Menjadi Manusia Ulil Albab

Oleh : Willi Ashadi, S.H.I., MA

Mukaddimah

Salah satu tugas dan tujuan manusia diciptakan oleh Allah swt menjadi wakil Tuhan dimuka bumi (khalifah-al-baqoaroh:30). Sepertihalnya ciptaan Allah swt lainnya, kehidupan manusia terbatas dan tidak abadi dialam dunia. Sejatinya keabadian itu akan nyata dikemudian hari yaitu alam akhir (the end of day). Dunia hanya menjadi persinggahan sementara sebagai persiapan menuju alam akhirat. Read more

Menghapus Dosa dengan Memaafkan dan Meminta Maaf

Oleh: Dr. H. Fuad Nashori, S.Psi., M.Si., M.Ag., Psikolog

Salah satu kehidupan manusia adalah suka berbuat salah dan dosa. Manusia membutuhkan cara untuk menutupi kekurangannya itu, khususnya dosa yang terarah kepada sesama manusia. Saat orang lain berbuat salah dan dosa yang terarah kepada kita, kita diajari untuk memaafkan. Saat kita berbuat salah dan dosa kepada orang lain, kita diajari untuk meminta maaf. Tulisan ini akan melakukan kajian terhadap dua hal di atas, yaitu memaafkan dan meminta maaf.
Sabar dan Memaafkan
Dalam kehidupan sehari-hari ada saja perbuatan orang lain yang tidak berkenan bahkan menyakitkan hati kita. Bila kita menyimpannya dalam hati, rasa sakit itu ternyata menimbulkan berbagai dampak fisik dan psikologis. Sakit hati membahayakan kesehatan jantung dan sistem peredaran darah (William & William, 1993), kanker, tekanan darah, tukak lambung, flu, sakit kepala, sakit telinga (Pennabaker, 2003). Sakit hati juga menjadikan hati manusia dipenuhi marah, dendam dan benci kepada orang lain yang dipersepsi merugikannya. Ini menjadi sumber stres dan depresi manusia. Hati yang dipenuhi energi negatif, akan mengarahkan individu untuk berkata-kata yang destruktif, baik dalam bentuk rerasan, pengungkapan kemarahan di depan publik, maupun hujatan. Dampak lebih jauh adalah kekerasan, termasuk di dalamnya mutilasi.
Bagaimana semestinya kita menyikapi perilaku orang lain yang mengganggu kita? Jawaban pertama adalah kesabaran. Allah ‘azza wa jalla (QS al-Baqarah <2>: 155-156) berfirman:

“Dan sungguh Kami akan berikan cobaan kepadamu, dengan ketakutan, kelaparan, kehilangan harta dan jiwa. Namun, berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang yang apabila ditimpa musibah mengucapkan ‘sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali’ (inna lillahi wa inna ilaihi raji’un).

Yang harus menjadi kepastian dalam diri kita adalah apapun yang terjadi, termasuk perilaku orang lain yang menyakitkan hati kita, terjadi karena Allah ‘azza wa jalla mengizinkannya. Tidak mungkin suatu peristiwa terjadi kalau Allah tidak mengizinkannya. Seekor nyamuk tak akan menyentuh kulit apalagi sampai menghisap darah kita kalau Allah tidak mengizinkan. Tidak mungkin ada tamparan mendarat di muka kita kalau Allah tidak mengizinkan. Kalau Allah menghendaki atau mengizinkan suatu kerugian menimpa kita, pasti Allah punya maksud. Maksud utamanya adalah menguji kita dengan cara memberi cobaan kepada kita. Bila punya cara berpikir ilahiyah sebagaimana di atas, maka kita akan sampai kepada pemahaman “Allah sedang menguji saya”. Orang yang mampu bersabar, maka Allah bersamanya. Innallaha ma’ash-shabirin.
Menarik untuk menjadi catatan kita sebuah penelitian yang dilakukan oleh Sofyan Trenggana (UII, 2008). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada korelasi antara intensitas puasa (senin-kamis) dengan kesabaran. Puasa melatih seseorang untuk merelevankan setiap perilakunya dengan Allah. Puasa senin dan kamis, sebagaimana penelitian di atas, dapat mengubah diri seseorang untuk menjadi lebih sabar. Lebih-lebih kalau puasa itu dilakukan secara terus-menerus sebagaimana halnya kita lakukan di bulan ramadhan. Pastilah efek yang ditimbulkannya lebih besar, dalam hal ini adalah melatih kesabaran seseorang.
Jawaban kedua adalah memaafkan. Allah ‘azza wa jalla dalam al-Qur’an (QS al-Maidah, 5:15) berfirman:

“(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuki mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit diantara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik”.

Memaafkan adalah proses untuk menghentikan perasaan dendam, jengkel, atau marah karena merasa disakiti atau didzalimi. Lebih dari itu, pemaafan juga proses menghidupkan sikap dan perilaku positif terhadap orang lain yang pernah menyakiti . Oleh Nashori (2014), pemaafan dapat diartikan kesediaan untuk meninggalkan hal-hal yang tidak menyenangkan yang bersumber dari hubungan interpersonal dengan orang lain dan menumbuhkembangkan pikiran, perasaan, dan hubungan interpersonal yang positif dengan orang lain yang melakukan pelanggaran secara tidak adil
Memaafkan memang tidak mudah. Butuh proses dan perjuangan untuk melakukannya. Adanya kebaikan bagi diri kita dan bagi orang lain akan menjadikan memaafkan menjadi sesuatu yang mungkin dilakukan. Seorang ahli psikologi dari Universitas Stanford California, Frederic Luskin (Martin, 2003), pernah melakukan eksperimen memaafkan pada sejumlah orang. Hasil penelitian Luskin menunjukkan bahwa memaafkan akan menjadikan seseorang: (a) Jauh lebih tenang kehidupannya. Mereka juga (b): tidak mudah marah, tidak mudah tersinggung, dan dapat membina hubungan lebih baik dengan sesama. Dan yang pasti, mereka (c) semakin jarang mengalami konflik dengan orang lain.
Para ahli psikologi mempercayai bahwa memaafkan memiliki efek yang sangat positif bagi kesehatan. Pemaafan (forgiveness) merupakan salah satu karakter positif yang membantu individu mencapai tingkatan optimal dalam hal kesehatan fisik, psikologis, dan spiritual. Pada beberapa tahun belakangan, pemaafan semakin populer sebagai psikoterapi atau sebagai suatu cara untuk menerima dan membebaskan emosi negatif seperti marah, depresi, rasa bersalah akibat ketidakadilan, memfasilitasi penyembuhan, perbaikan diri, dan perbaikan hubungan interpersonal dengan berbagai situasi permasalahan (Walton, 2005). Pemaafan selanjutnya secara langsung mempengaruhi ketahanan dan kesehatan fisik dengan mengurangi tingkat permusuhan, meningkatkan sistem kekebalan pada sel dan neuro-endokrin, membebaskan antibodi, dan mempengaruhi proses dalam sistem saraf pusat (Worthington & Scherer, 2004).
Pada saat berpuasa, kesediaan kita untuk memaafkan juga tinggi. Kita memiliki semangat yang tinggi untuk memperoleh pahala dan menguras dosa-dosa kita. Maka, saat lebaran datang, kita bahkan mengobral pemaafan. Semoga pemaafan tidak hanya di bibir, tapi sampai di hati. Allah ‘azza wa jalla melalui Al-Qur’an (QS Ali Imran, 3: 159) memberikan resep agar pemaafan tuntas, yakni memohonkan ampunan bagi mereka serta bermusyawarah.

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.

Termasuk pengertian memohonkan ampun bagi mereka adalah mendoakan kebaikan bagi mereka, mengusahakan kebaikan bagi mereka, dan sebagainya. Melalui ayat tersebut, Allah juga memerintahkan manusia agar luka yang pernah ada jangan sampai semakin menganga dikarenakan munculnya sebab kemarahan, yaitu dengan bermusyawarah. Oleh karena itu, bermusyawarahlah sebagaimana disampaikan ayat di atas dimaksudkan agar dua orang atau lebih yang pernah konflik hendaknya membuat kesepakatan-kesepakatan sebelum bekerjasama lagi agar peristiwa yang menyakitkan hati tidak lagi terulang.

Meminta Maaf
Dalam al-Qur’an, sebagaimana diungkapkan ahli tafsir terkemuka di Indonesia, M. Quraish Shihab (2011), tidak ditemukan perintah untuk meminta maaf. Namun, dalam al-Hadits ditemukan perintah untuk berusaha dihalalkan dosa-dosa kita kepada saudara kita, yang berarti kita diminta untuk meminta maaf atau dimaafkan. Hal ini sebagaimana diungkapkan sebuah hadis Nabi saw.
Abu Hurairah berkata, telah bersabda Rasulullah Saw, “Barangsiapa pernah melakukan kedzaliman terhadap saudaranya, baik menyangkut kehormatannya atau sesuatu yang lain, maka hendaklah ia minta dihalalkan darinya hari ini, sebelum dinar dan dirham tidak berguna lagi (hari kiamat). (Kelak) jika dia memiliki amal shaleh, akan diambil darinya seukuran kedzalimannya. Dan jika dia tidak mempunyai kebaikan (lagi), akan diambil dari keburukan saudara (yang dizalimi) kemudian dibenankan kepadanya. (HR Al-Bukhari).

Salah satu pengetahuan yang sudah lama kita simpan berkaitan dengan masalah ini adalah dosa orang tidak dimaafkan kecuali korban atau orang yang dirugikan memberi maaf. Memang ada kemungkinan orang yang menjadi korban dari perbuatan dzalim kita akan memberi maaf. Namun, ada kemungkinan juga dia tidak memberikan maaf. Dia simpan kebencian dan kemarahan dalam hatinya. Kalau itu yang terjadi, dosa tetap tersandang dalam diri kita.
Karenanya, pilihan yang lebih proaktif, yaitu meminta maaf, menjadi pilihan yang lebih menjamin kepastian dihapuskannya dosa-dosa. Meminta maaf jelas merupakan salah satu bentuk kerendahhatian (tawadhu’) pribadi dan tentu juga merupakan salah satu bentuk keberanian manusia.
Kita percaya bahwa sekalipun suatu perbuatan salah atau memalukan kita lakukan, tetap ada jalan bagi seseorang untuk memperbaiki diri. Jalan untuk menghapus perbuatan yang memalukan atau perbuatan salah adalah menghapus kesalahan dengan jalan sosial (meminta maaf kepada orang lain) dan spiritual (bertaubat kepada Tuhan) dan melakukan perbuatan yang baik dengan jalan sosial (berbuat positif kepada sesama) dan spiritual (berbuat baik kepada Tuhan).
Satu hal positif yang semestinya dilakukan untuk menghapus perbuatan salah adalah meminta maaf. Kalau perbuatan salah itu terarah kepada seseorang, pemintaan maaf mestinya diarahkan kepada seseorang atau keluarga yang menjadi korban. Bila kesalahan itu tertuju kepada banyak orang, maka permintaan maaf itu semestinya dilakukan secara terbuka, melalui pers.
Selain itu, permintaan maaf sesungguhnya punya manfaat agar orang-orang yang menjadi objek dari perbuatan salah tidak melakukan tindakan yang destruktif dan agresif (Baron & Byrne, 2014). Sebagaimana kita ketahui, seringkali orang yang menjadi objek kedzaliman melakukan pembalasan dengan cara yang lebih keras. Temuan dalam psikologi sosial menunjukkan bahwa agresivitas lebih sering didasari oleh alasan membalas perkataan atau perbuatan agresif orang lain. Yang jadi permasalahan adalah balasan itu umumnya lebih keras dibanding rasa sakit yang diterima seseorang.
Permintaan maaf ini berguna untuk meredam amarah yang ada dalam diri orang yang didzalimi. Penyesalan atas kata-kata atau perbuatan di masa lalu serta janji untuk tidak mengulangi perbuatan salah berfungsi untuk meredam amarah yang bergejolak dalam diri seseorang yang disakiti.
Demikian. Bagaimana menurut Anda?

Daftar Pustaka
Al-Munzhiri, Z.D. (2002). Ringkasan Shahih Muslim. Bandung: Penerbit Mizan
Baron, R.A. & Byrne, D. (2014). Social Psychology: Undersatnding Human Interaction. Boston: Allyn and Bacon.
Martin, A.D. (2003). Emotional Quality Management: Refleksi, Revisi dan Revitalisasi Hidup Melalui Kekuatan Emosi. Jakarta: Penerbit Arga.
Nashori, H.F. (2014). Psikologi pemaafan. Yogyakarta: Safiria Insania Cita.
Pennebaker, J.W. (2002). Ketika Diam Bukan Emas. Bandung: Mizan.
Ramadan, T. (2007). Muhammad Rasul Zaman Kita. Jakarta: Penerbit Serambi.
Shihab, M.Q. (2011). Membumikan Al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat. Bandung: Mizan Media Utama.
Thompson, L.Y., Snyder, C.R., Hoffman, L., Michael, S.T., Rasmussen, H.N., Billings, L.S., Heinze, L., Neufeld, J.E., Shorey, H.S., Roberts, J.C., & Robert, D.E., (2005). Dispositional Fogiveness of Self, Other, and Situation. Journal of Social and Personality Psychology, 73 (2), 313-359.
Tim Penerjemah Depag. (2012). Al-Qur’an dan Terjemahannya. Jakarta: Departeman Agama R.I.
Trenggana, S. (2008). Hubungan antara Intensitas Puasa Senin Kamis dan Kesabaran. Skripsi. Yogyakarta: Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya UII.
Walton, E. (2005). Therapeutic Forgiveness: Developing A Model For Empowering Victims Of Sexual Abuse. Clinical Social Work Journal, 33 (2), 193-207.
Worthington, E.L., & Scherer, M. (2004). Forgiveness Is An Emotion-Focused Coping Strategy That Can Reduce Health Risks And Promote Health Resilience: Theory, Review, And Hypotheses. Psychology and Health, 19 (3), 385–405.
Penulis adalah dosen psikologi Islam dan psikologi sosial Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya UII & Wakil Ketua Dewan Pakar Asosiasi Psikologi Islam – Himpsi

KESABARAN DALAM BELAJAR

Oleh : R. Sumedi P Nugroho, Ph.D

Pengantar

Sabar adalah konsep universal yang diajarkan oleh semua agama. Hasil penelitian Subandi (2011) tentang makna kesabaran dalam kitab suci agama: Islam, Kristen, Hindu, dan Budha ditemukan ada sembilan kategori makna kesabaran: (1) pengedalian diri, (2) kegigihan (keuletan), (3) ketangguhan, (4) kerja keras, (5) pantang mengeluh, (6) menerima kesulitan, (7) usaha mengatasi masalah, (8) tabah, dan (9) bersyukur. Jadi, konsep kesabaran itu merupakan aklaq yang universal dan merupakan salah satu perilaku penting dalam kehidupan sehari-hari.  Dalam tulisan ini, sabar akan dikaitkan dengan belajar. Read more

Buah Jatuh Tak Jauh dari Pohonnya, benarkah?

Oleh : Ista Maharsi, S.S., M.Hum

Pepatah “Buah jatuh tak jauh dari pohonnya” sudah sering kita dengar dan jamak dipakai untuk mengacu pada adanya kemiripan sikap, perilaku, dan pola pikir antara orang tua dengan anak-anak mereka. Namun, benarkah demikian? Dua kisah di bawah ini dapat membantu menjelaskan benar tidaknya pepatah tersebut. Read more

PLASTIK: TEMAN DAN LAWAN BAGI KEHIDUPAN

Oleh : Enggar Furi Herdianto, S.IP., M.A

Kebersihan adalah sebagian dari iman. Kalimat ini sering kali kita dengarkan sejak kecil dan didengungkan di berbagai tempat dan kegiatan. Namun, kenyataan menunjukkan fakta yang berbeda tentang lingkungan kita. Sebagai negara berpenduduk Muslim terbanyak di dunia, Indonesia justru mendapatkan sorotan dunia terkait dengan kondisi lingkungan yang tercemari oleh sampah, mulai dari daratan, sungai, hingga lautan. Masyarakat Indonesia menghasilkan sampah hingga 175.000 ton per hari yang mana sebagian besar ditumpuk di Tempat Pembuangan Akhir tanpa ada penanganan lebih lanjut (Jong, 2015). Karena masalah sampah ini juga, Indonesia juga mendapatkan sorotan dunia terhadap tumpukan sampah di sungai yang masif (Shukman, 2018) hingga empat sungai Indonesia dikategorikan sebagai salah satu dari dua puluh sungai dengan polusi terbanyak di dunia (Wright & Waddell, 2017), serta polusi sampah plastik dengan jumlah sangat besar hingga memosisikan Indonesia sebagai negara dengan laut polusi plastik terbanyak kedua di dunia (Pamment, 2019).

Dari permasalahan sampah tersebut, salah satu jenis sampah yang mendapatkan sorotan terbesar adalah sampah plastik.  Hal ini tidak hanya dikarenakan oleh sifat plastik yang tahan lama dan sulit terurai. Namun, dampak lain terhadap lingkungan mulai dari hamparan sampah plastik yang membahayakan dan dapat membunuh hewan laut (mulai dari melilit anggota badan hingga mengganggu saluran pencernaan bagi hewan yang memakan plastik), hingga racun yang tersebar dari plastik yang mulai terurai yang membahayakan kesehatan hewan yang kemudian juga akan menyusup ke dalam rantai makanan (ikan di laut memiliki rantai makanan yang sangat luas, termasuk hingga sebagai konsumsi manusia yang mana ikan tersebut ditangkap di lautan bebas). Selain itu, permasalahan lain yang dihadapi adalah masih tingginya jumlah penggunaan plastik sekali pakai di Indonesia, yang mana dapat dijumpai dari plastik bungkus/kemasan, tas plastik (tas kresek), gelas, sedotan, dan peralatan keseharian lainnya yang sampai saat ini masih belum bisa terpisahkan dari keseharian masyarakat (Wright & Waddell, 2017). Untuk plastik yang tidak tidak terurai sendiri juga mengakibatkan berbagai musibah, dimulai dari peluapan sungai yang diakibatkan oleh penumpukan sampah plastik yang tidak terurai di aliran sungai, hingga penyebaran racun ke tanah akibat penumpukan sampah plastik terutama di lingkungan sekitar TPA yang mana bisa berpengaruh hingga cadangan air tanah di bawahnya.

Plastik memang merupakan penemuan fundamental yang juga turut mengubah gaya hidup manusia. Kehidupan kita selalu dikelillingi dengan perlengkapan berbahan plastik. Dimulai dari bungkus kemasan yang ada di sekitar kita (kemasan makanan, perlengkapan kebersihan diri maupun perlengkapan kebersihan rumah), alat makan (sendok, garpu, gelas, piring, dsb.), hingga peralatan tulis yang kita gunakan sehari-hari. Plastik menjadi salah satu bahan yang paling multiguna serta terjangkau, dan oleh karenanya menjadi salah satu bahan yang paling banyak dimanfaatkan dalam setiap lini kehidupan kita. Meski begitu, dampak plastik juga tidak dapat dikesampingkan begitu saja, sebagaimana tertulis di paragraf atas yang menjelaskan dampak terhadap lingkungan yang juga kemudian dapat berbalik kepada manusia sendiri.

Dunia sedang berupaya untuk mengatasi permasalahan bersama ini. Upaya untuk mendorong proposal penghapusan penggunaan plastik sekali pakai pada 2025 ini ke dalam Dewan Lingkungan PBB di bulan Maret lalu telah dilakukan dan telah mendapatkan respons positif dari berbagai negara di dunia, meski pada akhirnya masih terdapat beberapa negara yang menolak sehingga membuat kesepakatan ini gagal diraih (n.d., 2019). Di level regional pun, kesepakatan bersama telah dicapai dalam East Asia Summit (KTT Asia Timur) di 2018 mengenai upaya bersama dalam melawan sampah serpihan plastik di laut (combating marine plastic debris), dimulai dari kampanye publik, peningkatan kesadaran lingkungan masyarakat, dukungan bagi tenaga ahli terkait pendataan sampah plastik lautan dan pengembangan teknologi manajemen sampah, hingga dukungan terhadap pengembangan teknologi untuk mencegah bertambahnya sampah plastik di lautan (East Asia Summit, 2018). Di level pemerintah nasional pun juga telah mengeluarkan kebijakan terkait sampah plastik ini, dimulai dari kerja sama sebelas kementerian untuk koordinasi penyelesaian masalah sampah plastik, kerja sama dengan LSM, pihak swasta, maupun individu, hingga alokasi dana hingga 1 miliar dollar AS untuk penyelesaian masalah ini (Wright & Waddell, 2017).

Upaya tersebut mutlak harus dilakukan mengingat apa yang telah dilakukan manusia kepada lingkungannya sendiri. Hal ini dikarenakan kerusakan yang muncul di bumi pada dasarnya adalah akibat ulah manusia sendiri, sebagaimana yang termaktub dalam firman Allah “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Malaikat: ’Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.’ Mereka berkata: ’Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?’ Tuhan berfirman: ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS Al-Baqarah ayat 30). Allah juga kembali menekankan kerusakan dunia terjadi karena tangan manusia dalam surat Ar-Rum ayat 41 “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS Ar-Rum ayat 41)

Lalu, apakah sebagai individu cukup menyerahkan penyelesaian permasalahan ini kepada pemerintah? Tentu saja tidak. Sebagai individu, kita juga memiliki kewajiban yang sama besar untuk menjaga lingkungan sebagai khalifah di bumi ini. Perlu diingat bahwa penyebaran sampah plastik di seluruh dunia bukanlah diakibatkan oleh kelompok tertentu, melainkan merupakan andil dari tiap individu manusia. Bisa dilihat dari keseharian kita yang tidak pernah terlepas dari penggunaan plastik sekali pakai. Dimulai dari sedotan yang sering kali kita anggap remeh saat membeli minuman, baik minuman kemasan atau saat di rumah makan. Atau apabila kita membeli makanan dari layanan pesan antar, bungkus makanan dan tas plastik untuk membawanya juga menyumbang penumpukan plastik. Bahkan apabila dilihat lebih dalam, peralatan seperti sikat gigi, alat cukur, dan peralatan plastik lain bertebaran di sekitar kita yang mana selalu dibuang setelah tidak dapat digunakan kembali dan berujung pada penumpukan sampah. Untuk benda-benda keseharian, katakanlah sikat gigi, bayangkan berapa sikat gigi yang telah kita pakai dan kita buang selama hidup dan berujung pada TPA.

Upaya pengurangan penggunaan plastik bisa dimulai dari diri sendiri. Dari mengurangi penggunaan sedotan minuman sebisa mungkin, baik di rumah maupun saat memesan minuman di rumah makan, mengurangi penggunaan tas plastik saat berbelanja dengan membawa tas kantong sendiri atau dimasukkan ke dalam tas punggung atau tas tangan sendiri apabila jumlah barang yang dibeli sedikit, hingga mencoba mencari alternatif produk yang menggunakan pembungkus non-plastik (misal: membeli minuman dengan kemasan berbahan karton daripada minuman dengan kemasan plastik). Penggunaan kembali alat-alat berbahan plastik seperti peralatan makan dan tas plastik juga turut membantu untuk mencegahnya menjadi plastik sekali pakai dan menambah tumpukan plastik di lingkungan. Akan lebih baik lagi apabila masing-masing dari kita juga turut memberikan edukasi kepada sekitar (dosen kepada mahasiswa, mahasiswa kepada teman dan lingkungan tempat tinggal, dan seterusnya) mengenai bahaya penyebaran sampah plastik bagi kehidupan dan mendorong perubahan pola pikir untuk mengurangi penggunaan plastik sehari-hari.

Perlu diingat kembali bahwa manusia dijadikan khalifah di muka bumi ini, yang berarti kita juga memiliki tanggung jawab bersama-sama untuk menjaganya. Permasalahan sampah plastik bukanlah permasalahan yang baru muncul, namun merupakan akumulasi dari gaya hidup manusia yang semakin lama semakin bergantung kepada penggunaan plastik di kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, perubahan perlu dilakukan mulai dari masing-masing individu sebagai salah satu bentuk tanggung jawab sebagai khalifah di bumi. Kerusakan yang terjadi di bumi diakibatkan oleh ulah tangan manusia. Sudah seharusnya kita juga mengubah pola hidup kita dengan mengurangi penggunaan plastik sebagai bentuk kepedulian dan tanggung jawab terhadap keberlangsungan lingkungan.

Bibliografi

East Asia Summit. (2018, 11 15). East Asia Summit Leaders’ Statement on Combating Marine Plastic Debris. Diambil kembali dari ASEAN: https://asean.org/storage/2018/11/EAS_Leaders_Statement_on_Combating_Marine_Plastic_Debris.pdf

Jong, H. N. (2015, 10 9). Indonesia in State of Waste Emergency. Diambil kembali dari The Jakarta Post: https://www.thejakartapost.com/news/2015/10/09/indonesia-state-waste-emergency.html

n.d. (2019, 3 15). UN Resolution Pledges to Plastic Reduction by 2030. Diambil kembali dari BBC News: https://www.bbc.com/news/science-environment-47592111

Pamment, C. (2019, 3 21). The Indonesian paradise Island Drowning in Plastic. Diambil kembali dari BBC News: https://www.bbc.com/news/av/world-asia-47643268/the-indonesian-paradise-island-drowning-in-plastic

Shukman, D. (2018, 4 21). The Plastic Choking Indonesian Rivers. Diambil kembali dari BBC News: https://www.bbc.com/news/av/world-asia-43845632/the-plastic-choking-indonesian-rivers

Wright, T., & Waddell, S. (2017, 9 5). How Can Indonesia Win Against Plastic Pollution? Diambil kembali dari The Conversation: http://theconversation.com/how-can-indonesia-win-against-plastic-pollution-80966

Observasi sebagai Tradisi Islami

Oleh: Holy Rafika Dhona, S.I.Kom., MA

Perkembangan teknologi komunikasi dan media telah mengantarkan kita pada era post-truth. Era ini adalah era dimana opini dibangun tidak berdasarkan kebenaran, melainkan pada emosi dan keyakinan personal. “Fakta bukanlah fakta jika ia tidak sama dengan keyakinan saya”; “Bukti bukanlah bukti jika tidak sesuai dengan bukti yang saya yakini”, demikian barangkali prinsip yang berkembang di era ini. Read more

Akhlak Al Karimah dalam Etika Profesi Public Relations

Oleh : Nadia Wasta Utami.

Dewasa ini, hubungan masyarakat (Humas) atau dikenal juga sebagai Public Relations (PR) dikenal sebagai sebuah seni dalam berkomunikasi yang sasarannya adalah publik atau masyarakat luas. Sebagai salah satu cabang dari ilmu komunikasi, keberadaan PR sangatlah penting dalam suatu perusahaan atau lembaga karena PR bertujuan untuk membangun sikap saling pengertian, menghindari kesalahpahaman, sekaligus membangun citra positif sebuah lembaga, perusahaan ataupun swasta baik profit maupun non-profit. Read more

Bersikap Tenang dalam Merespon Konten di Internet

Penulis :

Narayana Mahendra Prastya (Dosen Prodi Ilmu Komunikasi FPSB UII)

Internet telah menjadi bagian dari aktivitas komunikasi kita sehari-hari. Data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2017 menunjukkan bahwa pengguna internet di Indonesia adalah 143,2 juta jiwa (atau sebesar 54,68% dari total penduduk Indonesia). Ada pun tiga besar layanan yang paling sering diakses adalah chatting (89,35%), media sosial (87,13%), dan search engine (74,84%). Read more

Istiqomah: Pengabdian Seorang Pendidik

Oleh: Rizki Farani, M.Pd

Guru, digugu dan ditiru, sebuah slogan dalam dunia pendidikan yang telah lama kitakenal. Slogan inibermakna guru harus bisa dipercaya dan ditiru (Khodijah, 2014) namun dalam aplikasinya, frase itu bukanlah sebuah slogan tetapi sebuah komitmen yang dijunjung tinggi ketika seseorang memutuskan untuk menjalani pengabdian hidupnya sebagai seorang pendidik. Pendidik di Indonesia berhadapan dengan dinamika sistem pendidikan yang kompleks dan terus berubah misalnya: pergantian kurikulum, fasilitas institusi pendidikan yang belum merata, kompetensi guru yang belum maksimal, dll. Kelakar di kalangan pendidik, “libur adalah mitos” karena pendidik di Indonesia nyaris tidak memiliki jadwal bekerja yang stabil. Perubaha nsistem yang progresif seringnya menuntut pendidik untuk menyesuaikan diri dengan regulasi-regulasi baru.

Ketika dirasakan, jalan jihad ini terasa semakin menanjak dengan kerikil tajam yang seringnya melukai baik secara fisik maupun mental namun menyerah bukan pilihan karena “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya (Q.S. Al-Baqarah: 286” (Ukkasyah, 2017). Pendidik adalah orang-orang kuat yang sudah dipilih Allah SWT untuk berjuang di jalanNya melalui bidang kependidikan. Seseorang yang bijak pernah berkata “pekerjaan seorang pendidik itu bukanlah hanya sekedar mengajar tetapi juga meningkatkan kualitas Pendidikan, termasuk manajemen dan peraturan. Hanya pendidik yang tau peraturan dan manajemen apa yang tepat untuk siswanya”. Pernyatan ini dapat menjadi basis dari refleksi kehidupan seorang pendidik bahwa berkomitmen pada profesi kependidikan tidaklah hanya cukup dengan melaksanakan proses belajar mengajar namun istiqomah dalam membangun sistem sistem Pendidikan secara universal.

Meski “istiqomah” bukanlah kata yang mudah untuk diwujudkan namun tetap mungkin untuk dicapai. Al Qur’an telah menuntun manusia untuk istiqomah di jalan perjuanganya:

  1. S. Fushillat ayat 6: “Maka istiqomahlah (dengan mengikhlaskan ibadah) kepadaNya dan mohonlah ampun kepadaNya” (Ukkasyah,2017).
  2. S. As Syarhayat 7: “Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain” (Dimyathi, 2018).
  3. S. Al Anbiyaayat 107: “Kami tidak mengutus engkau, wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia” (Purnama, 2010).

Semoga tuntutan Al Qur’an di atas dapat menjadi petunjuk bagi setiap pendidik untuk istiqomah dalam 3 hal: a) melaksanakan tugas dengan meluruskan niat hanya untuk Allah SWT; b) selalu meningkatkan kompetensi diri, rendah diri untuk selalu menerima kritik, tidak pernah cepat puas dengan hasil yang dicapai dan selalu belajar hal baru; dan c) meniatkan semua perjuangan untuk kepentingan bersama karen anasib generasi bangsa bergantung pada kualitas sistem Pendidikan yang dibangun bersama. Demikianlah refleksi singkat ini, semoga para pendidik dimana pun berada senantiasa diberikan kekuatan oleh Allah SWT dalam menjalankan amanah profesinya. Amin.

Referensi

Chodidjah, 2014. Guru itu digugu dan ditiru. Dikutipdarihttp://www.kompasiana.com pada tanggal 1 Mei 2019.

Dimyathi, M.A. 2018. Setelah menyelesaikan suatu hal, apa yang harus kita lakukan?.Dikutipdarihttp://islami.co pada tanggal 9 Mei 2017.

Purnama, Y. 2010. Islam, Rahmatan Lil ‘Alamin. Dikutipdarihttp://muslim.or.idpada tanggal 9 Mei 2017.

Ukkasyah, S.A. 2017. Keindahan Islam. Dikutipdarihttp://muslim.or.id pada tanggal 9 Mei 2019.

Ukkasyah, S.A. 2017. 10 KiatIstiqomah. Dikutipdarihttp://muslim.or.id pada tanggal 9 Mei 2019.

KEAGUNGAN PEREMPUAN DI MATA ISLAM

oleh: Dr. Faraz, MM.

Berbicara atau melakukan pembahasan konsepsi gender dalam perspektif Islam tidaklah mudah. Potensi beda pendapat sangat besar. Apalagi memahami teks-teks keagamaan yang sangat dipengaruhi latar belakang pendidikan, budaya serta kondisi sosial masyarakat. Belum lagi kemungkinan adanya kesalahpahaman memahami latar belakang teks dan sifat dari bahasanya. Shihab (1999) mengatakan bahwa kesulitan untuk menghindari beda pendapat dalam kajian gender juga disebabkan bahwa kajian itu bukanlah masalah baru. Mengkaji gender otomatis kita akan dihadapkan masalah-masalah perempuan.  Berbicara masalah perempuan. maka kita akan membuka lembaran-lembaran sejarah sebelum turunnya Al-Qur’an, dimana terdapat sekian banyak peradaban dunia, seperti Yunani, Romawi, India dan China.

Hasil penelitian membuktikan bahwa di antara kebudayaan dan peradaban dunia yang hidup di masa turunnya Al-Qur’an, seperti Yunani, Romawi, Yahudi, Persia, Cina, India, Kristen, dan Arab (pra-Islam), tidak ada satu pun yang menempatkan perempuan lebih terhormat dan bermartabat daripada nilai-nilai yang diperkenalkan di dalam Al-Qur’an (Umar, 1999). Shihab (1999) menjelaskan pada puncak peradaban Yunani, perempuan pada umumnya menjadi alat pemenuh naluri seks laki-laki. Pada peradaban Romawi anak-anak perempuan sampai dewasa sebelum menikah berada di bawah kekuasaan ayahnya. Setelah menikah, kekuasaan pindah ke tangan suami. Kekuasaan yang dimaksud meliputi kewenangan menjual, mengusir, menganiaya dan membunuhnya. Peradaban Hindu dan China juga tidak lebih baik dari Yunani dan Romawi.  Hak hidup bagi seorang perempuan di India yang bersuami harus berakhir pada saat kematian suaminya. Istri harus ikut dibakar hidup-hidup berbarengan dengan mayat suaminya. Praktek seperti ini baru berakhir pada abad ke-17.

Berbeda dengan sebelumnya, peradaban Islam ditandai dengan hadirnya Al-Qur’an dimana misi pokok kitab suci ini, seperti yang disiyaratkan dalam QS. Al-Hujurat ayat 13, adalah untuk membebaskan manusia dari berbagai bentuk diskriminasi dan penindasan, termasuk diskriminasi seksual, warna kulit, etnis dan ikatan-ikatan primordial lainnya. Oleh karena itu, bila terdapat penafsiran yang menghasilkan bentuk penindasan dan ketidakadilan, maka penafsiran tersebut perlu diteliti kembali (Umar, 1999).

Secara umum Al-Qur’an mengakui adanya perbedaan (distinction) bukan pembedaan (discrimination)  antara laki-laki dan perempuan yang menguntungkan satu pihak dan merugikan pihak lain.  Q.S. al-Nisa ayat 32, “Janganlah kamu iri hati terhadap keistimewaan yang dianugerahi Allah terhadap sebahagian kamu atas sebahagian yang lain. Laki-laki mempunyai hak atas apa yang diusahakan dan perempuan mempunyai hak atas apa yang diusahakannya”. Dalam Q.S. al-Baqarah ayat 228 menyebutkan, “Para istri mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf, akan tetapi para suami mempunyai satu derajat lebih tinggi di atas mereka”. Makna ayat terakhir ini tidak dimaksudkan bahwa setiap laki-laki yang dilahirkan otomatis mempunyai satu derajat lebih tinggi dibandingkan perempuan. Derajat ini merupakan pemberian Allah kepada siapa saja (suami) yang mampu memberikan nafkah kepada istrinya. Memberi nafkah berarti telah melaksanakan perintah Allah yang menyatakan bahwa laki-laki bertanggungjawab untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya (Shihab, 1999). Dengan demikian bagi laki-laki yang belum menjadi suami tidak mempunyai peluang mendapatkan derajat yang lebih tinggi tersebut. Ataupun suami yang belum dapat memenuhi kebutuhan istri dan keluarganya berarti juga belum mempunyai hak kelebihan derajat tersebut.

Kemudian ada satu ayat lagi yang seringkali ditafsirkan sebagai ayat yang kurang sesuai dengan konsepsi gender, yakni surat al-Nisa ayat 34, “Para laki-laki (suami) adalah pemimpin para perempuan (istri)”  Makna kepemimpinan disini tidak boleh dimanfaatkan untuk sewenang-wenang, karena Al-Qur’an juga memerintahkan laki-laki dan perempuan untuk saling tolong menolong. Al-Qur’an juga memerintahkan agar suami-istri dapat mendiskusikan dan memusyawarahkan setiap persoalan mereka bersama. (Shihab, 1999).

Kualitas individu laki-laki dan perempuan di mata Allah sama, tidak ada perbedaan sebagaimana disebutkan dalam Q.S. al-Hujurat ayat 13, “Hai manusia sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling mengenal….” . Tidak hanya itu, amal dan prestasi laki-laki dan perempuan dihadapan Allah juga sama. Keduanya sama-sama berpotensi untuk memperoleh kehidupan duniawi yang layak (Q.S. an-Nahl ayat 97). Laki-laki dan perempuan juga mempunyai potensi yang sama untuk masuk surga (Q.S. al-Muk’min ayat 40). Dalam al-Baqarah ayat 159, Allah berfirman, “ Allah tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal diantara kamu baik laki-laki maupun perempuan”.

Perbedaan laki-laki dan perempuan di mata Islam merupakan keniscayaan, tetapi perbedaan itu tidak menyebabkan salah satunya menjadi lebih unggul dari yang lain. Perbedaan perempuan dan laki-laki bukan saja pada alat reproduksinya tetapi juga struktur fisik dan cara berpikirnya. Laki-laki dan perempuan memiliki hormon-hormon yang kadarnya berbeda. Darahnya pun memiliki perbedaan. Jumlah butir darah merah pada perempuan lebih sedikit. Kemampuannya bernafas lebih rendah, serta otot-otot perempuan tidak sekuat laki-laki. Fakta ini tidak menjadikan perempuan itu lemah. Fakta lain menyebutkan bahwa perempuan mempunyai kemampuan anti-virus yang luar biasa, inilah yang menyebabkan mengapa rata-rata usia perempuan lebih lama dari laki-laki (Shihab, 2014, 2015; Pease & Pease, 2015).

Islam telah memposisikan perempuan pada kedudukan yang sebenarnya, dengan memberi peran tidak hanya pada ranah rumah tangga tetapi juga masyarakat. Perempuan harus saling berbagi peran dengan laki-laki baik di rumah maupun di masyarakat. Firman Allah (Q.S. At Taubah: 71) “Orang-orang mukmin laki-laki dan orang-orang mukminah perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain…”. Ini berarti kaum perempuan sejajar dengan laki-laki dalam potensi intelektualnya. Perempuan juga dapat berpikir, mempelajari kemudian mengamalkan (Shihab, 1999).

Dengan demikian  posisi perempuan dan laki-laki seyogyanya berbentuk kemitraan dengan mengutamakan keadilan, seperti bunyi Q.S.. al-Baqarah ayat 187, “ Istri-istri kamu adalah pakaian untuk kamu, dan kamu adalah pakaian untuk mereka”. Ketika Allah mengatakan bahwa suami wajib memberikan nafkah kepada istri dan anak-anaknya, bukan berarti perempuan sebagai istri tidak berkewajiban, secara moral, membantu suaminya mencari nafkah. Di zaman Nabi Muhammad banyak istri para sahabat yang bekerja, misalnya Zainab binti Jahesy yang melakukan pekerjaan kasar yakni menyimak kulit binatang (Shihab, 1999).

Al-Qur’an sekali-sekali tidak mengatakan bahwa perempuan harus di rumah dan laki-laki di luar rumah. Al-Qur’an hanya menggarisbawahi tugas-tugas pokok masing-masing, dan tugas-tugas itu seyogyanya dilakukan secara bersama, musyawarah dan saling tolong menolong.

 

Daftar Pustaka

Pease, Allan & Pease, Barnara (2015). Mengapa Pria Tidak Bisa Mendengarkan dan Wanita Tidak Bisa Membaca Peta (terjemahan). Jakarta: Gramedia.

Shihab, M. Quraish (1999). “Kata Pengantar: Kesetaraan Gender dalam Islam” dalam Nasaruddin (1999) Argumen Kestaraan Gender Perspektif Al-Qur’an. Jakarta: Paramadina.

Shihab, M. Quraish (2014). Perempuan. Tangerang: Lantera Hati.

Shihab, M. Quraish (2015). Dia dimana mana: Tangan Tuhan Dibalik setiap Fenomena. Tangerang: Lantera Hati.

Umar, Nasaruddin (1999). Argumen Kesetaraan Gender Perspektif Al-Qur’an. Jakarta: Paramadina.