Oleh : Dr. H. Fuad Nashori, S.Psi., M.Si., M.Ag., Psikolog—

Pensil yang pendek lebih berguna daripada memori yang panjang

Begitu bunyi status facebook yang ditulis oleh Refiana Said, teman lama saya yang sudah lama tak bertemu. Seorang teman Refiana yang bernama Erick Sinaga memberi komentar: “Tentu … walau pensil itu pendek, namun bisa digunakan untuk menulis, berbagi atau menyampaikan isi hati atau pengalaman hidup pengguna/pemilik pensil. Sementara memori yang panjang hanya disimpan dan diamankan oleh pemilik memori itu sendiri...”

Saya kira apa yang kita lihat, baca, dengar lalu tersimpan dalam ingatan kita tidak banyak berguna kalau hanya tersimpan dalam diri kita. Kekuatan pengetahuan dan pengalaman itu baru terasa ketika kita mengungkapkannya lalu dibaca orang lain. Tentu harus diungkapkan dengan cara tertentu, yang berurutan dan menarik. Nanti apa yang kita ungkapkan itu akan menjadi “emas” yang berguna, yang menjadi sumber teladan dan inspirasi yang memberi pengaruh kepada dunia.

Pengungkapan pengetahuan atau pengalaman itu dapat kita sampaikan secara lisan dan secara tertulis. Ketika kita sampaikan secara lisan, hanya satu dua atau sejumlah kecil orang di sekitar kita yang dapat mendengarkannya dan mengambil manfaat darinya. Beruntung kalau profesi kita adalah public speaker, yaitu orang yang banyak bicara di depan banyak orang seperti guru, dosen, ustaz, kyai, motivator, pelatih. Mungkin ada belasan, puluhan, ratusan, bahkan ribuan orang yang berkesempatan untuk memperoleh manfaat dari cerita kita. Sayangnya profesi ini minoritas dibanding profesi yang lain. Beruntung lagi kalau kita adalah narasumber di radio atau televisi. Akan tetapi, sangat sedikit di antara kita yang memperoleh kesempatan menjadi narasumber di media massa yang memang massif seperti radio dan televisi.

Sekarang ini media sosial memberikan peluang kepada kita untuk berbicara kepada ratusan, ribuan, puluhan ribu orang, bahkan jutaan orang. Melalui twitter, instagram, facebook, tik tok, dan beragam media sosial lainnya, kita dapat berbagi pengetahuan atau pengalaman secara real time. Seberapa banyak yang dapat menikmatinya sangat tergantung kepada follower yang kita miliki. Semakin banyak follower semakin banyak pihak yang dapat mengambil manfaat dari apa yang kita tulis. Komunikasi melalui medsos ini sebagian di antaranya tetap mengandalkan kemampuan menulis ketika kita hendak mengekspresikan diri kepada banyak orang.

Tulisan Lebih Abadi

Berbeda dengan ungkapan lisan langsung yang setelah kita dengar akan hilang dan tidak dapat dicek lagi oleh orang lain, tulisan-tulisan di media massa (buku, koran, majalah, dsb) dan media sosial lebih abadi. Bisa dibaca di lain kesempatan. Kita juga bisa meminta orang lain mengkonfirmasi isinya, karena isi tulisan dicek di berbagai kesempatan.

Buku adalah jenis tulisan yang tingkat keabadiannya paling meyakinkan. Sampai sekarang kita masih menikmati tulisan-tulisan ulama terkenal seperti Imam al-Ghazali, Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Ibnu Taimiyah, Ibnu Miskawaih, Ibnu Araby, Ibnu Khaldun, Ibnu Sina, dan seterusanya. Kita juga dapat menikmati pemikiran-pemikiran filsafat Yunani kuno dari Aristoteles, Plato, Socrates, Phytagoras yang hidup beberapa abad sebelum masehi (7 Filsuf Yunani Populer Sebelum Masehi, Masih Dikenang Terus (idntimes.com).

Buku bisa bertahan lama bahkan hingga ribuan tahun karena umumnya buku ditulis lebih serius dibanding penulisan naskah-naskah yang lebih pendek. Melalui buku, argumen-argumen ditulis secara baik dan mendalam. Ini berbeda dengan tulisan yang pendek seperti artikel yang sedang anda baca ini. Buku Ihya Ulumuddin karya Imam al-Ghazali adalah contoh buku yang ditulis secara baik dan mendalam yang tetap menjadi bacaan penting umat Islam di seluruh dunia setelah dinikmati berbagai kalangan selama hampir seribu tahun. Entah berapa ratus juta atau bahkan berapa milyar orang pernah membaca atau menyimak pembacaan buku Imam al-Ghazali ini.

Entah bagaimana rasanya memiliki tulisan dibaca orang seantero dunia dari generasi ke generasi. Menyaksikan buku bisa bertahan selama sekitar 27 tahun saja bukan main bahagianya. Ini saya alami sendiri. Sekitar 27 tahun lalu, tepatnya tahun 1994, bersama ahli Psikologi UGM Prof Djamaludin Ancok, saya menulis buku Psikologi Islami: Solusi Islam atas Problem-problem Psikologi. Sekarang buku tersebut sudah dicetak 8 kali. Kalau setiap cetak ada 3.000 eksemplar, maka buku itu telah dicetak dan dibeli 24.000 orang. Kalau tiap satu eksemplar buku dibaca 5-7 orang (di perpustakaan malah dibaca puluhan orang), maka berarti buku itu kemungkinan sudah memberi manfaat hingga menembus 100.000 orang. Akhir Oktober kemarin, saya berkunjung ke Universitas Islam Negeri Saizu Purwokerto. Dua orang yang terlibat dalam diskusi mendatangi saya ketika acara selesai. Mereka menyampaikan kalau mereka membaca buku saat mereka menjadi mahasiswa di tahun 1990-an. Hal yang sejenis saya temukan ketika saya berkunjung ke berbagai UIN/IAIN/STAIN dan beberapa universitas Islam. Intinya, mereka mengkonfirmasi bahwa buku tersebut adalah buku yang sampai detik ini menjadi bacaan banyak dosen, mahasiswa, dan umumnya warga masyarakat.

Selanjutnya, kalau kita menulis di berbagai blog dan situs, ratusan hingga ribuan orang akan segera membaca. Pada saat saya menulis tulisan-tulisan pendek yang diposting di facebook, umumnya sebuah tulisan sekitar 100-300 orang. Tentu semakin banyak kawan/pengikut, maka semakin luas daerah penyebarannya.  Kadang saya iseng beri komentar tulisan-tulisan lama di facebook. Ternyata masih ada orang yang mau membaca dan memberi komentar atas tulisan yang sudah beberapa tahun itu.

Motivasi Menulis

Setiap penulis memiliki motivasi. Motivasi menulis tidaklah tunggal. Di antara motivasi yang jamak itu, ada dua yang terpenting. Pertama adalah menyampaikan hal penting kepada orang lain untuk diperhatikan bahkan dilakukan. Para penulis memiliki keyakinan sendiri tentang apa yang dianggap penting. Sekalipun demikian, hal yang dianggapp penting oleh kebanyakan orang dan kebanyakan penulis adalah prinsip-prinsip hidup. Kisah-kisah atau ungkapan bisa berbeda, namun ada kesamaan ide pada berbagai tulisan, yaitu tersebarnya nilai-nilai atau prinsip kehidupan yang dimiliki penulisnya. Prinsip hidup seperti persaudaraan, keadilan, kebaikan hati, semangat hidup, pembersihan diri, kebahagiaan, adalah nilai-nilai yang akan terus menerus ditularkan, karena ide yang sebaliknya juga secara sengaja juga dipromosikan. Prinsip-prinsip penting untuk selalu diperjuangkan.

Sebagai contoh, dalam beberapa tahun terakhir ini saya suka menulis tentang pemaafan. Saya sendiri percaya bahwa memaafkan adalah sebuah bentuk kebaikan yang diperintahkan Allah. Karenanya, saya menulis topik ini dalam bentuk buku, publikasi internasional, publikasi ilmiah nasional, publikasi popular, selain video. Saya berharap dunia yang saat ini masih banyak diwarnai oleh dendam, kemarahan, sakit hati ini dapat berubah menjadi lebih dipenuhi pemaafan, kebaikan hati, dan cinta.

Kedua adalah menyampaikan hal-hal yang semestinya dijauhi atau dihindari agar keburukan dan kejahatan itu tak diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Kesenangan sesaat, kekerasan, keputusasaan, jalan pintas, adalah ide-ide buruk yang juga tersebar dan karenanya butuh orang-orang yang selalu mengingatkan kepada banyak orang. Pejuang anti jalan hitam ini ditantang untuk menyebarkan ide ini sekalipun secara umum mencegah keburukan yang sering berarti kesenangan itu secara psikologis lebih berat dibanding memperjuangkan kebaikan dan cinta.

Tulisan Sebagai Terapi

            Salah satu fungsi tulisan adalah sebagai terapi. Pada awal 2017, saya mengalami stroke ringan. Seringan-ringannya stroke, pastinya berdampak terhadap kehidupan orang yang mengalaminya, termasuk saya. Salah satu yang terpengaruh adalah kemampuan kognitif. Kemampuan memahami konsep yang kompleks rasanya menurun sekali. Begitu juga kemampuan berpikir mendalam jauh berkurang. Kalau mau menulis suatu konsep agak kompleks, rasanya kepala ini berat sekali. Alhamdulillah ada saran dari dokter yang menangani saya pascastroke. Beliau menyarankan agar saya membiasakan menulis hal-hal yang ringan dulu. Peristiwa-peristiwa baik yang terjadi di masa lalu adalah hal yang direkomendasikan untuk saya tulis.

Akhirnya saya praktikkan apa yang disarankan dokter. Saya memilih menulis berbagai peristiwa atau kejadian yang berisi kebaikan-kebaikan dari berbagai orang yang saya saksikan sendiri. Saya tulis beberapa kejadian waktu saya SMP, seperti tanggapan dua orang mentri bernama Prof Emil Salim dan Letjen Alamsyah Ratu Prawiranegara waktu saya menyurati mereka SMP. Tanggapan mereka menjadi sesuatu yang membuat saya merasa surprise. Saya juga beberapa kali mendapat postcard dari artis yang saya gemari waktu SMP, yaitu Iis Sugiyanto. Waktu saya menulis, saya juga mengingat peristiwa yang tak pernah saya lupa, yaitu kelompok cerdas cermat saya waktu SMP berhasil mengumpulkan skor 2.000 ketika pesaingnya mendapat skor 200. Intinya saya merasa lancar mengungkapkan berbagai peristiwa membahagiakan di waktu kecil.

Ketika saya menulis dan merasakan derasnya aliran tulisan dari otak dan tangan saya, saya merasa kehidupan menjadi cerah kembali. Saya yakin menulis membuahkan pengaruh yang luar biasa. Saya bayangkan dalam hayalan saya di otak saya ada gumpalan-gumpalan. Setelah saya mengalirkan deras apa yang tersimpan dalam otak itu, gumpalan-gumpalan itu terurai satu per satu. Otak saya terasa berproses mengalami normalisasi.

            Karenanya, ketika saya menuliskan hal-hal yang menegangkan dalam hidup saya, saya sudah yakin kemampuan otak saya sudah pulih semakin mendekati 100% walau secara jujur saya merasa belum bisa 100% seperti dulu. Saya merasa lancar ketika menceritakan suatu peristiwa di mana saya ditinggal oleh bus padahal laptop dan HP saya ada di dalam tas di bus tersebut. Saya juga merasa lancar ketika menceritakan berbagai peristiwa menegangkan lainnya.

Manfaat bagi Pribadi dan Orang Lain

Saya percaya ketika menuliskan pengetahuan, perasaan, pemikiran, dan pengalaman kita kepada orang lain, ingatan kita akan isi tulisan itu semakin panjang. Berdasar pengalaman, gagasan atau pemikiran yang saya tulis sendiri jauh lebih saya pahami dibanding dari apa yang tidak saya tulis. Itu artinya pengetahuan yang ditulis akan menjadi memori yang lebih panjang bagi saya.

Bagi orang lain, bila saya menuliskan apa yang menjadi pengetahuan, perasaan, pemikiran, dan pengalaman saya, maka orang lain akan membaca dan mengingatnya dalam memorinya. Orang lain ini akan membagi memorinya kepada orang lain lagi, dan san seterusnya. Itu artinya memori yang saya tulis dan kemudian dibagi orang lain dan dibagi lagi ke orang lain lagi akan menjadi ingatan bagi banyak orang dan akan diwariskan dari generasi ke generasi. Kalau dapat diwariskan dari generasi ke generasi, maka sudah pasti artinya adalah memori ingatan akan isi ungkapan kita akan bermur panjang.

Demikian. Wallahu a’lam bi ash-shawab. Bagaimana pendapat anda?

Oleh: Rizki Farani, S.Pd., M.Pd—-

Education field present domains which hold a wide variety of competency. The role of educators is not only implementing teaching and learning but also developing regulation and policy to support educational programs. Considering the scope of educators’ role, it is essential for educators today to foster their leadership skills in order to formulate solutions for educational problems. Northouse (2016) defines leadership as “a process whereby an individual influences a group of individuals to achieve a common goal”. In this definition, there are four key points of leadership: (a) leadership is a process, (b) leadership involves influence, (c) leadership occurs in groups, and (d) leadership involves common goals (Northouse, 2016). Those points imply that being a leader require us to work together in a group to achieve goals. It needs commitment to maintain motivation to work within the process of life.

In Islamic perspective, leadership is a part of religious practices. It becomes a foundation of social behaviour and leadership actions. Thus, Islamic leadership is considered as an important movement to transform educational system (Dakir & Fauzi, 2020). In addition to it, Al Qur’an emphasises the importance of leadership in Islam, for instance: surah Al-Baqarah verse 30: Read more

Oleh : Irwan Nuryana Kurniawan, S.Psi., M.Si —-

Maksudnya apa? Mengapa mendorong jadi mahasiswa-mahasiswa akhirat, bukannya jadi mahasiswa-mahasiswa world class university? Itu mungkin sebagian pertanyaan yang muncul dalam benak Anda begitu membaca judul tulisan ini.   Kita mulai diskusi tulisan ini dengan mengajukan pertanyaan balik. Misalnya ketika mahasiswa-mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) memiliki kualifikasi kompetensi world class university, apakah otomatis mahasiswa-mahasiswa tersebut memenuhi kriteria kualifikasi sukses, mulia menurut Allah Ta’ala dan Rasul-Nya? (Sebagai contoh kriteria dalam QS Al-Hujurat [49]:13). Read more

Oleh : Dr. Faraz——

Menangis itu biasa, bahkan menurut para ahli sebagai perilaku positif untuk kesehatan fisik maupun mental, tetapi bila puluhan ribu bahkan ratusan ribu orang menangis bersama, itu menjadi menarik untuk ditulis dan dibahas. Orang menangis biasanya saat sedih, tetapi tidak sedikit juga yang menangis saat gembira. Ada juga yang menangis saat marah atau frustasi. Bagaimana kita membayangkan orang menangis saat mendapat kebahagiaan yang luar biasa atau bagaimana pula kita membayangkan orang menangis saat marah besar dengan orang lain. Fakta menarik ini menguatkan pentingnya mengkaji fenomena menangis. Forum kajian termasuk dakwah tentang menangis relatif langka. Padahal banyak jejak tangis dalam Al Quran dan Hadist Nabi.

Ketika pasangan ganda putri bulutangkis Indonesia memenangkan pertandingan final melawan China pada olimpiade Tokyo belum lama ini, yang menakjubkan dan menangis bukan hanya pemain dan pelatih di lapangan, tetapi hampir seluruh rakyat Indonesia yang menyaksikan turut menangis atas kemenangan itu. Hari-hari selama pandemi Covid-19 mewabah di Indonesia, fenomena menangis tentu mengungkapkan hari-hari di Indonesia yang rata-rata kematian ratusan bahkan lebih dari seharinya. Tangisan yang belum pernah terjadi sebelumnya, karena menyaksikan ayah, ibu, suami, atau istri bahkan anak, dikebumikan dengan cara yang tidak biasa. Proses bagaimana memandikan, mensholatkan, dan menguburkan jenazah melalui cara yang jauh dari tradisi agama maupun budaya yang dianut. Bahkan banyak yang tidak melalui proses tersebut, pada awal-awal pandemi Covid di Indonesia, karena minimnya pengetahuan tentang Covid-19, Jenazah langsung dibawa ke pemakaman, hanya dapat melihat dari jarak jauh, bahkan banyak yang tidak tahu bagaimana anggota keluarga yang dicintainya itu dikuburkan. Inilah yang membuat mereka merasakan pedih yang sangat mendalam. Hatinya sangat penting, karena tidak dapat melakukan apa-apa. Menangis menjadi satu-satunya perilaku logistik yang paling mungkin menyertainya. Sekali lagi, apa untungnya membahas masalah “menangis” yang menurut etika publik sesuatu yang tidak perlu terjadi karena hanya mengumbar emosi dan bukan hal positif. Banyak orangtua yang tidak suka anaknya menangis. Seorang suami juga tidak begitu suka bila istrinya menangis. Dalam suasana sedih karena ditinggal orangtua, anak, istri atau suami, juga sangat tidak disukai menangis.

Menangis bagi bayi merupakan alat komunikasi yang paling utama dan adaptif sebagai mekanisme untuk bertahan hidup (Bartlett & McMahon, 2016). Bagi orang dewasa, menangis itu juga merupakan alat komunikasi, untuk menyampaikan pesan kepada orang lain bahwa dia dalam kondisi rentan, sedang kesulitan dan butuh pertolongan (Cornelius & Lubliner, 2003; Nelson, 2005) Menurut Hendriks, dkk., (2010), fungsi utama menangis adalah memberi perhatian kepada orang lain untuk membantunya dalam menemukan sumber-sumber penemuan, kemudian juga untuk mendapatkan perhatian, empati, dan dukungan dari orang lain. Manusia memiliki tiga jenis air mata, yakni air mata refleks, air mata yang terus menerus keluar ( continuous tear)), dan air mata emosional. Air mata mencerminkan membersihkan kotoran-kotoran, seperti asap dan debu dari mata. Air mata yang keluar terus-menerus akan melumasi mata dan membantu melindunginya dari infeksi. Air mata emosional yang terlupakan mengandung  hormon stres  dan racun lainnya. Para peneliti yakin bahwa menangis dapat mengeluarkan racun dari sistem tubuh (Florencia, 2020).

Dalam bahasa ilmiah, tangisan didefinisikan sebagai respons sekretomotor (sejenis neuron) yang memiliki karakteristik penting yaitu keluarnya air mata dari aparatus lakrimal, tanpa iritasi pada struktur okular. Hal ini sering disertai dengan perubahan pada otot-otot yang terlibat dalam ekspresi wajah, vokalisasi dan dalam beberapa kasus terisak-isak – menghembuskan napas yang kejang pada kelompok otot pernafasan dan tubuh (Vingerhoets, dkk., 2009). Menangis merupakan fenomena biopsikososial artinya menangis bukan hanya masalah biomedik, mengeluarkan air mata dan beberapa otot bergerak tinggi, tetapi juga masalah internal kejiwaan (psikologi) dan juga ada faktor sosial, seperti yang terjadi saat Greysia Polii dan Apriyani Rahayu saat meraih medali emas pada Olimpiade Tokyo 2020, semua penonton ikut menangis.

Menangis dalam perspektif psikologi

Perspektif psikologi, menangis itu merupakan sebuah reaksi yang biasanya muncul saat orang merasa sedih. Manusia menangis, hewan juga menangis. Tetapi menangis pada manusia yang memiliki fungsi yang berbeda. Manusia menangis tidak masalah bio-mekanis atau melembabkan mata (sama seperti pada hewan), tetapi juga berbagi emosi. Manusia menangis itu mengeluarkan perasaan takut, marah, bahagia, dan perasaan lainnya. Dengan menangis, tubuh akan memaksa seseorang untuk bernafas lebih dalam agar detak jantung lebih lambat dan sesak di dada dapat berkurang. Hormon dan zat-zat lain yang dapat memicu stres. Menangis dapat membantu kita melepaskan hormon endorfin atau “rasa enak” yang juga bisa mengurangi rasa sakit secara alami. Ketika seseorang menangis tubuh akan mengeluarkan seluruh racun (racun) yang terhenti sehingga setelah menangis kita akan merasa lebih kuat secara fisik dan mental. Pakar lain menyebutkan bahwa menangis itu membuat kita merasa lebih baik, dan mengurangi rasa stres. Kemudian menangis juga meningkatkan mood, dimana mood kita akan lebih baik menangis. Terakhir, menangis juga dapat membunuh bakteri yang ada di mata, karena air mata mengandung lisozim. Berdasarkan jenis kelamin, perempuan secara biologis memiliki jumlah hormon proclatin lebih tinggi dari laki-laki. Hormon ini punya kencenderungan yang mendorong seseorang untuk menangis. Sementara pada laki-laki hormon testosteron mengurangi kecenderungan seseorang menangis. Itulah sebabnya mengapa perempuan rata-rata lebih sering menangis dibandingkan laki-laki. Menurut Michael Trimble,

Menangis dalam perspektif Islam

Dalam Islam, menangis itu bukan berarti cengeng, lemah, rapuh, rentan dan membutuhkan pertolongan, seperti ilmu psikologi Barat menjelaskan. Islam sangat perhatian terhadap perilaku menangis. Dan bahwasanya Dialah Yang menjadikan orangutan laugh Dan Menangis. ” (QS. An-Najm : 43). Jadi siapa yang membuat manusia menangis? Jawabannya Allah, dengan segala prosesnya yang rasional. Menangislah kalian semua. Dan apabila kamu tidak dapat menangis maka pura-pura menangislah kamu” (HR.Ibnu Majah dan Hakim). Dalam konteks yang tepat, justru menangis justru lebih disarankan dalam Islam. Dalam berbagai ayat AlQuran maupun hadist disebutkan bahwa Allah sangat senang melihat hambanya menangis. Namun, menangis seperti apa yang sangat disukai dalam Islam? Seorang yang takut kepada Allah, akan mengakhiri hidupnya apakah hidupnya sudah sesuai antara apa yang diberikan Allah kepadanya dengan apa yang dia perbuat untuk Allah, kemudian dia menangis, karena apa yang dia berikan dalam bentuk pengabdian kepada Allah ternyata jauh lebih sedikit, bahkan tidak terlihat sama sekali. Menangis seperti ini akan berdampak pada seseorang untuk selalu memperbaiki dan memperbaiki, karena rahmat Allah tidak pernah bisa disaingi dengan ibadah dan perbaikan apapun juga. Rasulullah pernah bersabda,Andaikata kamu mengetahui apa yang aku ketahui, kamu semua akan sedikit tertawa dan banyak menangis ” (HR. Bukhari dan Muslim).

Rasa takut seperti ini akan membangun kecintaan manusia kepada Sang Pencipta. Allah sudah memberikan kepada manusia, segala hal secara gratis, yang sering dilupakan, misalnya udara (oksigen). Beberapa bulan terakhir ketika pandemi Covid-19 menyebar secara ganas di tanah air, banyak keluarga dibuat panik karena kesulitan mencari tabung gas (oksigen) untuk anggota keluarganya yang koma di rumah sakit. Banyak dari mereka yang berpikir dan malu selama ini baik-baik saja dan sehat tanpa menikmati oksigen secara gratis di alam bebas, tidak ada ucapan terima kasih kepada pemilik oksigen itu, Tuhan Allah Swt. Selama ini jarang beribadah, jarang melakukan kebaikkan, sebaliknya sering melakukan hal-hal yang dilarang agama, seperti berbohong, mengambil hak orang lain, berkhianat, dan banyak lagi. Perasaan seperti ini pada akhirnya menumbuhkan kesadaran untuk berbuat lebih baik lagi, sesuatu yang akan disukai atau dicintai oleh sang pemilik oksigen gratis di alam itu (baca: Allah). Indikator, bahwa kita benar-benar cinta kepada Allah, Tuhan yang selama ini telah banyak untuk kehidupan kita, maka kita akan mudah menangis ketika beribadah dan ketika mengingatnya (berzikir). Menangis dalam konteks ini dapat meningkatkan kekhusyuannya dalam beribadah dan peluang mendapat hidayah dari Allah. maka kita akan mudah menangis ketika beribadah (sholat) dan ketika mengingatnya (berzikir). Menangis dalam konteks ini dapat meningkatkan kekhusyuannya dalam beribadah dan peluang mendapat hidayah dari Allah. maka kita akan mudah menangis ketika beribadah (sholat) dan ketika mengingatnya (berzikir). Menangis dalam konteks ini dapat meningkatkan kekhusyuannya dalam beribadah dan peluang mendapat hidayah dari Allah. Dan mereka bersujud sambil menangis dan maka bertambahlah atas perasaan mereka khusyu’ ” (QS. Al-Isra: 109). Sang pecinta, apabila dibacakan ayat-ayat Allah, dia akan mengungkapkan kegembiraannya, sebagai bukti kecintaannya pada Allah (QS Al Anfal:2), dan kemudian akan menangis, karena hal itu tentu saja jauh dari harapan yang diharapkan Allah. Nabi Muhammad SAW., dijamin masuk surga oleh Allah, sering menangis malu dan merasa belum optimal beribadah karena Allah. Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu melihat mata mereka mencucurkan air mata karena kebenaran (Al Quran) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata, Ya Tuhan, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Quran dan kenabian Muhammad)”.  (QS.Al-maidah: 83). Dalam AlQuran surat Maryam, ayat 58 juga mengungkapkan hal yang sama, Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israel, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Jika dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemura kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis .”

Takut kepada siksaaan Allah kemudian menangis menjadi fenomena menangis dalam Islam. Salah satu kisah untuk itu dapat dikutip disini. Sahabat Ustman bin Affan, ketika ia berada di dekat kuburan, ia tertunduk dan menangis. Sahabat yang membantu bertanya, “ Mengapa menangis melihat kuburan wahai Amirul mukminin ”. Ustman menjawab, Rasulullah pernah berkata bahwa kuburan ini merupakan tempat persinggahan pertama dari beberapa persinggahan di akhirat, jika ia selamat maka ia dimudahkan, jika tidak selamat maka datang setelahnya kecuali lebih berat .”(HR. At-Tirmidzi). Menangis karena takut siksaan Allah karena lebih banyak dosa daripada kebaikkan juga diriwayatkan Ibnu Abbas  radhiyallahu ‘ , bahwa Nabi mengajarkan, “Ada dua buah mata yang tidak akan menuntut api neraka; mata yang menangis karena merasa takut kepada Allah, dan mata yang berjaga-jaga di malam hari karena menjaga pertahanan kaum muslimin dalam (jihad) di jalan Allah. (HR.At-Tirmidzi).

Sekali lagi, menangis itu adalah Sunnatullah. Bayi lahir pada umumnya menangis. Ini bisa beragam, tetapi yang pasti orang tua bayi itu umumnya bergembira dan bahagia. Sebaliknya, ketika anak manusia meninggal, meninggal dunia, umumnya keluarga inti, kerabat, sahabat dan tetangga dekat, menangis. Pertanyaannya apakah anak manusia yang meninggal itu menangis atau bergembira. Jawabannya kembali kepada diri masing-masing. Rasulullah berdoa, “ Tidak akan masuk ke dalam neraka, seseorang yang pernah menangis karena takut kepada Allah (HR. Tarmidzi). Semoga menangis tidak menjadi akhir hidup kita. Aamiin.

 

Oleh : Dr. H. Fuad Nashori, S.Psi., M.Si., M.Ag,.. Psikolog——

Pengantar

Tiga dekade lalu, ketika Samuel Huntington mencetuskan tesis bahwa benturan peradaban (clash civilization) di masa depan akan melibatkan Barat versus Islam (huntington_clash.pdf (uzh.ch), terbit ‘rasa bahagia’ sekaligus sebuah pertanyaan dalam hati saya. Tesis tersebut sekurang-kurangnya menunjukkan bahwa secara potensial komunitas Muslim masih diperhitungkan dalam percaturan global. Sebagai seorang Muslim, pemikiran tersebut menjadikan saya berbangga hati, namun tak urung membuat sanubari saya terusik dan bertanya: “Betulkah komunitas Muslim benar-benar memiliki kekuatan untuk memberi sumbangsih terbaik bagi masyarakat global?” Read more

Oleh: Astri Hapsari, S.S., M.TESOL —-

Pandemi COVID 19 telah membawa banyak perubahan dalam kehidupan sehari-sehari kita. Munculnya beragam varian baru virus berdiameter 65-125 nm (Shereen, Khan,Kazmi, Bashir, Siddique, 2020) ini menyebabkan resiko terjangkit semakin meningkat. Pada tanggal 27 Juni 2021, tercatat terdapat 21.342 kasus baru, dengan rata-rata kasus selama 7 hari berturut-turut sebesar 17.914 di wilayah Kabupaten Sleman.  Alhamdulillah pada saat revisi artikel ini akan dikirim, angka kasus COVID-19 di Kabupaten Sleman telah mengalami penurunan. Rata-rata kasus selama 7 hari berturut-turut menurun sebesar 2.532 kasus. Read more

Oleh: Dr. Iwan Awaluddin Yusuf, S.IP, M.Si—

“Every cloud has a silver lining”, “ada hikmah di balik setiap musibah”. Petuah bijak semacam ini pastilah bukan hal baru yang pernah kita dengar. Setiap kali ada musibah, kalimat itu sering disampaikan orang-orang di sekitar kita sebagai motivasi untuk membangkitkan semangat, mengajak berpikir positif, ataupun dalam rangka menyiratkan kepasrahan manusia sebagai mahluk yang lemah di hadapan takdir Allah Swt. Read more

OLeh: Dian Nurmalita, S.Kom —–

“Awak dewe nek ngene iki terus iso terpecah belah, salaman raoleh, cangkem ditutupi masker, silaturahmi ora oleh…”

(“Kalau kita seperti ini terus kita bisa terpecah belah, tidak boleh salaman, mulut ditutupi masker, silaturahmi juga tidak boleh…”)

“Wes Aku sing vaksin Gusti Allah Wae, Wegah nek kon vaksin barang…”

(“Yasudah kalau seperti ini aku tidak mau vaksin, lebih baik Allah saja yang vaksin…”) Read more

By Nizamuddin Sadiq, S.Pd., M.Hum., PhD.—–

We are now adventuring a month known as Al-Muharram. It is called Muharram because fighting is prohibited in it. In addition, Muharram has been agreed as the first month of the Hijri or Islamic calendar. Together with Dzul-qo’dah, Dzul-Hijjah and Rajab, these are the four sacred months which are blessed and important months in Islam. Allah says in Surah Al-Tawbah verse 36:

“Indeed, the number of months with Allah is twelve months (in a year), so it was ordained by Allah on the Day when He created the heavens and the earth; of them, four are sacred. That is the right religion, so wrong not yourselves therein…” [Surah al-Tawbah 9:36]

In this verse, Allah has commanded the believers to honour and revere these months. Therefore, the fighting and battles during these sacred months has made prohibited and suspended in order to allow trade and peace. Through this arrangement, the pilgrims and visitors of the Sacred House (Ka’bah) are safe and so as to be able to perform pilgrimage and visit the House in total peace and tranquillity. For this purpose, Allah has guided the believers to honour and to severe the representations of Him in the sacred land. More importantly, the believers are also advised not to commit sins and are recalled to strive hard to obey Him. These reminders are essential for committing sins in these months is far greater than committing them in other months.

Of four sacred months, the first three months mentioned above i.e. Dzul-qo’dah, Dzul-Hijjah, Muharram, and Rajab are consecutive months. Abu Bakr (may Allah be pleased with him) reported that the Prophet (PBUH) said, “The year is twelve months of which four are sacred, the three consecutive months of Dhu’l-Qa’dah, Dhu’l-Hijjah and Muharram, and Rajab which comes between Jumaada and Sha’baan.” (Al-Bukhaari: 2958). In the Islamic calendar, Dzul-qo’dah is the eleventh month of the year. This is a time for pilgrims to make preparations and depart their journey to Makkah. Meanwhile, Dzul-Hijjah is the twelfth month of the year and this is the month of which the hajj processions are taken place. Muharram is the first month of the year and it follows the pilgrimage season when the pilgrims return home. Muharram is right after the hajj-procession.

Umar ibn Khattab instituted the Islamic calendar seventeen years after the Prophet’s (PBUH) migration from Mecca to Madinah. It was in the third or fourth year of the succession of Khalifa Umar ibn al-Khattab when they discussed which month should they start the Islamic calendar. Some of the sahabah said this, while some other said that. Finally, they agreed that Muharram made most appropriate year to begin with. Therefore, as the new beginning, they then decided the first month of the year should be Muharram. Since that time on, Muharram was officially declared as the first month of the year.

The virtues of Muharram

Muharram is considered as the best month after Ramadhan. Attributed to Allah, this month gains honour and respect. The Prophet (PBUH) said, “The best month [after Ramadhan] is the month of Allah which you call Muharram “(An-Nasa’i, As-Sunan Al-Kubraa: 4202). It is obvious that this sacred month is called Syahrullahil Muharram – the month of Allah as no other month is called Syahrullah other than Muharram. Literally, our Prophet (PBUH) ­­­­­called it Syahrullah, the month of Allah, Al-Muharram, and therefore, this is the highest honour given to this month and no other month in the Islamic calendar has been given this honour.

The second is that fasting in this month is next only to Ramadan in terms of virtue. The Prophet (PBUH) said,” The best fast after Ramadan is Allah’s month Al-Muharram” (Muslim: 1163). In this month, Prophet (PBUH) fast regularly and Ibn Abbas reported that he never saw the Prophet Muhammad (PBUH) more concerned about fasting on the day of Ashura than in the month of Muharram. The third virtue is that this month is considered as one of the sacred months. Even, many scholars considered the month of Muharram as the most sacred and severed from all of the sacred months.

The fasting of Ashura

Prophet SAW said that the virtue of fasting of Ashura served as forgiveness of the sins of the previous year or it expiated the sins committed in the previous year. In this respect, the Prophet (PBUH) said,” I hope that Allah will accept it as expiation for [the sins committed in] the previous year” (Sahih Muslim: 1162).

Ashura itself is literally derived from the Arabic word asharah, which means ten, as it is the tenth day of the month of Muharram. In this tenth day of Muharram, people were fasting of Ashura. This fasting was made obligatory in the first year after the Hijrah. Even, the fasting of Ashura was made obligatory before Ramadhan. Therefore, everybody has to fast in the first year, then, Allah revealed Ramadhan. Ramadhan became obligatory and the next year Muharram became recommended and not obligatory. Once again, fasting in the tenth of Muharram was obligatory in the first year of Islam from which all Moslem have to fast. In the second year, it went down, from being obligatory to being recommended, and strongly encouraged.

When Prophet Muhammad (PBUH) came to Madinah and found the Jews fasting on the day of Ashura, he asked them” Why are you fasting this day?” They said” This a great day. Allah has saved Musa (Moses) and his followers, as well as drowned Pharaoh and his people. Musa fasted it (in thanksgiving to Allah), so we fast on this day”. Listening to this, the Prophet (PBUH) then said,” We have more of a right to Musa than you”, then Prophet (PBUH) fasted on that day and ordered the Muslims to fast on that day (Sahih Al-Bukhari: 3943; Muslim: 1130).

In doing the fasting of Ashura, we can reflect on several hadeeth in conjunction with this. In the first place, we can do fasting on the tenth day of Muharram alone. We can refer this to the general meaning in the hadeeth on the virtues of fasting on the day of Ashura. Ibn Hajar al-Haytami in his book Tuhfat al-Muhtaj says, “There is nothing wrong with fasting only on Ashura” (Part 3, Chapter Sawm al-Tatawwu’). Secondly, we can do fasting on the ninth, the tenth and the eleventh of Muharram. Considering the narration of Abdullah ibn Abbas (May Allah be pleased with him), the Prophet said, “Fast a day before it and a day after it (Al-Bayhaqi in As-Sunan Al-Kubra: 8406). Thirdly, we can fast on the tenth and the eleventh of Muharram, as our Prophet (PBUH) said, “Be different from the Jews. Fast a day before it and a day after it “(Musnad Ahmad: 2154; Musnad Ibn Khuzaymah: 2095). Finally, we can also do fasting on ninth and the tenth of Muharram. This was what Prophet (PBUH) intended to do as he said,” If I live till next year, I will definitely observe fast on the ninth day (of Muharram) as well” (Sahih Muslim: 1134).

Considering those ways of doing the fasting of Ashura, those who could fast in the ninth, the tenth and the eleventh of Muharram that would be great. Those who are able do fasting on the tenth and the eleventh or the ninth of Muharram, which is also fascinating. When fasting for three or two days are unable to perform, at least we can do fasting one day, exactly in the day of Ashura. Which of way we intent to do it, and when we do it sincerely and properly, may Allah forgives and expiates our minor sins of the previous year.

One thing that we need to consider that the Prophet (PBUH) commanded the Muslims to be different from the Jews in taking action in the day of Ashura. The Jews took the day of Ashura as a festival. Narrated by Abu Musa (may Allah be pleased with him), he said, “The Jews used to take the day of Ashura as a festival” [according to a report narrated by Muslim: the Jews, who took it as a festival, venerated the day of Ashura. According to another report also narrated by Muslim: the people of Khaybar (the Jews) used to take it as a festival and their women would wear their jewellery and symbols on that day]. The Prophet (PBUH) said, “So you [Muslims] should fast on that day”. (Al-Bukhari). It is obvious that the motive for commanding the Muslims to fast on the day of Ashura was the desire to be different from the Jews, so that the Muslims would fast when the Jews did not, because people do not fast on a day of celebration.

Most importantly, as Muslims, we consider the tenth of Muharram is the day of Ibadah. We are conscious of Allah even more and we concourse to Allah through our action of worship and through the action of fasting. Especially for the month over all, our Prophet Muhammad (PBUH) encourages us to do extra good deeds, extra fasting, extra charity, as this is one of the sacred month. May Allah saves those who do their best effort to worship HimWallahualam bi shawab.

Oleh : Dr. Retno Kumolohadi, S.Psi. M.Si. Psikolog—

Pemerintah Indonesia mengkonfirmasi kasus covid-19 dan membuat pengumuman secara resmi keberadaannya sejak 2 maret 2020.  Sebenarnya, keberadaan kasus itu diduga sudah sejak januari 2020. Selanjutnya penyebaran kasus terjadi sangat cepat di seluruh pelosok Indonesia dan yang paling parah terjadi di Pulau Jawa dan Bali. Hingga saat ini pandemi sudah terjadi dalam kurun waktu 1,5 tahun dan belum ada tanda-tanda penurunan secara bermakna. Masih tingginya jumlah kasus terkonfirmasi covid-19 mau tidak mau membuat masyarakat mengubah gaya hidup agar penyebaran virus lebih terkendali. Read more