OLeh : Dian Febriany Putri, S.Psi., M.Psi., Psi ———–

 

Harta yang paling berharga adalah keluarga…

Istana yang paling indah adalah keluarga…

Puisi yang paling bermakna adalah keluarga…

Mutiara tiada tara adalah keluarga…

 

Adakah yang membaca kalimat-kalimat di atas dengan bersenandung? Atau ketika membaca merasa bahwa kalimat-kalimat tersebut tidak asing dan pernah mendengarnya di suatu waktu? Ya, kalimat di atas merupakan penggalan lirik dari lagu tema serial drama yang cukup terkenal pada tahun 90’an, Keluarga Cemara. Namun apa yang saya tuliskan ini tentunya bukan bertujuan untuk memberikan sinopsis atau reviu dari serial drama tersebut. Lebih daripada itu, tema keluarga yang diangkat dalam serial drama tersebut, serta makna dalam untaian lirik kalimat yang diciptakan sebagai pengantar serial drama tersebut bagi saya cukuplah dalam dan kuat. Hingga saat ini, apabila saya ditanya atau mendengar celetukan mengenai serial drama atau film bergenre keluarga, salah satu yang terbesit di diri saya adalah Keluarga Cemara. Dapat dikatakan serial drama ini sebagai pioneer untuk serial drama ataupun film dalam genre tersebut. Hal yang disajikan cukup sederhana, kehidupan sehari-hari pasangan orang tua dan anak-anaknya beserta dinamika yang terjadi di dalam kehidupan berkeluarganya. Banyak pesan moral yang disampaikan baik secara eksplisit maupun implisit, beberapa adegan mungkin ada yang cukup relevan dengan kehidupan sehari-hari dan mengena, hingga tak jarang sampai menitikkan air mata.

 

Berdasarkan serial drama tersebut pun saya mencoba memaknai beberapa hal, bahwasanya kita dapat melihat sebuah keluarga inti sendiri sebagai sebuah organisasi. Apabila dilihat dari ukurannya, organisasi ini memang tidak begitu besar, dapat dikatakan sangat kecil. Namun justru dari organisasi kecil inilah segala sistem nilai ditanamkan yang akan terus mengakar sampai dengan seseorang beranjak dewasa kelak. Selain itu, tidak jarang di dalam sebuah organisasi kita menemukan variasi kepribadian yang berbeda-beda. Perbedaan kepribadian tersebut dapat mewujudkan berbagai macam sudut pandang yang tidak jarang memunculkan perbedaan pendapat maupun konflik kelompok yang bisa saja mengakibatkan berai, namun juga mampu membangun, serta tidak membuat pudarnya konformitas. Lalu mengapa dengan adanya perbedaan-perbedaan tersebut justru dapat mengeratkan sebuah organisasi, yang mana dalam konteks ini adalah keluarga?

 

Sebelum menelaah lebih lanjut, kita dapat melihat apa arti dari sebuah organisasi terlebih dahulu. Organisasi secara umum dapat diartikan sebagai dua orang atau lebih yang berada dalam suatu wadah dan juga memiliki tujuan yang sama. Pada sebuah organisasi pula, terdapat budaya tertentu yang bisa menjadi identitas atas organisasi tersebut. Budaya organisasi merupakan perangkat sistem nilai-nilai (values), atau norma-norma (beliefs), asumsi-asumsi (assumptions), atau norma-norma yang telah lama berlaku, disepakati dan diikuti oleh para anggota suatu organisasi sebagai pedoman perilaku dan pemecahan masalah-masalah organisasinya (Sutrisno, 2010). Lebih lanjut, peran dari budaya organisasi ini sendiri sebagai alat untuk mengarahkan organisasi, mengarahkan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, dan juga sebagai alat untuk menghadapi masalah dan peluang dari lingkungan organisasi (Muis, Jufrizen & Fahmi, 2018).

 

Apabila kita meninjau kembali komponen-komponen dari budaya organisasi di atas, dapat kita lihat bahwa adanya perbedaan variasi kepribadian anggota-anggota di dalamnya bukanlah menjadi suatu penghalang selama terdapat values atau norma yang dimiliki oleh organisasi tersebut dan hal itulah yang menjadi acuan atau pegangan bagi anggotanya dalam berperilaku, menghadapi permasalahan, mencari solusi, dan sebagainya semata-mata untuk mencapai tujuan besar dari organisasi tersebut. Saya yakin masing-masing keluarga memiliki tujuan yang tentunya bisa jadi berbeda-beda. Ibarat sebuah kapal, tentunya setiap keluarga memiliki tujuan pelabuhannya masing-masing dan ke dermaga mana mereka akan menambatkan jangkar mereka. Namun bisa juga, beberapa keluarga memiliki tujuan yang persis dan hampir mirip, namun mereka memiliki cara masing-masing untuk mencapainya. Ada yang memilih jalur A, jalur B, jalur C, dan seterusnya yang bisa jadi bertujuan untuk mencapai tujuan atau pelabuhan yang sebenarnya sama.

 

Secara lebih konkret, saya ingin menceritakan sedikit terkait suatu hal yang bagi saya cukup menarik dan baru saya sadari ketika berkuliah melalui interaksi saya dengan seorang teman. Ketika itu, saya tengah pergi dengan salah satu teman dan saya membonceng dirinya menaiki sepeda motor. Pada saat kami hendak pulang, saya minta izin untuk mampir sebentar ke suatu warung makan untuk membeli makanan yang dititipkan oleh ibu saya karena pada hari itu Beliau sedang tidak memasak. Singkat cerita, saya cukup memesan dua bungkus makanan yang memang jumlahnya lebih sedikit dengan jumlah orang di rumah. Lantas teman saya menanyakan mengapa saya hanya membeli tidak sejumlah dengan orang yang ada di rumah. Saya hanya menjawab bahwa hal tersebut sudah menjadi hal yang biasa dan memang menyesuaikan dengan kapasitas makan anggota keluarga kami. Saat itu teman saya hanya ber-“ooh” dan berujar jika kebiasaan di keluarganya berbeda, di mana satu bungkus makanan masing-masing untuk satu orang anggota keluarga. Kamipun hanya tertawa atas perbedaan kebiasaan di keluarga kami masing-masing.

 

Entah mengapa peristiwa kecil tersebut terkadang masih melekat di diri saya hingga saat ini. Lantas apa kaitannya dengan perihal budaya organisasi tadi? Keluarga sebagai sebuah organisasi kecil yang memiliki tujuan-tujuan tertentu pastinya memiliki cara masing-masing yang mana mencerminkan budaya di dalamnya, untuk dapat mencapai tujuan tersebut. Setiap keluarga, terutama orang tua, pasti menginginkan dan memiliki tujuan untuk menjadikan anak-anaknya memiliki sikap maupun perilaku yang baik. Mayoritas orang tua pasti menginginkan dan memiliki tujuan besar untuk menjadikan anak-anaknya sebagai sosok rahmatan lil ‘alamin. Meski demikian, tentunya banyak cara dan metode yang dilakukan oleh orang tua untuk menanamkan values (nilai-nilai) luhur moral agar dapat mencapai tujuan besar atau sampai dengan pelabuhan yang dituju. Salah satu nilai yang diajarkan oleh orang tua untuk membentuk pribadi anaknya agar dapat bermanfaat, tentunya adalah dengan berbagi, apapun bentuknya. Tujuan orang tua yang mengharapkan kebaikan terutama untuk anak-anaknya tentu membuat kita sebagai anak layak membalas mereka dengan kebaikan pula. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Q.S An-Nisaa’ ayat 36: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua” dan juga Q.S Al-Isra ayat 23-24: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.

 

Berdasarkan atas apa yang saya alami, saya menyadari bahwa mungkin memang demikianlah cara atau budaya di keluarga saya untuk menanamkan nilai tersebut dari orang tua kepada anaknya. Tidak melulu dalam bentuk pendiktean, namun dengan memberi kesempatan untuk turut merasa dan melakukan secara langsung. Sederhananya, untuk dapat berbagi dengan orang lain, tentunya kita dapat melatih dengan lingkungan terdekat kita terlebih dahulu. Mengajarkan diri sendiri untuk tidak menanam dan menumbuh suburkan ego, namun juga perlu untuk peka dan melihat sekitar apakah masih ada sosok lain yang juga membutuhkan. Layaknya hal berbagi makanan dengan sesama anggota keluarga secara adil di meja makan, sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Kemudian memanfaatkan atau mengkonsumsi sesuatu secukupnya, tanpa perlu berlebihan layaknya kehidupan Abah, Emak, Euis, Ara, dan juga Agil. Melakukan suatu kebaikan tentu tidak membuat kurang atas apa yang kita miliki. Melakukan kebaikan justru akan memberikan kebaikan pula bagi yang melakukannya cepat ataupun lambat, sebagaimana firman Allah SWT dalam Q.S Al-Isra ayat 7: “Barang siapa berbuat baik, sesungguhnya kebaikan itu untuk dirinya sendiri, dan jika berbuat jahat maka kejahatan itu untuk dirinya sendiri”. Rasulullah SAW pun juga bersabda: “… dan barangsiapa (yang bersedia) membantu keperluan saudaranya, maka Allah (akan senantiasa) membantu keperluannya” (Hadits Riwayat Bukhari).

 

Semua prinisip-prinsip kebaikan itu ternyata dapat dilahirkan dan ditanamkan sejak dini, sejak dari aktivitas maupun interaksi di dalam sebuah keluarga yang merupakan suatu organisasi kecil namun memiliki dampak begitu besar pada kehidupan panjang seorang manusia nantinya. Hingga kemudian nantinya kebiasaan-kebiasaan sederhana yang bermula pada tatanan keluarga tersebut akan mengakar dan merambat pada hal-hal lainnya, yang mana membuat kita senantiasa cukup, ringan untuk bersyukur atas segala sesuatu yang telah dimiliki. Insya Allah.

 

Referensi:

Muis, M. R., Jufrizen, J., & Fahmi, M. (2018). Pengaruh Budaya Organisasi dan Komitmen Organisasi Terhadap Kinerja Karyawan. Jurnal Ekonomi & Ekonomi Syariah, 1 (1), 9-25.

Sutrisno, Edy. (2010). Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Prenada Media.