Pandemi COVID-19 yang tak kunjung usai hingga saat ini masih menjadi acuan para pemangku kebijakan untuk tetap menerapkan regulasi ketat di berbagai sektor kehidupan, tak terkecuali di sektor pendidikan. Secara nasional, pemerintah kita saat ini masih menerapkan kebijakan pembelajaran dilakukan secara daring/jarak jauh dengan memanfaatkan teknologi informasi, mulai dari tingkat TK, SD, SMP, SMA hingga Perguruan Tinggi. Setelah beberapa bulan diterapkan, beberapa lembaga riset di tanah air menemukan fakta bahwa pembelajaran secara daring ternyata sangat membosankan dan membuat siswa stres. Kondisi ini tentu tidaklah salah jika seorang pengajar (guru/dosen) tidak memiliki kompetensi mengajar secara baik atau hanya sekedar memindahkan suasana belajar mengajar di kelas seperti biasanya ke dalam pengajaran daring tanpa adanya sebuah sentuhan kreativitas.

Oleh karena itu, dalam rangka membekali mahasiswanya untuk bisa memiliki kompetensi yang baik dalam mengajar secara daring (khususnya bagi mereka yang akan melaksanakan Praktek Pengalaman Lapangan-PPL ke sekolah), pengelola Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (PBI) Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB) Universitas Islam Indonesia (UII) secara khusus menggelar workshop/webinar kepakaran (Guest Lecture) bertema “Becoming Creative English Teachers in Time of Pandemic & Remote Learning” dengan menghadirkan Badriah, M.Pd dan  Ami Syamsiah, M.Pd. sebagai pemateri, Senin, 6 Juli 2020.

Kepada para peserta kegiatan yang didominasi oleh mahasiswa MK Reflective Peer Microteaching tersebut, Badriah menyampaikan perlunya beberapa pertimbangan yang harus dilakukan oleh seorang pengajar secara daring, seperti mendesain pembelajaran yang efektif dan menyenangkan maupun pemilihan aplikasi platform yang sesuai kondisi siswa, terjangkau dan mudah diakses.

Sosok guru berprestasi tingkat nasional (Juara 1 Forum Ilmiah Guru) yang juga seorang penulis dan penggerak literasi tersebut menegaskan keberadaan Surat Edaran Mendiknas No 14/2019 berisi tentang penyederhanaan rencana pelaksanaan pembelajaran (Lesson Plan) yang dapat disesuaikan/dimodifikasi tanpa adanya ketentuan atau format yang kaku. Guru Bahasa Inggris SMA N 2 Cianjur sekaligus konsultan pendidikan di Ponpes Al Bahjah Cianjur itu pun memberikan beberapa contoh aplikasi pembelajaran yang bisa digunakan untuk sekolah menengah, seperti vocaroo.com, clarisketch, jamboard, google classroom, dan juga google meet.

Sementara Ami Syamsiah dalam paparannya menegaskan bahwa guru dan atau calon guru harus siap terhadap berbagai masalah yang muncul, utamanya masalah yang berkait erat dengan proses kegiatan belajar mengajar. Guru Bahasa Inggris MAN 3 Yogyakarta ini pun mengingatkan pentingnya para guru atau calon guru untuk menciptakan suasana belajar yang nyaman, termasuk dalam memberikan deadline tugas agar dibuat dengan aturan-aturan yang tidak kaku serta disesuaikan dengan kondisi siswa.

Terkait dengan antisipasi praktik plagiarisme (termasuk plagiasi secara online)  saat mengerjakan tugas, maka menurutnya guru atau calon guru dituntut untuk lebih kreatif dalam mendesain instrumen penilaian. Selain itu, guru atau calon guru hendaknya juga selalu menanamkan dalam diri siswa bahwa semua yang dilakukan harus berdasarkan pada nilai kejujuran. “Kejujuran adalah kunci yang akan membawa keberkahan ilmu dan hidup”, tandasnya.

Irma Windy Astuti, S.S., M.Hum. selaku Ka. Prodi PBI berharap agar dari pelaksanaan workshop-workshop dan webinar kepakaran/keprofesian yang diselenggarakan secara berkala itu nantinya benar-benar mampu membekali mahasiswa dengan pengetahuan dan wawasan keilmuan yang spesifik dan kontekstual dalam rangka menjawab tantangan dan permasalahan riil di lapangan (di bidang pendidikan dan/ atau lingkup persekolahan) khususnya di masa pandemi/dalam fase pembelajaran jarak jauh (remote learning) ini.

“Dengan intensi dan semangat untuk terus belajar tersebut dan melalui sinergi dengan guru, praktisi dan pakar yang kompeten dan berpengalaman, mahasiswa diharapkan lebih termotivasi dan terinspirasi untuk siap melakukan pelayanan dan melaksanakan tugasnya (melaksanakan pengabdian KKN dan tugas PPL) selama terjun di masyarakat”, harap Irma Windy Astuti.