OLeh : Dr. Hepi Wahyuningsih, S.Psi., M.Si.–

Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling bagus akhlaknya.” (HR Tirmidzi). Berdasarkan hadist tersebut terlihat bahwa akhlak mulia muncul dari iman yang sempurna. Agar individu memiliki akhlak yang baik, maka ia harus memiliki keimanan yang baik. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah manusia yang paling sempurna akhlaknya karena beliau adalah manusia yang paling sempurna keimanannya.

Kesempurnaan keimanan seorang muslim dapat dilihat dari enam rukun iman, yaitu iman pada Allah Subhanahu Wa Ta’alla, iman pada malaikat Allah Subhanahu Wa Ta’alla, iman pada kitab-kitab Allah Subhanahu Wa Ta’alla, Iman pada rasul-rasul Allah Subhanahu Wa Ta’alla, iman pada hari akhir,dan iman pada takdir. Muslim yang beriman pada Allah Subhanahu Wa Ta’alla memiliki keyakinan kuat pada Allah Subhanahu Wa Ta’alla karena ia mengenal Allah Subhanahu Wa Ta’alla dengan sangat baik, setidaknya ia mengenal 20 sifat wajib Allah Subhanahu Wa Ta’alla beserta maknanya. Misalnya dengan mengenal sifat iradat Allah Subhanahu Wa Ta’alla, maka ia akan meyakini bahwa segala sesuatu terjadi karena kehendak Allah. Saat ia dicaci maki oleh orang lain, dia akan memandang cacian tersebut sebagai perbuatan Allah Subhanahu Wa Ta’alla, atas kehendak Allahlah orang tersebut mencaci, sehingga ia tidak akan sakit hati dan kemudian mendendam pada orang tersebut. Pada sisi yang lain ia memandang cacian tersebut sebagai bentuk kasih sayang Allah Subhanahu Wa Ta’alla dimana Allah Subhanahu Wa Ta’alla mungkin ingin menegurnya melalui orang atau bentuk kasih sayang Allah agar ia mendapatkan banyak pahala dengan bersabar dan memaafkan orang yang mencacinya.

Kemudian, keimanan pada Allah Subhanahu Wa Ta’alla mengantarkan seorang muslim untuk iman kepada malaikat Allah Subhanahu Wa Ta’alla. Dengan mengenal para malaikat sebagai makhluk ciptaan Allah Subhanahu Wa Ta’alla yang masing-masing mendapatkan tugas dari Allah Subhanahu Wa Ta’alla, seorang muslim akan termotivasi untuk melakukan perbuatan baik dan meninggalkan perbuatan buruk. Misalnya, dengan meyakini bahwa ada malaikat yang bertugas untuk senantiasa mengawasi manusia, mencatat amal baik dan amal buruk maka seorang muslim akan berhati-hati dalam berperilaku. Contoh yang lain, seorang muslim tidak akan mendoakan hal buruk kepada orang lain karena ia paham dan yakin bahwa ketika ia mendoakan hal buruk untuk orang lain maka ada malaikat yang akan mendoakan hal yang sama untuk dirinya.

Rukun iman yang selanjutnya adalah iman kepada kitab-kitab Allah Subhanahu Wa Ta’alla. Dengan memahami dan mempelajari Al Qur’an sebagai kitab Allah yang masih dijaga kemurniannya sampai akhir zaman, maka seorang muslim akan memiliki keyakinan yang kuat terhadap isi ajaran dalam Al Qur’an. Keyakinan tersebut menjadikannya bersungguh-sungguh berusaha mengamalkan kandungan Al Qur’an dalam perilakunya sehari-hari. Misalnya, seorang muslim akan berusaha dengan sungguh-sungguh untuk berbakti pada kedua orangtuanya karena dalam Al Qur’an ada perintah untuk berbakti pada kedua orangtua. Berkaitan dengan Al Qur’an, ketika Ibunda Aisyah Radhiyallahu’anha ditanya mengenai akhlak Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, beliau menjawab: “Akhlak Rasulullah adalah Al Quran” (HR Ahmad).

Dengan mengimani rasul-rasul Allah Subhanahu Wa Ta’alla sebagai rukun iman yang keempat, seorang muslim akan terbimbing untuk berakhlak mulia karena ia akan menjadikan rasul Allah Subhanahu Wa Ta’alla sebagai teladan dalam kehidupannya. Untuk itu seorang muslim perlu mengenal Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebagai nabi dan rasul terakhir yang diutus untuk umat manusia. Seorang muslim perlu mempelajari dan mengenal kehidupan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melalui banyak hal, misalnya dengan membaca buku shiroh nabawiyah, mendengarkan pengajian yang bercerita tentang kehidupan sehari-hari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, ataupun dengan banyak bersholawat seperti yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’alla dalam Al Qur’an. Insya Allah akan Allah Subhanahu Wa Ta’alla tumbuhkan perasaan mencintai Rosulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melalui hal tersebut. Kecintaan seorang muslim pada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam akan menjadikan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebagai idola yang akan diteladani dalam setiap aspek kehidupannya.

Iman kepada hari akhir menjadikan seorang muslim senantiasa mengorientasikan hidupnya untuk akhirat. Orientasi hidup kepada akhirat ini tentu saja akan membimbingnya untuk selalu berperilaku baik karena ia benar-benar faham bahwa perilaku baik akan mengantarkannya pada kebahagiaan di akhirat sedangkan perilaku yang buruk hanya akan memberikan kesengsaraan pada hari kiamat. Dahsyatnya peristiwa di padang mahsyar akan senantiasa membuatnya mengendalikan diri dari perilaku buruk, demikian juga dengan panasnya api neraka. Sedangkan kenikmatan di surga memotivasi seorang muslim untuk berperilaku baik.

Rukun iman yang terakhir adalah iman kepada takdir. Keyakinan pada takdir juga membimbing seorang muslim untuk memeliharanya dari perilaku buruk. Misalnya, seorang muslim yang yakin bahwa setiap orang sudah ditentukan rezekinya masing-masing, maka mustahil dirinya akan iri pada kelebihan atau rizki yang diterima oleh orang lain. Hal itu terjadi karena ia memahami bila dirinya iri terhadap rizki yang diterima oleh orang lain berarti dirinya tidak menerima takdir yang Allah tetapkan pada orang tersebut. Orang yang yakin pada takdir tentu juga tidak akan sombong dengan kelebihan yang dimilikinya karena dia faham bahwa hal tersebut hanya karena Allah mentakdirkan demikian. Dia juga tidak akan rendah diri dengan apa yang ada pada dirinya karena dia menyakini hal tersebut merupakan takdir dari Allah. Demikian juga dia tidak akan menghina orang lain dengan kekurangan orang tersebut karena bila dia menghina kekurangan orang lain maka sama saja dirinya menghina Allah yang mentakdirkan orang tersebut memiliki kekurangan.

Demikianlah, apabila seorang muslim telah memiliki keimanan yang baik pada ke-6 rukum iman, maka tentu ia akan memiliki akhlak yang mulia. Semoga kita senantiasa diberi rahmat dan taufik oleh Allah Subhanahu Wa Ta’alla untuk terus menerus memperbaharui keimanan kita yang akan mendorong kita untuk terus menerus memperbaiki perilaku kita menuju akhlak mulia. Astaghfirullahal’adzim, Wallahu’alam bi showab.