Oleh : Enggar Furi Herdianto, S.IP., M.A

Kebersihan adalah sebagian dari iman. Kalimat ini sering kali kita dengarkan sejak kecil dan didengungkan di berbagai tempat dan kegiatan. Namun, kenyataan menunjukkan fakta yang berbeda tentang lingkungan kita. Sebagai negara berpenduduk Muslim terbanyak di dunia, Indonesia justru mendapatkan sorotan dunia terkait dengan kondisi lingkungan yang tercemari oleh sampah, mulai dari daratan, sungai, hingga lautan. Masyarakat Indonesia menghasilkan sampah hingga 175.000 ton per hari yang mana sebagian besar ditumpuk di Tempat Pembuangan Akhir tanpa ada penanganan lebih lanjut (Jong, 2015). Karena masalah sampah ini juga, Indonesia juga mendapatkan sorotan dunia terhadap tumpukan sampah di sungai yang masif (Shukman, 2018) hingga empat sungai Indonesia dikategorikan sebagai salah satu dari dua puluh sungai dengan polusi terbanyak di dunia (Wright & Waddell, 2017), serta polusi sampah plastik dengan jumlah sangat besar hingga memosisikan Indonesia sebagai negara dengan laut polusi plastik terbanyak kedua di dunia (Pamment, 2019).

Dari permasalahan sampah tersebut, salah satu jenis sampah yang mendapatkan sorotan terbesar adalah sampah plastik.  Hal ini tidak hanya dikarenakan oleh sifat plastik yang tahan lama dan sulit terurai. Namun, dampak lain terhadap lingkungan mulai dari hamparan sampah plastik yang membahayakan dan dapat membunuh hewan laut (mulai dari melilit anggota badan hingga mengganggu saluran pencernaan bagi hewan yang memakan plastik), hingga racun yang tersebar dari plastik yang mulai terurai yang membahayakan kesehatan hewan yang kemudian juga akan menyusup ke dalam rantai makanan (ikan di laut memiliki rantai makanan yang sangat luas, termasuk hingga sebagai konsumsi manusia yang mana ikan tersebut ditangkap di lautan bebas). Selain itu, permasalahan lain yang dihadapi adalah masih tingginya jumlah penggunaan plastik sekali pakai di Indonesia, yang mana dapat dijumpai dari plastik bungkus/kemasan, tas plastik (tas kresek), gelas, sedotan, dan peralatan keseharian lainnya yang sampai saat ini masih belum bisa terpisahkan dari keseharian masyarakat (Wright & Waddell, 2017). Untuk plastik yang tidak tidak terurai sendiri juga mengakibatkan berbagai musibah, dimulai dari peluapan sungai yang diakibatkan oleh penumpukan sampah plastik yang tidak terurai di aliran sungai, hingga penyebaran racun ke tanah akibat penumpukan sampah plastik terutama di lingkungan sekitar TPA yang mana bisa berpengaruh hingga cadangan air tanah di bawahnya.

Plastik memang merupakan penemuan fundamental yang juga turut mengubah gaya hidup manusia. Kehidupan kita selalu dikelillingi dengan perlengkapan berbahan plastik. Dimulai dari bungkus kemasan yang ada di sekitar kita (kemasan makanan, perlengkapan kebersihan diri maupun perlengkapan kebersihan rumah), alat makan (sendok, garpu, gelas, piring, dsb.), hingga peralatan tulis yang kita gunakan sehari-hari. Plastik menjadi salah satu bahan yang paling multiguna serta terjangkau, dan oleh karenanya menjadi salah satu bahan yang paling banyak dimanfaatkan dalam setiap lini kehidupan kita. Meski begitu, dampak plastik juga tidak dapat dikesampingkan begitu saja, sebagaimana tertulis di paragraf atas yang menjelaskan dampak terhadap lingkungan yang juga kemudian dapat berbalik kepada manusia sendiri.

Dunia sedang berupaya untuk mengatasi permasalahan bersama ini. Upaya untuk mendorong proposal penghapusan penggunaan plastik sekali pakai pada 2025 ini ke dalam Dewan Lingkungan PBB di bulan Maret lalu telah dilakukan dan telah mendapatkan respons positif dari berbagai negara di dunia, meski pada akhirnya masih terdapat beberapa negara yang menolak sehingga membuat kesepakatan ini gagal diraih (n.d., 2019). Di level regional pun, kesepakatan bersama telah dicapai dalam East Asia Summit (KTT Asia Timur) di 2018 mengenai upaya bersama dalam melawan sampah serpihan plastik di laut (combating marine plastic debris), dimulai dari kampanye publik, peningkatan kesadaran lingkungan masyarakat, dukungan bagi tenaga ahli terkait pendataan sampah plastik lautan dan pengembangan teknologi manajemen sampah, hingga dukungan terhadap pengembangan teknologi untuk mencegah bertambahnya sampah plastik di lautan (East Asia Summit, 2018). Di level pemerintah nasional pun juga telah mengeluarkan kebijakan terkait sampah plastik ini, dimulai dari kerja sama sebelas kementerian untuk koordinasi penyelesaian masalah sampah plastik, kerja sama dengan LSM, pihak swasta, maupun individu, hingga alokasi dana hingga 1 miliar dollar AS untuk penyelesaian masalah ini (Wright & Waddell, 2017).

Upaya tersebut mutlak harus dilakukan mengingat apa yang telah dilakukan manusia kepada lingkungannya sendiri. Hal ini dikarenakan kerusakan yang muncul di bumi pada dasarnya adalah akibat ulah manusia sendiri, sebagaimana yang termaktub dalam firman Allah “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Malaikat: ’Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.’ Mereka berkata: ’Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?’ Tuhan berfirman: ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS Al-Baqarah ayat 30). Allah juga kembali menekankan kerusakan dunia terjadi karena tangan manusia dalam surat Ar-Rum ayat 41 “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS Ar-Rum ayat 41)

Lalu, apakah sebagai individu cukup menyerahkan penyelesaian permasalahan ini kepada pemerintah? Tentu saja tidak. Sebagai individu, kita juga memiliki kewajiban yang sama besar untuk menjaga lingkungan sebagai khalifah di bumi ini. Perlu diingat bahwa penyebaran sampah plastik di seluruh dunia bukanlah diakibatkan oleh kelompok tertentu, melainkan merupakan andil dari tiap individu manusia. Bisa dilihat dari keseharian kita yang tidak pernah terlepas dari penggunaan plastik sekali pakai. Dimulai dari sedotan yang sering kali kita anggap remeh saat membeli minuman, baik minuman kemasan atau saat di rumah makan. Atau apabila kita membeli makanan dari layanan pesan antar, bungkus makanan dan tas plastik untuk membawanya juga menyumbang penumpukan plastik. Bahkan apabila dilihat lebih dalam, peralatan seperti sikat gigi, alat cukur, dan peralatan plastik lain bertebaran di sekitar kita yang mana selalu dibuang setelah tidak dapat digunakan kembali dan berujung pada penumpukan sampah. Untuk benda-benda keseharian, katakanlah sikat gigi, bayangkan berapa sikat gigi yang telah kita pakai dan kita buang selama hidup dan berujung pada TPA.

Upaya pengurangan penggunaan plastik bisa dimulai dari diri sendiri. Dari mengurangi penggunaan sedotan minuman sebisa mungkin, baik di rumah maupun saat memesan minuman di rumah makan, mengurangi penggunaan tas plastik saat berbelanja dengan membawa tas kantong sendiri atau dimasukkan ke dalam tas punggung atau tas tangan sendiri apabila jumlah barang yang dibeli sedikit, hingga mencoba mencari alternatif produk yang menggunakan pembungkus non-plastik (misal: membeli minuman dengan kemasan berbahan karton daripada minuman dengan kemasan plastik). Penggunaan kembali alat-alat berbahan plastik seperti peralatan makan dan tas plastik juga turut membantu untuk mencegahnya menjadi plastik sekali pakai dan menambah tumpukan plastik di lingkungan. Akan lebih baik lagi apabila masing-masing dari kita juga turut memberikan edukasi kepada sekitar (dosen kepada mahasiswa, mahasiswa kepada teman dan lingkungan tempat tinggal, dan seterusnya) mengenai bahaya penyebaran sampah plastik bagi kehidupan dan mendorong perubahan pola pikir untuk mengurangi penggunaan plastik sehari-hari.

Perlu diingat kembali bahwa manusia dijadikan khalifah di muka bumi ini, yang berarti kita juga memiliki tanggung jawab bersama-sama untuk menjaganya. Permasalahan sampah plastik bukanlah permasalahan yang baru muncul, namun merupakan akumulasi dari gaya hidup manusia yang semakin lama semakin bergantung kepada penggunaan plastik di kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, perubahan perlu dilakukan mulai dari masing-masing individu sebagai salah satu bentuk tanggung jawab sebagai khalifah di bumi. Kerusakan yang terjadi di bumi diakibatkan oleh ulah tangan manusia. Sudah seharusnya kita juga mengubah pola hidup kita dengan mengurangi penggunaan plastik sebagai bentuk kepedulian dan tanggung jawab terhadap keberlangsungan lingkungan.

Bibliografi

East Asia Summit. (2018, 11 15). East Asia Summit Leaders’ Statement on Combating Marine Plastic Debris. Diambil kembali dari ASEAN: https://asean.org/storage/2018/11/EAS_Leaders_Statement_on_Combating_Marine_Plastic_Debris.pdf

Jong, H. N. (2015, 10 9). Indonesia in State of Waste Emergency. Diambil kembali dari The Jakarta Post: https://www.thejakartapost.com/news/2015/10/09/indonesia-state-waste-emergency.html

n.d. (2019, 3 15). UN Resolution Pledges to Plastic Reduction by 2030. Diambil kembali dari BBC News: https://www.bbc.com/news/science-environment-47592111

Pamment, C. (2019, 3 21). The Indonesian paradise Island Drowning in Plastic. Diambil kembali dari BBC News: https://www.bbc.com/news/av/world-asia-47643268/the-indonesian-paradise-island-drowning-in-plastic

Shukman, D. (2018, 4 21). The Plastic Choking Indonesian Rivers. Diambil kembali dari BBC News: https://www.bbc.com/news/av/world-asia-43845632/the-plastic-choking-indonesian-rivers

Wright, T., & Waddell, S. (2017, 9 5). How Can Indonesia Win Against Plastic Pollution? Diambil kembali dari The Conversation: http://theconversation.com/how-can-indonesia-win-against-plastic-pollution-80966