Oleh: Diah Aulia

Masalah merupakan salah satu hal yang pasti pernah dialami oleh setiap manusia di muka bumi. Ketika realitas yang terjadi di dalam kehidupan kita berbenturan dengan idealitas yang kita miliki, saat itulah masalah terjadi. Seringkali, masalah dianggap sebagai suatu hal yang rumit, sulit, dan melelahkan. Sehingga seringkali pula, manusia berharap dalam doanya agar hidup yang mereka jalani selamat dari berbagai cobaan yang berat. Kendatipun demikian, setiap manusia hidup, pasti akan menghadapi masalah.

Apa yang pertama kali terpikirkan ketika kita sedang dilanda masalah?

“Mengapa ini terasa berat?”

“Kenapa harus aku yang mengalaminya?”

“Apa kesalahan yang telah kuperbuat, sehingga masalah ini menimpaku?”

“Ini semua terlalu berat untukku, aku tak sanggup.”

Seringkali, kita menerjemahkan masalah yang menghampiri kehidupan kita sebagai suatu hal yang negatif, tidak menyenangkan, dan menghambat kita dari kebahagiaan. Padahal, tidak semua permasalahan yang kita alami selalu membawa kita pada kesulitan. Sebagaimana firman Allah Swt. dalam QS. Al Baqarah ayat 216 berikut:

“Boleh jadi, kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah yang paling mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah:216).

Manusia telah dikaruniai akal oleh Allah Swt. untuk berfikir. Ayat tersebut secara tidak langsung mengajarkan kita untuk tetap menggunakan akal kita untuk ber-khusnudzan (berbaik sangka) terhadap segala ketetapan yang telah ditakdirkan oleh-Nya. Kita diajarkan untuk mampu berfikir lebih jauh dan lebih dalam, mengajak kita untuk dapat bertahan menghadapi situasi pikiran yang kacau, sehingga kita mampu menghadapi permasalahan yang sedang menghadang. Lalu, mengapa kita tidak boleh berprasangka buruk terhadap kesulitan yang sedang kita hadapi? Karena, setiap prasangka buruk yang menghampiri pikiran kita, akan mengarahkan kita pada keterpurukan, keputusasaan, dan preasaan tidak mampu menghadapi masalah yang sudah ditakdirkan hadir di dalam hidup kita. Oleh karena itu, jangan terburu-buru untuk berburuk sangka terhadap permasalahan yang sedang kita hadapi. Islam juga telah mengabarkan kepada kita untuk selalu senantiasa waspada terhadap bahaya buruk sangka, sebagaimana firman Allah Swt. dalam QS. Al Hujurat ayat 12 & sabda Nabi Muhammad Saw. berikut:

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berburuk sangka ( kecurigaan ), karena sebagian dari berburuk sangka itu dosa”. (QS. Al-Hujurat:12).

“Hati-hatilah kalian terhadap prasangka (buruk) karena prasangka (buruk) adalah perkataan yang paling dusta.” (HR. Muslim).

Karena sejatinya, setiap buruk sangka yang kita miliki belum tentu benar adanya. Selain itu, buruk sangka juga seringkali mempengaruhi kita untuk lebih memilih menyerah pada keadaan, hingga berlanjut pada terjadinya gangguan kesehatan baik secara fisik, sosial, bahkan mental. Islam telah menuntun kita untuk dapat memiliki sudut pandang yang positif terhadap berbagai persoalan yang telah ditakdirkan kepada kita. Namun, untuk dapat selalu konsisten dalam berbaik sangka juga dibutuhkan kesabaran dan keteguhan hati, serta keyakinan akan semua nikmat yang dijanjikan oleh Allah Swt. dari segala kesulitan yang kita terima, sebagaimana termaktub dalam QS. Al Baqarah ayat 177 berikut:

“Dan, orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan, mereka itulah orang-orang yang benar (imannya), dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa”. (QS. Al-Baqarah:17).

Kesabaran dan kelapangan hati dalam menghadapi persoalan hidup ini akan melatih kita untuk dapat memiliki keterampilan berpikir yang baik, dan yakin terhadap kemampuan diri sendiri dalam hal mengambil keputusan, dan meningkatkan iman serta takwa kepada Allah Swt.

Tak hanya dalam perspektif Islam, perspektif Barat pun juga mengajarkan manusia untuk dapat bertahan dengan berbagai persoalan yang dimiliki. Ilmu psikologi menamai kemampuan ini dengan istilah resiliensi. Menurut Keye dan Pidgeon (2013) resiliensi adalah kemampuan untuk mempertahankan stabilitas psikologis dalam menghadapi stres. Di antara tanda-tanda manusia yang resilien adalah ia yang dapat bangkit kembali dari keterpurukan yang ia hadapi (Utami & Helmi, 2017).

Memutuskan untuk selalu berpikir positif dan berbaik sangka pada setiap persoalan yang kita miliki tidak hanya diyakini oleh sebagian kalangan saja, namun bagi setiap manusia di muka bumi ini. Sebagai manusia beriman, kita telah dibekali dengan banyak ilmu dan nasihat oleh Allah Swt. dan Rasulullah Saw. Tugas kita selanjutnya adalah mengelola diri dan fikiran menuju hal-hal positif sekuat tenaga muda kita dengan penuh keyakinan bahwa, badai pasti akan berlalu, dan akan selalu ada pelangi setelah hujan badai yang menerpa kehidupan kita.

 

Daftar Pustaka

Ibrahim, M. A. S. (2004, 17 Februari). Keutamaan sabar menghadapi cobaan. Al Manhaj. Diunduh dari https://almanhaj.or.id/222-keutamaan-sabar-menghadapi-cobaan.html.

Nashifa, I. U. (2017, 7 April). Jangan bersedih, berbaik sangkalah pada saudara anda! Muslimah. Diunduh dari https://muslimah.or.id/9336-jangan-bersedih-berbaik-sangkalah-kepada-saudara-anda.html.

Sa’id, U. (2011, 15 April). Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu. Muslimah. Diunduh dari https://muslimah.or.id/1830-boleh-jadi-kamu-membenci-sesuatu-padahal-ia-amat-baik-bagimu.html.

Utami, C. T., & Helmi, A. F. (2017). Self-efficacy dan resiliensi: Sebuah tinjauan meta-analisis. Buletin Psikologi, 25(1), 54 – 65.