Persiapan Masa Depan Era Internet of Thing Revolusi Industri 4.0. Demikian judul materi yang disampaikan oleh Prof. Dr. Djamaluddin Ancok, Ph.D., Psikolog pada kegiatan pengajian bulanan keluarga besar Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB) Universitas Islam Indonesia (UII), Jumat, 25 September 2020 secara daring.

Dalam pengantarnya, sosok yang pernah mengemban amanah sebagai Dekan di FPSB UII ini menekankan bahwa di dalam Al Quran ada perintah bagi setiap kamu muslimin untuk mempersiapkan masa depannya. Sosok murah senyum itupun mengajak peserta untuk bisa menjadi muslim yang kreatif dan produktif khususnya di masa pandemi saat ini serta mau merenungkan setiapperubahan yang terjadi (utamanya kemajuan teknologi) supaya lebih siap dalam menghadapinya.

“Tugas kita sebagai dosen/lembaga tinggi untuk mengajak orang agar selalu merenungkan perubahan seupaya tidak telmi (telat mikir). Kita diwajibkan untuk terus belajar sejak ayunan sampai ke liang lahat. Suksses masa lalu belum bisa dipastikan sebagai sukes untuk masa depan. Perubahan semakain sulit diprediksi. Tidak ada pola, tidak ada linieritas. Kacau. Kita wajib merenungkan untuk mempersiapkan diri”, ungkapnya.

Beliau pun mengajak audiens untuk mempersiapkan mental anak-anak agar tidak panik dalam menghadapi perubahan teknologi. Pun demikian menurutnya ada 3 prinsip yang harus senantiasa dipegang oleh seorang muslim dalam menghadapi perubahan yang ada, yakni 3 M (Mining, Membership dan Must Try).

Mining (makna) merupakan prinsip hidup untuk sebisa mungkin memberi makna/manfaat bagi banyak orang. “Manusia yang paling baik adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Ajak orang untuk melihat hidupnya dari segi mining/kebrmakanan hidup bagi orang lain”, tambahnya seraya memberikan ilustrasi makna hidup dari 3 orang tukang batu yang berbeda dalam melaksanakan tugasnya sebagai tukang batu, yakni ada yang sekedar memang karena di gaji. Ada yang membuat rumah sangat sederhana (asal jadi) dan ada pula yang membuat rumah sangat indah agar semua orang akan terkagum bahkan malaikat pun bisa tersenyum bahagia melihatnya (memberi rasa bahagia pada orang lain).

“Yang ketiga itulah yang paling besar motivasinya. Inilah tugas kita untuk mengajak mahasiswa ke arah kebermakaan hidup. Bagaimana kita sebagai dosen bisa menghasilkan mahasiswa-mahasiswa yang berorientasi pada makna hidup dan bukan sekedar mengejar uang, pangkat, jabatan. Berbuat bagi masyarakat, negara, agama.  Jika menulis buku, lihatlah makna yang dihasilkan. Kita tumbuhkan dalam setiap insan Islam yang bagus ini bahwa dia berbuat bagi Allah”, tandasnya.

Sedangkan membership menurutnya lebih pada menghargai peran penting teman sejawat sekecil apapun pekerjaannya. “Jangan pernah kita merasa paling hebat. Tanpa orang lain kita bukan apa2. Kita mengajak orang untuk melihat oranglain sebagai pembawa berkah. Tidak ada yang lebih baik atau lebih penting. Semua penting. Semua punya peran. Agar sukses, perlu menghargai orang lain dan tempat bekerja. Tanamkan pada setiap insan untuk memperlakukan orang lain sebagai saudaramu. Senyumlah padanya. Berkatalah yang baik”, ujarnya seraya mengisahkan seorang pilot yang merasa hebat sebagai pembawa penumpang, namun ternyata yang tak kalang penting adalah peran supir kijang yang juga supir pribadi sang pilot, petugas yang selalu menyiapkan tangga pesawat, supir pengisi BBM pesawat, pramugari, dan masih banyak lagi.

Sementara Mastery (Pengetahuan/penguasaan) bisa diwujukan dengan terus belajar sebagaimana kata hikmah/mutiara yang menganjurkan kita untuk menuntut ilmu sejak dari buaian sampai liang lahat. Oleh karenanya, seorang muslim di jaman ini perlu memiliki skill di bidang IT, melek media, menguasai visual literacy, lintas budaya/multiculral, dan menguasai literacy bidang teknologi.

Adapun kompetensi yang perlu dibangun adalah leadership,  modal intelektual,  modal emosional modal sosial maupun modal ketabahan (adversity). Leadership merupakan kompetensi yang paling penting dalam hidup. Sedangkan modal intelektual sangatlah penting untuk selalu melihat perubahan dunia. “Kembangkanlah modal intelektual yaitu dengan memahami perubahan dunia yang cepat”, pintanya seraya mengajak peserta untuk mengembangkan modal emosional, modal sosial, serta modal adversity/ketabahan dengan baik.