Oleh : Enggar Furi Herdianto, S.I.P, M.A ——-

Vaksin atau yang sering kali dikenal dengan nama imunisasi telah lama beredar dalam kehidupan kita sehari-hari. Dimulai dari vaksin hepatitis B yang diberikan kepada bayi yang baru lahir untuk memberikan kekebalan imunitas kepada bayi tersebut, sehingga peluang hidup sehat lebih besar, serta diikuti oleh berbagai jenis vaksin lain guna memberikan kekebalan imunitas bagi bayi agar mampu tumbuh sehat dan memberikan peluang hidup yang lebih panjang (Kementerian Kesehatan RI, 2016). Vaksin sendiri berasal dari bagian bakteri atau virus yang menyerang manusia, yang mana bagian tersebut dilemahkan dan disuntikkan ke dalam tubuh manusia dengan harapan tubuh akan membentuk antibodi terhadap bentuk bakteri atau virus serupa untuk kemudian mampu menciptakan imunitas terhadap paparan bakteri atau virus yang asli. Oleh karena itu, vaksin merupakan bagian penting dalam peradaban manusia dalam menghadapi penyakit mematikan dan menghindari penyebaran wabah penyakit mematikan (WHO, 2019). Read more

OLeh : Holy Rafika Dhona, S.I.Kom., MA —–Suatu kali Mohammad Hatta, wakil presiden pertama Indonesia yang juga salah satu pendiri Universitas Islam Indonesia, membawakan sambutannya di Sekolah Tinggi Islam.  Dalam sambutan itu Hatta menunjuk pengetahuan sejarah sebagai instrument penting dalam pembentukan berpikir dalam pendidikan tinggi agama, di samping pendidikan keagamaan juga filsafat dan sosiologi.

Hatta menulis,

“…dalam lingkungan Sekolah Tinggi Islam bisa diselenggarakan didikan agama yang berdasarkan pengetahuan tentang filsafat, sejarah dan sosiologi. Agama dan filsafat memperdalam kepercayaan dan memperhalus perasaaan…Dengan perasaan yang murni itulah baru orang sanggup memahamkan sedalam-dalamnya isi surat Al-Fatihah yang menjadi pokok Agama Islam!…Agama dan sejarah memperluas pandangan Agama. Membawa orang ke arah mengerti tentang lahir dan kembangnya agama di berbagai tempat dan berbagai masa di dunia ini dan mengajar mengerti tentang pendirian agama lain….Agama dan sosiologi mempertajam pandangan agama ke dalam masyarakat yang hendak dipimpin. Perhubungan yang kedua ini memberi pengertian tentang pengaruh agama dalam masyarakat, yang berlain-lainan dari masa ke masa, memberi keterangan pula tentang sikap masyarakat terhadap agama dalam tempat dan waktu…” (Hatta, 1955, hal. 113)

Hanya dengan penggabungan ilmu sebagaimana di atas, menurut Hatta, “Di Sekolah Tinggi Islam itu akan bertemu AGAMA dengan ILMU dalam suasana kerja bersama, untuk membimbing masyarakat ke dalam kesejahteraan” (Hatta, 1955, hal. 114)

Dari kisah di atas kita masih dapat bertanya kembali; mengapa sejarah sedemikian penting dalam pembangunan pengetahuan agama menurut seorang Hatta? Apakah benar, sejarah mampu “memperluas pandangan agama” sebagaimana keyakinan Hatta?

Perintah untuk berpikir dengan menyejarah jelas ada di dalam Quran. Terdapat banyak perintah untuk mengingat dan mempelajari apa yang terjadi pada kaum-kaum terdahulu. Dua pertiga Quran berisi mengenai kisah-kisah sejarah.

Misalnya kisah Habil-Qobil, dua anak nabi Adam yang menurut Ali Syari’ati menyimbolkan dua peradaban manusia kala itu; peradaban penggembala (diwakili Habil dengan persembahan hewan ternaknya) dan peradaban masyarakat yang menetap (diwakili Qobil dengan persembahan gandumnya). Uniknya, kisah yang diabadikan dalam Q.S Al Maidah mulai ayat 27 dibuka dengan kalimat perintah Alloh : “Watlu ‘alaihim…” (Dan bacakanlah kepada mereka …) yang berarti kisah sejarah tersebut wajib untuk diperdengarkan, dipelajari dan diambil hikmahnya.

Sejarah, sendiri menurut Ibnu Khaldun (2017) merupakan pendekatan yang mulia, besar manfaatnya dan bertujuan agung. Dengannya dapat diketahui perilaku dan akhlak ummat terdahulu, sehingga orang yang hidup di masa sekarang dapat mengambil pelajaran.

Dasar dalam metode pengembangan keilmuan Islam yang ada dalam Mustholahul hadits (ilmu yang mengkaji tentang kaidah-kaidah terkait silsilah orang yang menceritakan hadist dan perubahan redaksinya) sebenarnya adalah juga berpikir menyejarah.

Jika makhluk yang paling luas pandangan agamanya adalah seorang nabi, maka adakah setiap nabi punya sikap dan pandangan menyejarah (memikirkan realitas dengan cara sejarah)?

Berpikir menyejarah a la nabi dapat ditemui dalam kisah Yusuf misalnya.

Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (Q.S Yusuf ayat 40)

Ayat di atas adalah perkataan Nabi Yusuf Alaihissalam kepada kedua teman sepenjaraannya yang dita’wil mimpinya. Pertanyaan bagi kita adalah bagaimana Nabi Yusuf Alaihissalam dapat mengetahui bahwa sesembahan ummatnya adalah hanyalah nama-nama yang ditemu-cipta oleh leluhur ummatnya? Pengetahuan ini tentulah hasil dari berpikir menyejarah, dimana segala sesuatu, termasuk nama-nama tuhan, diyakini sebagai “tidak datang dengan sendirinya”, dan bisa saja ‘hanya karangan’ nenek moyang.

Sikap /berpikir menyejarah a la Nabi Yusuf Alaihissalam tidak hanya berfungsi mencurigai apa yang tidak datang dari Tuhan melainkan juga untuk menetapkan apa yang memang datang dari Tuhan.

Di dalam surah yang sama, ayat 38, Nabi Yusuf Alaihissalam menjunjung dan menegakkan ‘sejarah yang lain’ yakni sejarah Ibrahim. “Dan aku mengikuti agama nenek moyangku: Ibrahim, Ishak dan Yakub. Tidak pantas bagi kami mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Allah”. Penegakan ini, tentunya didasari oleh pengetahuan sejarah Nabi Yusuf Alaihissalam mengenai Ibrahim yang mengalir lewat Ishak dan kemudian Yakub.

Dari kisah ini, kita dapat mengambil hikmah. Bahwa Alloh tidak hanya memerintahkan kita untuk berpikir menyejarah, tetapi juga memperlihatkan kita pada bagaimana sejarah berfungsi memperluas cakrawala beragama lewat kisah etos sejarah dalam diri nabinya.

 

Daftar Pustaka

Hatta, M. (1955). Sifat Sekolah Tinggi Islam. Dalam D. Muchsin, A. Madatuang, M. Salim, M. Sjarbini, Ismuha, & M. Partakrama, Buku Peringatan University Islam Indonesia : 10 Tahun. (pp. 109-115). Yogyakarta: Dewan Pengurus Pusat Badan Wakaf University Islam Indonesia.

Khaldun, Ibnu, Irham, Supar dan Zuhri. 2017. Mukaddimah Ibnu Khaldun. Jakarta Timur; Pustaka Al-Kautsar

Oleh : Ista Maharsi (Dosen Prodi Pendidikan Bahasa Inggris FPSB UII) – – –

Alhamdulillah…bisa sholat tahajud di sepertiga malam”

“Akhirnya khatam juga baca Al-Qur’an setelah berjuang setiap habis sholat fardlu membaca 8 halaman”

  1. “Bisa puasa sunnah Senin-Kamis itu sungguh membahagiakan”

Read more

Salah satu tugas universitas Islam, baik UII maupun universitas Islam lainnya, adalah menghasilkan dan mengajarkan sains Islam (Islamic sciences). Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Hamid Hasan Bilgrami dan Sayid Ali Asyraf dalam bukunya yang berjudul The Concept of Islamic University. Kedua penulis di atas mengungkapkan bahwa sejumlah ciri universitas Islam. Di samping ciri-ciri konsep pendidikan yang berdasar tauhid, staf pengajar yang menjunjung tinggi nilai Islam, mahasiswa yang terseleksi secara moral dan akademis, pimpinan dan staf yang berdedikasi, salah satu ciri yang penting universitas Islam adalah mengembangkan dan mengajarkan sains yang berlandaskan al-Qur’an dan al-Hadits. Pertanyaan yang diajukan dalam tulisan ini: apakah yang dimaksud dengan sains Islam dan bagaimana mewujudkannya? Read more

OLeh : Rizki Farani, S.Pd., M.Pd. (Dosen Prodi PBI FPSB UII)

Teknologi telah terintegrasi ke dalam semua sektor kehidupan manusia namun tidak semua masyarakat siap dengan kemajuan teknologi tersebut. Akibatnya, beberapa fenomena penyimpangan teknologi sering terjadi, misalnya cyber bullying, penipuan, kekerasan, dll. Penyimpangan tersebut dapat terjadi ketika penggunaan teknologi dilakukan tanpa kontrol diri. Yusuf (2011) mengatakan bahwa esensi dari konsep teknologi antara lain: a) teknologi adalah alat; b) teknologi dilahirkan oleh sebuah struktur ekonomi, sosial dan politik; dan 3) teknologi membawa nilai-nilai yang berasal dari struktur ekonomi, sosial, dan politik tertentu. Pernyataan ini menjelaskan bahwa ada kepentingan-kepentingan tertentu yang mempengaruhi hadirnya teknologi dalam kehidupan manusia. “Kepentingan” inilah yang biasanya menjadi bumerang yang menyerang para pengguna teknologi. Oleh karena itu, setiap manusia perlu kekuatan kontrol diri yang baik sebelum menggunakan teknologi. Salah satu aspek yang kita perlukan dalam membangun kontrol diri adalah penguatan akhlak. Read more

Oleh : Subhan Afifi (Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi FPSB UII) ——

Setelah merayakan kegembiraan hari raya Idul Adha dan berqurban di bulan Dzulhijjah lalu, Saat ini kita berada dalam pertengahan salah satu bulan yang mulia, Bulan Muharram. Bulan pertama dalam kalender Hijriyah yang menghampiri kita setiap tahun ini, setidaknya mengingatkan kita tentang 2 pelajaran penting. Read more

Oleh : Muhammad Zulfikar Rakhmat (Dosen Prodi HI) —

Stories of Prophet Muhammad SAW have been narrated from various perspectives. Some depict him as a warrior, an ideal husband, a good leader while others, especially Islamophobes, depict him as a paedophile and a terrorist. In this short piece, however, I would like to take a unique approach by shedding light on how important Prophet Muhammad SAW is to me as an individual with disabilities and to other Muslims with disabilities around the world. Read more

Oleh : Dr.H. Fuad Nashori, S.Psi., M.Si., M.Ag. Psikoloog–

Beberapa tahun terakhir saya mendapat kehormatan untuk berbagi pengalaman dengan dosen sejumlah perguruan tinggi Islam tentang strategi memasukkan nilai Islam dalam perkuliahan. UIN Semarang, UMS Solo, UM Purwokerto, UIN Pekanbaru, Universitas Islam Riau, IAIN Jambi adalah beberapa universitas Islam yang bersemangat dan berbagi sharing dengan saya. Read more

Oleh :

Banatul Murtafi’ah, S.Pd., M.Pd —

Jika membuka mesin pencari di gawai Anda lalu memasukkan kata kunci adab mahasiswa terhadap dosen, maka Anda akan menemukan berbagai macam judul artikel yang serupa seperti: 5 Sikap yang Perlu Dipahami Mahasiswa Saat Bertemu Dosen, Etika Berkomunikasi Dengan Dosen hingga Etika Berinteraksi Di Dalam Kelas, Mengontak, dan Berjejaring dengan Dosen. Read more

Oleh : Dr. Rina Mulyati, S.Psi., M.Psi., Psikolog (Dosen Prodi Psikologi)

Interaksi manusia, baik antar individu (si A dan si B), maupun antar kelompok (kelompok Y dan kelompok Z) tidak dapat dilepaskan dari proses kognitif. Apa yang kita lihat dari orang lain, atau apa yang dilihat orang lain dari kita adalah sebuah “informasi”. Ia masuk ke dalam sebuah proses kognitif yang kemudian diproses oleh mekanisme berpikir kita untuk melahirkan sebuah kesimpulan. Kesimpulan ini bisa berupa penilaian yang dapat diukur dalam kerangka positif vs negatif. Misalnya kita punya teman yang cara bicaranya kasar. Cara bicara ini adalah sesuatu yang kita tangkap dari dia, kemudian kita proses dalam sistem berpikir kita, dan akan menghasilkan kesimpulan tertentu. Katakanlah kemudian kita menyimpulkan bahwa “oh teman saya ini orangnya pemarah”. Proses antara informasi tentang cara berbicara yang kasar hingga memunculkan penilaian bahwa subjek adalah orang yang pemarah adalah sebuah proses yang berlangsung di dalam kesadaran pikiran kita. Read more