurun sebesar 2.532 kasus.

Penurunan tren kasus COVID-19 dalam 3 bulan terkakhir ini tentu saja selain didukung oleh kewaspadaan setiap individu di masyarakat untuk menjalankan aktivitas sesuai dengan protokol kesehatan yang cermat, sebaiknya juga didukung oleh kesadaran spiritual dalam memaknainya. Pada kondisi pandemi seperti ini diperlukan sikap sabar.

Secara etimologi, Shihab (2002) dalam Tafsir al-Misbah Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an memaparkan bahwa  sabar berasal dari Bahasa Arab, صبر – صيبر – صبرا yang berarti bersabar, tabah hati, berani (Yunus, 1973). Dalam bahasa Indonesia, sabar berarti: “tahan menghadapi cobaan, tabah, tenang, tidak tergesa-gesa, tidak terburu-buru nafsu (Balai Pustaka, 1990).

Merujuk deskripsi etimologis, sikap sabar disifati dengan sifat tabah, berani terkait kerja hati dalam terjemahan kamus Arab- Indonesia (Yunus, 1973) dan sifat resilien, tenang, tidak tergesa-gesa , tidak terburu-buru nafsu dalam deskripsi Kamus Besar Bahasa Indonesia (Balai Pustaka, 1990).  Ibnu al-Qayyim al-Jauziyyah mengemukakan, sabar adalah menahan jiwa untuk tidak berkeluh kesah, menahan lisan untuk tidak meratap dan menahan untuk tidak menampar pipi, merobek baju dan sebagainya. Shihab (2002) dalam Tafsir Al Misbah, mengelaborasi sikap sabar selaras dengan deskripsi yang dikemukakan Ibnu Al-Qayyim dalam kitab nya Uddatu Ash-Shabirin wa Dzakhiratu asy-Syakirin diterjemahkan oleh Halim (2006), yaitu berdasarkan bentuknya, sabar terbagi dua macam: kesabaran jasmani dan kesabaran rohani. Shihab (2002) menjelaskan sabar jasmani terkait dengan kesabaran dalam menerima dan melaksanakan perintah- perintah keagamaan yang melibatkan anggota tubuh, seperti sabar dalam melaksanakan ibadah haji yang melibatkan keletihan atau sabar dalam peperangan membela kebenaran. Termasuk pula dalam kategori ini, sabar dalam menerima cobaan-cobaan yang menimpa jasmani seperti penyakit, penganiayaan dan semacamnya. Sementara itu,  sabar rohani menyangkut kemampuan menahan kehendak nafsu yang dapat mengantar kepada kejelekan, seperti sabar menahan amarah, atau menahan nafsu lainnya.

Dalam konteks situasi dan kondisi pandemic COVID-19, sikap sabar jasmani dapat membuat kita tetap mempertahankan kemampuan kita untuk melakukan amalan baik yang terkait kapasitas kesehatan tubuh kita, misalnya : tetap melakukan ibadah wajib ketika diuji terkena penyakit, sedangkan sikap sabar rohani dapat membuat kita memperkuat kemampuan untuk mengelola hati sehingga dapat berdampak positif pada kesehatan mental kita.

Allah berfirman dalam Al-Quran mengenai keutamaan sikap sabar untuk memotivasi hamba-hambaNya mengamalkan sikap tersebut :

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ

Artinya: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Q.S Al=Baqarah: 155).

Beberapa ayat-ayat Al-Quran yang dapat memotivasi kita untuk bersabar:

  1. Allah memberi ganjaran terbaik bagi hamba-hambaNya yang sabar (QS. Az-Zumar :10) :

قُلْ يَٰعِبَادِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ رَبَّكُمْ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا۟ فِى هَٰذِهِ ٱلدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗ وَأَرْضُ ٱللَّهِ وَٰسِعَةٌ ۗ إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

Artinya:” Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Q.S Az-Zumar: 10).

  1. Memperoleh ampunan dan pahala yang besar (Q.S Hud: 11)

إِلَّا ٱلَّذِينَ صَبَرُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أُو۟لَٰٓئِكَ لَهُم مَّغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ

Artinya: “Kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana), dan mengerjakan amal-amal saleh; mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang besar.” (Q.S Hud: 11).

  1. Allah bersama orang-orang yang sabar (Q.S Al Baqarah: 153)

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱسْتَعِينُوا۟ بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ

Artinya:” Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Q.S Al Baqarah: 153).

  1. Orang sabar akan diberi balasan tempat tinggi dalam surga (Q.S Al-Furqan: 75).

أُو۟لَٰٓئِكَ يُجْزَوْنَ ٱلْغُرْفَةَ بِمَا صَبَرُوا۟ وَيُلَقَّوْنَ فِيهَا تَحِيَّةً وَسَلَٰمًا

Artinya:” Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya,” (Q.S Al-Furqan: 75).

Selain itu pada masa sulit seperti ini, berbuat baik dan saling mengingatkan dalam kesabaran merupakan keutamaan. Dengan memperkuat kesabaran, semoga kita semua bisa melewati ujian pandemi ini dengan baik

 

Daftar Referensi

Al Quran.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (1990). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, hlm. 763

Ibnu al-Qayyim Al-Jauziyyah, ahli bahasa oleh A.M. Halim, Uddatu Ash-Shabirin wa Dzakhiratu asy-Syakirin, (Jakarta: Maghfirah Pustaka, 2006), hlm. 37.

Sleman Regency Coronavirus stats. (2021, 28 June).

Sleman Regency Coronavirus stats. (2021, 28 September).

Shereen,M.A.,  Khan,S., Kazmi, A., Bashir,N., & Siddique, R. (2020). COVID-19 infection: Emergence, transmission, and characteristics of human coronaviruses. Journal of Advanced Research, Vol.24.pp.91-98. DOI: https://doi.org/10.1016/j.jare.2020.03.005.

Shihab, M. Q. (2002). Tafsir al-Misbah Pesan, Kesan dan Keserasian al-Qur’an. Jakarta: Lentera Hati, hlm.181

Yunus, M. (1973).  Kamus Arab- Indonesia. Jakarta: Yayasan Penyelenggara Penterjemah/penafsiran Al-Qur’an,  hlm. 211.