Dalam rangka membangun paradigma yang tepat tentang penelitian payung/kolaborasi serta  meningkatkan pemahaman riset kolaboratif dengan memanfaatkan sumber daya yang ada (kompetensi anggota peneliti, laboratorium, jejaring, dan penelitian), pengelola laboratorium Psikologi,  Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB) Universitas Islam Indonesia secara khusus menyelenggarakan workshop Manajemen Riset Laboratorium Psikologi 2021, Senin-Selasa, 10-11 Rajab 1442 H/22-23 Februari 2021.

Kegiatan yang diikuti oleh para dosen dan peneliti di lingkungan Jurusan Psikologi UII tersebut menghadirkan Galang Lufityanto, M.Psi., Ph.D. (Universitas Gadjah Mada) dan dr. Ronny Lesmana,Ph.D., MD., AIFO. (Universitas Padjajaran) sebagai pemateri.

Galang  Lufityanto melalui paparannya berjudul Manajemen Riset Kelompok menerangkan bahwa tugas peneliti adalah untuk mencari tahu daerah-daerah pengetahuan yang belum diketahui dengan bekal pengetahuan yang sudah diketahui. “Dengan metode riset yang baik, kita akan semakin memenuhi tuntutan kita sebagai hamba Allah yang bertugas mencari tahu apa yang sudah Allah berikan kepada kita dan kemudian mensyukurinya”, ungkapnya.

Lebih jauh, Galang Lufityanto berbagi pengalaman tentang kolaborasi riset yang dia lakukan bersama mahasiswanya, termasuk berbagi tips memilih mahasiswa yang sesuai untuk dijadikan partner dalam melakukan riset.  Jika sudah menemukan mahasiswa yang dimaksud, maka mahasiswa tersebut perlu untuk dibekali/diajari tentang penulisan proposal riset, presentasi, dan beberapa skill lain yang tidak ada di kurikulum. Tak lupa, beliau juga berbagi suka dan duka dalam penelitian kolaborasi.

Sedangkan Ronny Lesmana dalam materinya Pengelolaan Sumber Daya dan Jejaring Penelitian menegaskan bahwa saat ini kebanyakan orang ingin melihat dampak riset yang sudah dilakukan dan bukan sekedar siapa yang melakukan riset. “Kita di area modern science yang mana ini bersifat interdisplininery dan tidak ada ilmu berdiri tunggal. Ini yang mendorong kita untuk bisa saling mengerti satu dengan lain. Ini yang menuntut kita bukan cuma menjadi seorang scientis, tapi bagaimana menjadi seorang scientis yang mampu menjelaskan/mengenteprenuer tersebut dan menjadi profesional di bidannya. We no tonly teaching people, but we inspired the people. We change the generation. And we let the generation in to something,” ungkapnya.

Ronny Lesmana pun mengingatkan peserta untuk jangan pernah pindah dari keilmuan yang sudah dimiliki. “Berjalanlah dari dan dalam keilmuan yang kita miliki. Jangan terpancing untuk pindah haluan. Jangan kita berubah warna, tapi kita memberi warna pada yang lain. Yang kedua adalah memetakan yang ada. Petakan fasilitas apa yang kita punya. Petakan tim player atau tim leader. Karena dalam satu departemen tidak mesti memiliki kapability dan pengalaman meneliti yang sama. Petakan dan bagi kelompok2 kecil agar bisa berbagi dam empowering.  Pastikan kita menemukan celah2 untuk grand, hibah dari dalam dan luar negeri. Kelima perlu tahu regulasi yang berlaku dalam departemen atau fakultas. Harus berjalan dalam satu tren line komunikasi dan koordinasi yang baik. Dan yang terakhir adalah bagi waktu. Kita perlu  mengelola waktu dengan baik. Sehingga manjemen sdm berbicara bukan hanya kita memanaj dan memainten motivasi kita untuk tetap berada dalam keilmuan tetapi memainten dan memetakan dari apa yang ada,” tuturnya seraya berbagi pengalaman dalam melakukan penelitian.

Dari kegiatan tersebut, pihak pengelola laboratorium juga berharap akan mampu meningkatkan kompetensi dosen/peneliti dalam pengelolaan riset, khususnya terkait dengan berbagai isu terkini seperti pemahaman riset payung/kolaborasi, manajemen sumber daya, pendanaan, etika, dan transparansi.