Akhlak Al Karimah dalam Etika Profesi Public Relations

Oleh : Nadia Wasta Utami.

Dewasa ini, hubungan masyarakat (Humas) atau dikenal juga sebagai Public Relations (PR) dikenal sebagai sebuah seni dalam berkomunikasi yang sasarannya adalah publik atau masyarakat luas. Sebagai salah satu cabang dari ilmu komunikasi, keberadaan PR sangatlah penting dalam suatu perusahaan atau lembaga karena PR bertujuan untuk membangun sikap saling pengertian, menghindari kesalahpahaman, sekaligus membangun citra positif sebuah lembaga, perusahaan ataupun swasta baik profit maupun non-profit. Read more

Bersikap Tenang dalam Merespon Konten di Internet

Penulis :

Narayana Mahendra Prastya (Dosen Prodi Ilmu Komunikasi FPSB UII)

Internet telah menjadi bagian dari aktivitas komunikasi kita sehari-hari. Data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2017 menunjukkan bahwa pengguna internet di Indonesia adalah 143,2 juta jiwa (atau sebesar 54,68% dari total penduduk Indonesia). Ada pun tiga besar layanan yang paling sering diakses adalah chatting (89,35%), media sosial (87,13%), dan search engine (74,84%). Read more

Istiqomah: Pengabdian Seorang Pendidik

Oleh: Rizki Farani, M.Pd

Guru, digugu dan ditiru, sebuah slogan dalam dunia pendidikan yang telah lama kitakenal. Slogan inibermakna guru harus bisa dipercaya dan ditiru (Khodijah, 2014) namun dalam aplikasinya, frase itu bukanlah sebuah slogan tetapi sebuah komitmen yang dijunjung tinggi ketika seseorang memutuskan untuk menjalani pengabdian hidupnya sebagai seorang pendidik. Pendidik di Indonesia berhadapan dengan dinamika sistem pendidikan yang kompleks dan terus berubah misalnya: pergantian kurikulum, fasilitas institusi pendidikan yang belum merata, kompetensi guru yang belum maksimal, dll. Kelakar di kalangan pendidik, “libur adalah mitos” karena pendidik di Indonesia nyaris tidak memiliki jadwal bekerja yang stabil. Perubaha nsistem yang progresif seringnya menuntut pendidik untuk menyesuaikan diri dengan regulasi-regulasi baru.

Ketika dirasakan, jalan jihad ini terasa semakin menanjak dengan kerikil tajam yang seringnya melukai baik secara fisik maupun mental namun menyerah bukan pilihan karena “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya (Q.S. Al-Baqarah: 286” (Ukkasyah, 2017). Pendidik adalah orang-orang kuat yang sudah dipilih Allah SWT untuk berjuang di jalanNya melalui bidang kependidikan. Seseorang yang bijak pernah berkata “pekerjaan seorang pendidik itu bukanlah hanya sekedar mengajar tetapi juga meningkatkan kualitas Pendidikan, termasuk manajemen dan peraturan. Hanya pendidik yang tau peraturan dan manajemen apa yang tepat untuk siswanya”. Pernyatan ini dapat menjadi basis dari refleksi kehidupan seorang pendidik bahwa berkomitmen pada profesi kependidikan tidaklah hanya cukup dengan melaksanakan proses belajar mengajar namun istiqomah dalam membangun sistem sistem Pendidikan secara universal.

Meski “istiqomah” bukanlah kata yang mudah untuk diwujudkan namun tetap mungkin untuk dicapai. Al Qur’an telah menuntun manusia untuk istiqomah di jalan perjuanganya:

  1. S. Fushillat ayat 6: “Maka istiqomahlah (dengan mengikhlaskan ibadah) kepadaNya dan mohonlah ampun kepadaNya” (Ukkasyah,2017).
  2. S. As Syarhayat 7: “Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain” (Dimyathi, 2018).
  3. S. Al Anbiyaayat 107: “Kami tidak mengutus engkau, wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia” (Purnama, 2010).

Semoga tuntutan Al Qur’an di atas dapat menjadi petunjuk bagi setiap pendidik untuk istiqomah dalam 3 hal: a) melaksanakan tugas dengan meluruskan niat hanya untuk Allah SWT; b) selalu meningkatkan kompetensi diri, rendah diri untuk selalu menerima kritik, tidak pernah cepat puas dengan hasil yang dicapai dan selalu belajar hal baru; dan c) meniatkan semua perjuangan untuk kepentingan bersama karen anasib generasi bangsa bergantung pada kualitas sistem Pendidikan yang dibangun bersama. Demikianlah refleksi singkat ini, semoga para pendidik dimana pun berada senantiasa diberikan kekuatan oleh Allah SWT dalam menjalankan amanah profesinya. Amin.

Referensi

Chodidjah, 2014. Guru itu digugu dan ditiru. Dikutipdarihttp://www.kompasiana.com pada tanggal 1 Mei 2019.

Dimyathi, M.A. 2018. Setelah menyelesaikan suatu hal, apa yang harus kita lakukan?.Dikutipdarihttp://islami.co pada tanggal 9 Mei 2017.

Purnama, Y. 2010. Islam, Rahmatan Lil ‘Alamin. Dikutipdarihttp://muslim.or.idpada tanggal 9 Mei 2017.

Ukkasyah, S.A. 2017. Keindahan Islam. Dikutipdarihttp://muslim.or.id pada tanggal 9 Mei 2019.

Ukkasyah, S.A. 2017. 10 KiatIstiqomah. Dikutipdarihttp://muslim.or.id pada tanggal 9 Mei 2019.

KEAGUNGAN PEREMPUAN DI MATA ISLAM

oleh: Dr. Faraz, MM.

Berbicara atau melakukan pembahasan konsepsi gender dalam perspektif Islam tidaklah mudah. Potensi beda pendapat sangat besar. Apalagi memahami teks-teks keagamaan yang sangat dipengaruhi latar belakang pendidikan, budaya serta kondisi sosial masyarakat. Belum lagi kemungkinan adanya kesalahpahaman memahami latar belakang teks dan sifat dari bahasanya. Shihab (1999) mengatakan bahwa kesulitan untuk menghindari beda pendapat dalam kajian gender juga disebabkan bahwa kajian itu bukanlah masalah baru. Mengkaji gender otomatis kita akan dihadapkan masalah-masalah perempuan.  Berbicara masalah perempuan. maka kita akan membuka lembaran-lembaran sejarah sebelum turunnya Al-Qur’an, dimana terdapat sekian banyak peradaban dunia, seperti Yunani, Romawi, India dan China.

Hasil penelitian membuktikan bahwa di antara kebudayaan dan peradaban dunia yang hidup di masa turunnya Al-Qur’an, seperti Yunani, Romawi, Yahudi, Persia, Cina, India, Kristen, dan Arab (pra-Islam), tidak ada satu pun yang menempatkan perempuan lebih terhormat dan bermartabat daripada nilai-nilai yang diperkenalkan di dalam Al-Qur’an (Umar, 1999). Shihab (1999) menjelaskan pada puncak peradaban Yunani, perempuan pada umumnya menjadi alat pemenuh naluri seks laki-laki. Pada peradaban Romawi anak-anak perempuan sampai dewasa sebelum menikah berada di bawah kekuasaan ayahnya. Setelah menikah, kekuasaan pindah ke tangan suami. Kekuasaan yang dimaksud meliputi kewenangan menjual, mengusir, menganiaya dan membunuhnya. Peradaban Hindu dan China juga tidak lebih baik dari Yunani dan Romawi.  Hak hidup bagi seorang perempuan di India yang bersuami harus berakhir pada saat kematian suaminya. Istri harus ikut dibakar hidup-hidup berbarengan dengan mayat suaminya. Praktek seperti ini baru berakhir pada abad ke-17.

Berbeda dengan sebelumnya, peradaban Islam ditandai dengan hadirnya Al-Qur’an dimana misi pokok kitab suci ini, seperti yang disiyaratkan dalam QS. Al-Hujurat ayat 13, adalah untuk membebaskan manusia dari berbagai bentuk diskriminasi dan penindasan, termasuk diskriminasi seksual, warna kulit, etnis dan ikatan-ikatan primordial lainnya. Oleh karena itu, bila terdapat penafsiran yang menghasilkan bentuk penindasan dan ketidakadilan, maka penafsiran tersebut perlu diteliti kembali (Umar, 1999).

Secara umum Al-Qur’an mengakui adanya perbedaan (distinction) bukan pembedaan (discrimination)  antara laki-laki dan perempuan yang menguntungkan satu pihak dan merugikan pihak lain.  Q.S. al-Nisa ayat 32, “Janganlah kamu iri hati terhadap keistimewaan yang dianugerahi Allah terhadap sebahagian kamu atas sebahagian yang lain. Laki-laki mempunyai hak atas apa yang diusahakan dan perempuan mempunyai hak atas apa yang diusahakannya”. Dalam Q.S. al-Baqarah ayat 228 menyebutkan, “Para istri mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf, akan tetapi para suami mempunyai satu derajat lebih tinggi di atas mereka”. Makna ayat terakhir ini tidak dimaksudkan bahwa setiap laki-laki yang dilahirkan otomatis mempunyai satu derajat lebih tinggi dibandingkan perempuan. Derajat ini merupakan pemberian Allah kepada siapa saja (suami) yang mampu memberikan nafkah kepada istrinya. Memberi nafkah berarti telah melaksanakan perintah Allah yang menyatakan bahwa laki-laki bertanggungjawab untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya (Shihab, 1999). Dengan demikian bagi laki-laki yang belum menjadi suami tidak mempunyai peluang mendapatkan derajat yang lebih tinggi tersebut. Ataupun suami yang belum dapat memenuhi kebutuhan istri dan keluarganya berarti juga belum mempunyai hak kelebihan derajat tersebut.

Kemudian ada satu ayat lagi yang seringkali ditafsirkan sebagai ayat yang kurang sesuai dengan konsepsi gender, yakni surat al-Nisa ayat 34, “Para laki-laki (suami) adalah pemimpin para perempuan (istri)”  Makna kepemimpinan disini tidak boleh dimanfaatkan untuk sewenang-wenang, karena Al-Qur’an juga memerintahkan laki-laki dan perempuan untuk saling tolong menolong. Al-Qur’an juga memerintahkan agar suami-istri dapat mendiskusikan dan memusyawarahkan setiap persoalan mereka bersama. (Shihab, 1999).

Kualitas individu laki-laki dan perempuan di mata Allah sama, tidak ada perbedaan sebagaimana disebutkan dalam Q.S. al-Hujurat ayat 13, “Hai manusia sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling mengenal….” . Tidak hanya itu, amal dan prestasi laki-laki dan perempuan dihadapan Allah juga sama. Keduanya sama-sama berpotensi untuk memperoleh kehidupan duniawi yang layak (Q.S. an-Nahl ayat 97). Laki-laki dan perempuan juga mempunyai potensi yang sama untuk masuk surga (Q.S. al-Muk’min ayat 40). Dalam al-Baqarah ayat 159, Allah berfirman, “ Allah tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal diantara kamu baik laki-laki maupun perempuan”.

Perbedaan laki-laki dan perempuan di mata Islam merupakan keniscayaan, tetapi perbedaan itu tidak menyebabkan salah satunya menjadi lebih unggul dari yang lain. Perbedaan perempuan dan laki-laki bukan saja pada alat reproduksinya tetapi juga struktur fisik dan cara berpikirnya. Laki-laki dan perempuan memiliki hormon-hormon yang kadarnya berbeda. Darahnya pun memiliki perbedaan. Jumlah butir darah merah pada perempuan lebih sedikit. Kemampuannya bernafas lebih rendah, serta otot-otot perempuan tidak sekuat laki-laki. Fakta ini tidak menjadikan perempuan itu lemah. Fakta lain menyebutkan bahwa perempuan mempunyai kemampuan anti-virus yang luar biasa, inilah yang menyebabkan mengapa rata-rata usia perempuan lebih lama dari laki-laki (Shihab, 2014, 2015; Pease & Pease, 2015).

Islam telah memposisikan perempuan pada kedudukan yang sebenarnya, dengan memberi peran tidak hanya pada ranah rumah tangga tetapi juga masyarakat. Perempuan harus saling berbagi peran dengan laki-laki baik di rumah maupun di masyarakat. Firman Allah (Q.S. At Taubah: 71) “Orang-orang mukmin laki-laki dan orang-orang mukminah perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain…”. Ini berarti kaum perempuan sejajar dengan laki-laki dalam potensi intelektualnya. Perempuan juga dapat berpikir, mempelajari kemudian mengamalkan (Shihab, 1999).

Dengan demikian  posisi perempuan dan laki-laki seyogyanya berbentuk kemitraan dengan mengutamakan keadilan, seperti bunyi Q.S.. al-Baqarah ayat 187, “ Istri-istri kamu adalah pakaian untuk kamu, dan kamu adalah pakaian untuk mereka”. Ketika Allah mengatakan bahwa suami wajib memberikan nafkah kepada istri dan anak-anaknya, bukan berarti perempuan sebagai istri tidak berkewajiban, secara moral, membantu suaminya mencari nafkah. Di zaman Nabi Muhammad banyak istri para sahabat yang bekerja, misalnya Zainab binti Jahesy yang melakukan pekerjaan kasar yakni menyimak kulit binatang (Shihab, 1999).

Al-Qur’an sekali-sekali tidak mengatakan bahwa perempuan harus di rumah dan laki-laki di luar rumah. Al-Qur’an hanya menggarisbawahi tugas-tugas pokok masing-masing, dan tugas-tugas itu seyogyanya dilakukan secara bersama, musyawarah dan saling tolong menolong.

 

Daftar Pustaka

Pease, Allan & Pease, Barnara (2015). Mengapa Pria Tidak Bisa Mendengarkan dan Wanita Tidak Bisa Membaca Peta (terjemahan). Jakarta: Gramedia.

Shihab, M. Quraish (1999). “Kata Pengantar: Kesetaraan Gender dalam Islam” dalam Nasaruddin (1999) Argumen Kestaraan Gender Perspektif Al-Qur’an. Jakarta: Paramadina.

Shihab, M. Quraish (2014). Perempuan. Tangerang: Lantera Hati.

Shihab, M. Quraish (2015). Dia dimana mana: Tangan Tuhan Dibalik setiap Fenomena. Tangerang: Lantera Hati.

Umar, Nasaruddin (1999). Argumen Kesetaraan Gender Perspektif Al-Qur’an. Jakarta: Paramadina.

 

Upaya Menghapus Dosa

Salah satu konsep penting dalam Islam adalah pahala dan dosa. Pahala dihadiahkan untuk setiap amal perbuatan baik yang diperintahkan untuk dilakukan dan setiap perbuatan buruk yang ditinggalkan. Dosa diberikan untuk setiap perbuatan salah yang dilakukan manusia. Dosa juga didapatkan seseorang atas tindakan meninggalkan kebaikan yang diperintahkan. Pahala memberi sumbangan terhadap digapainya kebahagiaan di surga, sementara neraka mengantarkan umat manusia kepada kesengsaraan di neraka.

Sebagian besar dosa dapat diampuni. Namun, ada dosa yang sangat sulit diampuni. Salah satunya adalah dosa-dosa kepada orang-orang yang berelasi sekilas saja dengan kita dan kita tak dapat menemuinya ketika kita berharap akan pemaafannya.

Pentingnya Menghapus Dosa

Agama Islam telah menggariskan apa saja perbuatan yang menghasilkan pahala dan perbuatan yang menghasilkan dosa. Syirik atau menyekutukan Allah adalah dosa terbesar. Membunuh adalah dosa sangat besar. Berzina adalah dosa sangat besar. Durhaka kepada orang tua adalah dosa sangat besar. Memfitnah orang lain berzina adalah dosa sangat besar. Memberi kesaksian palsu adalah dosa besar. Berjudi dan minum minuman keras adalah dosa besar. Memakan harta anak yatim adalah dosa besar. Melakukan korupsi bantuan korban bencana adalah dosa besar. Tentu melakukan megakorupsi juga dosa besar. Selain itu, berbagai perbuatan lain yang digariskan oleh Allah dan Rasulullah terkategori dosa besar.

Selain melakukan sesuatu yang terlarang, meninggalkan kewajiban juga dosa besar. Tidak menegakkan shalat fardhu pastilah dosa besar. Tidak menunaikan ibadah haji padahal mampu juga dosa besar. Tidak mengerjakan puasa ramadhan padahal tidak ada alasan untuk melakukannya adalah dosa besar. Tidak membayar zakat fitrah, apalagi bertahun-tahun, juga dosa besar. Tidak memberi nafkah kepada keluarga juga dosa besar.

Dosa-dosa kecil tentu lebih banyak lagi jenisnya. Meludah di sembarang tempat. Membuang sampah tidak pada tempatnya. Merokok di sembarang tempat. Makan dan minum sambil berdiri. Makan dan minum berlebihan. Mendengarkan dan menyaksikan siaran gosip di televisi. Berboncengan bukan dengan mahrom. Meminjam sandal tanpa izin. Semua itu adalah dosa-dosa yang kecil, namun bisa menjadi besar kalau dilakukan berulang-ulang apalagi yang istikomah.

Sebenarnya setiap manusia diberi kemampuan untuk mengenali apakah sesuatu itu menimbukan dosa atau tidak. Allah swt menghidupkan suara hati dalam diri setiap orang. Suara hati itu akan berkata bahwa suatu perbuatan itu berdosa atau tidak. Saat orang hendak mencuri, merampok, atau korupsi, hatinya akan memberitahu bahwa itu bukan haknya. Saat orang hendak berzina, hatinya akan mengingatkan bahwa itu adalah dosa besar. Masalahnya adalah seringkali orang tidak menghiraukan suara hatinya itu dengan berkata bahwa hanya sekali saja melakukannya, atau nanti akan bertaubat, dan sejenisnya.

Setiap dosa yang dilakukan diandaikan sebagai noktah hitam yang menempel pada kalbu manusia. Bisa dibayangkan seberapa hitam kalbu kita ketika kita melakukan begitu banyak perbuatan dosa. Orang-orang yang melakukan megakorupsi bisa dengan sangat cepat dipenuhi noktah hitam yang sedemikian banyak. Demikian juga dengan orang yang syirik, durhaka, berzina, membunuh, dan sebagainya.

Upaya Menghapus Dosa

Upaya menghapus dosa sangat dibutuhkan manusia, karena hitamnya nurani menjadikan orang enggan berbuat baik. Para salafus saleh menyebut dosa menyulitkan individu melakukan perbuatan baik atau perbuatan yang memberi manfaat.

Upaya menghapus dosa juga penting karena dengannya kita tidak cenderung untuk mengulangi perbuatan-perbuatan buruk, jahat, dan salah lainnya. Para salafus saleh menyebut perbuatan dosa memudahkan orang melakukan perbuatan mudharat lainnya. Orang yang melakukan dosa seperti orang yang berada dalam kegelapan. Ia sangat mungkin masuk ke lubang-lubang yang membahayakan dirinya. Ia juga sangat mungkin menabrak hal-hal yang semestinya tak ditabrak yang mengantarnya kepada pengulangan atau malah melakukan perbuatan dosa yang lebih besar.

Apa  yang dapat kita lakukan untuk menghapus dosa? Pertaubatan adalah sarana utama untuk menghapus dosa, terutama dosa yang terarah kepada Allah swt. Seseorang yang terlanjur minta bantuan dukun dapat melakukan taubat. Taubat sendiri ditandai oleh kesadaran bahwa suatu perbuatan itu salah, menyesalinya, berjanji untuk tidak mengulangi, dan memperbanyak istighfar. Seseorang yang sering bertaubat akan membuat  kalbunya memperoleh kesempatan untuk dibersihkan.

Syirik dapatkah diampuni? Dalam pemahaman saya, setiap perbuatan salah dapat diampuni, termasuk syirik, asalkan manusia masih hidup dan mau bertaubat. Allah berfirman: Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik. Dan Dia mengampuni segala dosan yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya (QS an-Nisa’:48). Yang tidak terampuni adalah, sebagaimana disampaikan Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-Adhim: “Allah tidak mengubah dosa syirik yaitu ketika seorang hamba bertemu Allah dalam keadaan berbuat syirik.” Namun, dosa itu dapat terampuni bila saat hidup kita bertaubat.

Dosa kepada sesama manusia hanya dapat dihapus dengan mendapatkan pemaafan atau penghalalan dari orang lain yang menjadi objek perbuatan salah. Rasulullah bersabda: “Barangsiapa telah melakukan kezaliman kepada saudaranya, baik menyangkut kehormatan atau hartanya, maka pada hari ini hendaklah ia minta dihalalkan (dibebaskan) sebelum datang hari saat tidak berguna lagi dinar dan dirham” (HR Imam Bukhari). Intinya menyampaikan permohonan maaf. Tradisi silaturrahmi atau berkunjung ke saudara, kerabat, sahabat, dan tetangga memudahkan orang lain untuk memaafkan. Saya percaya sepenuhnya bahwa sebagian besar orang membuka pintu maaf untuk orang lain yang bersilaturrahmi  dengan menyampaikan permohonan maaf. Pada waktu idul fitri, pintu-pintu maaf umumya dibuka manusia.

Dalam situasi pilpres, pileg, pilkada yang (seakan) terus menerus berlangsung di negara kita, banyak dosa-dosa yang didapat seseorang. Saat kita menyebar berita bohong sesungguhnya kita sedang memanen dosa. Moga-moga pintu-pintu hati yang terbuka saat idul fitri dapat dimanfaatkan untuk mendapat pengampunan dari orang lain yang secara sengaja atau tidak sengaja kita sakiti. Tentu saja kita juga perlu mengetuk pintu maaf di luar idul fitri.

 

Hati-hati dalam Bertindak

Salah satu masalah penting adalah bagaimana meminta maaf kepada seseorang yang  kita sudah tidak dapat menemuinya lagi, baik karena sudah meninggal dunia ataupun yang sudah tidak kita kenali lagi di mana keberadaannya? Urusan-urusan orang yang sudah meninggal sesungguhnya masih bisa diwakili oleh ahli warisnya. Dengan semangat menghindari panasnya api neraka, kita dapat mendatangi keluarga dari orang yang kita sakit demi mendapatkan pemaafan. Pemaafan dari mereka insyaallah akan membuat dosa-dosa kita berguguran.

Bagaiman mendapatkan pengampunan dari seseorang yang kita sakiti saat kita dalam perjalanan atau bepergian? Kita bahkan tak sempat mengenalnya, tapi kata-kata dan perbuatan yang menyakitkan mungkin sudah membuatnya marah, sakit hati, bahkan merusak kehidupannya. Beruntung kita kalau orangnya adalah pribadi yang pemaaf. Kita akan terbebas dari noktah hitam dan ancaman api neraka nanti. Bagaimana kalau orangnya tidak memaafkan sementara kita tidak berdaya untuk menemuinya karena sekadar namanya pun tidak kita ketahui?

Kondisi ini untuk mengingaktan kita agar kita tidak mudah menebar kejahatan atau keburukan kepada orang lain. Sebagai manusia kita diminta untuk berhati-hati. Berpikir sebelah bertindak dan berbicara. Karena ketidakhati-hatian atau kecerobohan dapat membuat status dosa kita tidak bergeser, tidak dapat dihapuskan.

Sekalipun demikian, sebagai manusia kita masih berharap dosa-dosa diampuni oleh-Nya. Ada sebuah ayat suci Al-Qur’an: Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik itu menghapuskan (dosa dari) perbuatan-perbuatan buruk (QS Hud: 114). Intinya dalah perbuatan baik dapat menghapus dosa-dosa atau kesalahan yang kita lakukan. Semoga pahala yang kita kumpulkan saat ramadhan ini (karenakan Allah melipathandakan pahala) dapat menghapus dosa-dosa kita kepada orang lain yang kita sakiti. Semoga pahala yang kita kumpulkan secara istikomah sepanjang kehidupan kita dapat menghapus dosa-dosa yang tidak bisa kita hapus dengan jalan peprtaubatan dan permohonan maaf.

Demikian. Wallahu a’lam bi ash-shawab.

Penulis : Dr. H. Fuad Nashori, S.Psi., M.Si., M.Ag., Psikolog

7 Manfaat Puasa dalam Tinjauan Psikologi

Oleh : Dr. H. Fuad Nashori, S.Psi., M.Si., M.Ag., Psikolog

 

Ayat suci al-Qur’an telah mengisyaratkan bahwa berpuasa adalah aktivitas yang telah menjadi ciri hidup manusia dari berbagai zaman. Tujuannya adalah agar manusia meningkat ketakwaannya (QS al-Baqarah <2>:183).

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,

Apabila kita bertakwa, maka sorga dijanjikan Allah azza wa jalla untuk kita. Hal ini sebagaimana difirmankan Allah (QS Ali Imran, 3: 15):

Katakanlah: “Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?”. Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.

Umumnya puasa dikaitkan dengan usaha untuk memenuhi perintah Tuhan. Dalam perkembangannya, puasa difungsikan bermacam-macam, di antaranya adalah untuk menurunkan berat badan, menjaga kesehatan, meningkatkan kecantikan, menyembuhkan penyakit psikologis, dan seterusnya. Tujuan dan tata cara puasa yang berbeda-beda tentu saja akan menghasilkan efek  yang berbeda.

Puasa yang akan kita bahas ini adalah puasa yang dituntunkan agama Islam. Bila kita melakukannya, maka akan hadir berbagai hal yang positif yang menyehatkan fisik kita, mental kita dan akan menghilang berbagai hal yang negatif yang dapat merusak atau mengganggu kesehatan mental kita. Beberapa di antaranya adalah (1) ketahanan fisik, (2) nilai dan pengalaman keagamaan, (3) nilai sosial, (4) kontrol diri, (5) kreativitas, (6) agresivitas, dan (7) perilaku seks.

Pertama: Puasa dan Ketahanan Fisik

Puasa adalah aktivitas jasadi, nafsani, dan ruhani. Tentang pengaruh puasa terhadap kesehatan (fisik) manusia, ada sebuah hadis dari Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah. Shuumuu tasihhuu. Berpuasalah maka engkau sehat.

Sebagaimana kita ketahui dan alami, seseorang yang berpuasa akan memulainya dengan sahur sebelum fajar dan berbuka puasa ketika matahari terbenam (saat maghrib tiba). Total waktu yang digunakan untuk berpuasa (di Indonesia) adalah sekitar 14 jam. Selama waktu tersebut orang yang berpuasa tidak melakukan aktivitas makan dan minum. Bagaimana efeknya terhadap fisik kita?

Defrizal Siregar dan Juriana (2005) meneliti kondisi fisik –khususnya glukosa darah—orang berpuasa yang melakukan aktivitas fisik dan orang berpuasa yang tidak melakukan aktivitas fisik. Penelitian ini melibatkan 30 (tiga puluh) orang mahasiswa sebagai sample, dengan pembagian 15 orang yang berpuasa dengan kerja fisik dan 15 orang yang berpuasa tanpa kerja fisik. Metode yang digunakan adalah metode eksperimen.

Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu (1) Data kadar glukosa darah yang berpuasa saja serta berpuasa ditambah kerja fisik dengan menggunakan alat bantu berupa alat pengecek glukosa darah (cobas mira) di laboratorium Somatokinetika Fakultas Ilmu Keolahragaan UNJ. Darah diambil dari pembuluh darah vena sejumlah 1 cc. (2) Waktu pengumpulan darah diambil sebanyak 3 kali, yaitu (a)  pada jam 05.00 =  pengambilan pertama, (b)  pada jam 16.00          =  pengambilan kedua, dan (c)  pada jam 16.20     = pengambilan ketiga. Bagi responden yang berpuasa dan kerja fisik diberikan treatment yaitu jogging selama 20 menit.

Dari hasil analisis dan uji hipotesis, diperoleh rata-rata kadar glukosa darah orang berpuasa dengan kerja fisik pada pukul 05.00 adalah 94,6 mg/dl, pada pukul 16.00 adalah 86.67 mg/dl. Dengan uji t diperoleh t-hitung = 3,979 yang berarti terdapat perbedaan yang signifikan antara kadar glukosa darah pada saat pukul 05.00 dengan pukul 16.00. Rata-rata kadar glukosa darah pada pukul 16.20 adalah 93,73 mg/dl. Pengujian hipotesis menggunakan uji t diperoleh t-hitung = 4,780 yang berarti terdapat perbedaan yang signifikan antara kadar glukosa darah pada saat pukul 16.00 – 16.20.

Sementara itu, rata-rata kadar glukosa darah orang berpuasa tanpa kerja fisik pada pukul 05.00 adalah 89,73 mg/dl sedangkan pada pukul 16.00 adalah 81.13 mg/dl. Pengujian hipotesis menggunakan uji t diperoleh t-hitung = 5, 098 berarti terdapat perbedaan yang signifikan antara kadar glukosa dara pada saat pukul 05.00 dengan pukul 16.00. Rata-rata kadar glukosa darah berpuasa tanpa kerja fisik pada pukul 16.20 adalah 83,27 mg/dl dan diperoleh t-hitung = -1,964 yang berarti tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kadar glukosa darah pada saat pukul 16.00 – 16.20.

Rata- rata selisih kadar glukosa darah berpuasa dengan kerja fisik adalah   -7,07, sedangkan berpuasa tanpa kerja fisik adalah -2,13. Pengujian hipotesis menggunakan uji t diperoleh t-hitung = 2,689 berarti terdapat perbedaan selisih kadar glukosa darah yang signifikan antara berpuasa dengan kerja fisik dengan berpuasa tanpa kerja fisik.

Beberapa kesimpulan yang dapat diperoleh berdasarkan analisis, yaitu (1) Terdapat pengaruh puasa terhadap kadar glukosa darah. Terjadi penurunan yang signifikan kadar glukosa darah pada pengukuran jam 05.00 ke pengukuran jam 16.00 dan (2) Terdapat perbedaan selisih kadar glukosa antara kelompok puasa dengan kerja fisik dan puasa tanpa kerja fisik.

Berdasarkan kesimpulan penelitian Defrizal Siregar dan Juriana (2005) ini, diketahui bahwa berpuasa dengan kerja fisik tidak memberikan pengaruh yang buruk terhadap kadar glukosa darah. Sebaliknya, berpuasa dengan kerja fisik tetap memberikan kestabilan pada kadar glukosa darah normal. Kerja fisik pada saat berpuasa akan menjaga daya tahan tubuh sehingga komposisi tubuh ideal yang kita inginkan dapat tercapai.

 

Kedua: Puasa Meningkatkan Nilai dan Pengalaman Keagamaan

Salah satu aspek penting puasa adalah nilai hidup. Menurut Eduard Spranger (Sumadi Suryabrata, 2011), nilai hidup yang berkembang dalam diri seseorang dipengaruhi oleh aktivitas latihan yang dilakukan orang tersebut. Nilai hidup sendiri, menurut Spranger adalah nilai keagamaan, nilai sosial, nilai teori, nilai estetika, nilai ekonomi, dan nilai politik.

Puasa ramadhan adalah aktivitas yang dapat mengembangkan nilai keagaman. Dalam tradisi beragama (Islam di Indonesia), setiap menjelang shalat tarawih dan sehabis shalat shubuh selalu diselenggarakan kajian keagamaan di masjid-masjid, di samping berbagai acara lain. Pengetahuan agama disampaikan secara massif dan intensif. Salah satu hal terpenting dalam pengetahuan agama adalah strategisnya posisi aktivitas di bulan ramadhan di mata Allah ’Azza wa jalla. Salah contoh penting adalah segala perbuatan baik manusia akan dilipatgandakan pahalanya. Ajaran yang menunjukkan hal tersebut adalah sebagai berikut:

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra: Rasulullah SAW bersabda, ”Sungguh telah datang kepadamu bulan yang penuh berkah, di mana Allah mewajibkan atas kamu berpuasa, di saat dibuka pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka, dan dibelenggu setan-setan, serta di mana dijumpai suatu malam yang nilainya lebih berharga dari seribu bulan.”

Pada intinya, pada waktu berpuasa, orang didorong untuk beribadah dan beramal yang sebanyak-banyaknya. Bila orang yang berpuasa melakukan upaya ibadah vertikal yang semakin intensif (seperti puasa, tarawih dan witir, shalat sunat, membaca al-Qur’an, mengaji, dsb) maka ia memperkuat nilai agama.

Selain itu, orang yang berpuasa dimungkinkan untuk mengalami berbagai pengalaman keagamaan. Pengalaman keagamaan digambarkan oleh William James (2004) sebagai ungkapan religius yang tertanam dalam relung sanubari terdalam masing-masing pribadi. Menurutnya, setiap manusia suatu saat niscaya mengalami hal-hal yang menggetarkan dan menakjubkan (trembling and fascinating) yang mungkin berlangsung sekejap atau lebih lama waktunya, disadari atau tidak.

Diungkapkan oleh Ancok dan Suroso (2011), pengalaman beragama dapat disejajarkan dengan ihsan dalam konsep Islam. Pengalaman keagamaan muncul setelah atau saat seseorang intensif melakukan ibadah dan amal sosial. Intensitas ibadah di bulan puasa, misalnya saat orang mengaji, berdzikir, dan melakukan muhasabah tiba-tiba muncul insight merasa dicerahkan oleh Tuhan. Hal ini diisyaratkan oleh sebuah hadis yang berbunyi:

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra dengan penambahan: ”Semua ibadah anak Adam adalah untuk dirinya sendiri kecuali puasa, (yang dilakukan) untuk-Ku, dan Aku akan memberinya pahala untuknya.” Ada dua kegembiraan untuk orang yang berpuasa: pertama pada saat berbuka (ifthar) puasa, dan kedua pada saat bertemu dengan Tuhannya; pada saat itulah ia akan menemukan keriangan dengan puasanya.”

Berdasarkan hadis di atas, dapatlah diketahui bahwa salah satu pengalaman yang mungkin diperoleh seseorang adalah pengalaman beragama berupa ”bertemu dengan Tuhan”. Sebuah contoh ungkapan yang disampaikan oleh seorang pengamal ramahan yang intensif adalah suatu muhasabah terhadap diri sendiri yang berupa ”apa yang bisa kita lakukan kepada orang tua kita”. Responden ini mengungkapkan bahwa puasa membuatnya duduk dan memperoleh suatu pencerahan bahwa orangtua kita boleh jadi telah meninggal dunia. Tidak ada daya yang dimiliki orang yang telah meninggal. Kita, anak-anaknya, masihkah melakukan usaha untuk membuat dosa-dosa mereka terhapus? Pernah kita mendatangi orang-orang yang pernah ada masalah dengan kita dan kita mintakan maaf dosa orangtua kita padanya?

Dari penjelasan ini, direkomendasikan agar bisa dilakukan penelitian dengan topik: pengaruh puasa terhadap pengalaman keberagamaan atau pengalaman beragama selama menjalani bulan puasa.

Ketiga: Puasa Meningkatkan Nilai Sosial

Di samping itu, pada waktu puasa seseorang dianjurkan untuk melakukan ibadah horisontal (memberi makan orang yang berpuasa, memberi infaq, menyerahkan zakat fitrah, menyerahkan zakat mal, mengganti ketidakmampuan berpuasa dengan fidyah, dan sebagainya), maka puasa akan meningkatkan nilai sosial. Rasulullah sendiri memberi contoh untuk beramal yang sebanyak-banyaknya kepada orang lain. ”Rasulullah SAW adalah orang yang paling dermawan, dan sifat dermawannya itu lebih menonjol pada bulan Ramadhan, yakni ketika ia ditemui malaikat Jibril” (HR Bukhari, dalam Sabiq, 2007). Suasana puasa yang mendorong orang untuk beramal bagi kesejahteraan dan kebaikan orang lain ini pada gilirannya akan menghidupkan nilai sosial.

Kekuatan puasa (ramadhan) dalam menghidupkan atau memperkuat nilai-nilai hidup sosial dan agama dicapai melalui proses pengulangan. Pengulangan yang terus menerus memberi bekasan yang relatif menetap dalam diri seseorang. Aktivitas beribadah dan beramal sosial akhirnya menguatkan nilai sosial dan nilai keagamaan seseorang.

Berdasarkan penjelasan di atas, disarankan bagi anda yang berminat untuk meneliti: perbedaan nilai hidup orang-orang Islam antara sebelum dan sesudah berpuasa ramadhan, hubungan puasa dengan intensi prososial, hubungan puasa dengan altruisme, dan sebagainya.

Keempat: Puasa Meningkatkan Kontrol Diri

Salah satu aspek terpenting dari puasa adalah kontrol diri.  Kontrol diri, menurut Calhoun dan Acocella (1990), adalah kemampuan individu untuk memandu, mengarahkan dan mengatur perilakunya dalam menghadapi stimulus sehingga menghasilkan akibat yang diinginkan dan menghindari hal yang tidak diinginkan. Seorang ahli psikologi agama bernama Bergin (1987) mengungkapkan bahwa orientasi religius intrinsik dapat memiliki konsekuensi positif, termasuk terhadap variabel kepribadian seperti kontrol diri, kecemasan, keyakinan irrasional, depresi, dan sifat yang lain. Apakah berpuasa adalah ungkapan orientasi religius intrinsik? Dapatkah puasa meningkatkan kontrol diri?

Ciri dari dari orientasi religius adalah setelah memeluk suatu keyakinan agama, mereka berusaha menginternalisasikan dan mengikuti ajaran agama secara penuh. Berbagai macam kebutuhan sedapat mungkin diintegrasikan dalam keselarasan dengan keyakinan dan ajaran agama (Allport & Ross, 1977). Puasa sendiri adalah perwujudan dari keyakinan seseorang terhadap Allah ’Azza wa jalla. Orang yang berpuasa waib seperti ramadhan menunjukkan maksud hatinya untuk selaras dengan keyakinan dan ajaran agama. Allah ’Azza wa jalla sendiri berfirman: ”Ia tidak makan dan minum dan meninggalkan nafsunya karena Aku. Puasa adalah untuk-Ku dan Akulah yang akan membalasnya dan setiap kebaikan akan dibalas sepuluh kali lipatnya.” (HR Bukhari, dalam Az-Zabidi, 2002)

Saat berpuasa, seseorang mengontrol diri dari berbagai macam keinginan, baik makan, minim, berhubungan seks, membicarakan orang lain, memaki, berkelahi, dan sebagainya. Beberapa ayat suci al-Qur’an dan al-Hadits yang menunjukkan hal tersebut adalah sebagai berikut.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra: Rasulullah SAW bersabda, ”Puasa adalah perisai (dari api neraka). Maka, orang yang berpuasa janganlah berhubungan badan dengan istrinya atau berbuat jahil, dan apabila seseorang memaki atau mengajak berkelahi, katakan kepadanya, ’Aku sedang berpuasa.’” Nabi SAW menambahkan, ”Demi Dia yang menggenggam jiwaku, bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau misk. (Dan inilah perkataan Allah terhadap orang-orang yang sedang berpuasa), ”Ia tidak akan makan dan minum dan meninggalkan nafsunya karena aku. Puasa adalah untuk-Ku dan Akulah yang akan membalasnya, dan setiap kebaikan akan dibalas 10 kali lipatnya.” (HR Bukhari, dalam Az-Zabidi, 2002).

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra: Rasulullah SAW bersabda, ”Siapapun yang tidak meninggalkan kata-kata dusta dan tindakan jahat (pada bulan radhan), Allah tidak membutuhkan puasanya.” (HR Bukhari, dalam Az-Zabidi, 2002).

Berdasarkan hadis di atas, diketahui bahwa puasa ramadhan melatih diri kita untuk bersabar, menahan diri dan mengendalikannya dari stimulasi makanan, minuman, dorongan seks, kemarahan, berdusta, memfitnah, melakukan sumpah palsu, berkata kotor, menggunjing, berbuat nista dan cela

Tentang bagaimana orientasi keagamaan intrinsik, khususnya berpuasa, berpengaruh terhadap kontrol diri, akan disampaikan dalam penjelasan berikut. Dalam kenyataan hidup, kadang-kadang mereka ditantang berkelahi atau menerima ucapan yang menyakitkan hati. Dalam situasi seperti ini, seseorang menerima stimulus yang mengancam yang berasal dari luar dirinya. Dalam situasi yang tidak terkontrol, seseorang boleh jadi akan meresponnya dengan mengatakan sesuatu yang menyakitkan orang yang menantangnya berkelahi. Dalam situasi yang tidak terkontrol, seseorang bisa jadi akan membalas ungkapan yang menyakitkan hati dengan balasan ucapan yang tidak kalah menyakitkan. Puasa melatih orang mengontrol diri dalam berbagai macam situasi. Menurut penulis, latihan selama sebulan atau lebih kurang 30 hari dapat mengubah seseorang lebih mampu mengendalikan diri. Proses latihan yang terus-menerus secara konsisten menghasilkan efek yang relatif menetap, yaitu kontrol diri.

Hasil penelitian Ghozali (2004) menunjukkan dukungannya terhadap pernyataan di atas. Ghozali menemukan bahwa intensitas berpuasa sunnat memiliki korelasi dengan kendali diri mahasiswa. Semakin intens berpuasa sunnah, semakin tinggi kendali dirinya. Menarik untuk diteliti lebih lanjut, apakah latihan puasa selama lebih kurang 30 hari secara empiris dapat meningkatkan kontrol diri.

Kelima: Puasa Meningkatkan Kreativitas

Berpuasa merupakan salah satu media untuk memperoleh ide yang brilian. Dalam penelitian yang pernah penulis lakukan, ada seorang kreator Muslim yang mempercayai bahwa di bulan ramadhan ia lebih mudah untuk mendapatkan ide-ide cemerlang. .. saat melakukan puasa, maka ide-ide itu bermunculan, demikian ungkapnya (Nashori, 2005). Menjadi pertanyaan, bagaimana keterkaitan puasa dengan kreativitas?

Hal yang paling pokok berkaitan dengan proses kreatif adalah menghasilkan ide yang sebaik dan secemerlang mungkin, baik berupa pemikiran, perilaku, maupun produk. Syarat utama untuk melakukan proses kreatif adalah memahami masalah secara mendalam. Cara yang ditempuh oleh kreator Muslim adalah dengan menambah wawasan tentang hal yang diminati, di antaranya adalah membaca, terutama buku, namun bisa juga majalah atau bacaan yang lain. Mereka juga menambah wawasan melalui diskusi dengan teman sejawat, keluarga, ahli, dan bahkan dengan orang-orang yang berseberangan pendapat. Boleh dikatakan bahwa aktivitas utama mereka adalah melakukan usaha secara sengaja untuk penambahan pemahaman atas suatu permasalahan yang mereka minati.

Hal lain yang juga dipandang sebagai cara untuk menghasilkan kreativitas tulisan adalah dengan mengamati dan terlibat secara langsung. Hal ini dilakukan dengan terlibat langsung atas aktivitas yang mereka minati atau sengaja terjuni, peka terhadap kejadian di depan mata, sengaja datang ke pusat kegiatan manusia. Pengamatan dan keterlibatan langsung menjadikan mereka lebih menghayati objek yang hendak mereka pelajari. Penghayatan yang intens atas objek menjadikan mereka mendalam dalam menuliskan ide-idenya.

Aktivitas membaca dan terlibat langsung inilah yang tampaknya memberi sumbangan terbesar pada proses kreatif penulis Muslim. Dapat dikatakan dengan dua aktivitas inilah, apalagi kalau keduanya dilakukan secara intensif, maka mereka memperoleh jalan untuk menghasilkan ide-ide kreatif.

Sebagaimana dikatakan oleh ahli-ahli teori kreativitas, setelah seseorang terlibat dalam suatu aktivitas, kadang berbagai permasalahan mereka hadapi. Sering ditemukan situasi mentok (inkubasi). Dalam situasi seperti ini yang dapat mereka lakukan adalah mengerjakan aktivitas yang berbeda dari aktivitas kreatif yang biasa merka lakukan. Tahap inkubasi akan disambut oleh tahap enlightment (pencerahan) saat kreator Muslim melakukan aktivitas lain. Dalam penelitian yang penulis (Nashori, 2005) lakukan ditemukan bahwa aktivitas lain itu bisa berupa melakukan aktivitas yang menyenangkan (seperti aktivitas bersama keluarga, membuat suasana atau datang dalam suasana baru, berkebun), tapi juga dalam bentuk beribadah kepada Allah ‘Azza wa jalla.

Aktivitas beribadah (berdoa, puasa, shalat sunnat) adalah aktivitas yang dipandang penting oleh kreator Muslim. Dalam situasi inkubasi, ide akan lebih mudah turun bila mereka berupaya menjolok turun ide itu dari pemiliknya, yang tak lain adalah Allah ‘Azza wa jalla. Kreator Muslim percaya sepenuhnya bahwa ide adalah milik Allah. Ide akan sampai ke otak kita bila melakukan usaha yang langsung berhubungan dengan Allah, seperti berdoa, shalat, dan berpuasa. Saat orang berpuasa, ia dalam keadaan berproses membersihkan jiwa mereka. Pembersihan jiwa sendiri dilakukan dengan memperbanyak amal baik (yang bisa menutupi dosa-dosa), taubat, istighfar, meminta ampunan kepada orang lain, serta bersalaman. Bersihnya jiwa mempermudah datangnya cahaya atau pengetahuan yang berasal dari Allah. Dengan kebersihan jiwa, maka  berbagai persoalan kreatif yang kita hadapi dalam kegiatan-kegiatan sehari-hari dapat ditemukan jawaban-jawaban penyelesaiannya.

Dalam suatu khotbah (Masjid Ulil Albab UII. Yogyakarta, 21 Oktober 2005) disampaikan suatu cerita tentang seorang profesor yang kreatif. Ia telah menulis berpuluh-puluh buku yang cemerlang di bidangnya. Yang menarik adalah apa yang membuatnya sedemikian kreatif. Tidak lain adalah saat ia mereasa lapar, karena puasa, ia lebih mudah memperoleh insight dan ilham, yang menjadi bahan bagi penulisannya.

Berdasarkan penjelasan di atas, menarik untuk dilakukan penelitian empiris: hubungan intensitas puasa dengan kreativitas.

Keenam: Puasa Menurunkan Agresivitas

Agresivitas adalah kecenderungan untuk melakukan perilaku menyakiti orang lain, baik secara fisik ataupun verbal (Baron & Byrne, 2004). Agresi dapat dikurangi atau diperbesar oleh faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal di antaranya adalah kesulitan hidup, rasa marah, dan sebagainya. Faktor eksternal di antaranya adalah provokasi dari orang lain, cuaca yang panas, adanya senjata, dan sebagainya.

Bila seseorang berpuasa, maka ia dilatih untuk mengendalikan diri. Sebuah hadis Nabi mengungkapkan bahwa salah satu yang semestinya dilakukan orang yang berpuasa adalah ”berpuasa berkata-kata yang menyakitkan”.

”Tidaklah berpuasa itu menahan diri dari makan dan minum, tetapi berpuasa itu adalah menahan diri dari perbuatan kosong dan perkataan keji. Maka jika kau dicaci orang atau diperbodohnya, hendaklah katakan: ’Saya berpuasa, saya berpuasa’.” (HR Ibnu Khuzaimah, dalam Sabiq, 2007).

Bila biasanya (di luar puasa) orang membalas ucapan yang kasar dengan ucapan yang sama atau lebih kasar, maka dengan puasa ia berusaha untuk mengendalikan diri. Pengendalian diri yang memiliki frekuensi tinggi ditambah dengan penghayatan yang lebih tinggi (misalnya menghayati bahwa sangatlah kasihan orang yang diejek atau dipermalukan) selama berpuasa akan menjadikan agresivitas atau kecenderungan untuk menyakiti orang lain berkurang.

Kecenderungan untuk menyakiti orang lain juga semakin berkurang dengan adanya aktivitas yang menyenangkan bagi orang lain. Selama berpuasa seseorang dilatih untuk memberi makan kepada orang lain untuk berbuka puasa, menyerahkan zakat mal dan zakat fitrah, memelihara silaturrahmi (beberapa di antaranya dikembangkan melalui acara berbuka puasa bersama), dan sebagainya. Semua hal di atas akan menumbuhkembangkan kepedulian kepada oramg lain.

Fakta-fakta yang berkembang dalam kehidupan sosial kita menunjukkan bahwa saat bulan puasa berbagai kekerasan dan agresivitas berkurang. Sebagai contoh, saat menjelang puasa artis yang hendak bercerai suka melontarkan agresivitas verbal yang menyakitkan, namun pada waktu bulan puasa sangat jarang yang mengungkapkan secara verbal dan terbuka yang berisi cacian atau makian kepada orang lain.

Dengan penjelasan di atas, disarankan agar bisa dilakukan penelitian psikologi yang dapat mengungkap pengaruh puasa terhadap penurunan agresivitas.

Ketujuh: Puasa Meningkatkan Pengendalian Perilaku Seks

Perilaku seks yang dilakukan manusia bermula dari melihat orang yang disayangi. Boleh jadi akan berlanjut ke aktivitas seksual yang sebenarnya: mulai dari berpegangan, berciuman pipi dan kening, berciuman bibir dan lidah, memegang daerah sensitif, hingga melakukan aktivitas intercourse. Dalam agama aktivitas seks yang sah hanya adalam lembaga pernikahan yang sah. (Ada lembaga pernikahan yang sah menurut konvensi internasional, tapi tidak sah menurut Islam yaitu sesama gay atau sesama lesbi).

Ketika manusia tumbuh dan masuk dalam fase baligh, dorongan seksual itu meningkat. Dorongan yang berasal dari dalam itu menguat terutama bila stimulus-stimulus yang berasal dari luar itu juga kuat. Contohnya adalah tontonan lawan jenis yang kelihatan daerah sensitifnya (seperti dada, betis, paha) atau melalui media seperti vcd, tv, dan seterusnya membangkitkan nafsu seseorang. Dalam situasi demikian, dapatkah puasa menurunkan dorongan seks?

Salah satu peran puasa adalah menurunkan dorongan seksual manusia, sekurang-kurangnya selama periode puasa. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh suatu hadits Nabi:

Diriwayatkan dari ’Alqamah: Ketika aku sedang berjalan bersama ) Abdullah ra, ia berkata, ”Kami sedang bersama Rasulullah SAW dan beliau bersabda, ’Laki-laki yang sudahmampu untuk menikah,maka meniahlah, sebab (menikah) akan menundukkan pandangannya dan memelihara kelaminnya; dan laki-laki yang belum sanggup menikah, maka beruasalah, karenan aku mengurangi nafsunya.”

 

Penjelasan yang dapat diberikan adalah nafsu yang berpusat di pertu dalamm keadaan berkurang dayanya. Nafsu sendiri berpusat di perut manusia. Istirahtnya perut manusia saat berpuasa menjadikan nafsu atau dorongan seks mengalami penurunan.

Berdasarkan penjelasan di atas, penulis merekomendasikan untuk melakukan penelitian hubungan antara puasa dan penurunan kecenderungan perilaku seks.

Demikian. Mohon maaf bila ada kekurangan dan kesalahan. Wallahu a’lam bi ash-shawab.

 

Daftar Pustaka

Allport, G.W.& Ross, M. (1977). Personal Religious Orientation and Prejudice. Dalam H.N. Malony (ed.), Current Perspectives in the The Psychology of Religion. Michigan: William B Eerdmans Publishing Co.

Ancok, D. & Suroso, F.N. (2011). Psikologi Islami: Solusi Islam atas Problem Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Az-Zabidi, I (ed.). (2002). Ringkasan Shahih Al-Bukhari. Bandung: Mizan.

Baron, R.A. & Byrne, D. (2004). Social Psychology. Boston: Allyn and Bacon.

Bergin, A.E. (1980). Religiousness and Mental health Reconsidered. Journal of Consulting Psychology, 34, 2, 95-105.

Calhoun, J.F. & Acocella, J.R. (1990). Psychology of Adjustment and Human Relationships. Third Edition. New York: McGraw-Hill.

Ghozali, A.  (2004). Hubungan antara Intensitas Berpuasa Sunnah dengan Kontrol Diri Remaja. Skripsi (tidak diterbitkan). Yogyakarta: Fakultas Psikologi UII.

James, W. (2004). Perjumpaan dengan Tuhan: Ragam Pengalaman Religius Manusia. Bandung: Mizan.

Munadhir. (2005). Seputar Kebiasaan Salah Kaprah Umat Islam dalam Menyambut Bulan Ramadhan. Buletin Al-Islamiyyah, November 2005.

Nashori, H. F. & Mucharam, R.D. (2002). Mengembangkan Kreativitas. Yogyakarta: PenerbIT Menara Kudus.

Nashori, H. F. (2005). Kiat-kiat Menjadi Penulis Muslim Kreatif. Yogyakarta: Quranic Media Pustaka.

Sabiq, S. (2007). Fikih Sunnah: Jilid 3. Bandung: Penerbit Al-Maarif.

Siregar, D. & Juriana. (2005). Glukosa Daran antara Berpuasa dengan Kerja Fisik dengan Berpuasa Tanpa Kerja Fisik. Dalam H. Fuad Nashori dkk (eds), Prosiding Temu Ilmiah Nasional Psikologi Islami I. Yogyakarta: PP API, Penerbit Insania Cit, dan Fakultas Psikologi UII.

Suryabrata, S. (2011). Psikologi Kepribadian. Jakarta: Rajawali Pers.

 

Penulis: Dr. H. Fuad Nashori, S.Psi., M.Si., M.Ag., Psikolog

(Dosen Prodi Psikologi FPSB UII)