Oleh: Irma Windy Astuti ———-

Sejak dunia memasuki abad ke 21 masehi (21st century) yang secara khusus ditandai dengan perkembangan pesat ragam teknologi, mulai muncul berbagai ekspektasi dan tuntutan baru untuk kita yang hidup di era ini. Tuntutan yang juga ditujukan bagi dunia Pendidikan, dimana “sekedar” memiliki kemampuan literasi dan penguasaan terhadap konten/ bidang ilmu tertentu saja dirasa belumlah sufficient bagi seorang individu atau pembelajar untuk bisa sukses berkompetisi dalam realitas profesi dan kehidupannya di milenium ini.

Jika kita menilik kebelakang, telah banyak pakar dan ahli yang mewacanakan peran penting dari sebuah proses pendidikan sebagai medium, fasilitator dan akselerator penguasaan sebuah materi / konten serta skill acquisition atau pemerolehan ketrampilannya. John Dewey merupakan salah satu pemikir modern dan pakar pendidikan terkemuka di abad 20 yang popular memperkenalkan konsep pendidikan progresif serta ikut menginspirasi diadopsinya pendekatan pembelajaran seperti active learning, learning-by-doing, problem-based dan experiential learning sebagai ragam cara belajar yang mampu mengkondisikan dan mengembangkan potensi peserta didik baik dari sisi pengetahuan, sikap/ kepribadian dan keterampilannya. Sebuah dasar pemikiran dan konsep yang tetap menemukan relevansi serta urgensinya sebagai rujukan dari seni dan cara/ metode mendidik di abad 21 ini.

Sementara itu, satu dekade terakhir (tepatnya sejak tahun 2010), salah satu inisiatif yang diupayakan oleh dunia pendidikan barat dalam merespon kebutuhan dan tantangan mendidik di abad 21 adalah melalui wacana yang mereka advokasikan berkenaan dengan kerangka ketrampilan dan pembelajaran abad 21 (21st century skills dan 21st century learning). Kelompok seperti Partnership For 21st Century Skills – a National American Management Organization, sebagai asosiasi yang membidani lahirnya 21st century learning framework, menyimpulkan dan merumuskan peran dan kontribusi penting dari 4 jenis ketrampilan yang wajib dimiliki/ dikuasai oleh peserta didik/ pembelajar, yang saat ini kita kenal sebagai 21st century skill yang terdiri dari 4Cs: Critical thinking and problem solving; Creativity and innovation; Collaboration and team-building dan (effective) Communication (Keane, 2012). Tak pelak selama 10 tahun terakhir, 21st century skill menjadi educational buzzwords dan salah satu konsep pendidikan terpopuler yang dirujuk oleh banyak pengajar dan pendidik di dunia.

Akan tetapi, jika kita cermati lebih jauh dan lebih dalam, khususnya dalam perkspektif dan konteks nilai-nilai ajaran Islam, ke-empat skill / ketrampilan diatas bukanlah konsep yang sama sekali baru dalam pendidikan Islam yang dasar-dasar pengajaran dan contoh spesifiknya bahkan dapat kita jumpai dalam Al Quran dan As-Sunnah. Salah satunya adalah konsep dan laku berfikir pada level tafakkur; satu sikap yang sangat dianjurkan untuk dimiliki dan dilakukan oleh setiap muslim.  Dalam proses seseorang ber-tafakkur, setidaknya terdapat tiga fase diantaranya yang menurut Yahya (2015) melibatkan proses berfikir kritis/ critical thinking, dimana terjadi konseptualisasi ide/ gagasan dalam proses tersebut. Ber-tafakkur dalam Islam juga memiliki tingkat kedalaman yang berbeda dari konsep berfikir (kritis) pada umumnya, dimana buah dari perenungan seorang muslim tsb tidak akan ia lepaskan dari pemahaman dan pemaknaannya terhadap hakikat keberadaan dirinya dan berbagai kejadian kehidupan lain yang merupakan bagian dari penciptaan alam semesta oleh Allah SWT untuk ia renungi, kaji dan tadabburi. Hal ini sebagaimana difirmankan oleh Allah SWT dalam QS Ali Imran ayat 191 dan QS Al Baqarah ayat 164 yang masing-masing berbunyi:

Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia’.” (QS. 3:191)

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah matinya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS. 2:164)

Di dalam surat dan ayat Al Quran yang lain, Allah SWT juga mengisyaratkan pentingnya berfikir dan bersikap kritis bagi mukmin, yaitu untuk cermat dan berhati-hati dalam menerima dan menyampaikan sebuah informasi, sebagaimana tercantum dalam QS Al-Hujurat  ayat 6: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.  Ayat ini menegaskan pentingnya meneliti dan memeriksa keabsahan serta akurasi sebuah data yang sampai kepada kita dengan merujuk pada sumber-sumber informasi yang dapat dipercaya / dipertanggung-jawabkan untuk menghindarkan kita dari dosa fitnah ataupun musibah yang disebabkan oleh kelalaian dalam menerima dan mengedarkan sebuah berita.

Dalam kerangka pembelajaran abad 21, ketrampilan berfikir kritis juga seringkali dilekatkan dengan ketrampilan lain yaitu pemecahan masalah atau problem-solving skill sebagai salah satu ketrampilan hidup/ life-skill yang sangat penting. Bagaimana keberadaan skill ini dalam Islam? Jauh sebelum hari ini pun, Islam telah memiliki dan mengenalkan sebuah konsep resolusi dan rekonsiliasi yang kita kenal sebagai islah. Islah merupakan salah satu bentuk dan upaya mencari solusi/ pemecahan terhadap suatu masalah dengan cara mendamaikan pihak-pihak/ hati yang bersengketa baik yang melibatkan pribadi seseorang atau kelompok.

Sementara itu, berkaitan dengan ketrampilan kerjasama (collaboration), Islam memerintahkan umatnya untuk bergotong-royong dan saling menolong khususnya dalam hal mengerjakan laku kebaikan. Ini sebagaimana yang Allah SWT firmankan dalam salah satu surat dan ayatNya: Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” [al-Mâidah / 5:2]. Sebagai makhluk sosial, muslim secara tegas mendapatkan dasar pengajaran dan tuntunan akan pentingnya nilai kerjasama (tidak hanya untuk menjaga keberlangsungan ajaran Islam itu sendiri melainkan juga untuk penguatan ukhuwah keumatan) yang diantaranya dapat terjalin  melalui proyek kebaikan yang dilakukan secara bersama. Hal ini pun sesuai dengan yang disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW dalam Sahih al-Bukhari No. 481, dimana disebutkan: “Seorang mukmin dengan mukmin lainnya adalah seperti (batu-bata) satu bangunan yang satu sama lain saling menguatkan. Sungguh indah dan bermakna prinsip dan anjuran bekerjasama dalam Islam; ia ada sejak awal sebagai salah satu core value yang menuntun umat Islam dalam menggapai common principled goals, baik untuk kepentingan duniawi maupun untuk meraih dan mendapatkan noble objective yang berorientasi ukhrawi atau lebih jauh kedepan.

Adapun ketrampilan berkomunikasi/ communication skill juga memiliki dasar pengajarannya dalam Islam. Nabi Muhammad SAW adalah teladan utama dan merupakan salah satu figur mulia yang banyak memberikan contoh berkomunikasi efektif (effective communication). Nabi SAW dikenal sebagai seorang komunikator yang mumpuni dan handal sebagaimana diriwayatkan dalam salah satu hadist Bukhari. Sebagai contoh, dalam menyampaikan sebuah pesan, Nabi SAW tidak lupa memberikan penekanan / penegasan terhadap apa yang beliau sampaikan dengan mengulangnya sebanyak 3x.  Hal tersebut diyakini untuk menghindari terjadinya miskomunikasi atau kesalahpahaman. Memulai interaksi dengan salam dan memberikan senyuman sebagai bentuk respek/ penghargaan terhadap pihak yang berinteraksi dengan kita juga dicontohkan oleh baginda Nabi, dan masih banyak lagi bentuk spesifik dari cara berkomunikasi ala Nabi SAW yang beliau contohkan secara langsung termasuk dalam komunikasi sehari-hari, diantaranya berbicara dengan sopan, lemah lembut dan menggunakan bahasa/ pilihan kata yang baik.

Di ranah kreatifitas (creativity), Islam juga tidak menghalangi umatnya untuk berkreasi dan ber-inovasi sepanjang kreatifitas tersebut tidak menyalahi hukum agama dan tidak menyimpang dari wilayah peribadatan, hukum dan rukun yang wajib. Islam merestui dan terbuka terhadap bentuk-bentuk ekspresi kreatif dan inovasi dalam wilayah peradaban (Mahdi, 2018) dan kehidupan bermasyarakat (muamalah) selama diniatkan untuk kebaikan, memperhalus budi, dan untuk  peningkatan dan perbaikan kualitas hidup serta kesehatan umat (Slimi, 2010; Rizali, 2012). Bahkan sejak lama kita telah terbiasa menyaksikan berbagai ekspresi kreatif umat Islam dalam berkesenian dan ber-inovasi, diantaranya melalui karya kaligrafi, puisi, arsitektur Islam maupun penyelenggaraan ajang Muslim Fest di berbagai negara (negara Islam) termasuk di Eropa yang salah satu tujuannya adalah untuk syiar/ dakwah Islamiyah.

Oleh karenanya, kita patut untuk merasa bersyukur telah hidup sebagai seorang muslim karena Islam memiliki dan mengajarkan begitu banyak nilai-nilai fundamental serta prinsip kehidupan yang universal, visioner, long-lasting sekaligus holistik dan spesifik. Bermunculannya konsep dan jargon-jargon (dalam kemasan) baru di setiap kesempatan atau dalam kurun waktu tertentu sebaiknya tidak membuat kita lupa bahwa core values dan konsep serupa juga ada dalam ajaran agama kita dan telah menjadi tuntunan dalam kehidupan kita sehari-hari, meskipun terkadang nilai-nilai tersebut terlepas dari kesadaran kita atau belum sepenuhnya kita pahami dan lakukan.

Referensi:

Al Azami, Mamoon. (2013, Maret 31). Teamwork in Islam [Video file]. Diakses dari https://www.youtube.com/watch?v=Viqb6WRZUOU

Aziz, En. (2015, Juni 13). Part 1: Creative & critical thinking from Islamic perspective [Video file]. Diakses dari https://www.youtube.com/watch?v=_2fv8RN-wUU

Bullock, Ismail. (2018, September 24). Effective communication in Islam [Video files]. Diakses dari https://www.youtube.com/watch?v=0FzTJDkKvn0

Keane,Therese. (2012). Leading with technology. The Australian Educational Leader, 34, p. 44.

Mahdi, Tahar. (2018, Mei 28). Creativity and innovation in Islam – Islam in the west [Video file]. Diakses dari https://www.youtube.com/watch?v=4MX16e4JQ00

Republika.com. (2012, 23 November). Ensiklopedi Hukum Islam: Islah (1). Diakses pada 4 Februari 2020, dari https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/12/11/23/mdxhpd-ensiklopedi-hukum-islam-islah-1

Republika.com. (2017, 1 Desember). Cara Rasulullah SAW Bertutur Kata. Diakses pada 4 Februari 2020, dari https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/17/12/01/p08cgv313-cara-rasulullah-saw-bertutur-kata

Rizali, Nanang. (2012). Kedudukan seni dalam Islam. TSAQAFA, Jurnal Kajian Seni Budaya Islam, 1, 1-8

Rohmadi, Syamsul Huda. (2018). Pengembangan berfikir kritis dalam Al-Quran: Perspektif psikologi Pendidikan. Journal Psikologi Islam, 5, 27-36.

Slimi, Imam. (2010, September 24). Arts and creativity in Islam – Part 1 [Video file]. Diakses dari https://www.youtube.com/watch?v=qrzxKoUVCsQ

 

Teachthought.com. (2020, 26 Januari). The Pedagogy of John Dewey: A Summary. Diakses pada 3 Februari 2020, dari https://www.teachthought.com/learning/pedagogy-john-dewey-summary/