Oleh : Dr. H. Fuad Nashori, S.Psi., M.Si., M.Ag,.. Psikolog——

Pengantar

Tiga dekade lalu, ketika Samuel Huntington mencetuskan tesis bahwa benturan peradaban (clash civilization) di masa depan akan melibatkan Barat versus Islam (huntington_clash.pdf (uzh.ch), terbit ‘rasa bahagia’ sekaligus sebuah pertanyaan dalam hati saya. Tesis tersebut sekurang-kurangnya menunjukkan bahwa secara potensial komunitas Muslim masih diperhitungkan dalam percaturan global. Sebagai seorang Muslim, pemikiran tersebut menjadikan saya berbangga hati, namun tak urung membuat sanubari saya terusik dan bertanya: “Betulkah komunitas Muslim benar-benar memiliki kekuatan untuk memberi sumbangsih terbaik bagi masyarakat global?”

Kondisi Komunitas Muslim Kini

Komunitas Muslim sering digambarkan secara tidak menyenangkan sebagai komunitas besar yang “patut dianggap remeh” dan “punya masalah rendah diri”. Selain itu, pandangan seperti “berada dalam barisan paling belakang di antara berbagai umat” atau “berada di anak tangga terbawah bangsa-bangsa” juga sering disematkan kepada golongan ini.

Dengan total hampir dua milyar (Mengapa Jumlah Umat Islam Diproyeksikan Lampaui Kristen? | Republika Online), ternyata tak menjadikan komunitas Muslim global sebagai kelompok yang kuat dan bahkan sebaliknya sering menjadi bulan-bulanan oleh sejumlah bangsa/komunitas lain. Contoh kelemahan komunitas Muslim adalah pertarungan klasik antara Palestina yang mayoritas berpenduduk Muslim dan Israel yang mayoritas berpenduduk Yahudi. Fakta bahwa secara geografis Palestina dikelilingi oleh puluhan negara di Kawasan Timur Tengah yang memiliki latar belakang ideologis serupa, terbukti tak menjadikannya mendapat dukungan guna melawan Israel. Padahal, Israel hanya sebuah negara kecil yang apabila komunitas Muslim di Kawasan Timur Tengah dapat bersatu, tentu penjajahan Israel atas  Palestina tidak akan berlarut-larut hingga kini.

Contoh lain yang sedang hangat diperbincangkan adalah tentang sinisme dan keraguan Bangsa Barat terhadap kualitas kepemimpinan Komunitas Muslim Taliban atas Afghanistan pasca mundurnya Amerika Serikat dan sekutunya dari invasi militer terhadap negara tersebut. Sementara itu, di belahan dunia lain, kasus terampasnya hak-hak kemanusiaan umat Muslim Uighur di Tiongkok (Muslim Uighur Diduga Kerap Diperkosa Oleh Otoritas Cina – Dunia Tempo.co) dan Rohingya di Myanmar turut menambah potret kelam ketidakberdayaan komunitas Muslim di dunia (Apa sebenarnya penyebab Myanmar menindas Muslim Rohingya? | merdeka.com).

Kelemahan komunitas global Muslim ini boleh jadi bersumber dari psiko-sosio-kultural yang tertanam dalam internal golongan ini sendiri. Rasa percaya diri yang rendah disinyalir sebagai salah satu hal yang menjadikan kekuatan komunitas Muslim tidak tampak. Kasus Indonesia dan Arab Saudi adalah contohnya. Tak hanya berstatus sebagai negara dengan komunitas muslim terbesar di dunia, tetapi Indonesia juga merupakan kekuatan ekonomi terbesar di Asia Tenggara. Kendati demikian, perkembangan mutakhir menunjukkan bahwa arah kebijakan ekonomi dan politiknya sangat kental dibayang-bayangi oleh kepentingan negara adidaya dunia, seperti Amerika Serikat dan Tiongkok. Sementara itu, Arab Saudi yang merupakan salah satu negara terkaya dan pemilik cadangan energi terbesar di dunia ini juga dapat dibilang belum memiliki independensi atas kebijakan politik luar negerinya. Negeri yang dipimpin Raja Salman ini tampak banyak dikendalikan oleh Washington (Antara Riyadh dan Washington – Kompas.id). Dengan segala kelebihan yang telah dianugerahkan, baik kepada Indonesia maupun Arab Saudi, kedua negara ini semestinya dapat menjadi contoh sukses negara mayoritas Muslim yang berpengaruh penting dalam percaturan global.

Sementara itu, Republik Turki adalah segelintir dari negara mayoritas Muslim yang terkenal akan keberanian pemimpinnya dalam menyuarakan kepentingan komunitas Muslim dunia (Presiden Erdogan Ajak Seluruh Negara Islam Lawan Israel – Dunia Tempo.co). Fakta tersebut menerbitkan pertanyaan, mengapa banyak negara Muslim lainnya tidak mengikuti jejak Turki?

Kekuatan Potensial Komunitas Muslim

Sekalipun kondisi komunitas Muslim global saat ini masih relatif memprihatinkan, saya tetap saja memiliki keyakinan akan hadirnya dan berkembangnya kekuatan Muslim di masa yang akan datang. Saya teringat dengan pernyataan Syaikh Muhammad Al-Ghazali, mantan rektor Universitas Al-Azhar, yang mengatakan bahwa pada akhir zaman nanti akan lahir peradaban keagamaan di mana Islam (dan komunitas Muslim) akan berdiri pada barisan paling depan sebagai pewaris dunia. Lebih lanjut Al-Ghazali mengungkapkan bahwa sebelum dunia berakhir peradaban Islam ini kelak akan memimpin dunia. Pandangan ini turut didasari oleh firman Allah SWT dalam surat Ali Imran, 3:55 yang menyuarakan hal serupa.

Kehebatan dan keunggulan Islam sesungguhnya terbukti pernah mengukir sejarah di masa lalu. Komunitas Islam besar seperti kekhalifahan Abbasiah dan Usmani menunjukkan betapa dahsyatnya kekuatan Muslim saat Islam melumuri seluruh sendi-sendi kehidupan mereka. Kuncinya adalah kesediaan untuk menjadikan nilai-nilai Islam sebagai basis kehidupan komunitas Muslim global. Apabila komunitas Muslim global semakin menghayati kekuatan ajaran agamanya, maka potensi kebangkitannya akan memancar pula. Bunga-bunga kebangkitan Muslim akan mekar. Pertanyaannya kemudian adalah potensi kekuatan komunitas Muslim apa sajakah yang harus dibangkitkan?

Pertama: keyakinan. Setiap Muslim mempercayai bahwa penentu segala sesuatu adalah Allah ‘azza wa jalla. Kalau kita yakin bahwa langkah-langkah kita diridhai Allah SWT, maka tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Keyakinan atas pertolongan-Nya akan memantapkan baik komunitas maupun individu Muslim untuk menatap masa depan dengan kepercayaan diri yang lebih tinggi. Ketika Shalahuddin al-Ayyubi memimpin umat Islam dalam perang Salib, keyakinan akan pertolongan Allah-lah yang membantu kemenangannya. Selaras dengan itu, ketika Bung Tomo memimpin gerakan 10 November, pekik keyakinan Allah-lah yang menguatkan langkah-langkah pahlawan Muslim Indonesia.

Kedua: konsep ummah. Berbeda dengan ahli sosiologi yang mempercayai ikatan darah (gemeinschaft by blood) sebagai ikatan dalam komunitas yang paling utama, ilmuwan Muslim asal Palestina Ismail Raji al-Faruqi justru mempercayai ideologi sebagai perekat pokok komunitas Muslim. Ideologi inilah yang menjadi penghubung antar umat Islam di berbagai belahan dunia. Komunitas Muslim memiliki kesadaran sebagai ummah. Terlepas jarak dan waktu, Muslim adalah saudara bagi Muslim yang lain, demikian salah satu ungkapan dalam al-Qur’an. Ketika orang-orang Bosnia Herzegovina menjadi objek kekejaman orang-orang Serbia, komunitas Muslim yang berada di berbagai belahan dunia lain merasakan sakit atas penderitaan yang dialami saudaranya. Ketika muslim Afghanistan dan Irak menjadi sasaran kebrutalan tentara Amerika Serikat, ketika muslim Uighur menjadi korban perlakuan tidak adil oleh Tiongkok (Ratusan ulama Uighur China diciduk dalam operasi di Xinjiang, jadi imam salat Jumat, didakwa ‘ekstremisme’ – BBC News Indonesia), dan ketika muslim Rohingnya menjadi korban kekerasan HAM oleh militer Myanmar (Genosida Rohingya – Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas), Muslim di belahan dunia lain berempati dengan nasib saudara mereka Rasa empati itu lahir dari kesatuan ideologi umat Islam di mana diri mereka adalah umat yang satu, yang meyakini Allah SWT sebagai Tuhan dan Muhammad SAW sebagai rasul.

Ketiga: prinsip kesetaraan dan penghargaan kepada multikultur. Salah satu kekuatan komunitas Muslim adalah prinsip kesetaraan atau kesamaan yang diterapkan dalam pergaulan sosial dengan umat-umat lain. Perlakuan yang setara dengan komunitas lain menjadikan komunitas muslim sebagai perekat. Dengan prinsip ini, komunitas Muslim tidak memiliki jarak dengan komunitas lain. Salah satu prinsip kesetaraan ini dipraktikkan oleh komunitas muslim di India. Sebuah studi yang dilakukan oleh peneliti Muslim India N. Hasnain menunjukkan bahwa komunitas Hindu Terdaftar (Hindu yang berasal dari kalangan kasta bawah) lebih cenderung bersahabat dengan komunitas Muslim India dan memandang komunitas Muslim dengan cara pandang yang lebih baik dibanding dengan komunitas Hindu Kasta Formal (kasta tinggi dalam agama Hindu).

Terwujudnya hal demikian tidak lain adalah karena diaktualisasikannya prinsip kesetaraan. Saya percaya bila prinsip penghargaan terhadap sesama dikembangkan oleh komunitas Muslim, maka hal ini akan menumbuhkan respek (penghormatan) dari komunitas lain.

Pada giliran berikutnya, penghargaan terhadap sesama memungkinkan berkembangnya apresiasi yang lebih tinggi pada keragaman kultur atau multikultur. Sesungguhnya, ajaran Islam mencirikan Muslim sebagai penganut yang toleran terhadap ajaran agama lain. Pernyataan Al-Qur’an ”lakum diinukum wa liyadiin” (untukmu agamamu dan untukku agamaku”) adalah ungkapan atas pentingnya menghargai umat lain yang berbeda ras, budaya, dan keyakinan penting untuk diejawantahkan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Muslim global. Toleransi multikultur ini akan menjadi bekal yang baik bagi masyarakat Muslim untuk dapat hidup berdampingan dengan damai dengan komunitas non-Muslim lainnya.

Keempat: Sinergi dan Kompetisi. Dua kata kunci seperti dua kata yang berlawanan, namun keduanya dapat berjalin berkelindan apabila disinergikan dengan baik. Islam mengajarkan kepada setiap Muslim untuk ”fastabiqul khairat” (berlomba-lomba dalam kebaikan). Ini mengisyaratkan ajaran kompetisi diperkenankan oleh Islam. Dengan hidupnya kompetisi, maka hal ini akan memacu terciptanya karya-karya dan putra-putra terbaik dari kalangan Muslim. Lebih lanjut, apabila pedoman ini ditranslasikan dalam kaitannya dengan pemilu, maka hendaknya calon pemimpin negara dengan kualitas terbaiklah yang akan terpilih sebagai wakil rakyat.

Kendati demikian, komunitas Muslim juga hendaknya tak melupakan vitalnya kebutuhan untuk senantiasa bersinergi. Firman Allah ’azza wa jalla tentang ”bekerjasama dalam kebaikan dan taqwa” mengisyaratkan pentingnya membentuk sinergi dalam kebaikan dalam bermasyarakat. Menilik sejarah, dahulu Amirul Mukminin Umar bin Khattab sukses mencapai puncak kekhalifahan karena berhasil mensinergikan peran serta sahabat-sahabat terbaik seperti Ali bin Thalib, Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Thalhah dan Zubair.

Sinergi yang dilakukan tidak hanya terarah kepada sesama Muslim, tetapi juga dapat dijalankan dengan komunitas lain. Sebagai contoh, Abdussalam adalah seorang ilmuwan Muslim taat yang pernah menerima Nobel Fisika Biografi Professor Abdus Salam – Fisikawan Muslim | Biografiku.com), juga terbukti meraih penghargaan tersebut karena memiliki kemampuan bersinergi yang luar biasa dengan kolega-koleganya dari Eropa dan bagian dunia lain. Abdus Salam sukses merumuskan temuan ilmiah tentang ‘model standar’ modern dari struktur atom yang membuktikan ketunggalan alam semesta.

Sementara itu, contoh mengagumkan lain juga diperlihatkan oleh walikota London saat ini. Sebuah kota yang dikenali sebagai pusat pasar keuangan dunia ini dipimpin seorang Muslim yang rajin shalat dan berpuasa Ramadhan bernama Sadiq Khan (Sadiq Khan Menang, London Bakal Dipimpin Lagi Oleh Muslim – Dunia Tempo.co). Kemampuan bersinerginya dipuji dunia karena kemampuannya dalam memimpin sebuah kota utama pusat peradaban Barat. Tentu bukan perkara mudah untuk tetap menjadi Muslim yang baik di tengah tuntutan profesional sebagai pemimpin kota yang menjadi jantung peradaban Barat tersebut.

Kelima: Pengembangan Sifat-sifat Positif

Beberapa sifat positif manusia yang dulu menjadi karakter komunitas Muslim dan sekarang tampak kurang berkembang adalah keberanian. Setiap komunitas Muslim mendapat tugas untuk menjadi umat terbaik yang melaksanakan amar maruf, nahi mungkar dan senantiasa beriman kepada Allah SWT. Tugas-tugas di atas dapat dilaksanakan dengan baik apabila komunitas Muslim memiliki keberanian. Apa yang ditunjukkan oleh Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dalam menyikapi sikap arogan Amerika Serikat patut menjadi renungan dan teladan bagi Muslim lainnya (Erdogan Jadi Tokoh Muslim Paling Berpengaruh di Dunia (cnnindonesia.com). Ia merefleksikan karakter Muslim yang sudah ditunjukkan oleh para sahabat dahulu. Pada zaman Nabi SAW terdapat sebuah kisah keberanian yang sulit dicari tandingannya sampai saat ini, yaitu ketika Ali bin Abi Thalib bersedia dengan ikhlas menggantikan Rasulullah SAW tidur di rumah Beliau untuk mengecoh musuh tanpa memikirkan resiko ia dapat terbunuh. Tak hanya itu, Ali juga sangat sering menjadi andalan kaum Muslim dalam peperangan melawan kafir Quraisy (Kisah Ali bin Abi Thalib: Gerbang Pengetahuan Islam & Menantu Nabi (tirto.id). Menurut saya, keberanian adalah salah satu sifat positif yang saat ini seolah tumpul dan tidak terasah dalam diri masyarakat Muslim.

Sifat positif lainnya yang sepatutnya dikembangkan adalah mencintai sesama, mudah memaafkan, bermurah hati, dan sebagainya.  Apabila sifat-sifat positif ini dapat diimplementasikan oleh komunitas Muslim, maka persepsi dan perilaku dari komunitas non-Muslim terhadap komunitas Muslim juga akan lebih positif.

Penutup

Agar umat Islam lebih siap memberikan kontribusi terbaik terhadap masyarakat global, maka prinsip yang semestinya dipegangteguh adalah rahmatan lil ’alamin. Para Rasul diutus oleh Allah SWT kepada manusia di dunia ini adalah untuk menghadirkan rahmat (kebaikan) kepada alam semesta dan isinya. Mengapa kita harus siap menghadapi interaksi global, tidak lain adalah agar ajaran rahmatan lil ’alamin yang diperintahkan Allah SWT tersebut dapat berlangsung secara lebih optimal.

Demikian. Wallahu a’lam bi ash-shawab.

 *Dr. H. Fuad Nashori adalah Dosen dan dekan Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya UII (‪H. Fuad Nashori – ‪Google Cendekia, (17) Fuad Nashori (researchgate.net)