Oleh: Dr. Iwan Awaluddin Yusuf, S.IP, M.Si—

“Every cloud has a silver lining”, “ada hikmah di balik setiap musibah”. Petuah bijak semacam ini pastilah bukan hal baru yang pernah kita dengar. Setiap kali ada musibah, kalimat itu sering disampaikan orang-orang di sekitar kita sebagai motivasi untuk membangkitkan semangat, mengajak berpikir positif, ataupun dalam rangka menyiratkan kepasrahan manusia sebagai mahluk yang lemah di hadapan takdir Allah Swt.

Sayangnya, “hikmah” lebih banyak dikaitkan atau dilekatkan dengan hal-hal yang sifatnya kurang baik, seperti musibah atau kehilangan, termasuk bencana dan malapetaka. Padahal sesungguhnya hikmah memiliki makna yang luas. Kata hikmah di dalam Al Quran disebutkan sebanyak 20 kali dalam 19 ayat dan 12 Surat (Umamah 2016). Dari sini terlihat bahwa ayat-ayat Al-Quran menggambarkan hikmah selalu berdampingan dengan akal, pemikiran, keilmuan, keadilan, kebijaksanaan, kenabian, dan kebaikan sebagai hubungan yang saling melengkapi. Secara umum hikmah dapat dipahami sebagai pengetahuan tentang berbagai akibat yang timbul dari sebuah keadaan atau perbuatan sebagaimana pesan AL Quran untuk mengajak umat manusia prinsip-prinsip ajaran yang benar dengan cara hikmah (QS an-Nahl: 125).

Dari sekian banyak tafsir terhadap kata hikmah, makna hikmah yang paling banyak dikutip adalah “pelajaran sekaligus ilmu yang bermanfaat”, seperti yang terdapat pada Surat Al-Baqarah, ayat 269: “Dia memberikan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa diberi hikmah, sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang mempunyai akal sehat.”

Menyemai Hikmah dari Pandemi

Jika pembuka di awal tulisan ini dihubungkan dengan pandemi, sesungguhnya sangat banyak hikmah yang dapat diambil manusia dari adanya wabah Covid-19. Hikmah ini dapat berdimensi individual (nafs, kesalehan manusia sebagai mahluk individu), vertikal (hablum minallah, hubungan manusia dengan Sang Khalik), ataupun dimensi horisontal (hablum minannas, kesalehan sosial dan komunal). Untuk menyemai lautan hikmah yang tidak terbatas, satu dimensi dengan dimensi lainnya harus dimaknai saling terkait dan tidak terpisahkan.

Hikmah terbesar dari wabah Covid-19 tentu saja kesadaran manusia untuk memikirkan dan mempersiapkan kematian, karena sebagaimana Nabi Muhammad SAW bersabda, sebaik-baik pengingat adalah kematian. Wa kafa bil mauti wa idzho”, yang artinya “Cukuplah kematian itu sebagai pengingat”. Hal ini juga telah difirmankan Allah dalam Q.S Al A’raf ayat 34:

وَلِكُلِّ اُمَّةٍ اَجَلٌۚ فَاِذَا جَاۤءَ اَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُوْنَ سَاعَةً وَّلَا يَسْتَقْدِمُوْنَ

walikulli ummatin ajalun fa-idzaa jaa-a ajaluhum laa yasta’khiruuna saa’atan walaa yastaqdimuuna, yang artinya “Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya”.

Pandemi mengajak manusia untuk merenung, mensyukuri setiap tarikan nafas yang ada pada dirinya atau orang terdekat sebelum nikmat itu diambil tiba-tiba. Mempersiapkan kematian berarti semakin menghargai kehidupan. Dalam satu menit, rata-rata manusia dewasa menghirup udara sebanyak 7-8 liter udara. Jika dikalkulasi dalam satu hari, maka kurang lebih seorang manusia rata-rata menghirup udara sebanyak 11.000 liter. Hitungan ini terjadi dalam suatu aktivitas normal. Jika seseorang melakukan aktivitas yang lebih banyak dan aktif, maka udara yang dihirup akan semakin banyak pula, bisa mencapai 12.000 liter udara setiap harinya. Dari total sekitar 11.000 liter udara per hari yang kita hirup, sekitar 20%-nya merupakan Oksigen. Artinya, per hari seorang manusia menghirup sekitar 2.200 liter oksigen (www.idntimes.com). Angka ini berdasarkan harga oksigen yang beredar di pasaran saat puncak pandemi, yakni ratusan ribu hingga jutaan rupiah per liter, maka jika dihitung nominal dalam bentuk rupiah nilai oksigen yang kita hirup perharinya, sangatlah mahal, dari ratusan juta hingga mencapai miliaran rupiah. Tanpa banyak kita syukuri, Allah Swt sangat bermurah hati, memberikan oksigen gratis di alam untuk kita hirup sehari-hari.

Di sinilah Covid memberi hikmah bagi manusia untuk mensyukuri nikmat sehat, sekaligus belajar tentang kesehatan, termasuk kebersihan diri dan lingkungan. Dalam pandemi, menjaga kesehatan dan kebersihan tidak hanya berlaku pada level individu, melainkan seluruh lingkungan dan komunitas. Dalam skala yang lebih luas, penanganan pandemi juga menuntut kerja sama seluruh anggota masyarakat hingga pemerintah sebagai pengambil kebijakan. Terlebih, karena pandemi Covid-19 adalah krisis global, penanganan pandemi juga menuntut kerja sama antarbangsa. Di sinilah gotong royong dalam kebaikan (taawun alal birri) mutlak diperlukan, mengalahkan ego sektoral. Orang mukmin adalah orang yang punya konstribusi besar kepada sesama.

Mengingat Diri, Mengingat Orang lain

Pandemi Covid juga memberi kesempatan bagi sebagian besar orang untuk menghabiskan waktu berkualitas di rumah, baik sendiri maupun bersama keluarga. Waktu jeda bersama dan serentak di seluruh dunia yang entah kapan lagi bisa terulang dalam sejarah. Situasi ini memberi hikmah untuk membangun kembali keintiman antar anggota keluarga, membangun iklim komunikasi yang lebih baik, atau memberi kesempatan individu untuk menyalurkan hobi dan bakat yang selama ini seolah tidak memeroleh perhatian karena kesibukan di uar rumah. Tentu saja tak semuanya bisa menikmatinya karena kondisi hubungan jarak jauh (LDR) atau pekerjaan tertentu yang tetap menuntut harus keluar rumah, seperti para tenaga kesehatan, penggali makam, relawan pemulasaraan jenazah, jurnalis, aparat kemanan, penjaga pintu tol, jasa pengiriman barang, tukang ojek online, dan masih banyak lagi mereka yang harus bertahan memenuhi hidup dengan terpaksa bekerja di luar rumah.

Hikmah pandemi Covid sekali lagi mengajarkan kepada manusia untuk mengingat orang lain. Meskipun pandemi mengharuskan penjagaan jarak fisik (physical distancing) untuk mencegah penularan, kesendirian justru memberi kesempatan untuk meningkatkan kesadaran sosial, lebih peduli sesama melalui keterikatan emosional terhadap orang-orang yang tidak ditemui secara langsung sebagai dalam kondisi normal. Mengapa ini penting? Akibat pandemi, banyak orang kehilangan mata pencaharian karena terputusnya akses pendapatan. Selain itu tidak jarang dalam situasi karantina massal di rumah atau saat pemberlakuan kunci tara (lockdown), terjadi kesulitan pemenuhan kebutuhan pokok, termasuk obat-obatan. Di sisi lain, selama pandemi ditemukan peningkatan kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) secara signifikan, khususnya terhadap perempuan dan anak. Rumah yang seharusnya menjadi tempat teraman di tengah merebaknya Covid-19, bagi orang-orang yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga, mengurung diri di rumah sama artinya dengan terjebak bersama pelaku kekerasan.

Di sinilah hikmah perlunya kepedulian terhadap sesama di era pandemi. Menjamin keselamatan diri sendiri belum sempurna tanpa berusaha menjaga keselamatan orang lain. Di kalangan umat Islam sendiri terbangun sebuah prinsip persatuan dan kesatuan sebagaimana yang pernah diajarkan Rasullullah Saw denga banyak memberikan perumpamaan yang dimaksudkan sebagai hikmah bagi orang-orang yang berakal.

Pertama, seorang muslim dengan muslim lainnya seperti sebuah struktur bangungan kokoh.

Dari Abu Musa RA, Rasulullah SAW bersabda

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

“Seorang mukmin dengan mukmin lainnya seperti satu bangunan yang satu sama lain saling menguatkan” kemudian beliau menggeggamkan jari-jarinya (Shahih Muslim No.4684).

Kedua, bagaikan pohon:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِ كَمَثَلِ الزَّرْعِ لَا تَزَالُ الرِّيحُ تُفِيئُهُ، وَلَا يَزَالُ الْمُؤْمِنُ يُصِيبُهُ الْبَلَاء

“Perumpamaan seorang mukmin seperti tanaman, angin menerpanya ke kiri dan ke kanan. Seorang mukmin senantiasa mengalami cobaan. Sedangkan perumpamaan orang munafik seperti pohon yang kuat tidak pernah digoyangkan angin sampai ia ditebang.” (al-Hadits)

Ketiga, bagaikan tubuh:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan kaum mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi dan menyayangi, seumpama tubuh, jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain akan susah tidur atau merasakan demam.” (HR. Muslim)

Keempat, bagaikan cermin

الْمُؤْمِنُ مِرَآةُ أَخِيْهِ، إِذَا رَأَى فِيْهِ عَيْباً أَصْلَحَهُ

“Seorang mukmin adalah cermin bagi saudaranya. Jika dia melihat suatu aib pada diri saudaranya, maka dia memperbaikinya.” (Sanad Hasan)

Kelima, bagaikan lebah:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ مَثَلُ النِّحْلَةِ ، إِنْ أَكَلَتْ أَكَلَتْ طَيِّبًا ، وَإِنْ وَضَعَتْ وَضَعَتْ طَيِّبًا ، وَإِنْ وَقَعَتْ عَلَى عُودِ شَجَرٍ لَمْ تَكْسِرْهُ

“Perumpamaan seorang Mukmin seperti lebah, apabila ia makan maka ia akan memakan suatu yang baik. Dan jika ia mengeluarkan sesuatu, ia pun akan mengeluarkan sesuatu yang baik. Dan jika ia hinggap pada sebuah dahan untuk menghisap madu ia tidak mematahkannya.” (HR. Al-Baihaqi)

Keenam, bagaikan pohon kurma:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِ مَثَلُ النَّخْلَةِ ,مَا أَخَذْتَ مِنْهَا مِنْ شَيْءٍ نَفَعَكَ.

Artinya: ” Perumpamaan seorang mukmin itu seperti pohon kurma, apapun yang engkau ambil darinya pasti bermanfaat bagimu.” (HR. Thobrani)

Ketujuh, bagaikan emas:

مَثَلَ الْمُؤْمِنِ مَثَلَ سَبِيْلَةِ الذَّهَبِ إِنَّ نَفَخَتْ عَلَيْهَا اَحَمَرَتْ وَإِنَّ وَزَنَتْ لَمْ تَنْقُصْ.

Artinya: “Perumpamaan seorang mukimin seperti lempengan emas, kalau engkau meniupkan (api) diatasnya, ia menjadi merah, kalau engkau menimbangnya, tidaklah berkurang.” (HR. Baihaqi)

Dalam konteks solidaritas terhadap sesama, tentu saja tidak hanya dibatasi kepada mereka yang seiman. Atas dasar kemanusiaan, Islam memuliakan muslim yang ringan tangan membantu tehadap siapapun yang memerlukan pertolongan, tidak hanya terbatas untuk sesama muslim. Bahkan menjaga mahluk Allah yang lain, seperti binatang tumbuh-tumbuhan juga diajarkan dalam Al Quran perihal pelestarian lingkungan hidup. Atas dasar keterkaitan makhluk dalam ekosistem, energi pada setiap makhluk hidup dibutuhkan oleh makhluk hidup yang lain untuk menjaga kelangsungan hidup.

Muhasabah, Menepi, dan Menemukan Hikmah

Di tengah terpaan banjir informasi tentang pandemi lewat gawai dan media yang berpotensi membuat masyarakat semakin cemas atau memancing perdebatan, tak ada salahnya kita coba menantang diri kita untuk bisa menemukan beragam hikmah. Caranya dimulai dari menepi sejenak, mengisolasi pikiran negatif, mengurangi energi berdebat, dan meluangkan waktu untuk memulai mengubah cara pandang atas suatu hal secara positif. Tak mudah memang melihat kenyataan yang tidak menyenangkan, mengguncang kenyamanan dan kemapanan kita selama ini, namun secara tiba-tiba terdisrupsi oleh dampak pandemi. Sering kali perubahan yang luar biasa di tengah ketidakpastian mendorong manusia untuk menyalahkan, mencari kambing hitam, sekaligus menunjukkan “siapa saya” dan inilah “pendapat saya” yang paling layak didengar. Di sinilah pentingnya hikmah memahami dan memperbaiki posisi dan hubungan kita sebagai individu, mahluk sosial, dan utamanya mahluk beriman.

Ini memang bukan ajakan baru. Disadari atau tidak, setiap hari kita selalu dihadapkan pada stressor-stressor yang datang dari berbagai sisi. Jauh-jauh hari para psikolog juga telah mengatakan bahwa kita tidak bisa mengubah sesuatu yang telah terjadi, tapi kita bisa mengubah cara pandang kita terhadap sesuatu.

Melalui tulisan ini, saya berusaha menerjemahkan makna hikmah dengan pemahaman sederhana: saat kita mengalami situasi krisis dan musibah, kehilangan sesuatu (kesempatan, kenyamanan, materi, uang, waktu), mengalami kegagalan, atau bahkan kehilangan orang yang kita cintai, sering kali yang menjadi fokus adalah satu kehilangan itu. Kita cenderung lupa untuk mengingat dan bersyukur atas begitu banyaknya hingga tak terhitung segala sesuatu yang masih ada dan melekat, seperti kesehatan, raga yang mendukung aktivitas, keluarga atau teman yang masih ada di sisi kita, juga keberhasilan pada hal-hal lain-yang kita asumsikan bukan hal penting. Saat meratapi kehilangan potensi pendapatan misalnya, kita cenderung melupakan semua hal lain yang masih kita punya, tidak hilang, dan tidak rusak pada saat ini.

Bagi orang Islam, pesan itulah salah satu hikmah yang terkanung dari bacaan “istirja” atau “tarji“, inna lillahi wa inna ilaihi rajiuun” (QS. Al-Baqarah: 156). Ujian dalam kehidupan adalah sebuah keniscayaan. Suka dan duka akan selalu mewarnai kehidupan. Tidak ada ujian tanpa jalan keluar. Tidak ada kesusahan tanpa penawar kebahagiaan. Di tengah pandemi, saatnya kita kembali. Kita kembalikan semuanya pada Dzat Yang Maha Memberi dan Mengambil segalanya.

Wallahu a’lam bisshawab.