KESABARAN DALAM BELAJAR

Oleh : R. Sumedi P Nugroho, Ph.D

Pengantar

Sabar adalah konsep universal yang diajarkan oleh semua agama. Hasil penelitian Subandi (2011) tentang makna kesabaran dalam kitab suci agama: Islam, Kristen, Hindu, dan Budha ditemukan ada sembilan kategori makna kesabaran: (1) pengedalian diri, (2) kegigihan (keuletan), (3) ketangguhan, (4) kerja keras, (5) pantang mengeluh, (6) menerima kesulitan, (7) usaha mengatasi masalah, (8) tabah, dan (9) bersyukur. Jadi, konsep kesabaran itu merupakan aklaq yang universal dan merupakan salah satu perilaku penting dalam kehidupan sehari-hari.  Dalam tulisan ini, sabar akan dikaitkan dengan belajar.

Bagi seorang muslim, belajar adalah wajib, sebagaimana sabda Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud:

Barang siapa yang mempelajari satu bab dari ilmu yang dia dapat memperoleh manfaat dunia akhirat, maka hal itu lebih baik baginya dari pada umur dunia 70.000 tahun yang dipergunakan puasa pada siang hari dan salat pada malam hari dalam keadaan diterima, tidak ditolak.

Hadist tersebut menunjukkan betapa pentingnya belajar karena memang dalam hidupnya manusia tidak seperti hewan yang sudah dibekali dengan sejumlah instink. Sedangkan manusia diberi akal dan kemauan agar bisa belajar untuk menjalani hidupnya di dunia ini. Oleh karena, tantangan hidup itu selalu ada bersama manusia, maka belajar itu tidak pernah berhenti (sepanjang hayat) sebagaimana di sabda Rasulullah saw, “Tuntutlah ilmu sejak dari ayunan sampai ke liang lahad!”

Sabar dalam Islam

Al Quran dan Hadist menjelaskan konsep sabar dengan menyandingkan sholat, seperti misalnya, dalam surah Al Baqarah ayat 45, yang artinya: “dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang yang khusyu’. Sedangkan konsep sabar dan syukur ditemukan pada surah Luqmaan ayat 31, yang artinya, “Tidakkah engkau memperhatikan bahwa sesungguhnya kapal itu berlayar di laut dengan nikmat Allah, agar diperlihatkan-Nya kepadamu sebagian dari tanda-tanda (kebesaran)-Nya. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran)-Nya bagi setiap orang yang sangat sabar dan banyak bersyukur (31).”

Baik sabar dan syukur merupakan dua amalan yang mencerminkan keimanan pada seseorang. Orang yang tidak mampu bersyukur akan menjadikan sifat tinggi hati yang berakibat menjauhkan dari iman dalam hati. Sebaliknya orang yang tidak mampu bersabar akan menyebabkan hilangnya pengakuan keimanan dari sisi Allah.

Mengutip penelitian Jafnan (2018) ditemukan bahwa Al Quran menyebutkan kata sabar sebanyak 103 kali dalam 93 ayat dan 45 surah. Dari 103 kali ini pengertian sabar antara lain: khusyu’, tekun, konsisten (pantang menyerah) tidak lemah disiplin, tidak lesu, tidak cepat menyerah, tawakal, tidak buru-buru, tahan dari godaan, taat kepada perintah Allah, tidak melampau batas (hawa nafsu), tekun sholat, memberi infaq, tahan menghadapi musibah. Sabar dalam Al Quran diperuntukkan dalam semua aspek kehidupan dalam beribadah kepada Allah dan berinteraksi dengan manusia dan alam sekitarnya. Dalam konteks manusia untuk belajar juga memerlukan kesabaran secara khusus disebabkan oleh keterbatasan yang ada pada diri manusia atau fasilitas yang ada di lingkungannya.

Sabar dalam belajar

Dari sejumlah pengertian tentang sabar yang sudah diuraikan di atas, kiranya perilaku sabar yang diperlukan dalam belajar agar sukses antara lain: (1) khusyu’ atau fokus, (2) tekun pantang menyerah, (3) tidak buru-buru, dan (4) berserah diri.

  1. khusyu’ atau fokus

Untuk mencapai hasil belajar yang optimal, maka pembelajar harus memusatkan pikiran, perasaan, dan perilaku hanya pada objek belajarnya saja. Dengan kata lain pembelajar bisa menyingkirkan segala gangguan baik yang berasal dari dalam diri maupun dari lingkungan.

  1. pantang menyerah

Pembelajar yang sedang menuntut ilmu mengalami banyak gangguan, seperti misalnya, mengerjakan tugas baik pekerjaan rumah maupun mengisi jawaban atas soal yang diuji atau quizzes, atau mencatat materi yang dibahas oleh dosen dalam setiap lembar buku. Untuk itu, ia harus bersabar dengan tetap mengerjakan semua tugas yang menjadi kewajibannya walaupun harus menahan rasa lapar, kekurangan harta, jauh dari keluarga dan tanah kelahirannya. Kesabaran sangat dibutuhkan oleh setiap pembelajar.

  1. tidak buru-buru

Untuk dapat menguasai suatu ketrampilan atau dapat memahami suatu pengertian itu membutuhkan waktu. Masing-masing pembelajar yang berbeda dalam karakter maupun kemampuan akal akan memiliki irama dalam belajar yang tidak bisa dibandingkan antara pembelajar satu dan pembelajar yang lain. Oleh sebab itu, untuk mencapai hasil belajar yang berkualitas memerlukan waktu.

  1. berserah diri

Setelah semua usaha sudah dilakukan secara maksimal maka mengenai hasil belajarnya harus diserahkan kepada Allah swt yang maha menguasai ilmu dan alam semesta ini. Dengan menyerahkan diri sepenuhnya kepada-Nya akan terasa ringan dalam menjalankan hidup dan sehat ruhaninya.

Setelah proses sabar itu terus diaplikasikan, maka akan membuahkan hasil dan memperoleh pengetahuan lebih tinggi dari ilmu yang dipelajari tersebut.

Penutup

Untuk menyelesaikan semua urusan hidup membutuhkan perilaku sabar yang berbeda. Sabar untuk belajar tentu berbeda dengan perilaku sabar dalam mengajar pada guru atau dosen, atau sabar sebagai anak juga berbeda dengan sabarnya orang tua dalam mendidik dan mebesarkan anak-anaknya. Walaupun demikian semua itu ada persamaannya yaitu bahwa sabar harus disertai tawakal.

Bagi umat Islam, sabar selain merupakan aklaq yang terpuji, juga merupakan salah satu ibadah karena bagi pelakunya akan mendapat pahala berupa tempat di syurga di hari akhir nanti. Dalam menghadapi kondisi apapun seorang muslim memerlukan kesabaran, baik dalam menjalani hidup yang sejalan dengan keinginannya maupun yang bertentangan dengan kesenangannya.

DAFTAR PUSTAKA

Al Ghazali. (2002). Mutiara ihya ulumuddin. Bandung: Mizan

Al-Quran. (Tanpa tahun). Solo: Tiga Serangkai Pustaka Mandiri

Jafnan. (2018). Kata Shabar dalam Al Quran [handout] Tanpa penerbit.

Subandi. (2011). Sabar: Sebuah Konsep Psikologi. Jurnal Psikologi, 38(2), 215-227.