Psikoterapi Islam: Ghazalian Psychotherapy. Demikian tema yang diangkat dalam webinar kajian Psikologi Islam yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Psikologi Islam, Prodi Psikologi Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB) Universitas Islam Indonesia, Sabtu, 25 Juli 2020. Kegiatan yang dilakukan secara daring (online) ini menghadirkan perintis Psikologi Ghazalian, Ricky Firmansyah, S.Psi. dalam rangka mengenalkan salah satu model dalam psikoterapi Islam kepada dosen dan mahasiswa magister profesi psikologi UII.

Di awal materinya, Ricky Firmansyah banyak menyampaikan pembahasan seputar kriteria ilmu yang dianggap ilmiah, dan bagaimana mensejajarkan psikologi Islam agar dapat diakui secara ilmiah sebagaimana psikologi modern saat ini. Selain sistematis, teori yang dikembangkan dalam psikologi Islam sebaiknya harus dapat diuji, komprehenship dan aplikatif. Demikian halnya dengan psikoterapi Ghazalian yang berangkat dari pandangan Al-Ghazali yang mempelajari tentang jiwa beserta sifat-sifat dan akhlaknya, serta bagaimana jiwa berjuang melakukan riyadhah (latihan) dan melakukan mujahadah al-nafs (melawan hawa nafsu).

Lebih jauh Ricky Firmansyah juga mengungkapkan bahwa Psikologi Ghazalian memiliki tujuan untuk menyembuhkan dan membebaskan jiwa dari berbagai penyakit hati, menjaga jiwa agar tetap hidup, membuat jiwanya tetap sehat dan lebih baik guna meraih kebahagiaan di akhirat. Tentunya tujuan tersebut akan melahirkan ketakwaan di mana takwa merupakan sifat dan keadaan hati, dan bukan sifat dan keadaan tubuh. Dengan mengubah sikap dan perilaku hati maka sifat dan perilaku tubuh akan selalu mengikuti.

Psikoterapi sendiri menurut Al-Ghazali memiliki tujuan untuk ma’rifah al-nafs (mengenali jiwa), tazkiyah al-nafs (penyucian jiwa), takmil al-nafs (penyempurnaan jiwa), tahzhib  al-akhlak (pendidikan akhlak). Dalam psikoterapi Ghazalian, terapis harus menyandarkan kepada empat tujuan tersebut dan juga memahami komponen jiwa bahwa jiwa tersusun atas 3 hal, yaitu nabatiyah, hayawaniyah dan insaniyah. Jiwa nabatiyah adalah jiwa yang berfungsi untuk makan, tumbuh dan melahirkan. Jiwa hayawaniyah adalah jiwa yang berfungsi mengetahui hal-hal kecil dan bergerak sesuai kehendak/iradah Allah SWT, sedangkan jiwa insaniyah adalah jiwa yang melakukan perbuatan dan mengatahui hal-hal yang lebih bersifat umum. Ketiga komponen jiwa itu akan membentuk akhlaq dan perilaku manusia.

Dalam memahami manusia, Ricky Firmansyah menyampaikan bahwa terapis harus memiliki pengetahuan tentang teori akhlak, hierarki akhlak, struktur akhlak, frame work therapy hingga manajemen perubahan dalam Ghazalian Psychotherapy. Manajemen perubahan diri tersebut terbagi ke dalam 7 sesi psikoterapi, meliputi 1) Ilmu (menyelaraskan problematika dengan ilmu tauhid, ilmu syariat, dan ilmu sirr/psikologi). Pada sesi ini, terapis meluruskan pengetahuan kognitif (ilmu) terlebih dahulu. Hal ini disebabkan banyaknya perilaku menyimpang atau tidak semestinya yang diawali dari pengetahuan yang salah. 2) Taubat (menyadari problematika yang dihadapi adalah bentuk kurangnya ilmu dan mendzolimi diri sendiri). Pada sesi ini, dilakukan pertobatan agar perilaku yang salah diampuni Allah dan mendapat ridho-Nya dalam upaya menumbuhkan perilaku yang baik. Selanjutnya ialah tahapan 3) Awaiq (berlatih mengatasi khatir atau lintasan pikiran dan membedakan sumbernya khatir tersebut apakah bersumber dari nafsu, syaithan, ataukah malaikat). Dengan mengetahui sumber khatir, maka terapis dapat menerapkan teknik yang tepat dalam menangani klien. Tahapan selanjutnya ialah 4) Awarid (berdamai dengan problematika melalui pendekatan tawakal, tafwidh, sabar dan ridho). Tahap ini merupakan tahap yang berat bagi klien. Adakalanya terjadi kekambuhan yang fluktuatif pada klien. Kesabaran dan usaha klien untuk berjuang untuk sembuh, tampak di tahap ini. Tahap 5) Bawa’its yaitu menemukan motivasi hidup dengan menumbuhkan khauf (hal yang ingin dihindari) dan roja’ (harapan), kemudian 6) Qowadih (pemeliharaan diri dengan mencegah hal yang merusak hati untuk mencegah kekambuhan), dan 7) Syukr (menghadirkan rasa syukur dan senantiasa berdzikir untuk menjaga emosi tetap positif). Tahap 5, 6 dan 7 merupakan proses peningkatan pengembangan diri bagi klien untuk memperbaiki jiwa paska perjuangan melawan gangguan atau godaan.

Di akhir materi, Ricky Firmansyah menjelaskan bahwa Ghazalian Psychotherapy selama ini sudah diterapkan pada kasus-kasus psikologis, yaitu adiksi pornografi, phobia, kecemasan, depresi, panic attack, trauma, serta pikiran intrusif.