Setiap negara memiliki potensi konflik. Baik konflik dengan pihak eksternal/negara lain maupun konflik internal. Yang terpenting adalah bagaimana mencegah dan mengelola potensi konflik tersebut. Suatu negara tidak akan bisa berkembang dengan baik apabila berada dalam kondisi konflik. Kondisi konflik tersebut banyak terjadi sebelum ASEAN dibentuk. Setelah ASEAN terbentuk, konflik relatif jauh berkurang.  Demikian  disampaikan oleh Deputi II Bidang Koordinasi Politik Lua Negeri RI, Dr. (HC) Lutfi Rauf, M.A pada kuliah umum yang diselenggarakan oleh Prodi Hubungan Internasional (HI) Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB) Universitas Islam Indonesia (UII), Senin, 23 September 2019 di auditorium Prof. KH. Abdul Kahar Mudzakir Kampus Terpadu UII.

Kegiatan bertema “Krisis Kemanusian dalam Politik Internasional” ini dibuka langsung oleh Rektor UII, Fathul Wahid, S.T., M.Sc., Ph.D. Dalam sambutannya, rektor mengajak peserta untuk mengambil hikmah pada kisah Nabi Yusuf yang sama tidak dendam dengan saudara-saudaranya yang telah berusaha mencelakainya saat masih remaja. Sikap tersebut perlu dikembangkan saat sedang menangani sebuah krisis kemanusiaan.

Selain menghadirkan Dr. (HC) Lutfi Rauf, M.A, panitia juga menghadirkan Fransisca Dwi Indah Asmiarsi (National Program Officer JRS Indonesia) dan  Irawan  Jati, S.IP., M.Hum., M.S.S  (Ketua Prodi HI FPSB UII,) sebagai pemateri.