Krisis kepemimpinan yang sudah ada sejak dulu masih belum selesai hingga saat ini. Gaya kepemimpinan kenabian (sidik, amanah, tabligh, fatanah) mungkin bisa menjadi solusi untuk menjawab atau mengatasi krisis kepemimpinan tersebut. Demikian pengantar yang disampaikan oleh Dr. Ahmad Rusdi, S.Psi., S.Sos.I., MA.Si. pada  kegiatan webinar bertajuk Prophetic Leadership: Riset dan Implementasi yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Psikologi Islam (PSPI) Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB) Universitas Islam Indonesia (UII), Sabtu, 18 Safar 1443 H/25 September 2021. Kegiatan menghadirkan Dr. Sus Budiharto, S.Psi., M.Si., Psikolog sebagai pemateri.

Dalam paparannya Sus Budiharto menerangkan bahwa pengembangan kepemimpinan yang baik bisa diawali dari keluarga yang baik seperti halnya keluarga nabi-nabi. Meski demikian, tidak semua dimulai dari yang baik/suci juga karena banyak sahabat Nabi Muhammad SAW, juga Wali Songo dan ulama yang memiliki masa muda tidak baik kemudian bertobat dan menjadi baik.

Dinamika antar kepemimpinan profetik sepertinya halnya silih bergantinya siang dan malam, beredarnya bulan pada bumi, beredarnya bumi pada matahari, maupun beredarnya planet mengelilingi matahari seperti halnya tawaf (sidik-amanah-tablig-fatanah-sidik dst). Dinamika terebut saling menguatkan, saling mendukung dan saling membatasi seperti halnya siang dan malam.

Selebihnya, sosok ramah yang akrab disapa Pak Sus tersebut banyak menyampaikan tentang riset (kuantitatif) korelasi tentang kepemimpinan profetik, riset kualitatif tentang implementasi kepemimpinan profetik, riset eksperimen lapangan tentang kepemimpinan profetik, peta riset kepemimpinan profetik, pengembangan kepemimpinan profetik, asesmen kepemimpinan profetik, dan  intervensi kepemimpiman profetik.

Dan tak lupa Pak Sus mengupas lebih dalam tentang pengembangan potensi, pelatihan dan juga perintah di dalam Al Quran terkait sidiq, amanah, fathonan, dan tabligh.