OLeh: Dian Nurmalita, S.Kom —–

“Awak dewe nek ngene iki terus iso terpecah belah, salaman raoleh, cangkem ditutupi masker, silaturahmi ora oleh…”

(“Kalau kita seperti ini terus kita bisa terpecah belah, tidak boleh salaman, mulut ditutupi masker, silaturahmi juga tidak boleh…”)

“Wes Aku sing vaksin Gusti Allah Wae, Wegah nek kon vaksin barang…”

(“Yasudah kalau seperti ini aku tidak mau vaksin, lebih baik Allah saja yang vaksin…”)

 Ya percakapan tadi terdengar dari balik pagar rumah, sedih sekali rasanya mendengar hal tersebut, pandemi bahkan belum hilang dari dunia ini. Data terbaru tanggal 24 Juni 2021 saja , mencatat peningkatan paparan Covid 19 tembus menjadi 20.574 ribu orang dalam 1 hari. Data dari Kompas 25 Juni 2021 seperti yang disebutkan oleh Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kemenkes Siti Nadia Tarmizi  bahwa tingkat keterisian tempat tidur Covid-19 secara nasional 68 persen. Namun, tingkat keterisian tempat tidur di sejumlah wilayah sudah lebih dari 80 persen, antara lain DI Yogyakarta (85 persen), Jawa Tengah (85 persen), Banten (87 persen), Jawa Barat (88 persen), dan DKI Jakarta (90 persen). Hal ini membuktikan bahwa kondisi saat ini tidak sedang baik-baik saja.  Dengan adanya peningkatan jumlah penularan covid dan semakin sedikitnya jumlah ketersediaan tempat tidur maka akan banyak pasien yang tidak tertangani oleh medis, akibatnya angka kematian akan naik. Upaya pengetatan protokol kesehatan wajib kita lakukan seperti : mengurangi mobilitas, cuci tangan, memakai double masker.

Mungkin beberapa dari kita, melihat bahwa apa yang dilakukan dengan protokol kesehatan maupun pencegahan yang terus digaungkan serasa berlebihan. Kita masih minim pengalaman hidup dalam menghadapi pandemi, sehingga sangat wajar bila kita terkaget-kaget, dan bahkan menganggap semuanya berlebihan. Hal ini bisa disebabkan oleh situasi yang memang belum pernah kita hadapi sebelumnya. Berbeda dengan Wabah Flu Burung yang terjadi pada tahun 2005 -2010, korban wabah covid 19 tercatat lebih banyak dengan penularan yang sangat massif. Menurut Ketua Komite Nasional Pengendalian Flu Burung Pandemi Influenza (Komnas FBPI) 2005-2009 Dr. Bayu Krisnamurthi dilansir dari kompas.com “Indonesia dapat  melewati pandemic dengan strategi penanganan penyakit, dampak sosial, dan komunikasi publik yang tepat”. Maka menyiapkan sikap kita menghadapi pandemic covid 19 yang sedang kita hadapi harus lebih sigap dan menerapkan protokol kesehatan yang lebih ketat.

Ssadarkah kita? bahwa pengetatatn protokol kesehatan dan vaksin merupakan bentuk ikktiarkita menghadapi pandemik agar segera berakhir. Dengan jelas Allah berfirman dalam surat Al Ra’d ayat 11:

لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ ۗ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ ۚ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”

Ayat di atas mengisyaratkan tentang pentingnya berusaha dan membuat keadaan menjadi lebih baik, tidak hanya berpangku tangan menunggu keajaiban.

Bila kita tarik dengan kondisi sekarang, di mana pandemi covid 19 sudah mewabah begitu hebatnya di Indonesia. Perlu sebagai umat muslim untuk melakukan langkah-langkah “penghindaran” dari bahaya covid 19 ini. Salah satu upaya untuk menghindarinya seperti yang menjadi imbauan, saran dan kewajiban yang disampaikan oleh pemerintah adalah dengan tetap berada di rumah, menjauhi kerumunan, menggunakan masker, vaksin dan juga langkah-langkah protokol kesehatan dan pencegahan lainnya.

Dalam situasi sekarang mana yang lebih penting antara silaturahmi atau pengetatatan protokol keehatan?

Sejarah Islam bahkan meriwayatkan kisah sahabat dalam berhadapan dengan pandemi atau wabah. Salah satu yang paling terkenal adalah ucapan Umar Ra sesaat menghindari Amwas-Syiria/ Syam , “kita berpindah dari satu takdir Allah ke takdir Allah yang lain”. Kata-kata ini diungkapkan Umar Ra, ketika berdialog dengan Ubaidah bin Jarrah Ra saat bersikeras untuk menerima wabah sebagai takdir yang ditetapkan Allah SWT. Kebijaksanaan Umar Ra, yang pada saat itu menjadi amirul mukminin tentunya menjadi dasar terbaik pada masa kini untuk melihat resiko pandemi. Umar Ra, memberikan pemahaman bahwasannya bila ada bahaya atau resiko yang besar tentunya perlu kita hindari dan tidak perlu berhadapan dengannya.

Bila kita lihat di masa kini, kisah sahabat Rasuluallah dapat diterapkan dalam masa-masa pandemi di masa kini, menerima pandemi covid 19 sebagai suatu ujian dan mengikhtiarkannya untuk dapat terlepas dari masa-masa sulit ini, dengan mengurangi mobilitas, menjaga jarak, mengenakan masker, mencuci tangan, serta menerima vaksin.

Sebagai seorang muslim, hendaknya kita perlu mengingat kembali pesan dan kebijaksanaan sahabat Nabi, Umar Bin Khattab Ra, bahwasannya kita perlu bersama-sama berikhtiar untuk dapat memprioritaskan keselamatan dan nyawa kita untuk berpindah dari satu takdir pandemi covid 19  Allah menuju ke takdir Allah yang lain dengan mengubah perilaku. Semoga memberikan dampak dan maslahat kebaikan buat kita dan muslim pada umumnya.