Oleh: Amalina Ajeng Sulasmi

Setiap manusia dianugerahkan oleh Allah kelebihan, yakni akal pikiran. Maka sudah sepantasnya kita menggunakannya untuk hal yang bermanfaat seperti menuntut ilmu. Islam mewajibkan setiap umatnya untuk menuntut ilmu karena ilmu dapat menjauhkan manusia dari ketersesatan. Allah juga telah memuliakan orang-orang yang berilmu.

“Barang siapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga. Dan sesungguhnya para malaikat membentangkan sayapnya karena ridha terhadap orang yang mencari ilmu” (H.R.Muslim)

Tidak hanya kaum laki-laki saja yang diwajibkan untuk menuntut ilmu. Peran perempuan juga penting dalam menuntut ilmu karena kelak perempuan akan menjadi al-ummu madrasatul ula bagi anak-anak mereka. Maka perempuan juga perlu memiliki ilmu yang luas untuk dapat mendidik generasi yang cerdas dan berakhlakul kharimah.

Saat ini banyak perempuan inspiratif yang dapat dijadikan role model bagi setiap anak perempuan. Tapi jauh dari sebelum itu ada satu tokoh perempuan islam yang juga dapat dijadikan panutan bagi setiap perempuan. Ia sangat mencintai ilmu, dan ia selalu merasa haus akan ilmu. Beliau adalah Amrah binti Abdurrahman. Amrah adalah salah satu murid Aisyah r.a. yang sangat cerdas. Periwayatannya tentang hadits-hadits Aisyah r.a. sangat lengkap. Bahkan beliau juga disebut-sebut sebagai salah satu generasi tabi’in perempuan yang paling cemerlang. Semua berawal dari pendidikan yang diberikan oleh Aisyah r.a. yang telah melahirkan perempuan dengan segala kelebihannya yang tidak dimiliki perempuan pada zaman itu.

Dikisahkan pada saat kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz, beliau sangat khawatir dengan mulai sedikitnya periwayat hadits yang masih hidup. Maka ia pun memutuskan untuk mulai membukukan hadits-hadits Rasulullah SAW. Kepada Abu Bakar bin Muhammad bin Amr bin Hazm ia menulis surat yang berisi; “Kumpulkanlah hadits-hadits Rasulullah SAW, juga sunah-sunah yang sedang dilaksanakan umat islam, serta hadits-hadits Amrah. Tulislah semuanya. Kulakukan hal ini karena aku sangat takut ilmu akan hilang dan ulama akan habis.” Beliau juga berkata, “Tidak tersisa lagi orang yang paling mengerti hadits Aisyah r.a, melebihi Amrah binti Abdurrahman.”

Dikisahkan juga seorang ulama dari golongan tabi’in,  Al Qasim bin Muhammad berkata kepada muridnya, Imam Az-Zuhri, “Kulihat engkau sangat mencintai ilmu, wadah itu bernama Amrah binti Abdurrahman. Dialah murid terbaik ibunda Aisyah.” Imam Az-Zuhri pun penasaran kemudian ia mendatangi majelis Amrah binti Abudrrahman dan dengan penuh kekaguman ia berkata, “Saya mendapat ilmu Amrah binti Abudrrahman seperti lautan luas yang tak pernah surut.”

Dari kisah diatas, pantaslah sosok Amrah binti Abdurrahman dijadikan teladan bagi kita, khususnya kaum perempuan. Bahwa menjadi perempuan bukan berarti kita jadi membatasi diri kita untuk belajar dan menuntut ilmu. Justru perempuan harus selalu mengaktualisasi diri dengan ilmu karena perempuan juga memiliki peran penting dalam mendidik generasi masa depan yang cerdas dan berakhlakul kharimah.

Dari Amrah binti Abdurrahman kita juga dapat belajar meski ilmunya ibarat “lautan luas yang tak pernah surut” tapi ia tak pernah tamak akan ilmu yang ia punya. Proses dari kita menuntut ilmu adalah sebenarnya dari tidak tahu menjadi tahu. Disitulah hakikat dari belajar. Semakin kita memiliki ilmu maka sepantasnya kita menyadari bahwa diri ini semakin rendah di hadapan Allah.

Semasa hidupnya di Madinah, Amrah binti Abdurrahman telah menerangi banyak orang dengan ilmunya. Ini menandakan bahwa ilmu yang ia punya tidak hanya untuk dirinya sendiri. Ia bagikan melalui majelis. Beliau membagikan ilmu dengan maksud ilmu tersebut juga dapat bermanfaat bagi orang lain. Rasulullah SAW pernah bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain”. Allah juga akan memberikan pahala bagi orang-orang yang mengajarkan ilmunya, seperti yang tertulis dalam Hadits Riwayat Ibnu Majah: “Barang siapa mengajarkan suatu ilmu, maka dia mendapatkan pahala dari orang-orang yang mengamalkannya dengan tidak mengurangi sedikit pun pahala orang yang mengerjakannya itu.”

Dari kisah Amrah binti Abdurrahman semoga dapat menjadikan motivasi kita sebagai perempuan untuk selalu semangat dalam menuntut ilmu. Karena ketika kita merasa selalu kurang akan ilmu yang dimiliki maka disitulah kita mendapat kesempatan yang lebih besar untuk belajar.