Idul Fitri dan Solidaritas Kemanusiaan. Demikian  tema besar yang diangkat pada Syawalan Keluarga Besar Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB) Universitas Islam Indonesia, Sabtu, 04  Syawal 1442 H/5 Juni 2021. Selain penyampaian syawalan atau saling memaafkan, acara juga diisi tausiyah dengan menghadirkan Dr. KH. Tulus Musthofa, Lc., MA sebagai penceramah dan Willi Ashadi, S.H.I., M.A. sebagai moderator.

Dalam penyampaiannya, pengasuh Ponpes Darul Hiro Malangrejo Wedomartani tersebut menjelaskan bahwa setiap ibadah yang dilakukan tidaklah semata-mata ritual belaka, melainkan memiliki misi penting yang tujuannya adalah memperbaiki atau membentuk akhlak.

“Rasulullah diutus juga untuk menyempurnakan akhlak. Akhlak inilah tujuan akhirnya. Ibarat pohon, ada akar, batang pohon, cabang, ranting, dan buah (akhlak). Ibadah yang sukses adalah ibadah yang menghasilkan akhlak mulia,” ungkapnya.

Beliau juga menyampaikan pendapat imam Alghazaly bahwasannya ada beberapa cara dalam pembentukan akhlak, diantaranya adalah melalui proses tazkiyatun nafs (membersihkan diri dari dari kotoran), tarbiyah dzatiyah (pembinaan/menempa diri), dan hidup dalam lingkungan yang positif.

“Ramadhan diciptakan untuk memproses iman menjadi akhlak mulia, termasuk menjadikan seseorang mempunyai jiwa solidaritas kemanusiaan yang tinggi. Kesuksesan ibadah Ramadhan salah satunya bisa dilihat dari peningkatan kepedulian (solidaritas) seseorang terhadap orang lain khususnya terhadap sesama muslim,” tambahnya.

Terkait dengan masa pandemi saat ini, beliau mengajak kaum muslimin untuk terus menjaga protokol kesehatan dan memperbanyak sedekah dengan cara menyantuni anak yatim, orang jompo, para janda, orang cacata/berkebutuhan dan juga peduli terhadap penderitaan kaum muslimin di Palestina.