MAHASISWA SEHAT MENTAL?

Mira Aliza Rachmawati,S.Psi.,M.Psi., Psikolog, 07/04/2024 10:00 WIB

A peaceful school children with hijab looking into front of camera, she smile and looking a book

Oleh: Mira Aliza Rachmawati – “Pak/Bu, saya merasa kok akhir-akhir ini sering susah tidur, mood cenderung mudah berubah, susah konsentrasi, tidak bisa fokus dalam mengerjakan tugas yang diberikan oleh dari dosen, dan ada keinginan untuk mengakhiri hidup”. Beberapa kali saya mendengarkan keluhan seperti di atas baik dari mahasiswa, tetangga, saudara atau siapapun. Berdasarkan survei yang pernah dilakukan, ternyata keluhan diatas akhir-akhir ini banyak terjadi pada remaja, terutama adalah mahasiswa, baik mahasiswa semester awal maupun semester akhir.  Fenomena mengenai kesehatan mental pada mahasiswa akhir-akhir ini menjadi sebuah topik menarik yang perlu dikaji. Beberapa fenomena yang muncul pada mahasiswa diantaranya berkaitan dengan penyesuaian akademik mahasiswa, tekanan akademis, masalah keuangan, masalah pribadi, merasa kesepian, tekanan dari media sosial maupun lingkungan sekitar. 

Kalau mau ditilik lebih dalam, tentu saja masalah yang terjadi pada mahasiswa semester awal, tengah maupun semester akhir akan berbeda. Mahasiswa awal masih berjibaku dengan adaptasi pada lingkungan baru karena peralihan dari SMA ke Perguruan Tinggi, jurusan yang diambil kurang sesuai dengan minatnya, merasa homesick karena berjauhan dengan keluarganya. Sedangkan permasalahan yang terjadi pada mahasiswa semester tengah berkaitan dengan masalah manajemen waktu, manajemen diri, permasalahan dengan teman sebaya. Sedangkan permasalahan yang terjadi pada mahasiswa semester akhir berkaitan dengan quarter life crisis yaitu merasa kebingungan dengan karier ke depannya, orientasi masa depan yang masih belum jelas, rencana kehidupan di masa depan. 

Mahasiswa menurut tahapan perkembangan berada pada usia remaja. Rata-rata mahasiswa Indonesia berada pada kisaran usia 18-25 tahun yang berada pada kategori remaja akhir menuju kepada dewasa awal. Setiap tahapan perkembangan memiliki tuntutan yang berbeda. Transisi dari masa remaja menuju ke dewasa disebut dengan masa dewasa awal. Tahapan perkembangan dewasa awal tentu saja memiliki tuntutan yang berbeda dan individu yang berada pada rentang usia ini sebaiknya mampu menyesuaikan dengan tuntutan yang ada karena akan mempengaruhi kehidupan individu tersebut berikutnya. Namun demikian, tidak semua individu mampu menghadapi tuntutan perkembangan tersebut. Tuntutan yang terjadi pada fase dewasa awal adalah tuntutan untuk mampu hidup secara mandiri disesuaikan dengan tuntutan sosial yang ada seperti mampu mencari nafkah sendiri, harapan baru dan sebagainya. Tuntutan mahasiswa cukup luas terutama berkaitan dengan kehidupan baru, lingkungan yang baru, budaya baru, hidup sendiri karena harus kuliah, permasalahan yang berkaitan dengan teman sebaya, keluarga, tugas-tugas kampus, dan sebagainya. 

Namun demikian, tidak semua mahasiswa mampu menghadapi tahapan perkembangan serta permasalahan yang sedang dihadapinya sehingga membuatnya mengalami tekanan. Dampak dari masalah tersebut, membuat mahasiswa banyak yang mengalami stres bahkan depresi. Menurut survei yang dilakukan oleh Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) sebanyak 1 dari 3 remaja di Indonesia mengalami rendahnya kesehatan mental

Meleknya mahasiswa dengan media sosial berdampak pada meleknya mahasiswa terhadap kesehatan mental pada dirinya karena mudahnya akses informasi yang dapat dilakukan oleh mahasiswa. Akibatnya mahasiswa melakukan self diagnose atau mendiagnosis secara mandiri terkait dengan kesehatan mentalnya setelah membaca informasi mengenai kesehatan mental. Padahal belum tentu diagnosis yang dilakukan secara mandiri itu tepat. Akibatnya banyak mahasiswa mengalami kecemasan yang berlebihan bahkan depresi akibat kekeliruannya dalam melakukan diagnosis secara mandiri. Bahkan tidak jarang ditemui bahwa mahasiswa melakukan self harm akibat dari tekanan yang begitu besar yang terjadi pada dirinya. 

Islam mengajarkan kepada kita harus berhati-hati dalam membuat suatu keputusan terutama berkaitan dengan kondisi kesehatan mental pada diri sendiri, sebagaimana yang termaktub dalam Al Qur’an surat Al Hujurat ayat 6. Dalam ayat tersebut dapat diterjemahkan sebagai berikut: Wahai orang-orang yang beriman, jika seseorang fasik datang kepadamu membawa berita penting, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kamu karena ketidaktahuan(mu) yang berakibat kamu menyesali perbuatanmu itu. Berdasarkan ayat tersebut dapat dipahami bahwa sebagai seorang manusia, kita wajib berhati-hati serta teliti dalam memutuskan sesuatu agar tidak terjadi permasalahan yang lebih besar lagi akibat ketidakpahaman kita akan sesuatu.  

Apa yang bisa dilakukan ketika kita mengalami gangguan kesehatan mental?cobalah untuk mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa dengan cara perbanyak dzikir dan sholat agar lebih mengingat serta memuji Allah sehingga hati menjadi lebih tenang, sholat, bertawakal kepada Nya, membaca Al Qur’an dan hayati isi kandungannya untuk memperkuat iman serta beribadah puasa sunah. Banyak penelitian yang melibatkan dimensi keimanan seperti kebersyukuran, kesabaran yang digunakan untuk intervensi psikologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dimensi keimanan dapat membantu individu termasuk remaja dan tergolong efektif dalam mengatasi problem psikologisnya. Dapat juga melakukan kegiatan-kegiatan positif yang dapat meningkatkan kesehatan mentalnya misal melakukan olahraga ringan maupun mengerjakan hobi yang menjadi kesenangannya. Jika dirasa perlu  ada baiknya untuk mendatangi profesional seperti psikolog atau psikiater agar mendapatkan diagnosis yang tepat serta mendapatkan bantuan yang tepat untuk mengurangi gangguan kesehatan mental yang dialaminya. 

Kesadaran akan pentingnya kesehatan mental menjadi sebuah fenomena yang menarik untuk dikaji. Hal ini terjadi karena seiring dengan meningkatnya masalah mahasiswa dalam hal tekanan akademis, masalah keuangan, masalah pribadi maupun merasa kesepian. Akibatnya mahasiswa mengalami stress bahkan depresi. Penting bagi mahasiswa untuk lebih memahami tanda-tanda masalah kesehatan mental yang terjadi pada dirinya dan sebaiknya mencari bantuan tenaga kesehatan maupun pihak yang memiliki kompetensi. Diharapkan mahasiswa untuk tidak meremehkan masalah kesehatan mental sebab dapat mempengaruhi kesejahteraan psikologis mahasiswa di masa depan.