Growed mindset, mengasah softskill, senantiasa mengembangkan atau meningkatkan kompetensi diri, mengasah kemampuan softskill, mempelajari berbagai disiplin ilmu, maupun mengikuti perkembangan teknologi menjadi kunci penting dalam berkompetisi di era industri 4.0 yang serba digital, otomatis, dan canggih. Hal itu disampaikan oleh para pemateri webimar : Peluang dan Tantangan Karir di Era Industri 4.0, Ahad, 16 Agustus 2020. Kegiatan yang merupakan rangkaian Lustrum ke-5 Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB) Universitas Islam Indonesia (UII) tersebut menghadirkan 4 orang alumni sebagai pemateri, yakni Adhi Hutama Habibie (Psikologi), Yogatama Yalesena, S.I.Kom (Ilmu Komunikasi), Bayu Kurniahadi Pranoto, S.Hub.Int (Hubungan Internasional), dan Endah Sri Elyawati, S.Pd. (Pendidikan Bahasa Inggris). Kegiatan dimoderatori oleh Iswan Saputra, S.Psi., M.Psi., Psikolog.

Dr. H. Fuad Nashori, S.Psi., M.Si., M.Ag., Psikolog dalam sambutannya kembali menegaskan bahwa sebaik-baik orang adalah yang bisa memberi manfaat pada orang lain, tak terkecuali para alumni yang sudah bersedia berbagi ilmu dengan para mahasiswa FPSB UII yang notabene adalah adik angkatan. Sedangkan kepada para peserta Pak Fuad berpesan agar materi yang disampaikan benar-benar diperhatikan karena bisa menjadi bekal menatap masa depan yang lebih baik dan optimis.

Adahi Hutama Habibie sebagai pemateri pertama banyak berbagi pengalaman dalam meniti karir di dunia kerja. Setidaknya, sosok aktifis (mantan ketua LEM FPSB UII) berprestasi sekaligus lulusan terbaik pada masanya itu sudah beberapa kali berpindah perusahaan. Dan karir saat ini yang masih digelutinya adalah Senior Manager Pengembangan Organisasi dan Sumberdaya di Great Giant Food yang merupakan salah satu perusahaan berlevel internasional dengan jumlah pekerja mencapai 45 ribu orang.

Dalam paparannya, Adhi mengingatkan bahwa saat ini banyak perusahaan yang sudah mengurangi tenaga kerja manusia dengan memanfaatkan teknologi robotik untuk mempermudah dan memperbesar kapasitas produksi perusahaannya. Dia mencontohkan bahwa proses pemupukan tanaman saat ini sudah tidak lagi memanfaatkan banyak tenaga manusia, melaink sudah menggantikannya dengan drone. Termasuk menghitung jumlah tanaman di suatu lahan/area tanam.

Adhi juga menegaskan bahwa perubahan ke arah digitalisasi, otomatisasi dan pemanfaatan kecerdasan buatan (teknologi canggih) tersebut tidak hanya dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar saja, melainkan sudah hampir merambah seluruh ranah industri.

Oleh karenanya, Adhi mengajak kepada peserta untuk bisa senantiasa beradaptasi dengan dampak peruabahan era industri 4.0. Terkait hadirnya teknologi robotik ternyata juga tidak serta merta menutup lapangan pekerjaan. Tapi juga membuka lapangan pekerjaan baru yang terkait dengan teknologi tersebut. “Ada yang hilang, tapi juga ada peluang baru. Yang terjadi sebenarnya adalah pergantian skill (skill shift). Memang betul ada pengurangan tenaga kerja di sektor tertentu, tapi juga membuka peluang kerja di sektor lainnya”, tuturnya.

Adahi juga menambahkan bahwa saat ini banyak perushaan yg membutuhkan The Future Leader, yakni leader yg memiliki future vision (Antiicipate, drive, accelarate, partner, trust).
Yogatama Yalesama sebagai pemateri kedua banyak berbagi pengalaman dalam industri pertelevisian. Asisten produksi di GTV (MNC Media Group) tersebut menyampaikan materi berjudul “Peluang dan Tantangan di Dunia Industri Pertelevisian;
Kreativitas dan Inovativitas Menghadapi Dunia Kerja”.
Sedangkan Endah Sri Elyawati sebagai pemateri ketiga banyak bercerita tentang seluk belum di dunia pengajaran. Saat ini Endah berkarir sebagai Guru di Sekolah Islam Nabilah, Batam. “Tempat bekerja adalah tempat untuk berkembang. Berkembanglah dimanapun kalian berada”, pesannya.

Sementara Bayu Kurniahadi Pranoto sebagai pemateri keempat memaparkan seluk beluk dunia e-commerce. Sosok yang saat ini berkrir di Businnes Development-relationship Management Shopee Indonesia tersebut mengingatkan tentang adanya kondisi yang bisa berubah secara cepat (kondisi ketidakpastian). Kondisi ini memaksa seseorang untuk tidak berpikir bahwa ilmu yang dimiliki sudahlah cukup, melainkan harus terus upgrade kompetensi/skill.