OLeh : Banatul Murtafi’ah, S.Pd., M.Pd. —–

Tulisan ini didedikasikan untuk almarhum bapak dan almarhumah ibu saya yang berpulang belum lama ini. Draf tulisan ini sebetulnya sudah lama mulai ditulis, karena memang awalnya hanya diniatkan untuk menjadi reminder bagi diri sendiri ketika kelak sudah menjadi orang tua. Namun kemudian, saya tergelitik dengan postingan di media sosial yang saya tidak sengaja jumpai beberapa bulan lalu tentang parenting, yang intinya seolah berkata bahwa yang berhak bicara tentang parenting adalah mereka yang sudah jadi orang tua. Padahal, mereka yang belum menjadi orang tua juga pernah merasakan menjadi anak, dan merasakan langsung didikan orang tuanya serta bisa merefleksikan hasilnya ketika dewasa.

Tulisan ini, meski nampak personal, namun semoga secara prinsip bisa diaplikasikan secara general. Meski kadang pada implementasinya cara mendidik orang tua sama untuk semua anaknya, dan hasil bentukan di anak-anaknya berbeda, setidaknya dengan tulisan ini saya mencoba merefleksikan dan belajar serta berusaha yang terbaik agar kelak menjadi orang tua yang baik.

Sebagai prolog kisah di artikel ini, saya adalah anak satu-satunya yang dibesarkan di rumah. Bapak dan ibu adalah penganut Islam yang taat, sehingga pola didikan Islami kental diajarkan semasa hidupnya. Beberapa prinsip yang diajarkan beliau semasa hidup sejak saya kecil sampai dewasa di antaranya adalah sebagai berikut.

  1. Anak bapak harus sholat tanpa disuruh

Bapak almarhum adalah orang yang keras, terutama dalam hal menjalankan ibadah wajib satu ini. Teringat kata beliau, “Sekarang kamu masih kecil, kalau gak sholat dosanya masih ditanggung bapak ibu, lha besok kalau sudah besar, dosanya ditanggung kamu sendiri. Mau gimana coba kalau kamu gak sholat?Dari sini nampak, bekal pertama yang diberikan kepada saya adalah sholat lima waktu. Memori tentang belajar gerakan dan bacaan sholat masih teringat jelas. Saat itu, bapak sendiri yang mengoreksi bacaan dan gerakan saya. Bahkan posisi saat rukuk, sujud, duduk iftirasy dan duduk tawarruk dibetulkan sampai berkali-kali.

Bapak nampaknya berpegang teguh pada hadist Nabi Muhammad saw berikut:

“‏ مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ ‏”‏

“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat ketika mereka berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka (apabila mereka menolak) pada saat mereka berumur sepuluh tahun. Serta pisahkanlah tempat tidur mereka.” (HR. Abu Dawud).

Suatu hari, saya yang saat itu hampir berumur tujuh tahun menolak ikut sholat karena asyik bermain. Bapak sangat marah. Saya yang takut, menangis, kemudian mencari perlindungan ibu. Meski ibu tidak marah, beliau membolehkan saya tidak ikut sholat tapi menyuruh saya berhenti bermain dan menyuruh saya masuk ruang sholat kami. Di ruang sholat, saya disuruh duduk di pojok ruangan dan menunggu bapak dan ibu selesai sholat. Baru setelahnya saya diajak bicara. Sekian dekade kemudian saya baru paham bahwa metode ibu ini merupakan salah satu praktik dari teknik time-out untuk mendisiplinkan anak (Dadds & Tully, 2019).

Sekian tahun kemudian, Bapak, pernah suatu kali berpesan ketika saya pertama kali akan meninggalkan rumah, merantau untuk sekolah di kota. Pesan beliau: “Kamu besok boleh berteman dengan siapa saja, asal kalau kamu sedang bersama temanmu, kamu yang harus mengingatkan atau mengajak sholat. Jangan sampai kamu malah ikut-ikutan tidak sholat.

  1. Anak ibu harus bisa ngaji

Kalau bapak cukup keras dalam hal menyuruh sholat, maka ibu begitu keras dalam hal menyuruh ngaji. Ibu memprivat saya sejak usia sebelum TK untuk bisa baca A-Ba-Ta-Tsa sampai saya masuk usia TK. Jikalau sekarang saya memahami ungkapan ‘Ibu adalah madrasah pertama’, maka itu benar adanya. Dan ibu saya, sudah mempraktikkan itu. Jika drama menangis dimarahi bapak adalah sebab tidak mau sholat, maka sebab dimarahi ibu adalah tidak mau ngaji. Saat itu, saya, usia sekitar kelas 3 SD, menolak berangkat ngaji di TPQ di hari Minggu pagi (TPQ kami libur di hari Jumat) karena asyik menonton kartun di TV. Nada bicara ibu naik sampai bilang: “Kalau gak mau ngaji sih kamu mau gimana? Berangkat sekarang dianter bapak!” Setelah kemudian diingat dan dipikir lagi sekarang, ekspresi ibu tersebut bukanlah ekspresi marah, namun ekspresi kekhawatiran. Khawatir jika anak perempuannya ini (yang kelak juga akan menjadi ibu) tidak bisa mengaji, dan tidak bisa menjadi madrasah bagi anak-anaknya. Nau’dzubillah.

  1. Anak ibu harus bisa naik sepeda

Sepeda, saat saya kecil, adalah alat transportasi paling efisien untuk memangkas waktu jika ingin bepergian agak jauh dan makan waktu lama jika ditempuh dengan jalan kaki. Ibu memaksa saya untuk bisa naik sepeda sendiri bahkan sejak kecil. Saya saat itu merasa jenuh dan bosan, kemudian pernah berkata, “Nggak usah belajar naik sepeda ya bu, besok mbonceng teman aja.” Namun ibu menjawab, “Kamu harus bisa naik sepeda, biar bisa kemana-mana sendiri. Tidak boleh bergantung sama teman.”

Bisa naik sepeda adalah kemudian menjadi simbol kemandirian sejak dini yang ditanamkan ibu kepada saya. Ibu nampaknya tahu bahwa ada suatu masa anaknya ini akan hidup terpisah dan jauh dari orang tua. Ketika hidup sendiri itulah, kemudian prinsip ‘bisa naik sepeda sendiri’ ini menemukan maknanya. Suatu hari lain, ketika saya sudah dewasa dan mengalami kegagalan terberat, bapak pernah bilang: “Hidup itu nggak selalu mulus, pasti ada suatu saat terjatuh. Saat itu kamu mesti bisa berdiri sendiri dan berdoa sama Allah.” Bertahan sendiri, berdiri sendiri, serta menggantungkan segalanya pada Allah Swt adalah hal lain yang ibu bapak ajarkan pada anaknya.

  1. Al jannatu tahta aqdamil ummahat

Meski hadis yang menyebutkan bahwa:  الْجَنَّةُ تَحْتَ أقْدَامِ الْأُمَّهَاتِ (artinya: “surga berada di bawah telapak kaki para ibu”) adalah termasuk hadis dhaif, secara makna, hadis tersebut adalah baik, karena ada unsur kewajiban memuliakan orang tua, khususnya ibu. Bapak selalu menegur saya dengan mengucapkan kalimat ini setiap kali saya menaikkan suara di depan ibu, atau tidak menurut pada beliau. Suatu kali, bapak berkata: “Al jannatu tahta aqdamil ummahat. Itu (ibu) surgamu, kamu nggak boleh marah. Harus manut.” Pesan ini akan selalu saya ingat selama saya hidup, bahwa pada dasarnya, pintu surga tersebut adalah orang tua kita sendiri. Seperti sabda Rasulullah saw berikut:

 

 

الْوَالِدُ أَوْسَطُ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ فَإِنْ شِئْتَ فَأَضِعْ ذَلِكَ الْبَابَ أَوِ احْفَظْهُ

“Orang tua adalah pintu surga yang paling baik. Kalian bisa sia-siakan pintu itu atau kalian bisa menjaganya” (HR. Tirmidzi)

  1. Kalau bapak besok meninggal, tolong bacakan tahlil.

Sebulan sebelum wafat, bapak sempat berpesan ini kepada saya, anaknya. Siapa sangka, itu adalah pesan dan pertemuan terakhir saya dengan bapak. Tahlil yang bapak maksud adalah beliau minta dibacakan serangkaian ayat Al-Qur’an dan kalimat thayyibah (tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir) dengan pahala dikhususkan kepada beliau. Bapak tentunya berharap sekali anaknya tidak lupa mengirimkan doa baginya bahkan ketika sudah meninggal nanti. Keinginan bapak ini tentunya adalah refleksi dari hadis berikut:

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم ‏:‏ “‏إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاث‏:‏ صدقة جارية ،أو علم ينتفع به، أو ولد صالح يدعو له‏”‏ ‏‏‏(‏رواه مسلم‏‏‏)‏‏.‏

Rasulullah saw bersabda: Apabila manusia itu meninggal dunia maka terputuslah segala amalnya kecuali tiga: yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak sholeh yang berdoa baginya. (HR. Muslim)

Meski masih ada banyak nasehat lain yang saya ingat dengan jelas, kelima hal tersebut di atas saya rasa adalah bekal fundamental yang ditinggalkan orang tua kepada saya. Selain itu, kelima hal ini kemudian seolah menampar saya agar saya jangan lelah belajar ilmu agama, karena itulah bekal utama menjadi orang tua. Karena atas pengetahuan dan pengamalan agama yang baik oleh bapak dan ibu, maka beliau bisa mendidik anaknya meski pada masa itu tidak ada kursus parenting ataupun tips parenting di media sosial seperti saat ini. Meski saat ini belum menjadi orang tua, saya membayangkan akan menyenangkan bisa belajar mempraktikkan nasehat bapak ibu kepada anak saya kelak. Betul, saya menjadikan bapak dan ibu sebagai role model saya, sehingga kemudian terbesit suatu pikiran bahwa suatu hari nanti saya ingin menjadi orang tua seperti bapak dan ibu saya. Aamiin YRA.

Referensi:

Dadds, M. R., & Tully, L. A. (2019). What is it to discipline a child: What should it be? A reanalysis of time-out from the perspective of child mental health, attachment, and trauma. American Psychologist74(7), 794.

https://bincangsyariah.com/kalam/surga-di-bawah-telapak-kaki-ibu-hadis-atau-bukan/

https://islam.nu.or.id/post/read/111215/pesan-rasulullah–orang-tua-adalah-pintu-surga-terbaik

https://sunnah.com/abudawud/2

https://sunnah.com/riyadussalihin:1383