Oleh :  Yulianti Dwi Astuti (Dosen Prodi Psikologi)—

Pandemi COVID-19 yang dialami masyarakat di hampir seluruh belahan dunia sejak akhir tahun 2019 merupakan ancaman bagi kebahagiaan keluarga. Upaya-upaya yang dilakukan oleh pemerintah masing-masing negara dalam mengatasi pandemi ini seperti lockdown maupun Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) telah menimbulkan perubahan dalam kehidupan sehari-hari setiap individu maupun keluarga. Orang-orang dewasa yang biasanya bekerja di kantor atau di luar rumah tiba-tiba harus menjalani Kerja dari Rumah atau bahkan dirumahkan tanpa dapat melakukan pekerjaan rutinnya karena tempat kerjanya (pabrik, mall, hotel, tempat-tempat wisata dll) harus ditutup selama pandemi.

Hampir bersamaan dengan itu, sekolah-sekolah juga menghentikan kegiatan belajar-mengajarnya untuk sementara waktu. PSBB yang sempat diberlakukan di hampir seluruh wilayah Indonesia juga membuat pergerakan kita menjadi terbatas. Semua orang diharapkan untuk tinggal di rumah saja demi mengurangi laju penularan COVID-19, bahkan aktivitas beribadah juga harus dilakukan di rumah. Dengan demikian semua anggota keluarga yang tadinya memiliki aktivitasnya masing-masing dan rata-rata baru berkumpul lengkap lagi di rumah setelah jam 16.00, sekarang selama 24 jam berkumpul dan beraktivitas bersama di rumah.

Kondisi di atas, berpotensi menghadirkan tekanan pada masing-masing individu yang tiba-tiba harus mengubah pola kehidupan rutinnya. Ketidakamanan finansial, beban pengasuhan, stres yang terkait “di rumah saja” dalam waktu yang tidak tertentu berisiko menurunkan kesejahteraan keluarga. Dampak psikologis selama pandemi ini tidak hanya dialami oleh tenaga kesehatan yang harus berhadapan langsung dengan pasien COVID-19, ODP, maupun PDP, tetapi juga seluruh masyarakat.

Para peneliti dari Keio University di Tokyo pada 26-28 Maret 2020 melakukan survei daring terhadap 8.475 karyawan, termasuk pekerja tidak tetap, dengan rentang usia 20 hingga 64 tahun. Dari responden yang mengatakan WFH memperburuk kondisi mental mereka, 41,3 persen di antaranya mengaku sulit untuk memisahkan pekerjaan dan kehidupan pribadi mereka. Sedangkan 39,9 persen lainnya mengatakan sulit mendapatkan waktu untuk cukup berolahraga dan 39,7 persennya mengatakan mereka mengalami kesulitan berkomunikasi dengan rekan kerja. Profesor Isamu Yamamoto dari Fakultas Bisnis dan Perdagangan Universitas Keio, yang melakukan survei, mengatakan bahwa WFH meningkatkan risiko jam kerja yang semakin lama. Situasi ini juga membuat batasan jam kerja dan kehidupan pribadi menjadi kabur (Tashandra, 2020).

Mencermati media-media sosial yang ada, banyak orang yang berkeluh kesah dan merasa tidak bahagia dengan situasi saat ini. Gangguan psikologis yang dialami antara lain ketakutan, kecemasan, stres karena beban kerja yang tiba-tiba berlipat ganda (tetap bekerja dari rumah, mendampingi anak belajar online, mengurus rumah secara penuh karena asisten rumah tangga dikurangi frekuensi kehadirannya di rumah atau bahkan dirumahkan secara penuh), depresi dan lain sebagainya. Keluh kesah tersebut tidak hanya ditemukan di awal-awal pandemi yang merupakan masa penyesuaian tersulit, tetapi juga masih ditemukan sampai sekarang ketika pandemi telah memasuki bulan ke-6 dan PSBB mulai dilonggarkan. Artinya sebagian orang masih belum dapat menerima dan menyesuaikan diri serta merasa tidak bahagia dengan kondisi ini.

 

Apa sesungguhnya yang disebut dengan bahagia?

Kita semua mahfum bahwa kebahagiaan adalah salah satu faktor terpenting dalam kehidupan manusia. Semua orang mendambakan kebahagiaan seutuhnya di dunia maupun akhirat. Berbagai cara kita lakukan untuk meraih kebahagiaan. Namun apakah sebetulnya yang dimaksud dengan kebahagiaan itu?

Menurut Seligman (2005), kebahagiaan bersifat subjektif, oleh karena itu pemaknaannya oleh setiap orang mungkin saja berbeda-beda. Kebahagiaan tidak terjadi begitu saja, namun merupakan akibat sampingan dari keberhasilan inidividu dalam memenuhi keinginannya untuk hidup bermakna (will to meaning). Artinya, makna hidup adalah gerbang menuju kebahagiaan. Mereka yang berhasil mencapainya akan mengalami hidup yang bermakna dan dirinya akan memperoleh kebahagiaan. Sebaliknya mereka yang tidak berhasil memenuhi motivasi ini akan mengalami kekecewaan, kehampaan hidup, merasakan hidup yang tidak bermakna, dan akhirnya tidak bahagia (Bastaman (2008).

Makna hidup terdapat dalam kehidupan itu sendiri, dalam setiap keadaan yang menyenangkan dan tidak menyenangkan, dalam kebahagiaan dan penderitaan. Ungkapan seperti “makna dalam derita” (meaning in sufferring) dan “hikmah di balik musibah” (blessing in disguise) menunjukkan bahwa dalam penderitaan sekalipun, makna hidup tetap dapat ditemukan

 

Bagaimana meraih kebahagiaan?

Kebahagiaan tidak dapat ditunggu atau terjadi secara kebetulan, tetapi hal itu merupakan buah dari usaha yang kuat dan terus-menerus. Menurut Seligman (2011) ada lima elelmen penting dalam kebahagiaan yang disingkat dengan PERMA, yaitu:

  1. Positive Emotion (P)

Kemampuan untuk tetap optimis dan melihat masa lalu, masa sekarang, dan masa depan dari perspektif yang konstruktif akan membuat seseorang lebih bahagia. Kesenangan, keceriaan, kebahagiaan merupakan bagian dari emosi positif.

  1. Engagement (E)

Fokus pada sesuatu yang dikerjakan dan benar-benar merasa terlibat penuh dengan segala hal yang sedang dikerjakan. Flow adalah kondisi ketika kita merasa terhanyut dalam tugas atau aktivitas dengan bahagia sehingga waktu benar-benar “berlalu dengan cepat”. Hal tersebut biasanya dialami oleh individu yang merasakan keterlibatan penuh ini.

  1. Relationship/Positive Relationship (R)

Manusia adalah makhluk sosial yang perkembangannya memerlukan hubungan yang intim, penuh cinta, dan memiliki interaksi fisik dan emosi yang kuat dengan orang lain. Hubungan positif dengan orang tua, saudara kandung, teman sebaya, rekan kerja maupun tetangga dapat meningkatkan kebahagiaan. Memiliki hubungan positif yang kuat dengan orang lain juga dapat menjadi sumber dukungan bagi individu di masa-masa sulitnya.

  1. Meaning (M)

Menyadari tujuan kita diciptakan di bumi dapat mendorong kita menjadi manusia seutuhnya. Agama dan spiritualitas memberikan banyak makna pada individu. Kehidupan juga menjadi lebih bermakna jika individu dapat mendedikasikan dirinya pada hal yang berdampak pada`orang lain, bukan hanya pada diri sendiri.

  1. Accomplisment/Achievement (A)

Memiliki tujuan dan ambisi dalam hidup dapat membantu manusia mencapai hal-hal yang dapat memberi rasa pencapaian atau prestasi. Manusia harus membuat tujuan realistis yang dapat dipenuhi. Berupaya untuk mencapai tujuan tersebut saja sudah dapat memberi rasa kepuasan, lebih-lebih  ketika akhirnya tujuan tersebut dapat dicapai maka akan muncul rasa bangga dan berhasil. Memiliki prestasi dalam hidup adalah penting untuk mendorong diri kita untuk terus berkembang.

 

Kebahagiaan dan Cara Menggapainya dalam pandangan Psikologi Islam

Dalam perspektif Islam, kebahagiaan yang hakiki dapat diraih saat manusia mengenali dirinya, mengenali Tuhannya, mengenali dunia dan mengenali akhirat. Adapun puncak kebahagiaan manusia akan didapatkan ketika manusia tersebut mampu mengenali Tuhannya. Ketika manusia mengenali dan dekat dengan Tuhannya, pada saat itulah dia seakan-akan sudah tidak lagi membutuhkan hal-hal yang lain karena telah tercukupi dengan kedekatannya dengan Tuhan tersebut (Al Ghozali, 2017).

Ulama besar Indonesia, Hamka menyebutkan bahwa kebahagiaan sejatinya bukan berasal dari luar diri, tetapi dari dalam. Kebahagiaan yang datang dari luar, kerap kali hampa dan palsu. Orang yang menumpukan kebahagiaannya pada hal-hal yang berasal dari luar diri acapkali merasa ragu, kecewa, cemburu, dan putus-harapan ketika sedang terpuruk atau ditimpa musibah. Sebaliknya, dia sangat gembira jika sedang dihujani rahmat, dan lupa bahwa hidup ini bak roda yang berputar, lupa bahwa kesenangan terletak di antara dua kesusahan, dan kesusahan terletak di antara dua kesenangan (Hamka, 2015).

Hamka juga menyatakan bahwasannya ketidakbahagiaan manusia sebagian besar bersumber dari ketidakpahamannya atas takdir Allah. Manusia sejatinya hidup dan berjalan di atas takdir Allah yang telah ditetapkan. Tetapi pada umumnya manusia cenderung lebih mudah menerima takdir Allah yang baik dibandingkan yang buruk dalam pandangan mereka. Contohnya, ketika menghadapi masalah, manusia memiliki kecenderungan untuk berkeluh kesah, bersedih hati dan bertanya siapa yang akan menolong kita dari masalah  itu. Padahal Allah swt, berfirman:

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah.’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat”. (QS. Al-Baqarah: 214)

 

Kebanyakan manusia mungkin merasa dekat dengan Allah hanya pada saat sedang beribadah mahdhoh. Sebagian besar tidak menyadari bahwa sebetulnya setiap saat kita terhubung dengan Allah dan selalu dalam pantauan-Nya. Bahkan hadirnya pertolongan Allah kepada diri kita seringkali tidak kita pahami. Kita merasa sudah curhat, berkeluh kesah kepada Allah, tetapi kita merasa doa kita tidak dikabulkan, bahkan masalah terasa semakin berat, seolah Allah tidak sayang kepada kita. Padahal pertolongan Allah senantiasa hadir dengan cara yang tidak terbatas. Bisa jadi hadirnya pertolongan Allah itu dalam bentuk teguran, nasehat, guncangan, senyuman, sindiran, makian, tangisan, pujian atau bahkan dalam bentuk penundaan atau penolakan atas doa kita.

Ketika kita sekarang sedang dihadapkan pada pandemi COVID-19, apakah kita sudah cukup peka terhadap hadirnya pertolongan Allah kepada kita? Ataukah justru kita mengabaikannya dan berprasangka buruk kepada Allah? Padahal bisa jadi Allah justru sedang menolong kita semua dengan situasi ini. Bukankah kita telah membaca pemberitaan bahwa pelarangan warga untuk beraktivitas di luar rumah selama pandemi COVID-19  ternyata membuat kondisi Bumi kita menjadi lebih baik dan sehat. Tingkat polusi dan emisi global dilaporkan menurun  drastis. Atau kita lihat perubahan yang lebih dekat dengan keseharian kita seperti: akibat pandemi ini kita jadi memiliki kebiasaan hidup yang lebih sehat seperti rajin menjaga kebersihan, menjaga fisik dengan berolahraga dan menjaga asupan makanan, kita jadi memiliki waktu yang lebih banyak dan untuk berinteraksi dengan keluarga dan melakukan hobi yang selama ini terlupakan, kita juga jadi lebih banyak beribadah dan meminta perlindungan Allah dan masih banyak lagi.

Mencermati hikmah-hikmah tersebut maka kita akan menyadari bahwasannya Allah sangat dekat dengan keseharian kita. Dengan begitu perlindungan, pertolongan dan pemberian-Nya sangat dekat. Jadi mengapa kita resah dan gelisah? Dengan pertolongan Allah tidak akan ada bahaya yang tidak terbentengi, tidak ada kesulitan yang tak teratasi, tidak ada kekurangan yang tak tercukupi. Pada akhirnya, kebahagiaan hakiki  didapat ketika manusia mensyukuri segala hal yang telah Allah berikan. Dekatnya Allah berarti juga dekatnya petunjuk kepada kebenaran, sehingga orang yang beriman dapat dengan mudah dan tenang tenteram meniti jalan kebenaran yang menyelamatkan hidupnya di dunia, dan mengantarnya menuju kebahagiaan abadi di alam akhirat kelak.

Untuk mendapatkan kebahagiaan yang sempurna dan hakiki, menurut Hamka, manusia dapat menempuh beberapa cara seperti membangun mentalitas dan jiwa beragama, mengendalikan hawa nafsu (zuhud), bersikap ikhlas, memelihara kesehatan jiwa-badan, bersikap qana’ah, dan tawakkal (Fuadi, 2018). Manusia hanya mampu berkeinginan, berencana dan berusaha, sedangkan apa yang akan terjadi, tercapai atau tidak, berhasil atau gagal, yang berkuasa menentukan manusia, tetapi Allah SWT. Kebahagiaan yang sejati, dengan demikian, berasal dari ketertundukan manusia pada takdir Allah. Caranya dengan menyesuaikan usaha dan keinginan tersebut dengan kehendak Allah. Ketika seseorang merasakan adanya kemauan dalam dirinya untuk mendapatkan yang diinginkannya, kemauan keras itu hendaknya bersesuaian dengan gerakan iman yang memenuhi seluruh kalbunya (Rodiah, 2017). Wallahu “alam bisshowab