Oleh: Banatul Murtafi’ah (Dosen Prodi PBI) —- Terkisah dua orang sahabat karib sedang duduk sembari ngopi di depan kontrakan mereka. Tersebutlah nama keduanya Ahmad dan Salman. Keduanya memang sering bertukar pikiran sampai larut malam, bahkan sampai menjelang subuh. Seperti malam itu tetiba Ahmad bertanya pada Salman.

“Man, apa yang jadi peganganmu selama ini?” tanya Ahmad.

Hah, maksudnya pegangan?” jawab Salman.

Gini lho. Maksudnya, suatu amalan atau suatu hal dalam beragama yang kamu jadikan sebagai sebuah pegangan dalam hidup. Misal, kamu ngapain aja sih kok Gusti Allah bisa sayang banget sama kamu?” jelas Ahmad.

“Memangnya definisi Allah sayang sama kita itu apa sih, Mad?” tanya Salman balik.

“Ya itu Man, kamu itu dikasih nikmat banyak banget. Kuliah cepet lulus, dapat kerjaan bagus, rekan kerja baik, ya gitu lah, kamu lebih tahu sendiri nikmat apa saja yang Allah kasih,” timpa Ahmad.

Salman terkekeh, “Lah, nikmat Gusti Allah buat kamu juga tidak kalah besar, lho.”

“Ya iya Man. Aku pun sangat bersyukur akan hal itu. Tapi pernah kepikiran tidak sih, kenapa kok rasanya kita menjalani hidup ini dengan mudah, santai dan bahagia ya?” tanya Ahmad.

Salman menjawab, “Ya kan dhawuh Gus Baha’, hamba yang bersyukur itu adalah yang hidupnya bahagia.”

Muhibbin nya Gus Baha’ memang ya. Lalu balik lagi Man, apa dong peganganmu selama ini dalam beragama?” Ahmad kembali bertanya.

“Ya kau pun tahu sendiri. Kita hidup bersama sudah lama. Aku cuma mengerjakan yang wajib, Mad. Perkara sunnah, mungkin aku masih kalah sama kamu. Aku pun kadang masih suka bolong,” jawab Salman.

“Tidak meninggalkan yang wajib. Begitu ya,” kata Ahmad mengulangi pernyataan Salman. Ia kemudian diam beberapa saat.

“Kenapa kok diam?” Salman yang sambil menyeruput kopinya, nampak menyadari diamnya kawan satu rumahnya itu.

“Aku sedang berpikir betapa bersyukur kita sesederhana itu ya Man. Diberi sama Allah nikmat tidak pernah ragu untuk sholat, tidak pernah kepikiran untuk tidak sholat, misalnya. Atau tidak pernah ragu untuk puasa, tidak pernah kepikiran untuk tidak puasa pas Ramadhan, misalnya.  Itu nikmat yang besar banget yang mungkin orang lain dengan susah payah mendapatkannya,” jawab Ahmad.

Salman yang kemudian berbalik terdiam beberapa saat lalu bertanya, “Masya Allah, bener juga ya Mad. Baru terpikirkan olehku. Tapi memang ada ya orang di luar sana yang kepikiran untuk gak sholat wajib?”

“Ya ada, Man. Misalnya, ada orang, mungkin bisa saja dia lebih kaya dari kita, lebih punya banyak harta ibaratnya. Tapi, untuk perkara sholat wajib saja, masih kadang terlewat. Entah karena tak sempat, entah karena ragu, pokoknya mau sholat aja ndilalah males, terpaksa, atau yang lain,” terang Ahmad.

“Iya sih ya Mad, nikmat terbesar seorang manusia itu memanglah menjadi muslim. Tapi mendengarmu tadi aku jadi sadar, ternyata menjadi muslim saja hanya merupakan satu jenis nikmat. Nikmat terbesar lain ya betul seperti yang kamu sampaikan: nikmat bisa sholat wajib, puasa wajib, pokoknya ibadah wajib tanpa ada rasa berat, terpaksa, ragu, dan ya senang aja gitu menjalaninya. Aku baru sadar. Terima kasih ya sudah menyadarkanku atas nikmat ini,” pungkas Salman.

“Iya Man, kan Allah sendiri sudah menyampaikan di Q.S adz-Dzaariyaat ayat 56 ya, bahwasanya Dia tidak menciptakan manusia dan jin selain untuk beribadah kepada-Nya. Dan untuk bisa beribadah tanpa adanya rasa terpaksa itu kan nikmat yang luar biasa sekali kan Man,” timpa Ahmad.

“Iya, Mad. Betul,” Salman menyeruput kopi terakhirnya, mengamini Ahmad.

Ahmad melihat Salman kemudian ikut menyeruput kopi dan kembali melontarkan pertanyaan, “Man, kau ini kan muhibbin nya Gus Baha’, pernah dengar cerita tentang putrinya yang mengomentari kopi, tidak?”

“Jangan gitu, kau ini lebih gandrung sama beliau daripada aku. Cerita apa itu? Aku belum dengar. Masih seputar nikmat?” tanya Salman.

“Iya, Man. Coba aku tanya sama kamu, kenapa kamu minum kopi?” tanya Ahmad kembali.

Salman menjawab singkat, “Ya biar enggak ngantuk mungkin ya.”

“Ah, itu sugestimu saja Man. Bukankah ngantuk itu Gusti Allah yang memberi? Berarti kalau kamu tidak ngantuk itu bukan karena kopi, tapi karena Gusti Allah beri kamu nikmat itu, perantaranya lewat kopi tadi,” terang Ahmad.

Masya Allah, Mad. Aku pun baru tersadar. Iya juga ya,” ungkap Salman sambil meneggakkan punggungnya seakan baru tersadar akan sebuah hal penting.

“Bukan kalamku kok, Man. Nanti kalau aku yang bilang ndak dikira sok-sokan bertasawuf. Hehe. Tapi ini aku dengar katanya cerita dari putrinya Gus Baha’,” terang Ahmad.

“Memang ada yang bilang kamu sok-sokan gitu?” Salman terlihat sedikit terkejut.

“Ya ada Man. Hehe,” jawab Ahmad.

Lah tahu darimana dia kalau kamu sok-sokan. Dalam hatimu dia tahu?” timpa Salman.

“Ya entah, Man. Hehe. Ngomong-ngomong, terima kasih sudah temani aku ngolah pikir ya,” ucap Ahmad.

“Sama-sama, Mad. Aku pun berterima kasih. Kamu ingatkan aku akan nikmat pokok dasar yang aku luput syukuri,” jawab Salman.