Oleh :  Ista Maharsi, SS, M.Hum —————

“Ais, nanti malam ada pengajian di rumah. Nanti tolong bantu Ibu menyiapkan minuman dan snack ya,” kata Ibu dengan nada datar sambil membuka lemari.

“Besok Ais ada ujian semester, Bu. Ais mau belajar,” sahut Ais dengan nada agak tinggi dan sedikit kesal kemudian berlalu masuk ke dalam kamar dan membanting pintu. Benak Ais berkecamuk bercampur rasa kesal “Mengapa sih Ibu meminta Ais untuk membantu menyiapkan acara pengajian. Besok kan ujian, mana belum belajar pula. Terus kalau nggak belajar, gimana dong nilai Ais. Kan semester kemarin sudah ranking 1, semester ini harus ranking 1 lagi. Ah, Ibu ini…” pikir Ais.

Sayup-sayup Ais mendengar ibunya berkata dengan nada tinggi menunjukkan kekesalannya “Diminta bantu Ibu kok nggak mau… Belajar nggak menjamin nilai bagus. Kalau Ais mau membantu Ibu menyiapkan acara pengajian, bisa jadi meskipun Ais nggak belajar tapi Allah ridlo, dan nilai Ais tetap bagus.”

Ais tahu ibunya marah karena dirinya tidak mau membantu tetapi lagi-lagi Ais tetap pada pendiriannya. “Pokoknya aku harus belajar. Aku mau ranking 1 lagi,” tekat Ais dalam hati.

Acara pengajian pun usai tanpa Ais membantu Ibunya.

Saat terima rapot, Ais mendapati nilai yang sangat mengecewakan, ranking nya pun terjun bebas. Sekejap Ais teringat perkataan guru agamanya di sekolah tentang larangan berkata “ah!” pada kedua orang tua. Lalu Ais teringat apa yang telah dilakukan pada Ibunya minggu lalu. Ais pun menyesali semua yang telah dia lakukan.

Kisah sikap ketidaktaatan seorang remaja putri 14 tahun terhadap ibunya bisa menjadi refleksi kita. Kisah ini mengandung hikmah yang tidak sederhana. Sikap penolakan Ais untuk membantu ibunya serta perkataan ibu Ais sebagai bentuk kekecewaan atas penolakan Ais dapat menjadi sebuah peringatan untuk kita. Kekecewaan sang ibu terhadap Ais telah menyebabkan tidak ridlonya Allah sehingga Allah memberi sedikit pelajaran untuk Ais. Seorang ibu tentu tidak tega mendoakan keburukan bagi anaknya. Namun terkadang, kemarahan dan kekecewaan yang dipendam dapat menjelma doa tak terucapkan. Rasa jengkel ibu bisa membuat ibu tidak ridlo dengan yang kita lakukan, hingga akhirnya kita ditimpa ketidaknyamanan, ketidakbahagiaan, dan bahkan kemalangan. Naudzubillah min dzalik!

Menyakiti hati ibu, meski sedikitpun, akan membawa dampak tidak baik dalam kehidupan. Padahal jika kita mau mengingat-ingat kembali dan merefleksi apa yang telah kita lakukan pada ibu, tentu amat sangat banyak hal yang dapat menyakiti dan mengecewakan hati ibu. Jangankan memarahi atau membentak ibu, berkata “ah!” saja dilarang oleh agama kita.

Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Ahqaf ayat 17:

وَالَّذِي قَالَ لِوَالِدَيْهِ أُفٍّ لَكُمَا أَتَعِدَانِنِي أَنْ أُخْرَجَ وَقَدْ خَلَتِ الْقُرُونُ مِنْ قَبْلِي وَهُمَا يَسْتَغِيثَانِ اللَّهَ وَيْلَكَ آمِنْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَيَقُولُ مَا هَٰذَا إِلَّا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ

Dan orang yang berkata kepada kedua orang tuanya, “Ah.” Apakah kamu berdua memperingatkan kepadaku bahwa aku akan dibangkitkan (dari kubur), padahal beberapa umat sebelumku telah berlalu? Lalu kedua orang tuanya itu memohon pertolongan kepada Allah (seraya berkata), “Celaka kamu, berimanlah! Sesungguhnya janji Allah itu benar.” Lalu dia (anak itu) berkata, “Ini hanyalah dongeng orang-orang dahulu belaka.” (Al-Ahqaf: 17)

Surat Al Ahqaf ayat 17 tersebut mengandung beberapa pelajaran. Pertama, perkataan anak dapat menyebabkan orang tua sakit hati dan kecewa, terlebih lagi saat anak tersebut menolak diajak kepada kebenaran (Islam). Kedua, Allah melarang seorang anak berkata kasar kepada orang tua karena mereka telah merawat dan membesarkan anak tersebut dengan bersusah payah dan penuh pengorbanan. Seperti firman Allah SWT dalam QS Luqman ayat 14.

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu (QS Luqman: 14)

Demikianlah Allah telah perintahkan kita untuk bersyukur pada kedua orang tua kita, berbuat baik kepada mereka, dan lemah lembut kepada mereka. Dalam keadaan apapun, kita diwajibkan untuk tetap menghormati, menyayangi, dan bersikap lemah lembut kepada mereka. Jika ada masalah, tentu dapat dicarikan jalan keluar dengan cara yang baik. Jika ada perbedaan pendapat, saling menghormati bisa menjadi jalan terbaik. Tak ada alasan apapun untuk tidak menghormati kedua orang bahkan berkata kasar kepada mereka. Satu-satunya penolakan yang harus dilakukan adalah pada saat orang tua mengajak anaknya kepada kekufuran. Penolakan itu pun harus dilakukan dengan cara baik-baik.

Allah berfirman dalam Quran Surat Al-Ankaabuut ayat 8:

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْنًا ۖ وَإِنْ جَاهَدَاكَ لِتُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۚ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan (Al-Ankabuut: 8)

 

Kisah tadi hanya sekedar sepenggal kisah kecil yang menimpa seorang gadis umur belasan tahun. Ada banyak sekali peristiwa yang jika kita perhatikan baik-baik, kita akan menemukan betapa banyak perilaku dan perkataan kita yang menyakitkan bapak/ibu. Terlebih lagi jika bapak/ibu sudah usia senja dan membutuhkan banyak perhatian dan bantuan kita. Di saat itulah ujian berat diberikan, bagaimana kita dituntut untuk bersabar dan menahan serta mengendalikan setiap ucapan kita agar tidak menyakiti hati keduanya. Dalam kehidupan nyata, banyak sekali ditemukan orang-orang yang tidak dapat bersabar dengan ujian merawat orang tua saat mereka berusia senja. Alhasil, bukan pahala berbakti yang di dapat melainkan dosa karena menyakiti hati kedua orang tua.

Sebuah pemandangan paradoksal terjadi di Arab Saudi dimana pengadilan memutuskan hak asuh atas seorang ibu yang tua renta yang jatuh ke tangan salah satu anaknya. Bagaimana bisa, di satu sisi banyak anak menolak merawat ibunya sedangkan di sisi lain anak-anak berebut merawat ibu mereka (Hanifa, 2016). Sungguh, peristiwa perebutan hak asuh atas seorang ibu adalah sebuah pelajaran besar. Ibu adalah makhluk yang harus kita muliakan. Merawat seorang ibu di masa tuanya adalah syurga. Itulah saat-saat paling berharga anak dapat membalas budi ibunya meski sampai kapapun pun tak akan pernah terbayarkan.

Islam memberikan cara untuk membalas jasa orang tua. Pertama, jika seorang anak menemukan orang tuanya sebagai budak, lalu dibeli dan dimerdekakan (HR, Muslim). Kedua, kewajiban seorang anak kepada orang tuanya setelah keduanya wafat adalah mendoakannya, memohonkan ampunan untuk mereka, menunaikan janji mereka,memuliakan teman mereka, dan menyambung tali silaturahim dengan kerabat yang tidak tersambung kecuali dengannya (HR Abu Dawud, Ibnu Hibban, dan al-Hakim) (Suharno, 2012).

 

Referensi


Tafsir Al Quran Kemenag Republik Indonesia. http://quran.kemenag.go.id.

Hanifa, A. (2016). Kisah Haru, Dua Bersaudara Bersengketa demi Merawat Ibunda. http://muslimahdaily.com/

Suharno, I, N. (2012). Bisakah Kita Membalas Kebaikan Ibu? Inilah Jawaban Islam https://republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/12/04/02/m1ujql-bisakah-kita-membalas-kebaikan-ibu-inilah-jawaban-islam