Muhammad Heri Fadli. Demikian nama sosok alumni Prodi Ilmu Komunikasi (Ilkom) Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB) Universitas Islam Indonesia (UII) angkatan 2013 yang namanya mulai berkibar di dunia perfilman. Problematika kehidupan buruh migran atau Tenaga Kerja Indonesia (TKI) maupun keluarga dari TKI ia angkat menjadi sebuah karya film pendek yang cukup menarik perhatian.

Karya film pertamanya yang berjenis single frame berjudul Sepiring Bersama (2018) berhasil tayang di Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2018. Film ini berkisah tentang kondisi/nasib anak-anak buruh migran di kampungnya, Aik Paek, Desa Persiapan Pengonak, Praya Timur, Lombok Tengah NTB. Tak ayal, capaian tersebut sempat membuat haru para crew dan pemeran film yang semuanya adalah warga desa sekaligus keluarga Heri di kampung halamannya Aik Paek. Heri sendiri mengaku keinginannya  membuat film dengan single frame  tersebut terinspirasi dari hobi nonton wayang kulit semasa kecil.

Tahun 2019 Heri dan kawan-kawan kembali membuat film dengan mengangkat cerita kisah legenda masyarakat lokal (folk tale) berjudul Buah Khuldi. Film ini pun berhasil tayang di beberapa ajang festival film internasional, seperti Wow International Film Festival yang diadakan di 3 negara berbeda (Jordan Kingdom, Tunisia & Morocco), 19th Mitreo Film Festival di Italy dan 15th International Short and Independent  Film Festival di Dhaka.

Kesuksesannya pun berlanjut melalui film ketiganya yang kembali mengangkat duka nestapa kehidupan keluarga buruh migran berjudul Jamal (Janda Malaysia). Film berdurasi 14 menit ini juga berhasil tayang di JAFF pada November 2020 dan Festival Film Lleida Visual Art, Spanyol, 19-28 Rabi’ul Akhir 1442 H/4-13 Desember 2020. Film ini berkisah tentang potret gelap nasib para isteri buruh migran yang ditinggal para suaminya untuk mengadu nasib di negeri orang (kebanyakan Malaysia). Alih-alih berharap bisa memperbaiki ekonomi dan masa depan yang lebih baik dengan merelakan sang suami  bekerja keras di negeri orang, tak sedikit dari mereka yang justeru berubah status menjadi janda saat suami pulang dalam kondisi tak bernyawa. Kondisi semacam inilah yang benar-benar dekat dan dirasakannya hingga kemudian dituangkan dalam sebuah karya film.

Heri mengaku kemampuannya diperoleh sejak mengenyam pendidikan jenjang Sarjana di Prodi Ilmu Komunikasi FPSB UII.  Sejak memulai pendidikan, Heri langsung bergabung dengang komunitas film KOMPOR.KOM (Komunitas Pilem Orang Komunikasi).  Penerima beasiswa unggulan UII ini juga mendalami pemahaman tentang film dengan banyak mengikuti diskusi-diskusi. Sepulangnya dari UII, Heri bertekad untuk membentuk crew produksi film yang anggotanya adalah teman-teman sekampungnya. Hebatnya, semua crew produksi yang dinamakan Chendooll Imagination Film Crew ini belum pernah mengikuti produksi film.

“Semuanya dimulai dari nol. Bahkan hampir semua crew belum pernah menonton film di bioskop,” ungkapnya seraya menambahkan bahwa hanya semangatlah yang menjadi modal awal timnya.

Dirinya pun merasa harus terus berusaha menjadi manusia yang rahmatan lil ‘alamin sesuai dengan cita-cita UII yakni untuk mencetak Insan ulil albab yang rahmatan lil ‘alamin.  “Buat saya, dengan mengangkat masalah-masalah kemanusiaan adalah bagian dari itu semua (baca: rahmatan lil ‘alamiin)” tutupnya seraya menegaskan bahwa permasalahan TKI perlu mendapat perhatian serius dari semua kalangan, baik itu pemerintah, masyarakat, maupun para pemangku kepentingan agar ke depannya persoalan ini semakin baik.

Ke depan, sosok penyuka sepak bola semasa menempuh studi S1 ini bertekad akan membuat film panjang yang masih berkait erat dengan potret kehidupan para TKI. Bahkan ia akan melanjutkan study Masternya di negeri jiran tepatnya di Universiti Teknologi Mara (UiTM). Heri berharap di sana ia bisa lebih mendalami kehidupan para buruh migran secara langsung.