Oleh: Dian Febriany Putri——

Tanpa disadari, di dalam kehidupan sehari-hari manusia senantiasa dihadapkan pada begitu banyak pilihan.  Sejak membuka mata saat bangun tidur hingga beranjak tidur kembali, sepanjang hari manusia baik sadar maupun tidak sadar mengambil keputusan atas banyaknya alternatif pilihan yang hadir.  Contoh sederhana saat ini yang mungkin kerap kita hadapi antara lain adalah ketika bangun tidur di pagi hari, seseorang akan memilih apakah akan langsung beranjak melaksanakan ibadah salat Subuh atau justru memeriksa telepon genggamnya terlebih dahulu untuk melihat pesan masuk. Kemudian ketika akan beranjak untuk beraktivitas, seseorang dapat memilih apakah akan langsung berangkat kerja, kuliah maupun sekolah atau sarapan terlebih dahulu. Sarapan apa yang dipilihnya, akan menggunakan moda apa untuk berangkat beraktivitas, kegiatan apa yang akan dilakukan setelah beraktivitas, dan seterusnya merupakan contoh sederhana bentuk alternatif pilihan dalam sekelumit kehidupan kita sehari-hari. Tidak hanya dalam situasi yang tengah atau kerap dijalani, dalam menyusun rencana ke depan pun, manusia kerap dihadapkan dengan begitu banyak alternatif. Hal apa yang akan dilakukan di akhir pekan, bagi yang akan melanjutkan pendidikan ke jenjang Pendidikan Tinggi apakah akan kuliah merantau atau tidak, bagi yang baru menikah apakah untuk memenuhi kebutuhan papannya akan membeli tanah terlebih dahulu atau membeli rumah jadi, dan lain sebagainya. Read more

Oleh: Dr. Faraz, MM—-

Pertama sekali dalam sejarah umat Islam Amerika menyelenggarakan sholat Tarawih Times Square New York, pada Ramadhan 2022 lalu. Pola syiar Islam baru dan menarik itu juga terjadi di Indonesia, yakni berupa sekelompok generasi muda yang membaca Al-Qurán di sepanjang jalan Malioboro. Fenomena ini sangat membahagiakan di tengah kondisi masyarakat yang dihantui permasalahan moral dan sosial, seperti kekerasan seksual, kecanduan narkoba dan kasus  “klitih” yang merupakan perilaku kekerasan di Yogyakarta. Namun, tidak semua orang menanggapinya secara positif. Read more

Oleh: Fenny Sri Rahayu —–

Perlunya konten dakwah di Media sosial

Di era milenial seperti saat ini, media sosial merupakan salah satu yang berpengaruh cukup besar terhadap perilaku manusia. Media sosial menjadi sarana penyampaian pesan, informasi serta menjadi ruang budaya baru, pada satu titik bahkan mampu menjadi penentu revolusi budaya dalam suatu masyarakat. Hal ini karena pemanfaatan media sosial yang bersinggungan dengan banyak aspek kehidupan, mulai dari menyampaikan maupun mendapatkan informasi, berita atau topik terkini (trending topic) tentang gaya hidup (lifestyle), kuliner, travelling, hiburan, promosi, dan lain sebagainya.

Sejalan dengan perkembangan media sosial yang semakin canggih, kehadiran media sosial menjadikan masyarakat cenderung sadar teknologi namun kurang sadar dengan etika serta akhlak bersosial media. Hal ini dikarenakan kurangnya konten yang dihadirkan pada media sosial yang bersifat positif dan berwawasan ilmu bermanfaat, selain itu karena kecanggihan media sosial juga tidak membatasi usia maupun tempat bagi konsumennya, asalkan jaringan internet maupun gadget yang mendukung. Beragam usia, mulai dari anak-anak hingga lansia pun dapat mengakses dengan mudah media sosial dimana pun mereka berada.

Informasi yang disampaikan dalam media sosial juga beragam, hal inilah yang menjadi salah satu sumber masalah, jika pemanfaatan media sosial tidak kita pilih terlebih dahulu, informasi yang terkadang tidak kita butuhkan bahkan bersifat negatif bisa muncul melalui beranda maupun timeline media sosial kita. Oleh karena itu, dakwah hadir memasuki masyarakat melalui media sosial yang saat ini banyak digandrungi masyarakat dengan tujuan mengajak untuk lebih memanfaatkan media sosial sebagai suatu wadah saling mengingatkan dalam kebaikan, menambah ilmu pengetahuan yang bermanfaat, dan menyampaikan informasi lainnya yang bersifat positif.

Agenda dakwah

Dakwah berasal dari bahasa Arab yang berarti ajakan atau seruan, sebagaimana frasa dalam bahasa Arab yang berarti “Menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran”. Islam mengajarkan dan menegaskan kepada kita untuk mengajak orang lain melakukan kebaikan.

Berdasarkan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surah Ali ‘Imran ayat 104:

وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِا لْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَاُ ولٰٓئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

 “Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

 Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an potongan surah Al-Maidah ayat 2:

وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَا لتَّقْوٰى ۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِ ثْمِ وَا لْعُدْوَا نِ ۖ وَا تَّقُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَا بِ…

“…Dan tolong-menolonglah kamu dalam (perbuatan) kebaikan dan ketakwaan, dan janganlah tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.”

 Berdakwah dengan media sosial merupakan sebuah inovasi dalam mengajak serta mengingatkan kembali untuk taat pada perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya melalui konten menarik dan informasi yang mudah dipahami. Ketika berdakwah melalui media sosial hendaknya berniat agar kebaikan yang kita lakukan dinilai hanya karena Allah SWT.

Media sosial yang saat ini sedang banyak digemari masyarakat salah satunya adalah Instagram. Instagram adalah media sosial berbasis gambar yang memberikan layanan berbagi foto atau video secara online. Banyak dari kita menjadikan Instagram sebagai media sosial yang menampilkan keseharian, mencetuskan gagasan atau ulasan, dan membagikan informasi lainnya dari diri kita. Dalam hal ini, jika kita menampilkan hal positif di Instagram, akan ada yang memberikan komentar baik, namun tetap tidak menutup kemungkinan akan ada yang berkomentar buruk terhadap kita. Saat kita menampilkan hal positif di Instagram, masih saja ada yang berkomentar tidak suka, apalagi jika kita menampilkan hal negatif, tentu akan lebih banyak lagi yang berkomentar buruk. Terkadang niat baik kita ketika ingin memberikan info yang bermanfaat dan positif di media sosial, belum tentu semua akan setuju dan menanggapi dengan positif hal tersebut.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surah Al-Hijr ayat 94:

فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَاَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِيْنَ

“Maka sampaikanlah olehmu (Muhammad) secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.”

Ayat ini menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW diperintahkan oleh Allah SWT untuk berdakwah dan mengajak orang lain berbuat kebajikan secara terang-terangan, dan berpaling dari orang-orang musyrik. Dalam konteks saat ini, kita dapat berdakwah dan mengajak pada kebaikan dengan cara memberikan ulasan atau gagasan yang positif di Facebook, menampilkan foto-foto di Instagram dengan konten menarik dan bermanfaat, atau menyampaikan ilmu bermanfaat dari channel YouTube kita. Kemudian menghiraukan komentar negatif dari orang lain jika kita tidak sanggup menerimanya atau bisa menganggapnya sebagai saran atau masukan agar kita lebih baik lagi kedepannya.

Dakwah yang disampaikan melalui media sosial tentunya memiliki banyak keuntungan bagi para pendakwah maupun para pengguna media sosial, salah satunya akses informasi yang bebas tanpa batasan waktu dan tempat, misalnya kita dapat melihat sebuah ulasan tentang keislaman dari sebuah akun Facebook dan Instagram dakwah yang sedang trend, tanpa harus membeli majalah di sebuah toko.  Contoh lainnya kita berada di Yogyakarta, dapat mendengarkan dakwah yang disampaikan oleh salah satu ustaz ternama yang sedang berada di Jakarta, melalui kanal YouTube secara siaran langsung bahkan siaran ulang saat kita memiliki waktu luang.

Fenomena saat ini banyaknya anak muda yang menjadi penggiat media sosial sebagai content creator maupun influencer dimana mereka berdakwah melalui konten yang menarik, persuasif, dan paling utama tetap berlandaskan Al-Qur’an juga hadis, hal ini menjadi salah satu faktor  membuat dakwah di media sosial menjadi hal yang kekinian terutama di kalangan anak muda.

Namun di sisi lain, media sosial juga memiliki dampak negatif bagi masyarakat. Salah satu contohnya ialah media sosial dapat dengan mudah ditiru dan disalahgunakan oleh para oknum yang tidak bertanggung jawab dan bertentangan dengan ajaran dakwah islamiyah. Kemudian dakwah melalui media sosial juga menimbulkan salah tafsir. Pemahaman yang didapat kemungkinan besar berbeda dengan maksud pesan yang sebenarnya dari Al-Qur’an dan hadis. Hal tersebut juga tidak terlepas dari peran media sosial yang hanya bersifat komunikasi satu arah. Sehingga apabila hal ini terus menerus berkelanjutan, maka dapat menghilangkan makna ajaran yang sesungguhnya. Adanya interaksi dalam dakwah menjadi hal yang penting bagi pendakwah dan masyarakat itu sendiri.

Strategi dakwah di media sosial

Berikut beberapa tips yang penulis dapat jelaskan dari Taufiq Affandi salah satu dosen Universitas Darussalam Gontor, beliau memberikan tujuh tips agar saat kita menyampaikan informasi pada media sosial menjadi media dakwah yang bermanfaat untuk diri sendiri maupun orang lain:

Pertama, selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT. Jangan sampai karena kita asyik di media sosial untuk niat berdakwah, kita sendiri lupa membangun kedekatan dengan Allah SWT. Sesibuk apapun di media sosial, hubungan dengan Allah SWT (Hablum minallah) harus tetap sejalan dengan hubungan sesama manusia (Hablum minannas) bahkan harus jauh lebih baik dan lebih dekat.

Kedua, memahami apa yang dibutuhkan masyarakat, jika kita dapat mengerti apa yang menjadi kebutuhan masyarakat saat ini, kita dapat menyampaikan dakwah yang sesuai dengan kebutuhan tersebut, dengan harapan informasi yang kita sampaikan merupakan dakwah positif yang mampu menjadi salah satu solusi terhadap kebutuhan juga masalah tersebut serta memberikan pandangan baru sesuai kaidahnya.

Ketiga, menetapkan tujuan yang jelas saat menyampaikan informasi, sehingga informasi yang disampaikan tepat sasaran, baik tepat untuk kalangan umur tertentu maupun tepat untuk solusi masalah tertentu.

Keempat, memperbanyak silaturahmi. Bersilaturahmi dengan banyak orang tentu akan memperbanyak ilmu dan wawasan kita, sehingga pesan dakwah kita akan lebih baik dan lebih luas jangkauannya.

Kelima, perbanyak membaca terutama kisah-kisah para ulama terdahulu, meskipun saat itu para ulama belum menggunakan media sosial untuk berdakwah, namun berbagai prinsip-prinsip utama dalam berdakwah ke masyarakat tetap sangat relevan.

Keenam, mulailah dari yang terdekat. Allah SWT telah menegaskan agar kita melindungi diri kita dan keluarga kita dari api neraka. Dakwah dengan media sosial seringkali membuat pesan kita terdengar oleh orang-orang yang berada di luar ruang lingkup kita, namun belum tentu informasi yang kita sampaikan terdengar oleh orang-orang terdekat kita. Maka baiknya mulailah berdakwah kebaikan kepada orang-orang yang terdekat dari kita, dengan cara yang beretika dan dengan ilmu yang mumpuni.

Ketujuh, bersabar. Ada banyak cobaan, tantangan, dan godaan dalam berdakwah dengan media sosial. Terkadang cobaan itu berbentuk sesuatu yang tidak menyenangkan seperti komentar yang tidak baik. Bersabarlah, jangan menyerah, ambil pelajaran, mintalah nasihat pada guru dan orang terdekat.

Selain dari tujuh tips yang sudah disampaikan, penulis menambahkan tips yang menurut penulis penting untuk diperhatikan, yaitu:

Memulai dari diri sendiri, bagaimana kita bisa mengingatkan kebaikan untuk orang lain, jika diri kita sendiri saja belum baik dalam memperbaiki diri, sehingga instropeksi diri sangat penting, sambil memperbaiki diri, kita juga sama-sama belajar dari dakwah yang akan disampaikan. Kemudian perbanyak belajar dan mendalami wawasan dari guru dengan penguasaan ilmu agama yang mumpuni sesuai kaidah Al-Qur’an dan hadis. Hal ini penting, karena berdakwah adalah menyebarluaskan ilmu, jika kita memiliki guru yang akan membantu dan membimbing kita untuk bisa berdakwah di ranah yang benar serta beretika baik di media sosial, dakwah yang akan kita sampaikan adalah ilmu bermanfaat, informasi yang positif, dan bukan hoaks.

Selain beberapa tips secara umum untuk berdakwah di sosial media yang telah dipaparkan diatas, penulis juga ingin menyampaikan lima tips berdakwah asyik di Instagram dari salah satu akun dakwah Instagram yang terkenal di kalangan anak muda dengan gaya kekiniannya, yaitu Pemuda Hijrah (@shiftmedia.id):

Pertama, penyampaian materi video berkenaan dengan motivasi dan nasihat kehidupan yang bisa lebih menyadarkan  informan.

Kedua, video-video pada akun Instagram Pemuda Hijrah, dimana Ustadz Hanan Attaki  yang menjadi pendakwah, menggunakan bahasa yang kekinian sehingga mudah dimengerti oleh informan.

Ketiga, ketika penyampaian materi berlangsung, Ustadz Hanan  Attaki  seperti turut hadir dan memposisikan diri menjadi penonton.

Keempat, karakteristik video akun Instagram Pemuda Hijrah yang bervisualisasi dengan media seperti materi yang  ditayangkan dengan teks, animasi, lagu, dan pemandangan indah, hal ini membuat audien lebih   tertarik menonton video akun Instagram Pemuda Hijrah dibandingkan dengan video dakwah  yang ada di akun Instagram lain.

Kelima, terdapat tampilan video realisasi pergerakan anak muda berupa aktivitas-aktivitas anak muda yang berhijrah yang membuat informan merasa  terpacu untuk berhijrah.

Dari beberapa tips di atas, tentu masih banyak lagi tips lainnya saat berdakwah di media sosial, namun yang paling penting adalah menjadikan media sosial sebagai media dakwah yang sesuai Al-Qur’an dan hadits serta beretika dalam menyebarkan kebaikan.

Maka dapat disimpulkan bahwa media sosial dapat digunakan sebagai media dakwah, karena mempermudah para pendakwah untuk berdakwah tanpa memikirkan batasan tempat dan waktu, akan tetapi para pendakwah harus tetap memperhatikan kaidah yang sifatnya persuasif dan positif sesuai Al-Qur’an serta ajaran Rasulullah SAW agar tidak terjadi pertentangan dan pandangan yang negatif tentang dakwah Islamiyah.

Oleh: Diana Rahma Qadari——-

“Takdirmu kok ngenes, rapopo wong kae ora beres. Saiki mulai golek liyane, gampang”.  Kalimat seputar putus cinta terdengar cukup keras dari percakapan dua perempuan di seberang meja saya di sebuah rumah makan. Seperti dugaan saya ketika kalimat itu diucapkan, salah satu perempuan yang wajahnya tertutup kedua punggung tangannya justru terisak lebih keras dari sebelumnya. Read more

Oleh: Muhammad Novvaliant Filsuf Tasaufi, S.Psi., M.Psi., Psi—-

Manusia yang terlena dengan kehidupan dunia seringkali menunjukkan perilaku yang melampaui batasnya. Seolah hidup hanya ada di dunia saja. Ada slogan yang cukup terkenal di dunia yakni “YOLO” atau yang bermakna “You Only Live Once” yang artinya hidup itu hanya sekali. Mereka tidak yakin bahkan tidak percaya dengan kehidupan setelah kematian. Yang mereka percayai, bahwa setelah kematian, manusia akan jadi tulang belulang dan debu. Efeknya adalah, banyak yang menggunakan slogan ini sebagai dasar untuk menikmati kehidupan dengan cara-cara yang semaunya sendiri karena merasa tidak akan ada hari pertanggungjawaban. Read more

Oleh: Dr. Ista Maharsi——

Internet has been owned by many people living on earth. It is a public domain where people are free to post, see, comment, copy, paste, and download in one way or another. Social media, as one form of social platform to connect with people around the world, can be used for good and bad acts. Therefore, we have the power to use them in whatever ways we want. However, we need to be fully aware of the consequences such as addiction, suspicion, envy, defamation, and social discord. When we use it incorrectly and inappropriately, massive destructive problems may emerge. Read more

OLeh : Ifa Zulkurnaini——

Overthinking sudah tidak asing lagi untuk diperdengarkan. Banyak kalangan, baik muda, tua, atau yang masih remaja turut menggunakan kata ini di kehidupan sehari-hari. Overthinking (lewah pikir) adalah kondisi menggunakan terlalu banyak waktu untuk memikirkan suatu hal dengan cara yang merugikan. Overthinking dapat berupa ruminasi dan rasa khawatir (Wirdatul Anisa, 2021). Ruminasi  sendiri merupakan kecenderungan untuk memikirkan suatu hal yang telah berlalu secara terus menerus. Sedangkan khawatir ialah kecenderungan untuk memikirkan sesuatu yang negatif. Read more

Oleh: Masitoh Nur Rohma (Dosen Hubungan Internasional UII) ——

Konsep dasar mengenai akidah erat kaitannya dengan tauhid atau pengesaan Tuhan. Akidah sendiri dapat diartikan sebagai keyakinan, ikatan antara manusia dengan Tuhan (Allah). Oleh karena itu, konsep akidah tidak dapat dilepaskan dari fitrah manusia untuk beragama. Akidah sebagai pondasi dalam menjalani kehidupan menghadapi tantangan berupa modernitas. Tulisan ini membahas tentang urgensi memperkuat akidah di tengah modernitas dengan mengeksplorasi butir-butir tantangan yang muncul akibat modernisasi. Read more

Oleh : Lifthya Ahadiati Akmala (Dosen Prodi Psikologi FPSB UII) —-

Perdebatan antara boleh atau tidaknya perempuan untuk memegang peran pemimpin dalam sebuah organisasi, perusahaan, ataupun negara telah menjadi pembahasan panjang dalam berbagai forum kajian mulai dari perspektif tata negara hingga keagamaan. Pertanyaan mendasar yang kemudian seringkali memancing diskusi mengenai posisi perempuan dalam puncak manajerial adalah mampu atau tidaknya perempuan sebagai individu untuk mampu mengelola suatu organisasi atau lembaga dengan segala dinamikanya. Read more

Oleh : Dwi Pranita——

Berbakti kepada anak.  Kalimat ini sepertinya terdengar aneh di telinga sebagian orang, karena biasanya yang sering kita dengar adalah seorang anak yang berbakti kepada orang tuanya. Bukan orangtua yang berbakti kepada anaknya. Perlu kita ketahui bahwa seorang anak merupakan titipan dari Allah subhanahu wa ta’ala yang harus kita jaga. Titipan di sini berarti bahwa anak sebenarnya merupakan pinjaman dari Allah yang dipinjamkan dalam keadaan baik dan tanpa noda maka dari itu harus kembali dalam keadaan yang baik juga. Hal ini selaras dengan yang disampaikan oleh Rasulullah Saw dalam hadis riwayat Bukhari-Muslim bahwa “Setiap anak dilahirkan dalam kondisi fitrah, kecuali orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi”. Dari hadis tersebut, maka dapat diketahui bahwa orangtua mempunyai peranan yang sangat penting dalam menjadikan anaknya baik atau tidak. Jika orangtuanya berhasil mendidik anaknya dengan baik maka akan membawa kebaikan tersendiri pula bagi orangtuanya, namun jika orangtuanya tidak mendidik dengan baik maka akan membawa keburukan sendiri bagi orangtuanya. Read more