OLeh : Dwi Pranita, S.E., M.Akt.—- Kegagalan itu merupakan suatu hal yang kadang kita sesali, kita ratapi, dan kita tangisi. Apakah benar kegagalan merupakan sukses yang tertunda? Mengapa demikian? Sebelum membahas tentang kegagalan, ada baiknya kita kembali mengingat firman Allah dalam Surat Ar Rad ayat 11

ۗاِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ

yang artinya “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan mereka sendiri”. Dari ayat tersebut dapat kita ketahui bahwa Allah sangat menghargai suatu usaha untuk merubah nasib ataupun keadaan, dan Allah tidak akan mengabulkan perubahaan tanpa orang itu melakukan perubahan pada dirinya sendiri. Namun mengapa terkadang dalam upaya mengubah keadaan kita sering sekali menemukan kegagalan? Kata gagal kadang kita anggap bahwa kita tidak sukses melakukan ataupun menggapai sesuatu.

Sebagaimana contoh, si A ingin bekerja di Perusahaan B dan sudah melalui berbagai tes masuk, namun sampai tes terakhir si A akhirnya gagal diterima sehingga si A sangat sedih karena sebelumnya sudah berharap bahwa dia akan diterima di perusahaan tersebut. Tak lama, si A juga mendapatkan kabar bahwa teman dekatnya ada yang diterima di Perusahaan tersebut. Si A mulai galau, mulai menyalahkan Allah yang tidak berpihak kepadanya. Padahal dia sudah berdoa, sudah melaksanakan sholat malam, zikir, puasa, segala upaya dia lakukan. Namun mengapa dia tidak diterima di perusahaan tersebut. Jiwanya pun mulai goyah, imannya pun mulai melemah.

Pelajaran apa yang dapat kita ambil pada kasus si A tersebut? Mungkin sebagian dari kita di sini ada yang pernah berada di posisi A. Namun bagaimana cara kita melewati semuanya itu mungkin tidak sama dengan si A.  Ada yang kembali berjuang untuk mendapatkan keinginannya kembali, lalu ada yang berusaha untuk mengubah nasib dengan melamar di perusahaan yang berbeda atau jenis usaha yang berbeda karena bisa jadi perusahaan sebelumnya mungkin tidak cocok untuk dia ke depannya. Ada juga yang melakukan instrospeksi diri secara mendalam alasan dia gagal dan berusaha memperbaiki kegagalan tersebut untuk ke depannya mencoba lagi dan lagi. Tetap semangat dan berusaha. Namun untuk kasus si A, ia malah menjadi down dan putus asa. Tidak mencoba instrospeksi diri, tidak mencoba melihat dari berbagai macam sisi. Apa hikmah kegagalan yang iia alami. Namun si A malah cenderung menyalahkan Allah. Padahal di Surat Ar Rad ayat 11 sudah jelas berbunyi bahwa yang dapat mengubah nasib suatu kaum adalah dirinya sendiri. Jadi bagaimana Allah akan merubah nasibnya jika dia tidak mau lagi berusaha merubah nasib atau keadaannya kembali? Apakah pantas Allah disalahkan?

Semua orang pasti pernah mengalami kegagalan. Kegagalan adalah suatu proses wajar yang akan dialami oleh seseorang untuk tahu apakah dia sudah mencapai hal terbaik. Terbaik menurut kita bukanlah terbaik menurut Allah. Kegagalan merupakan salah satu bentuk komunikasi dari Allah kepada kita untuk menyatakan bahwa apa yang kita pilih bukanlah yang terbaik untuk kita karena Allah maha mengetahui segala sesuatu yang tidak kita ketahui. Hal ini tertuang dalam firman Allah Surat Al Baqarah ayat 29 yang berbunyi

هُوَ الَّذِيْ خَلَقَ لَكُمْ مَّا فِى الْاَرْضِ جَمِيْعًا ثُمَّ اسْتَوٰٓى اِلَى السَّمَاۤءِ فَسَوّٰىهُنَّ سَبْعَ سَمٰوٰتٍ ۗ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ

“Dialah (Allah) yang menciptakan segala apa yang ada di bumi untukmu, kemudian Dia menuju ke langit, lalu Dia menyempurnakannya menjadi tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu”.

Kegagalan yang kita alami bisa jadi merupakan petunjuk agar kita tidak memilih jalan yang salah menurut Allah. Mungkin di awal kita tidak merasa nyaman dengan kegagalan tersebut, tetapi di akhir bisa jadi kita malah bersyukur dengan kegagalan yang kita alami. Misalkan pada kasus kecelakaan pesawat baru-baru ini, ada seorang penumpang yang tertinggal pesawat karena sesuatu hal. Di awal dia merasa sedih tertinggal pesawat, namun beberapa jam kemudian dia sangat bersyukur karena tidak jadi berangkat dengan pesawat tersebut karena mendengar kabar bahwa pesawat tersebut mengalami kecelakaan dan tidak ada seorangpun yang selamat. Inilah yang dimaksud kegagalan merupakan sukses yang tertunda. Awalnya dia merasa gagal karena tidak ikut naik pesawat tersebut, namun seketika itu dia juga merasa sebagai orang yang sukses karena berhasil hidup. Dia juga akan mendapatkan hikmah lainnya yang antara lain dengan diberikannya tambahan usia, berarti Allah memberikan kesempatan kepada dirinya untuk melakukan amal kebaikan dan memperbaiki diri agar besok lebih sukses dalam menghadapi kehidupan maupun akhiratnya. Sebagaimana yang tertuang dalam firman Allah surat Al Mu’minun ayat 99-100 yang artinya. “…hingga apabila dating kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, “Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku dapat berbuat kebajikan yang telah aku tinggalkan”

Sementara pada kasus si A tadi, bisa jadi usaha si A dalam melakukan ibadah-ibadah sebelumnya adalah salah menurut Allah, ibadah yang dilakukannya hanya bertujuan agar dia dapat diterima di perusahaan tersebut. Maka apabila dia kelak diterima di perusahaan tersebut bisa jadi dia akan melakukan kesalahan yang sama untuk ke depannya. Beribadah jika ada maunya saja. Padahal ibadah itu mutlak hanya untuk Allah. Kita tidak boleh berharap sesuatu yang lain dalam segala ibadah yang kita lakukan. Sebagaimana firman Allah dam Surat Al Hajj ayat 31 yang berbunyi “(Beribadahlah) dengan ikhlas kepada Allah tanpa menyekutukan-Nya. Barang siapa menyekutukan Allah, maka seakan-akan dia jatuh dari langit lalu disambar oleh burung atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh”.

Sebagaimana yang kita bahas di awal tadi bahwa kegagalan merupakan sukses yang tertunda, tanpa kita sadari ternyata dengan mengalami kegagalan kita jadi tahu apa saja yang kurang di usaha-usaha kita. kita akan belajar sesuatu yang baru yang nantinya akan membawa kita pada kesuksesan berikutnya. Dengan berpikir seperti itu, Insya Allah kita tidak akan menjadi seperti si A yang menjadi down hanya karena dia baru mengalami kegagalan sekali dan merusak kehidupannya ke depannya. Bersyukurlah maka kamu akan medapatkan nikmat yang lebih besar sebagaimana firman Allah dalam Surat Ibrahim Ayat 7 yang artinya “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-ku), maka pasti azab-Ku sangat berat”.