Oleh : Dr. Rina Mulyati, S.Psi., M.Psi., Psikolog (Dosen Prodi Psikologi)

Interaksi manusia, baik antar individu (si A dan si B), maupun antar kelompok (kelompok Y dan kelompok Z) tidak dapat dilepaskan dari proses kognitif. Apa yang kita lihat dari orang lain, atau apa yang dilihat orang lain dari kita adalah sebuah “informasi”. Ia masuk ke dalam sebuah proses kognitif yang kemudian diproses oleh mekanisme berpikir kita untuk melahirkan sebuah kesimpulan. Kesimpulan ini bisa berupa penilaian yang dapat diukur dalam kerangka positif vs negatif. Misalnya kita punya teman yang cara bicaranya kasar. Cara bicara ini adalah sesuatu yang kita tangkap dari dia, kemudian kita proses dalam sistem berpikir kita, dan akan menghasilkan kesimpulan tertentu. Katakanlah kemudian kita menyimpulkan bahwa “oh teman saya ini orangnya pemarah”. Proses antara informasi tentang cara berbicara yang kasar hingga memunculkan penilaian bahwa subjek adalah orang yang pemarah adalah sebuah proses yang berlangsung di dalam kesadaran pikiran kita.

Pertanyaannya kemudian, sejauh mana kesimpulan atau penilaian kita terhadap sesuatu, atau seseorang memang sesuai dengan fakta tentang orang tersebut? Hal ini tentu saja hal yang pantas untuk ditanyakan. Lebih lanjut, apakah tidak mungkin terjadi bias-bias tertentu yang kemudian membuat penilaian kita menjadi tidak akurat? Terlebih seringkali kita memiliki informasi-informasi yang terbatas? Nah, proses penilaian ini yang seringkali berlangsung bahkan tanpa proses kognitif yang kompleks dikenal dengan istilah prasangka. Dalam Islam, ia disebut dzon. Psikologi berusaha menjelaskan mengapa prasangka dapat terjadi dan bagaimana mencegah prasangka tersebut sehingga tidak berlanjut pada interaksi yang sifatnya jauh lebih destruktif seperti diskriminasi dan konflik. Islam memberikan rambu-rambu moral agar kita menjauh prasangka yang sifatnya negatif.

Al-Quran, tepatnya Surat Al Hujuraat ayat 12 memberikan penegasan soal proses psikologis ini:

“Jauhilah olehmu sebagian besar dari prasangka. Sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah keburukan (dosa)” (Q.S. Al Hujuraat: 12).

Dalam Hadits, Rasulullah SAW juga menegaskan bahwa:

“Jauhilah prasangka, karena sesungguhnya prasangka adalah seburuk-buruknya perkataan”.

Ayat dan hadits di atas memberikan penegasan tentang buruknya prasangka dalam kerangka moral agama Islam. Prasangka ini tentu saja sangat mudah muncul, entah sekedar dalam pikiran kita, atau sudah kita artikulasikan dalam kata-kata maupun perbuatan yang sifatnya diskriminatif. Secara sederhana, prasangka dapat muncul dalam proses membuat penilaian sebelum mengetahui fakta yang relevan tentang suatu objek atau individu. Ia juga dapat muncul dalam sikap yang tidak yang tidak masuk akal atau juga munculnya tendensi untuk menilai segala hal, bahkan yang sama sekali tidak terkait dengan kita.

Jika dilihat dari sejauh mana prasangka muncul (dalam diri individu atau dalam proses interaksi sosial), maka prasangka dapat dibagi ke dalam tiga level. Pertama, prasangka yang sifatnya kognitif atau masih berada dalam pikiran kita. Hal ini merujuk pada munculnya penilaian tertentu terhadap orang lain berdasarkan informasi yang sangat mungkin sifatnya terbatas atau bahkan tidak valid. Belum lagi, kita juga seringkali memiliki bias-bias tertentu yang lahir dari pengalaman masa lalu kita. Pada level ini, prasangka masih berada di dalam pikiran individu dan mungkin tidak memiliki dampak sosial kecuali implikasi psikologis di dalam pikiran kita yang jika dilanjutkan kemungkinan akan mempengaruhi cara kita berinteraksi dengan orang lain.

Pada sisi lain, ketidakakuratan penilaian ini tidak selamanya bersifat negatif. Dalam Islam, ada istilah prasangka baik (husnudzon), yang meskipun sama-sama berangkat dari penilaian yang tidak akurat, namun lebih dianjurkan, karena lebih sehat bagi pikiran kita dan dapat menjadi basis bagi munculnya sikap dan perilaku positif terhadap orang lain. Kedua, prasangka yang sudah mempengaruhi perasaan (feeling) kita. Pada level ini, penilaian kita terhadap orang lain telah mempengaruhi sikap dan emosi kita. Misalnya, kita melabelkan sifat atau karakteristik tertentu pada seseorang (katakanlah: pembohong). Penilaian ini kemudian akan mempengaruhi perasaan kita ketika kita bertemu dengan dia. Sebaliknya, prasangka yang positif atau baik juga akan menghasilkan perasaan yang lebih positif ketika kita berada di dekat orang yang menjadi target prasangka kita. Sekali lagi, meskipun keduanya sama-sama berbasis pada penilaian yang kurang atau bahkan tidak akurat, namun prasangka yang positif ini, dalam konteks yang umum (misalnya bukan dalam proses investigasi kejahatan oleh penegak hukum) lebih ditekankan. Nah, pada level ketiga, perasaan yang lahir dari penilaian yang tidak tepat tersebut sangat mungkin muncul dalam perilaku. Ketika ia muncul dalam perilaku, maka sangat mungkin korban atau target dari prasangka, khususnya prasangka negatif ini dirugikan secara sosial. Bentuk perilaku yang lahir dari prasangka biasanya dikenal dengan diskriminasi.

Diskriminasi dapat muncul dalam ranah interaksi antar individu, dan yang lebih parah, ia muncul dalam interaksi sosial yang lebih luas. Ada banyak jenis diskriminasi yang terjadi berdasarkan faktor yang terkait dengan diskriminasi tersebut, misalnya: Islamophobia (diskriminasi terhadap orang Islam), rasisme (diskriminasi berdasarkan ras), seksisme (diskriminasi berdasarkan jenis kelamin), ageisme (diskriminasi terhadap usia tertentu). Hal yang perlu ditekankan di sini adalah, bahwa pikiran kita berperan dalam munculnya fenomena-fenomena negatif di tengah masyarakat seperti diskriminasi. Hal besar yang berangkat dari proses kognitif yang tidak akurat dalam membuat penilaian atau kesimpulan terhadap orang lain (prasangka).

Bagaimana mencegah agar kita tidak terjebak dalam prasangka negatif?

Islam memberikan kecaman yang keras kepada mereka yang berperilaku berdasarkan prasangka. Kita tahu istilah bahwa fitnah lebih kejam daripada pembunuhan. Tentu saja, karena fitnah sangat mungkin lahir dari prasangka yang ada di dalam pikiran kita. Lebih jelas lagi, Allah menegaskan terkait dengan prasangka yang sangat mungkin memunculkan pergunjingan dengan kecaman yang keras, masih di dalam Q.S Al Hujuraat: 12.

“Dan janganlah kalian saling menggunjingkan yang lain. Apakah kalian suka menjadi orang yang memakan bangkai saudaranya sendiri yang sudah mati? maka tentulah kamu merasa benci atau jijik untuk memakannya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah maha penerima taubat dan maha penyayang.” (Q.S. Al Hujuraat: 12).

Landasan moral dari ayat di atas, tentunya dapat menjadi motivasi bagi Muslim untuk menjauhi prasangka yang negatif terhadap orang lain. Pertanyaannya kemudian, bagaimana psikologi dapat membantu proses individu untuk menjauhkan diri dari kecenderungan berprasangka negatif terhadap yang lain? Beberapa poin yang kita bangun berdasarkan level pikiran dan perasaan kita di bawah ini insya Allah bermanfaat bagi kita semua.

Pertama, tekankan bahwa pikiran kita atau apa yang kita pikirkan, really matters. Ia bisa menjadi akar dari banyak persoalan, baik yang sifatnya individual maupun sosial. Kita perlu mengelola  pikiran kita agar senantiasa objektif dan hati-hati. Kalaupun ia mengandung bias, usahakan agar output-nya bernilai positif. Bahasa kerennya, positive thinking. Tetapi tetap saja, poin utamanya adalah objektifitas dan kejujuran dalam memberikan penilaian atau menarik kesimpulan.

Kedua, fokus pada apa yang kita rasakan, maka kita perlu berusaha untuk menumbuhkan perasaan positif di dalam diri kita. Perasaan positif ini dapat dimunculkan dengan mengelola pikiran maupun perilaku kita. Pikiran positif akan memberikan dampak emosi yang positif. Perilaku positif pun demikian. Misalnya apa yang kita rasakan setelah kita memberikan sesuatu kepada orang lain. Orang lain tersebut bisa jadi merasa bahagia, karena menerima apa yang dia butuhkan. Dan kita pun boleh jadi merasa lebih bahagia, karena membahagiakan orang lain. Begitulah, energi negatif yang muncul dalam prasangka, ibarat kotoran yang masuk di dalam air. Ia dapat dibersihkan dengan terus menerus menambahkan air yang jernih ke dalamnya. Cara “menambahkan air” adalah dengan yang pertama memahami terlebih dahulu prasangka negatif itu muncul karena map (peta) pikiran kita yang sangat sempit. Kita tidak memiliki cukup banyak alternatif informasi untuk memberikan penilaian terhadap situasi eksternal yang kita hadapi. Kedua, perluas map pikiran kita. Semakin lengkap dan detail peta yang kita miliki maka semakin kecil peluang untuk tersesat. Demikian juga ketika kita memberikan penilaian terhadap orang, kelompok atau situasi, semakin detail informasi, semakin lengkap gambarannya  maka semakin kecil peluang kita melakukan kesalahan judgment.  Cara memperluas peta pikiran adalah dengan bertanya, melakukan klarifikasi  dan dalam  Islam dikenal konsep bertanya yang keren yaitu tabayyun.

Allahu’alam