Ketahanan keluarga terbukti menjadi kunci utama dalam mengantisipasi penyimpanangan perilaku pada anak. Hal ini ditandai banyaknya  pengakuan korban perilaku menyimpang seperti halnya pecandu narkoba, pelaku pergauluan bebas maupun para LGBT/lesbian yang diawali dari kondisi maupun lingkungan keluarga yang kurang harmonis (broken home). Perlakuan yang salah orangtua terhadap anak, misal dengan mengatakan anaknya bodoh atau anaknya banci atau tidak adanya sosok teladan (ayah/ibu) akibat dari perceraian menjadi salah satu penyebab yang sering disampaikan oleh para pelaku yang memiliki keinginan untuk kembali ke jalan yang benar (baca: bertobat).

Hal tersebut disampaikan oleh dr. Dewi Inong Irana, Sp.KK saat mengisi acara Diskusi Sabtu Siang bertema “Membedah Perilaku Seksual Beresiko dan Dampaknya Terhadap Diri dan Masyarakat: Tinjauan Medis dan Perilaku” yang diselenggarakan oleh Lembaga Eksekutif Mahasiswa (LEM) Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB) Universitas Islam Indonesia (UII) dan didukung penuh oleh Wakil Dekan Bidang Keagamaan, Kemahasiswaan dan Alumni (KKA) FPSB UII di R. Auditorium FPSB UII Lt. 3, Sabtu, 16 Rajab 1440 H/23 Maret 2019.

Sosok yang pernah dipercaya sebagai Saksi Ahli di Mahkamah Konstitusi untuk Pasal Permisifitas Seksual tersebut mengawali paparannya dengan menerangjelaskan tentang alat reproduksi manusia, hubungan seksual yang sesuai dan yang menyimpang, proses pembuahan yang terjadi, proses penyebab penyebaran penyakit menular seksual akibat perzinaan maupun akibat penyimpangan seksual, tempat-tempat atau lokasi yang berpotensi besar pada penyebaran penyakit menular seksual maupun penyimpangan perilaku seksual, faktor-faktor penyebab hingga dampak yang diderita oleh para korban maupun pelaku penyimpangan seksual. Beliau juga memberikan warning bahwa generasi muda di negara kita sedang diincar untuk dirusak melalui budaya perilaku seks bebas ataupun penyimpangan perilaku seksual dan narkoba.

Relawan Support bagi para pelaku LGBT yang ingin kembali ke fitrah ini pun berpesan agar peserta menjauhi perilaku penyimpangan seksual/pergaulan bebas tersebut yang jelas akan berdampak buruk pada diri sendiri maupun keluarga.“Gaul bebas, perilaku bebas atau zina bikin hidup kamu hancur”, pesannya pada peserta diskusi yang didominasi oleh mahasiswa.

Sosok yang pernah dihadirkan pada program Indonesia Lawyers Club (ILC) TV One ini juga mengkritisi maraknya situs-situs porno di internet. Bahkan pada salah satu peserta diskusi yang berkecimpung di dunia IT pun beliau menanyakan hingga berharap agar ada langkah nyata berupa pemblokiran terhadap seluruh situs porno yang saat ini ada di dunia maya.

Di akhir sesi kembali beliau menegaskan kepada peserta untuk memperkuat ketahanan keluarga melalui pengamalan perintah Allah SWT yang tertuang dalam QS At Tahrim ayat 6 yang artinya:

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.

“Jadi mari kita mulai untuk menjaga diri sendiri dulu beserta keluarga kita, setelah itu baru kita bantu orang lain”, pungkasnya.