Oleh : Diana RahmaQadari ————-

Saat ini media sosial menjadi lahan subur dan menarik bagi orang-orang yang sering memberikan judgement. Kemudahan bersosial media, membuat banyak orang menyampaikan persepsi dan ekspresi mereka secara terbuka. Yang sangat disayangkan penilaian dan prasangka terhadap orang lain menjadi hal yang lumrah untuk dilakukan di era milenia saat ini. Serangan sindiran melalui caption atau pun story dilakukan secara terang-terangan. Banyak orang yang lantas menyimpulkan sekehendak hati, berasumsi atas apa yang orang lain sedang jalani hanya dari sepotong informasi/kabar yang tampil di media sosial. Celakanya lagi, kadang asumsi yang dibangun sendiri menjadi pembenaran dan disampaikan pada teman/pihak yang lain.

Perkembangan teknologi selainsisi positif yang dirasakan, sisi negatifnya justru begitu mengkhawatirkan. Pada masa ini, semua orang memiliki kebebasan mengekspresikan diri yang tidak berbatas dan mempunyai ‘wadah’ untuk menuangkan segala isi pikiran dan isi hati. Tanpa adanya batasan membuat prasangka, cacian dan ujaran kebencian lainnya beredar bebas. Sering kita dengar, teman menjadi lawan, hubungan yang renggang dengan keluarga terdekat dikarenakan hal tersebut.

PrasangkaBaik

Kemudian apakah segala bentuk prasangka harus dihindari? Tentu tidak. Prasangka                                                baik harus kita lakukan kepada siapa saja termasuk diri kita sendiri. Prasangka baik kepada diri sendiri, bahwa kita diciptakan sebagai makhluk sempurna oleh Allah dan memiliki kemampuan untuk menyelesaikan persoalan, memiliki kelebihan/kebaikan yang dapat terus kita tingkatkan sehingga kebaikan tersebut menular, bermanfaat untuk orang lain dan menjadi amalan kita. Dan yang utama prasangka baik kepada Allah. Saat kita mendapatkan ujian dari-Nya, meyakini setiap kesulitan yang kita hadapi sebagai bentuk kasih sayang Allah dan diberikan-Nya jalan keluar selama kita berikhtiar dan menggenapinya dengan doa. Ketetapan-Nya sudahpasti yang terbaik hanya saja sering kali kita lambat menemukan maknanya.

Nabi Muhammad SAW bersabda, Allah Ta’alaberfirman; ”Aku tergantung persangkaan hamba kepada-Ku. Aku bersamanya kalau dia mengingat-Ku. Kalau dia mengingat-Ku pada dirinya, maka Aku mengingatnya pada diri-Ku. Kalau dia mengingat-Ku di keramaian, maka Aku akan mengingatnya di keramaian yang lebih baik dari mereka. Kalau dia mendekat sejengkal, maka Aku akanm endekat kepadanya sehasta. Kalau dia mendekat kepada diri-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Kalau dia mendatangi-Ku dengan berjalan, maka Aku akan mendatanginya dengan berlari”.  (HR. Bukhari dan Muslim)

PrasangkaBuruk

Sebagai makhluk sosial, berkomunikasi satu dengan yang lain adalah sebuah kebutuhan. Namun, yang tidak bisa dicegah ketika berkomunikasi dan berinteraksi seringkali memunculkan prasang kaburuk. Tidak jarang pada saat kita berkumpul dengan teman, rekan kantor topik yang paling sering disampaikan adalah membicarakan oranglain (ghibah). Antusias memembicarakan keburukan si A memiliki durasi waktu lebih lama dibandingkan membicarakan kesuksesan si B. Bagaimanasi B ketika dihadap kan rintangan, bagaimana proses jatuh-bangunnya menjadi kurang menarik untuk dibahas.

Menjadi subjek prasangka orang lain bukanlah hal yang mudah bagi orang yang mengalami hal tersebut. Menjadikan seseorang rendah diri, murung, cemas, mengalami kesedihan yang mendalam, menjadi pribadi yang tertutup yang pada akhirnya menarik diri dari lingkungan. Hanya karena kita tidak mampu menahan tangan kita untuk menuliskan kalimat yang menyakiti, tidak berusaha menahan lidah ketika berhadapan dengan orang lain memberikan dampak buruk bagi saudara kita. Padahal sebagai umat muslim, kita diminta memberikan alasan sebanyak-banyaknya kepada saudara kita saat kita menerima informasi yang tidak baik, seperti apa yang pernah disampaikan Aa’Gym : “Carilah seribu satu alasan untuk berbaik sangka niscaya akan lebih tenang dibandingkan hidup penuh prasangka buruk.”

Bermodalkan ikut-ikutan tanpa ingin mencaritahu kebenarannya, membenarkan kalimat orang yang berpengaruh, prasangka itu tumbuh subur dan menjadi biasa untuk dilakukan. Sedangkan dalam QS. Al Hujurat: 12 dijelaskan bahwa sebagian prasangka itu dosa:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat, MahaPenyayang.”

Kita tidak bisa menghambat diri kita untuk menghentikan atau mencegah prasangka buruk yang diberikan orang lain kepada kita. Namun, kita masih bisa berupaya menahan diri kita untuk tidak berprasangka buruk kepada oranglain. Untuk tidak mudah berasumsi, bahkan sampai membenci atas dasar prasangka kita. Yang harus disadari, setiap manusia memiliki kesalahan dan kekurangan, hanya dengancinta Allah kepada kita, Allah menutup aib kita.

Di dunia ini segala sesuatu yang kita lakukanakan kembali pada kita. Alangkah baik dan tepat apabila kita membiasakan melatih otak kita untuk senantiasa berfikir positif, mampu mengolah perasaan dengan baik, menghilangkan segala prasang kaburuk untuk mendapatkan hidup yang tenang dan bahagia.

Semoga Allah menjauhkan diri kita dari neraka karenal idah, tangan dan hati kita. Selagi Allah masih menitipkan nafas pada kita, semoga diri kita semakin fokus memperbaiki kualitas diri dan iman kita, menjauhkan dari segala sesuatu yang mengurangi kecintaan kita kepada Allah. Semoga Allah SWT mengumpulkan kita semua ke dalam surgaNya dengan rindho dan kasihsayang-Nya.