Oleh: Rizki Farani, M.Pd

Guru, digugu dan ditiru, sebuah slogan dalam dunia pendidikan yang telah lama kitakenal. Slogan inibermakna guru harus bisa dipercaya dan ditiru (Khodijah, 2014) namun dalam aplikasinya, frase itu bukanlah sebuah slogan tetapi sebuah komitmen yang dijunjung tinggi ketika seseorang memutuskan untuk menjalani pengabdian hidupnya sebagai seorang pendidik. Pendidik di Indonesia berhadapan dengan dinamika sistem pendidikan yang kompleks dan terus berubah misalnya: pergantian kurikulum, fasilitas institusi pendidikan yang belum merata, kompetensi guru yang belum maksimal, dll. Kelakar di kalangan pendidik, “libur adalah mitos” karena pendidik di Indonesia nyaris tidak memiliki jadwal bekerja yang stabil. Perubaha nsistem yang progresif seringnya menuntut pendidik untuk menyesuaikan diri dengan regulasi-regulasi baru.

Ketika dirasakan, jalan jihad ini terasa semakin menanjak dengan kerikil tajam yang seringnya melukai baik secara fisik maupun mental namun menyerah bukan pilihan karena “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya (Q.S. Al-Baqarah: 286” (Ukkasyah, 2017). Pendidik adalah orang-orang kuat yang sudah dipilih Allah SWT untuk berjuang di jalanNya melalui bidang kependidikan. Seseorang yang bijak pernah berkata “pekerjaan seorang pendidik itu bukanlah hanya sekedar mengajar tetapi juga meningkatkan kualitas Pendidikan, termasuk manajemen dan peraturan. Hanya pendidik yang tau peraturan dan manajemen apa yang tepat untuk siswanya”. Pernyatan ini dapat menjadi basis dari refleksi kehidupan seorang pendidik bahwa berkomitmen pada profesi kependidikan tidaklah hanya cukup dengan melaksanakan proses belajar mengajar namun istiqomah dalam membangun sistem sistem Pendidikan secara universal.

Meski “istiqomah” bukanlah kata yang mudah untuk diwujudkan namun tetap mungkin untuk dicapai. Al Qur’an telah menuntun manusia untuk istiqomah di jalan perjuanganya:

  1. S. Fushillat ayat 6: “Maka istiqomahlah (dengan mengikhlaskan ibadah) kepadaNya dan mohonlah ampun kepadaNya” (Ukkasyah,2017).
  2. S. As Syarhayat 7: “Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain” (Dimyathi, 2018).
  3. S. Al Anbiyaayat 107: “Kami tidak mengutus engkau, wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia” (Purnama, 2010).

Semoga tuntutan Al Qur’an di atas dapat menjadi petunjuk bagi setiap pendidik untuk istiqomah dalam 3 hal: a) melaksanakan tugas dengan meluruskan niat hanya untuk Allah SWT; b) selalu meningkatkan kompetensi diri, rendah diri untuk selalu menerima kritik, tidak pernah cepat puas dengan hasil yang dicapai dan selalu belajar hal baru; dan c) meniatkan semua perjuangan untuk kepentingan bersama karen anasib generasi bangsa bergantung pada kualitas sistem Pendidikan yang dibangun bersama. Demikianlah refleksi singkat ini, semoga para pendidik dimana pun berada senantiasa diberikan kekuatan oleh Allah SWT dalam menjalankan amanah profesinya. Amin.

Referensi

Chodidjah, 2014. Guru itu digugu dan ditiru. Dikutipdarihttp://www.kompasiana.com pada tanggal 1 Mei 2019.

Dimyathi, M.A. 2018. Setelah menyelesaikan suatu hal, apa yang harus kita lakukan?.Dikutipdarihttp://islami.co pada tanggal 9 Mei 2017.

Purnama, Y. 2010. Islam, Rahmatan Lil ‘Alamin. Dikutipdarihttp://muslim.or.idpada tanggal 9 Mei 2017.

Ukkasyah, S.A. 2017. Keindahan Islam. Dikutipdarihttp://muslim.or.id pada tanggal 9 Mei 2019.

Ukkasyah, S.A. 2017. 10 KiatIstiqomah. Dikutipdarihttp://muslim.or.id pada tanggal 9 Mei 2019.