OLeh : Banatul Murtafi’ah, S.Pd., M.Pd. —–

Tulisan ini didedikasikan untuk almarhum bapak dan almarhumah ibu saya yang berpulang belum lama ini. Draf tulisan ini sebetulnya sudah lama mulai ditulis, karena memang awalnya hanya diniatkan untuk menjadi reminder bagi diri sendiri ketika kelak sudah menjadi orang tua. Namun kemudian, saya tergelitik dengan postingan di media sosial yang saya tidak sengaja jumpai beberapa bulan lalu tentang parenting, yang intinya seolah berkata bahwa yang berhak bicara tentang parenting adalah mereka yang sudah jadi orang tua. Padahal, mereka yang belum menjadi orang tua juga pernah merasakan menjadi anak, dan merasakan langsung didikan orang tuanya serta bisa merefleksikan hasilnya ketika dewasa. Read more

OLeh : Widodo Hesti Purwantoro— Sholat (Subuh, Dzuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya’) merupakan rukun Islam yang kedua setelah syahadat. Ini artinya bahwa sholat merupakan perintah wajib atau kewajiban bagi siapa saja yang sudah masuk Islam (sudah bersyahadat). Perintah sholat lima waktu merupakan perintah langsung yang disampaikan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW pada peristiwa Isra’-Mi’raj. Perintah sholat lima waktu merupakan hasil negosiasi besar Nabi Muhammad SAW kepada Allah SWT yang sebelumnya memerintahkan sholat sebanyak 50x sehari. Read more

OLeh : Dr. Hepi Wahyuningsih, S.Psi., M.Si.–

Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling bagus akhlaknya.” (HR Tirmidzi). Berdasarkan hadist tersebut terlihat bahwa akhlak mulia muncul dari iman yang sempurna. Agar individu memiliki akhlak yang baik, maka ia harus memiliki keimanan yang baik. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah manusia yang paling sempurna akhlaknya karena beliau adalah manusia yang paling sempurna keimanannya. Read more

Oleh : Giri Hadmoko (Tendik FPSB UII)—- Kita pasti tahu dan sadar bahwa suatu kehidupan itu pasti ada akhirnya yaitu kematian. Kematian merupakan sesuatu peristiwa keluarnya ruh dari jasad manusia.  Dalam Islam, kematian menjadi awal perpindahan dari alam dunia ke alam barzah, roh manusia yang wafat akan tinggal di alam barzah hingga kebangkitan manusia dari kuburnya saat kiamat kelak. Kematian menjadi permulaan menuju alam akhirat yang kekal, setelah kematian pun masih melewati masa pertanggung jawaban atas semua apa yang kita lakukan dan perbuat di dunia.

Saat di alam kubur ada siksa kubur dan nikmat kubur, barang siapa yang saat di dunia banyak amal shaleh pasti akan beruntung dan mendapat nikmat kubur, dan sebaliknya. Penyesalan pun tidak ada gunaya lagi bagi ruh yang saat masih ada dalam jasad saat di dunia banyak melakukan dosa. Di dunia ini makhluk yang bernyawa pasti akan mengalami kematian, suatu kejadian yang rahasia bagi kita kapan dan dimana itu akan terjadi. Hanya Allah SWT yang Maha Tahu dan Maha Kuasa yang mengetahui kematian makhlukNya.  Hanya saja dalam dunia nyata, banyak yang mengabaikan tentang kematian itu.  Kita sering lalai bahwa kematian itu pasti akan datang, kita terlalu sibuk dengan hiruk-pikuk dunia, gemerlap dunia, keindahan dunia, kenikmatan dunia, sampai kita lalai.  Sehari-hari kita hanya meluangkan sedikit waktu untuk beribadah kepada Allah SWT.

Kesibukan dunia menjadikan ibadah kita nomor kesekian dan bukan yang utama, sebenarnya kita sebagai umat Islam sudah jelas diciptakan di dunia ini hanya untuk beribadah kepada Allah SWT.  Telah tertulis dalam Surat Adz-Dzariyat ayat 56 Al-Qur’an:

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ


“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”

Sangat jelas bahwa Allah SWT telah berfirman bahwa manusia dan jin diciptakan untuk ibadah, bukan untuk bersenang-senang saja apalagi menyekutukanNya. Ibadah adalah inti dari tujuan diciptakannya makhluk.  Dalam Islam sendiri ibadah terbagi dua yaitu ibadah mahdhah dan ibadah muamalah atau ibadah ghairu mahdhah.  Ibadah mahdhah merupakan ibadah sebagai wujud penghambaan murni seorang hamba kepada Allah SWT.  Dalam ibadah mahdhah, seorang hamba seakan terhubung langsung dengan Allah SWT melalui serangkaian ritual ibadah sesuai dengan yang disyariatkan.  Sesuai perintah AllAh SWT baik dalam Al-Quran maupun sunnah, ibadah ini sesuai dengan prinsip yang sudah ditetapkan. Seperti sholat, zakat, puasa, iktikaf, sodaqoh, berqurban, berhaji, membaca Alquran dan masih banyak lagi.

Sedangkan ibadah gohiru mahdah yang bersifat ibadah antar sesama seperti menjauhi jual beli barang yang haram serta menikmati barang yang tidak halal, tidak menipu ataupun memanipulasi takaran, timbangan, dan kualitas barang dalam berdagang,menjauhi suap, riya, riba, iri dengki.  Bersenang senang dengan keluaraga, bersosial, toleransi dan saling menghormati antar sesama dan masih banyak lagi. Dalam Islam kita harus seimbang dalam menjalankan ibadah dan mengamalkan, antara ibadah kepada Allah SWT, dan ibadah antar sesama. Hablum minallah, hablum minannas.

Saat kita resapi dan cermati tentang kehidupan, karunia Allah SWT yang ada pada diri kita itu sebenarnya sangat banyak sekali, bila kita hitung mungkin tak terhingga.  Kita diberi kehidupan di dunia ini untuk menikmati alam serta isi yang ada di dalamnya.  Rezki, keluarga, anak yang kita sayangi, maupun kesehatan, semua itu adalah nikmatNya. Maha suci Allah, Tuhan seluruh Alam raya.

Seharusnya kita sebagai orang Islam yang beriman harus selalu bersyukur atas segala nikmatNya. Walaupun itu sedikit atau banyak, susah atau senang, itu wujud ketaatan kita pada sang Pencipta. Jangan yang ada malah kesombongan dan kurang puas diri yang muncul di hati kita atas segala nikmatNya. Kita dalam hidup harus perbanyak menjalankan amalan ibadah kepada Allah SWT.  Semua amal ibadah yang kita kerjakan itu kelak menjadi bekal dan penyelamat kita saat melewati dan menjalani setelah kematian itu tiba. Bukan malah menyibukkan diri dengan urusan dunia melampaui batas.  Sementara sebenarnya semua yang ada di dunia akan kita tinggalkan. Ingatlah kematian itu sangat dekat dengan kehidupan kita. Semua yang ada di dunia ini tidak akan bermanfaat dan malah menjadi kerugian bagi kita di akhirat kelak bilamana kita dalam menyikapinya di kehidupan dunia ini tidak dilandasi untuk beribadah kepada Alloh SWT.

Dengan semua kenikmatan dunia yang penuh dengan tipu daya, terkadang kita pernah melakukan keburukan, kejahatan, kemaksiatan yang dilarang agama. Kita tahu kematian itu akan datang menghampiri setiap makhluk yang bernyawa.  Bilamana telah tiba waktunya di manapun berada, Sang Maha Memiliki akan mengambil kembali atas semua yang dikehendakinNya.  Sangat rugi dan menyedihkan bila semua itu terjadi pada saat kita melakukan dosa.

Di dunia ini kita harus mengupayakan untuk mempersiapkan akan kematian itu. di kehidupan sehari hari dengan meningkatkan iman dan taqwa. Percaya Kepada Allah SWT keyakinan yang harus di tananmkan di hati manusia. dengan itu keselamatan di dunia dan akhirat akan terjamin. pelajari dan tanamankan ilmu agama dalam diri dan di amalkan, menjalankan kewajiban sebagai orang islam dengan meningkatkan dalam hal sholat lima waktu, biasanya kita menunda nunda sholat kita usahan untuk sholat fardu di awal waktu, puasa Ramadhan, zakat dan memperbayak amalan amalan  sunahNya, seperti sholat tahajud puasa sunah, ziarah kubur , menjenguk orang sakit dan masih banyak lagi, tetap istikomah  dalam menjalani dan mengahadapi cobaan di dunia, di saat kita di beri kenikmatan kita harus ingat untuk mengucpkan syukur Kepada Alloh SWT, dan sebaliknya disaat kita di uji dengan musibah kita harus bersabar. kita harus senantiasa bertaubat, karena manusia di saat lengah mudah sekali melakukan dosa. mohon ampunan Alloh SWT akan menjadikan kita sadar bahwa manusia itu lemah. semua itu akan menjadi pengingat bahwa kematian itu pasti akan datang dan pastinya tanpa pemberitahuan, maka dari itu agar kita selalu terjaga dari perbuatan dosa saat menghadapi kematian itu.

Beruntunglah manusia yang selalu di jalan Allah SWT.  Kematian suatu peristiwa yang menakutkan bagi orang di dunia ini. Maka jagalah diri kita dalam menjalani hidup di dunia ini, jangan dunia menjadi tujuan utama kita, tetapi hidup di dunia ini jadikanlah sebagai ladang kehidupan yang utama untuk beribadah kepada Allah SWT.  Sisa umur kita hidup di dunia ini marilah kita isi dengan amal-amal ibadah, karena semua amal-amal ibadah kita sebagai persiapan bekal di kehidupan akhirat kelak. Karena kehidupan di dunia ini hanya sementara dan akhiratlah yang kekal. Kita hidup di dunia ini akan kita pertanggung jawabkan kelak di akhirat, bukan harta tahta yang akan kita bawa tapi amal ibadah di dunia yang akan menyelamatkan kita di akhirat kelak. Maka mulailah dari sekarang berlomba lomba di dunia dalam kebaikan dan menjauhi perbuatan dosa.  Semoga kita menjadi orang yang berutung di dunia dan akhirat.

Oleh : Fenty Puspitasari, S.Psi. (Tendik FPSB UII)–

Pada 17 Oktober 2020 lalu, akun instagram NASA mengunggah sebuah foto bulan disertai takarir (caption) menggelitik. “Apa yang Anda bawa jika pergi ke bulan?”. Setiap calon astronot memiliki wadah yang sangat terbatas untuk membawa barang-barangnya. Mungkin ini hanya proyek lucu-lucuan untuk mendukung misi NASA ke bulan tahun 2024, tapi sangat menarik mengamati banyak orang mengunggah foto barang yang ia pilih jika pergi ke bulan. Masing-masing orang hanya membawa benda yang penting agar sesuai dengan tempat penyimpanan yang terbatas. Read more

Oleh : Thobagus Moh. Nu’man (Dosen Prodi Psikologi) ——–

Pandemi covid-19 sudah berlangsung lebih dari setahun. Rasa-rasanya belum ada tanda-tanda pandemi ini akan segera berakhir. Bahkan, di bulan Juni ini Indonesia menghadapi gelombang kedua dengan jumlah penduduk yang terkena covid-19 lebih dari gelombang pertama. Sehari dilaporkan ada lebih dari 20.000 penduduk Indonesia yang tertular virus covid-19. Read more

Oleh :  Ista Maharsi, SS, M.Hum —————

“Ais, nanti malam ada pengajian di rumah. Nanti tolong bantu Ibu menyiapkan minuman dan snack ya,” kata Ibu dengan nada datar sambil membuka lemari.

“Besok Ais ada ujian semester, Bu. Ais mau belajar,” sahut Ais dengan nada agak tinggi dan sedikit kesal kemudian berlalu masuk ke dalam kamar dan membanting pintu. Benak Ais berkecamuk bercampur rasa kesal “Mengapa sih Ibu meminta Ais untuk membantu menyiapkan acara pengajian. Besok kan ujian, mana belum belajar pula. Terus kalau nggak belajar, gimana dong nilai Ais. Kan semester kemarin sudah ranking 1, semester ini harus ranking 1 lagi. Ah, Ibu ini…” pikir Ais.

Sayup-sayup Ais mendengar ibunya berkata dengan nada tinggi menunjukkan kekesalannya “Diminta bantu Ibu kok nggak mau… Belajar nggak menjamin nilai bagus. Kalau Ais mau membantu Ibu menyiapkan acara pengajian, bisa jadi meskipun Ais nggak belajar tapi Allah ridlo, dan nilai Ais tetap bagus.”

Ais tahu ibunya marah karena dirinya tidak mau membantu tetapi lagi-lagi Ais tetap pada pendiriannya. “Pokoknya aku harus belajar. Aku mau ranking 1 lagi,” tekat Ais dalam hati.

Acara pengajian pun usai tanpa Ais membantu Ibunya.

Saat terima rapot, Ais mendapati nilai yang sangat mengecewakan, ranking nya pun terjun bebas. Sekejap Ais teringat perkataan guru agamanya di sekolah tentang larangan berkata “ah!” pada kedua orang tua. Lalu Ais teringat apa yang telah dilakukan pada Ibunya minggu lalu. Ais pun menyesali semua yang telah dia lakukan.

Kisah sikap ketidaktaatan seorang remaja putri 14 tahun terhadap ibunya bisa menjadi refleksi kita. Kisah ini mengandung hikmah yang tidak sederhana. Sikap penolakan Ais untuk membantu ibunya serta perkataan ibu Ais sebagai bentuk kekecewaan atas penolakan Ais dapat menjadi sebuah peringatan untuk kita. Kekecewaan sang ibu terhadap Ais telah menyebabkan tidak ridlonya Allah sehingga Allah memberi sedikit pelajaran untuk Ais. Seorang ibu tentu tidak tega mendoakan keburukan bagi anaknya. Namun terkadang, kemarahan dan kekecewaan yang dipendam dapat menjelma doa tak terucapkan. Rasa jengkel ibu bisa membuat ibu tidak ridlo dengan yang kita lakukan, hingga akhirnya kita ditimpa ketidaknyamanan, ketidakbahagiaan, dan bahkan kemalangan. Naudzubillah min dzalik!

Menyakiti hati ibu, meski sedikitpun, akan membawa dampak tidak baik dalam kehidupan. Padahal jika kita mau mengingat-ingat kembali dan merefleksi apa yang telah kita lakukan pada ibu, tentu amat sangat banyak hal yang dapat menyakiti dan mengecewakan hati ibu. Jangankan memarahi atau membentak ibu, berkata “ah!” saja dilarang oleh agama kita.

Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Ahqaf ayat 17:

وَالَّذِي قَالَ لِوَالِدَيْهِ أُفٍّ لَكُمَا أَتَعِدَانِنِي أَنْ أُخْرَجَ وَقَدْ خَلَتِ الْقُرُونُ مِنْ قَبْلِي وَهُمَا يَسْتَغِيثَانِ اللَّهَ وَيْلَكَ آمِنْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَيَقُولُ مَا هَٰذَا إِلَّا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ

Dan orang yang berkata kepada kedua orang tuanya, “Ah.” Apakah kamu berdua memperingatkan kepadaku bahwa aku akan dibangkitkan (dari kubur), padahal beberapa umat sebelumku telah berlalu? Lalu kedua orang tuanya itu memohon pertolongan kepada Allah (seraya berkata), “Celaka kamu, berimanlah! Sesungguhnya janji Allah itu benar.” Lalu dia (anak itu) berkata, “Ini hanyalah dongeng orang-orang dahulu belaka.” (Al-Ahqaf: 17)

Surat Al Ahqaf ayat 17 tersebut mengandung beberapa pelajaran. Pertama, perkataan anak dapat menyebabkan orang tua sakit hati dan kecewa, terlebih lagi saat anak tersebut menolak diajak kepada kebenaran (Islam). Kedua, Allah melarang seorang anak berkata kasar kepada orang tua karena mereka telah merawat dan membesarkan anak tersebut dengan bersusah payah dan penuh pengorbanan. Seperti firman Allah SWT dalam QS Luqman ayat 14.

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu (QS Luqman: 14)

Demikianlah Allah telah perintahkan kita untuk bersyukur pada kedua orang tua kita, berbuat baik kepada mereka, dan lemah lembut kepada mereka. Dalam keadaan apapun, kita diwajibkan untuk tetap menghormati, menyayangi, dan bersikap lemah lembut kepada mereka. Jika ada masalah, tentu dapat dicarikan jalan keluar dengan cara yang baik. Jika ada perbedaan pendapat, saling menghormati bisa menjadi jalan terbaik. Tak ada alasan apapun untuk tidak menghormati kedua orang bahkan berkata kasar kepada mereka. Satu-satunya penolakan yang harus dilakukan adalah pada saat orang tua mengajak anaknya kepada kekufuran. Penolakan itu pun harus dilakukan dengan cara baik-baik.

Allah berfirman dalam Quran Surat Al-Ankaabuut ayat 8:

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْنًا ۖ وَإِنْ جَاهَدَاكَ لِتُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۚ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu-bapaknya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan (Al-Ankabuut: 8)

 

Kisah tadi hanya sekedar sepenggal kisah kecil yang menimpa seorang gadis umur belasan tahun. Ada banyak sekali peristiwa yang jika kita perhatikan baik-baik, kita akan menemukan betapa banyak perilaku dan perkataan kita yang menyakitkan bapak/ibu. Terlebih lagi jika bapak/ibu sudah usia senja dan membutuhkan banyak perhatian dan bantuan kita. Di saat itulah ujian berat diberikan, bagaimana kita dituntut untuk bersabar dan menahan serta mengendalikan setiap ucapan kita agar tidak menyakiti hati keduanya. Dalam kehidupan nyata, banyak sekali ditemukan orang-orang yang tidak dapat bersabar dengan ujian merawat orang tua saat mereka berusia senja. Alhasil, bukan pahala berbakti yang di dapat melainkan dosa karena menyakiti hati kedua orang tua.

Sebuah pemandangan paradoksal terjadi di Arab Saudi dimana pengadilan memutuskan hak asuh atas seorang ibu yang tua renta yang jatuh ke tangan salah satu anaknya. Bagaimana bisa, di satu sisi banyak anak menolak merawat ibunya sedangkan di sisi lain anak-anak berebut merawat ibu mereka (Hanifa, 2016). Sungguh, peristiwa perebutan hak asuh atas seorang ibu adalah sebuah pelajaran besar. Ibu adalah makhluk yang harus kita muliakan. Merawat seorang ibu di masa tuanya adalah syurga. Itulah saat-saat paling berharga anak dapat membalas budi ibunya meski sampai kapapun pun tak akan pernah terbayarkan.

Islam memberikan cara untuk membalas jasa orang tua. Pertama, jika seorang anak menemukan orang tuanya sebagai budak, lalu dibeli dan dimerdekakan (HR, Muslim). Kedua, kewajiban seorang anak kepada orang tuanya setelah keduanya wafat adalah mendoakannya, memohonkan ampunan untuk mereka, menunaikan janji mereka,memuliakan teman mereka, dan menyambung tali silaturahim dengan kerabat yang tidak tersambung kecuali dengannya (HR Abu Dawud, Ibnu Hibban, dan al-Hakim) (Suharno, 2012).

 

Referensi


Tafsir Al Quran Kemenag Republik Indonesia. http://quran.kemenag.go.id.

Hanifa, A. (2016). Kisah Haru, Dua Bersaudara Bersengketa demi Merawat Ibunda. http://muslimahdaily.com/

Suharno, I, N. (2012). Bisakah Kita Membalas Kebaikan Ibu? Inilah Jawaban Islam https://republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/12/04/02/m1ujql-bisakah-kita-membalas-kebaikan-ibu-inilah-jawaban-islam

OLeh : Dian Febriany Putri, S.Psi., M.Psi., Psi ———–

 

Harta yang paling berharga adalah keluarga…

Istana yang paling indah adalah keluarga…

Puisi yang paling bermakna adalah keluarga…

Mutiara tiada tara adalah keluarga… Read more

Oleh : Dr. H. Fuad Nashori, S.psi., M.Si., M.Ag., Psikolog—–

Beberapa orang, dalam satu dan lain hal merasakan sukar baik untuk memberi maaf dan meminta maaf. Secara psikologis, apakah ada penjelasan  untuk hal ini? Demikian pertanyaan yang pernah diajukan kepada saya di suatu kesempatan. Read more

OLeh : Dwi Pranita, S.E., M.M.—- Kegagalan itu merupakan suatu hal yang kadang kita sesali, kita ratapi, dan kita tangisi. Apakah benar kegagalan merupakan sukses yang tertunda? Mengapa demikian? Sebelum membahas tentang kegagalan, ada baiknya kita kembali mengingat firman Allah dalam Surat Ar Rad ayat 11 Read more