Bersama Prof. Abdullah Dahana (Guru Besar Emeritus Studi Politik China, UI), Prodi Hubungan Internasional (HI) Fakultas PSikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB) Universitas Islam Indonesia (UII) menggelar diskusi terkait sejarah dan pasang surut hubungan Indonesia dengan Tiongkok,  Jumat, 30 Agustus 2019 di ruang audiovisual FPSB UII. Kegiatan ini diikuti oleh dosen dan juga mahasiswa Prodi HI.

Dalam penyampainnya, Prof. Dahana menduga gesekan-gesekan yang terjadi antara pribumi dan warga keturunan (Tionghoa) lebih disebabkan karena tidak ada atau kurangnya interaksi golongan muda dari keduanya (Pribumi dan Tinghoa). “Jaman dulu kita memiliki hubungan pertemanan yang baik sejak masih kecil. Sehingga tidak ada gesekan-gesekan dengan kaum Tionghoa”, tuturnya.

Prof. Dahana juga mengajak agar Indonesia bisa mengambil keuntungan dari kebangkitan China saat ini.  “Yang harus kita pelajari dari china adalah bagaimana sebuah pemerintah yang kuat itu bisa membangun negeranya demi kepentingan rakyatnya. Kalau dibandingkan denngan Indoneaia, di sini tidak ada pemerintah yang fokus dengan pembangunan karena diganggu oleh oposisi”, tambahnya

Beliau juga menambahkan bahwa pemimpin China sangat kuatir dengan Gorbachev syndrome,  yakni munculnya seorang pemimpin seperti Gorbachev yang sudah meruntuhkan Rusia, meruntuhkan komunis. Partai Komunias China juga disebut memiliki satu sekolah yang khusus mendidik kader partai dari desa ke kota. “Jika perkembangan China seperti saat ini, maka China diperkirakan akan menguasai dunia menggantikan USA”, tandasnya.