Oleh : Narayana Mahendra Prastya, S.Sos., MA—

Beberapa tahun silam, Lembaga Penelitian Indonesia (LIPI) merilis temuan bahwa masyarakat di daerah yang kental dengan nuansa agama rentan termakan hoaks. Seperti diberitakan Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara, daerah yang memiliki afiliasi dengan Islam politik memiliki tingkat penerimaan informasi hoaks yang tinggi[i]. Tentu temuan LIPI ini perlu menjadi perhatian kita selaku umat Islam, karena mengindikasikan orang Islam mudah termakan hoaks atau berita bohong.

Penyebaran hoaks seringkali dikaitkan dengan perkembangan teknologi internet, di mana berkat adanya internet membuat siapa pun bisa bersuara, bisa menyampaikan pendapatnya. Jika sebelum ada internet sumber informasi masyarakat hanya dari media massa konvensional seperti televisi, radio, surat kabar, atau portal berita online, maka di era internet dan media sosial siapa pun bisa memnjadi sumber informasi. Yang perlu diwaspadai adalah “kategori” siapa pun ini begitu luas : mulai dari orang yang memiliki ilmu yang cukup untuk memberikan informasi tentang suatu hal, orang yang memiliki kewenangan untuk menyampaikan hal terkait permasalahan tertentu, hingga orang yang sebenarnya tidak tahu apa-apa tapi ingin eksis di internet (istilah populer-nya adalah “panjat sosial”), hingga pihak-pihak yang memang memiliki niat jahat sehingga dengan sengaja menyebarkan informasi yang salah. Untuk yang disebut terakhir, biasanya mereka bersembunyi dengan menggunakan akun anonim, tidak menggunakan nama asli mereka.

Tidak jarang hoaks di Indonesia dikaitkan dengan agama, termasuk juga Islam. Perkembangan teknologi komunikasi menjadikan media tersebut sumber utama bagi gagasan-gagasan religius, secara umum sebagai “agama banal”. Mengutip dari Hjarvard (2008), “agama banal” ini merupakan istilah bagi interpretasi keagamaan yang belum terverifikasi. Ketika internet memungkinkan siapa pun berbiara tentang fatwa keagamaan, maka standar baku agama menjadi kabur. Di Indonesia, gagasan-gagasan terkait Islam yang tersebar di dunia maya dipopulerkan oleh mereka yang tidak memiliki latar belakang studi Islam. Tujuan dari penyebaran ide tersebut adalah mengontrol politik Indonesia, menggantikan dasar negara, dan memberikan stigma pada kelompok yang berbeda. “Agama Banal” menjadi semakin diterima karena di era pascakebenaran (post truth), faktor-faktor emosional seringkali menjadi lebih penting daripada fakta, bukti, atau pun kebenaran itu sendiri[ii].

Di satu sisi penyebar informasi yang keliru – entah itu karena ketidaktahuan atau memang punya niat buruk sehingga sengaja menyebarkannya – memang salah. Tetapi di sisi lain, hoaks menjadi semakin subur karena ada yang mempercayai – dan repotnya lagi, jumlahnya yang percaya itu juga tidak bisa dibilang sedikit. Persoalannya, mengapa orang jadi mudah percaya? Jawabannya sekali lagi adalah karena internet. Teknologi ini telah memberikan orang kebebasan untuk memilih informasi. Jika dahulu ketika masyarakat hanya bisa menerima informasi yang disajikan kantor-kantor berita, maka saat ini masyarakat bisa mencari informasi. Repotnya, orang mencari informasi sebenarnya tidak sekadar ingin memuaskan rasa ingin tahu, tetapi juga memperkuat cara pandang dia terhadap sesuatu hal. Kondisi ini membuat orang menjadi tidak lagi mempertimbangkan kredibilitas sumber informasi, tetapi yang terpenting adalah informasinya sesuai dengan cara pandang dan ideologinya[iii]

 

Status “Resmi” ternyata Tidak Cukup

Cukup banyak artikel ilmiah populer, tulisan kajian ilmiah, pendapat para tokoh, yang menyatakan ayat-ayat Al Quran dan ajaran Islam yang sebenarnya sangat mengharamkan untuk mempercayai, apalagi menyebarkan informasi yang keliru. Selain itu, kalimat yang populer dalam beberapa tahun terakhir adalah “tabayyun” terhadap segala informasi yang diterima dari media sosial.

Pertanyaan selanjutnya, kepada siapa ber-tabayyun? Jawabannya adalah kepada informasi dari organisasi yang resmi seperti Lembaga pemerintah, organisasi non-pemerintah yang resmi, dan/atau media massa. Mengapa ? Karena informasi yang disampaikan oleh organisasi resmi pasti memiliki data yang kuat dan disampaikan oleh narasumber yang kredibel. Untuk saat ini, akses informasi ke Lembaga pemerintah atau organisasi non-pemerintah relatif cukup mudah, karena masing-masing Lembaga itu sudah memiliki situsweb resmi dan akun media sosial resmi. Informasi yang diberikan pun tidak sekadar satu arah. Masyarakat bisa menanyakan sesuatu dengan cara me-mention akun Lembaga yang dikehendaki

Sementara untuk media massa   penyajian informasi telah melalui beberapa tahap mulai dari verifikasi informasi dan meminta konfirmasi dari pihak-pihak yang berkepentingan, sebelum akhirnya disampaikan kepada masyarakat. Selain itu, dalam operasionalnya media massa terikat oleh kode etik profesi jurnalistik yang menekankan pentingnya objektivitas. Dengan begini, kualitas informasi pada media massa bisa dianggap lebih baik daripada sekadar informasi yang diedarkan oleh sumber yang tidak jelas dan tidak kredibel di media sosial.

Allah sudah memerintahkan bagi umat Islam untuk menanyakan pada sumber resmi ketika ada informasi yang meragukan datang, terlebih lagi jika informasi tersebut dapat menimbulkan kepanikan. Hal tersebut terdapat pada Al Quran surat An-Nisa ayat 83, di mana sumber resmi disebut sebagai Rasul dan Ulil Amri. Selengkapnya adalah sebagai berikut :

 

وَاِذَا جَاۤءَهُمْ اَمْرٌ مِّنَ الْاَمْنِ اَوِ الْخَوْفِ اَذَاعُوْا بِهٖ ۗ وَلَوْ رَدُّوْهُ اِلَى الرَّسُوْلِ وَاِلٰٓى اُولِى الْاَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِيْنَ يَسْتَنْۢبِطُوْنَهٗ مِنْهُمْ ۗ وَلَوْلَا فَضْلُ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهٗ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطٰنَ اِلَّا قَلِيْلًا

Dan apabila sampai kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka (langsung) menyiarkannya. (Padahal) apabila mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya (secara resmi) dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Sekiranya bukan karena karunia dan rahmat Allah kepadamu, tentulah kamu mengikuti setan, kecuali sebagian kecil saja (di antara kamu

Faktanya, label “resmi” tidak 100 persen menjamin masyarakat akan berminat mengakses informasi dari Lembaga pemerintah, lembaga resmi non-pemerintah, atau pun media massa. Survei yang dilakukan pada periode awal masuknya Covid-19 ke Indonesia (Maret – Mei 2020) terhadap 18.743 responden se-Indonesia menunjiukkan saluran informasi resmi tentang kebijakan keagamaan dalam kaitan penanganan Covid-19, sangat jarang dilirik responden. Data menunjukkan kebanyakan responden (45,68%) tidak pernah mengakses WhatsApp Center Kemenag Sigap Covid-19, dan 24,74% menyatakan jarang[iv]

Status “resmi” tidak membuat organisasi-organisasi tersebut lepas dari kekurangan seperti blunder[v]  dalam komunikasi krisis pemerintah Indonesia di masa awal pandemic Covid-19 atau media massa yang dipandang “memiliki sejumlah kepentingan di balik pemberitaannya”[vi]. Kekurangan tersebut dapat menurunkan tingkat kepercayaan masyarakat. Tentu saja ini merupakan pekerjaan rumah bagi para sumber resmi tersebut.

Namun hanya menuntut sumber informasi resmi memperbaiki diri juga kurang adil. Masyarakat umum sebagai pengguna informasi juga dituntut untuk lebih kritis dalam menerima dan menyebarkan informasi. Jangan sekadar memprioritaskan informasi yang sesuai dengan cara pandang diri sendiri, tetapi perlu juga kritis terhadap sumber informasi. Selain itu perlu juga lebih ikhlas ketika informasi dari sumber resmi berbeda dengan cara pandang diri sendiri. Terlepas dari segala kekurangan yang ditunjukkan oleh sumber-sumber informasi resmi, setidaknya informasi dari sumber resmi lebih kredibel dan lebih bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya dibandingkan dengan informasi (terlihat) meyakinkan yang disebarikan sumber anonim.

Sebagai pengingat, pada Al Quran Allah telah banyak mengingatkan tentang perlunya teliti terhadap informasi, serta ancaman hukuman terhadap mereka yang menyebarkan berita bohong. Sebagai penutup, mungkin yang terdapat pada Surat An-Nur (QS.24) ayat 15-17 ini bisa menjadi bahan bagi renungan kita semua, di mana Allah mengingatkan jika seseorang tersebut memang benar-benar beriman, maka dia akan berhenti menyebarkan berita bohong :

 

إِذْ تَلَقَّوْنَهٗ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُوْلُوْنَ بِأَفْوَاهِكُمْ مَا لَيْسَ لَكُمْ بِهٖ عِلْمٌ وَّتَحْسَبُوْنَهٗ هَيِّنًاۙ وَهُوَ عِنْدَ اللّٰهِ عَظِيْمٌ ۚ١٥

Ayat 15. (Ingatlah) ketika kamu menerima (berita bohong) itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit pun, dan kamu menganggapnya remeh, padahal dalam pandangan Allah itu soal besar.

 

وَلَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوْهُ قُلْتُمْ مَّا يَكُوْنُ لَنَا أَنْ نَّتَكَلَّمَ بِهٰذَاۖ سُبْحٰنَكَ هٰذَا بُهْتَانٌ عَظِيْمٌ     ١٦

Ayat 16. Dan mengapa kamu tidak berkata ketika mendengarnya, “Tidak pantas bagi kita membicarakan ini. Mahasuci Engkau, ini adalah kebohongan yang besar.”

 

يَعِظُكُمُ اللّٰهُ أَنْ تَعُوْدُوْا لِمِثْلِهٖ أَبَدًا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِيْنَ ۚ١٧

Ayat 17. Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali mengulangi seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang beriman,

 

Semoga bermanfaat. Wallahualam Bissawab

REFERENSI

 

[i] “Tiga daerah dengan tingkat penerimaan hoaks tinggi menurut survei LIPI”. Antaranews.com, tanggal publikasi 18 Januari 2019. Tautan : https://www.antaranews.com/berita/789119/tiga-daerah-dengan-tingkat-penerimaan-hoaks-tinggi-menurut-survei-lipi

[ii] Al-Zaman, Md Sayeed; Alimi, Moh Yasir. 2021. “Islam, Religious Confrontation and Hoaxes in the Digital Public Sphere: Comparison of Bangladesh and Indonesia”. Komunitas: International Journal of Indonesian Society and Culture, Vol.13, No.2, hal.198

[iii] Rianto, Puji. 2016. “Media Baru, Visi Khalayak Aktif, dan Urgensi Literasi Media” Jurnal Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia , Vol.1, No.2, hal 94-95

[iv] Ruhana, Akmal Salim & Burhani, Haris. 2020. “Pengetahuan, Sikap, dan Tindakan Umat Beragama Menghadapi Covid-19”. Tanggal publikasi 13 Mei 2020. Tautan : https://simlitbangdiklat.kemenag.go.id/simlitbang/spdata/upload/dokumen-penelitian/1592454380Laporan_UmatVSCovid_.pdf

[v] Masduki. 2020. “Blunders of Government Communication: The Political Economy of COVID-19 Communication Policy in Indonesia” Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Poliitk Vol.24, No.2

[vi] Dewa Broto, Gatot S. 2014. The PR : Tantangan Public Relations di Era Keterbukaan Informasi. Jakarta: Gramedia, hal.6

 

REFERENSI

 

[1] “Tiga daerah dengan tingkat penerimaan hoaks tinggi menurut survei LIPI”. Antaranews.com, tanggal publikasi 18 Januari 2019. Tautan : https://www.antaranews.com/berita/789119/tiga-daerah-dengan-tingkat-penerimaan-hoaks-tinggi-menurut-survei-lipi

[1] Al-Zaman, Md Sayeed; Alimi, Moh Yasir. 2021. “Islam, Religious Confrontation and Hoaxes in the Digital Public Sphere: Comparison of Bangladesh and Indonesia”. Komunitas: International Journal of Indonesian Society and Culture, Vol.13, No.2, hal.198

[1] Rianto, Puji. 2016. “Media Baru, Visi Khalayak Aktif, dan Urgensi Literasi Media” Jurnal Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia , Vol.1, No.2, hal 94-95

[1] Ruhana, Akmal Salim & Burhani, Haris. 2020. “Pengetahuan, Sikap, dan Tindakan Umat Beragama Menghadapi Covid-19”. Tanggal publikasi 13 Mei 2020. Tautan : https://simlitbangdiklat.kemenag.go.id/simlitbang/spdata/upload/dokumen-penelitian/1592454380Laporan_UmatVSCovid_.pdf

[1] Masduki. 2020. “Blunders of Government Communication: The Political Economy of COVID-19 Communication Policy in Indonesia” Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Poliitk Vol.24, No.2

[1] Dewa Broto, Gatot S. 2014. The PR : Tantangan Public Relations di Era Keterbukaan Informasi. Jakarta: Gramedia, hal.6

Ahmad Kholikul Khoir (Mahasiswa FPSB UII)—

“Tobat menghasilkan kesehatan mental, sedangkan kebersihan lahiriah membuahkan kesehatan fisik,” begitu tulis Shihab (2017) dalam bukunya Wawasan Alqur’an. Kalimat itu ditulis sebagai komentar dan/atau penjelasan atas surat Albaqarah ayat 222. Lebih lanjut, dalam tafsirnya Almisbah, Qurais Shihab menambahkan, bahwa kewarasan mental itu hadir karena “taubat adalah menyucikan diri dari kotoran batin,” (Shihab, 2005). Read more

OLeh : Dr. Ista Maharsi, S.S., M.Hum—-

Not one person in this world has never experienced difficulties in life and in one moment throughout our life we may be in the lowest and the worst condition that we have never imagined. Everyone is indeed tested by Allah in so many forms of both happiness and sadness, shortage and abundance as mentioned in the Qur’an Surah Al Baqarah Verse 155-157.

 

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

 

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

 

أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

 

We will certainly test you with some fear and hunger, and some loss of possessions and lives and crops. But give good news to the steadfast (Al Baqarah: 155)

Those who, when a calamity afflicts them, say, “To God we belong, and to Him we will return.” (Al Baqarah: 156)

Upon these are blessings and mercy from their Lord. These are the guided ones (Al Baqarah: 157)

The verse reminds us that anyone, whoever he/she is, even the Prophets are tested by Allah SWT. Such tests indicate how Allah pay attention and want us to be stronger and sustaining in this life. When we can get through all the difficulties and hurdles, Allah will give us good news because we have been patient and resilient in facing all the tests. The good news is given as blessings and mercy from Allah SWT. However, some people may think that the tests are too difficult for them, too hard to handle. This kind of assumption is misleading as Allah SWT tests people because they can bear them. This is mentioned in the Qur’an Al Baqarah: 286).

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۚ أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

God does not burden any soul beyond its capacity. To its credit is what it earns, and against it is what it commits. “Our Lord, do not condemn us if we forget or make a mistake. Our Lord, do not burden us as You have burdened those before us. Our Lord, do not burden us with more than we have strength to bear; and pardon us, and forgive us, and have mercy on us. You are our Lord and Master, so help us against the disbelieving people.” (Al Baqarah: 286)

Even though Allah has confirmed that He does not burden human beings with something that they can not carry, we at times feel that we can not bear any longer. When we feel that everything seems to get worse and even the universe does not seem to support us, we may feel so desperate. When there seems no way out, we may feel so tired. We feel so tired of the complex problems at home, offices, families, even societies. We may feel we will not get over them and seem like the sky is falling down and the Earth becomes narrower and crushing. At this moment, we may think of stopping and not trying anymore. We may surrender, but no…it is not the time to surrender yet.

Let’s think again, clearly and mindfully, as Believers and Moslems. Let this be a self-help and things to ponder.

This life is just temporary. There will certainly another life which is more eternal. If we feel tired, isn’t it this world a place where we have to work and prepare for our future? The future life which is more promising, everlasting, and joyful should not be traded with something fake, temporary, unstable, and sorrowful sometimes. This world is where we have to keep saving goodness for our next life. It is the time when we need to do the compulsory and the voluntary worshipping. It is the time when we have to make everything that we do our saving because of and for Allah SWT. This world is the place where we should make our work, struggles, actions, eating, walking, resting, even breathing becomes valuable saving for our future life. Our hard work, sweat, tears, fatigue, should be turned into Allah SWT blessings and never do those go without meanings.

How, then, should we face all the tests and fatigue in this life? Here are several advices:

  1. Accept the tests with an open heart

The first thing that we need to do when we are tested is by accepting it. Whatever the kind of tests they are, simply accept them and believe that those tests are the ways to achieve higher levels of faith quality. Students at schools need to pass the exam if they want to level up. Tests given by teachers are those within the students’ competence. In the same way, the tests given by Allah are certainly not the tests beyond our levels that are impossible to be answered. Allah gives us the tests because He knows that we can finish the tests well. Besides, He also wants us to become stronger and get more blessings from Allah SWT.

  1. Limitless patience and keep doing good deeds

While we are doing the tests, patience is the key and it has no limit. Patience does not mean to do nothing. Even, patience is viewed as half of faith because patience is the confirmation of principles of religion and that the origin of faith is from knowledge and good deeds. According to Al Ghazali, there are two kinds of patience: patience over physical pains and at inclination of evil (Ihya Ulumuddin, page 64). For those who are patience and do not stop from doing good deeds are rewarded by Allah SWT as mentioned in the Qur’an Surah Az-Zumar, Verse 10.

قُلْ يَا عِبَادِ الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗ وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌ ۗ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Say, “O My devotees who have believed, keep your duty to your Lord. For those who do good in this world, is goodness. And God’s earth is vast. The steadfast will be paid their wages in full, without reckoning.” (Az-Zumar, 10)

  1. If you feel tired, have a rest for a while

It is fine sometimes to take a rest, releasing all burdens and problems. Spending several days for thinking, reflecting, evaluating, and having intensive communication with Allah SWT may be of great help. Repositioning the aim of doing things in life and regaining beliefs about Allah’s Limitless Power may give us strength to continue our struggle. Or else, seeking advice from Ustadz and good Moslem friends can also be beneficial.

  1. Ikhitar (trying) is a never-ending action

Efforts are everything that Moslems do as the implementation of faith and evidence of their beliefs of rewards given after life. Efforts are obligatory as long as a Moslem lives. These efforts, regardless of the success or failure, are counted as ibadah or good deeds. In this case, process is viewed as more important than the results because the results are within the Power of Allah and His Privilege.

Allah has mentioned in the Qur’an Surah An-Najm 39-42:

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَ

وَأَنَّ سَعْيَهُ سَوْفَ يُرَىٰ

ثُمَّ يُجْزَاهُ الْجَزَاءَ الْأَوْفَىٰ

وَأَنَّ إِلَىٰ رَبِّكَ الْمُنْتَهَ

And that the human being attains only what he strives for (An-Najm: 39)

And that his efforts will be witnessed (An-Najm: 40)

Then he will be rewarded for it the fullest reward (An-Najm: 41)

And that to your Lord is the finality (An-Najm: 42)

  1. If you want to stop, does it mean you want to go back home (to Allah SWT)?

Bearing all those hardness, do we surrender? Are we ready to give up and go back to Allah because we do not want to try again? It is not an easy thing to answer such a question as we may always answer that we are not ready yet. However, it is not merely about readiness to return to Allah, it is about our duties to accept Allah’s tests and how to gain His blessings upon what we do to the tests.

To sum up, for human beings feeling tired or want to give up may be a normal situation. However, as Moslems we need to act complying with what Allah SWT has guided us. Accepting tests of life and being patient throughout the tests are never easy. Therefore, those who have succeeded in performing them will get blessings and rewards from Allah SWT. Getting a test is not an option, but performing it in the best way that we could is the rightest decision. Allah is the best of Helpers and to Him we shall ask for help.

Wallahu’alam bisshowab.

 

Oleh : Dr. H. Fuad Nashori, S.Psi., M.Si., M.Ag., Psikolog—

Pensil yang pendek lebih berguna daripada memori yang panjang

Begitu bunyi status facebook yang ditulis oleh Refiana Said, teman lama saya yang sudah lama tak bertemu. Seorang teman Refiana yang bernama Erick Sinaga memberi komentar: “Tentu … walau pensil itu pendek, namun bisa digunakan untuk menulis, berbagi atau menyampaikan isi hati atau pengalaman hidup pengguna/pemilik pensil. Sementara memori yang panjang hanya disimpan dan diamankan oleh pemilik memori itu sendiri...”

Saya kira apa yang kita lihat, baca, dengar lalu tersimpan dalam ingatan kita tidak banyak berguna kalau hanya tersimpan dalam diri kita. Kekuatan pengetahuan dan pengalaman itu baru terasa ketika kita mengungkapkannya lalu dibaca orang lain. Tentu harus diungkapkan dengan cara tertentu, yang berurutan dan menarik. Nanti apa yang kita ungkapkan itu akan menjadi “emas” yang berguna, yang menjadi sumber teladan dan inspirasi yang memberi pengaruh kepada dunia.

Pengungkapan pengetahuan atau pengalaman itu dapat kita sampaikan secara lisan dan secara tertulis. Ketika kita sampaikan secara lisan, hanya satu dua atau sejumlah kecil orang di sekitar kita yang dapat mendengarkannya dan mengambil manfaat darinya. Beruntung kalau profesi kita adalah public speaker, yaitu orang yang banyak bicara di depan banyak orang seperti guru, dosen, ustaz, kyai, motivator, pelatih. Mungkin ada belasan, puluhan, ratusan, bahkan ribuan orang yang berkesempatan untuk memperoleh manfaat dari cerita kita. Sayangnya profesi ini minoritas dibanding profesi yang lain. Beruntung lagi kalau kita adalah narasumber di radio atau televisi. Akan tetapi, sangat sedikit di antara kita yang memperoleh kesempatan menjadi narasumber di media massa yang memang massif seperti radio dan televisi.

Sekarang ini media sosial memberikan peluang kepada kita untuk berbicara kepada ratusan, ribuan, puluhan ribu orang, bahkan jutaan orang. Melalui twitter, instagram, facebook, tik tok, dan beragam media sosial lainnya, kita dapat berbagi pengetahuan atau pengalaman secara real time. Seberapa banyak yang dapat menikmatinya sangat tergantung kepada follower yang kita miliki. Semakin banyak follower semakin banyak pihak yang dapat mengambil manfaat dari apa yang kita tulis. Komunikasi melalui medsos ini sebagian di antaranya tetap mengandalkan kemampuan menulis ketika kita hendak mengekspresikan diri kepada banyak orang.

Tulisan Lebih Abadi

Berbeda dengan ungkapan lisan langsung yang setelah kita dengar akan hilang dan tidak dapat dicek lagi oleh orang lain, tulisan-tulisan di media massa (buku, koran, majalah, dsb) dan media sosial lebih abadi. Bisa dibaca di lain kesempatan. Kita juga bisa meminta orang lain mengkonfirmasi isinya, karena isi tulisan dicek di berbagai kesempatan.

Buku adalah jenis tulisan yang tingkat keabadiannya paling meyakinkan. Sampai sekarang kita masih menikmati tulisan-tulisan ulama terkenal seperti Imam al-Ghazali, Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Ibnu Taimiyah, Ibnu Miskawaih, Ibnu Araby, Ibnu Khaldun, Ibnu Sina, dan seterusanya. Kita juga dapat menikmati pemikiran-pemikiran filsafat Yunani kuno dari Aristoteles, Plato, Socrates, Phytagoras yang hidup beberapa abad sebelum masehi (7 Filsuf Yunani Populer Sebelum Masehi, Masih Dikenang Terus (idntimes.com).

Buku bisa bertahan lama bahkan hingga ribuan tahun karena umumnya buku ditulis lebih serius dibanding penulisan naskah-naskah yang lebih pendek. Melalui buku, argumen-argumen ditulis secara baik dan mendalam. Ini berbeda dengan tulisan yang pendek seperti artikel yang sedang anda baca ini. Buku Ihya Ulumuddin karya Imam al-Ghazali adalah contoh buku yang ditulis secara baik dan mendalam yang tetap menjadi bacaan penting umat Islam di seluruh dunia setelah dinikmati berbagai kalangan selama hampir seribu tahun. Entah berapa ratus juta atau bahkan berapa milyar orang pernah membaca atau menyimak pembacaan buku Imam al-Ghazali ini.

Entah bagaimana rasanya memiliki tulisan dibaca orang seantero dunia dari generasi ke generasi. Menyaksikan buku bisa bertahan selama sekitar 27 tahun saja bukan main bahagianya. Ini saya alami sendiri. Sekitar 27 tahun lalu, tepatnya tahun 1994, bersama ahli Psikologi UGM Prof Djamaludin Ancok, saya menulis buku Psikologi Islami: Solusi Islam atas Problem-problem Psikologi. Sekarang buku tersebut sudah dicetak 8 kali. Kalau setiap cetak ada 3.000 eksemplar, maka buku itu telah dicetak dan dibeli 24.000 orang. Kalau tiap satu eksemplar buku dibaca 5-7 orang (di perpustakaan malah dibaca puluhan orang), maka berarti buku itu kemungkinan sudah memberi manfaat hingga menembus 100.000 orang. Akhir Oktober kemarin, saya berkunjung ke Universitas Islam Negeri Saizu Purwokerto. Dua orang yang terlibat dalam diskusi mendatangi saya ketika acara selesai. Mereka menyampaikan kalau mereka membaca buku saat mereka menjadi mahasiswa di tahun 1990-an. Hal yang sejenis saya temukan ketika saya berkunjung ke berbagai UIN/IAIN/STAIN dan beberapa universitas Islam. Intinya, mereka mengkonfirmasi bahwa buku tersebut adalah buku yang sampai detik ini menjadi bacaan banyak dosen, mahasiswa, dan umumnya warga masyarakat.

Selanjutnya, kalau kita menulis di berbagai blog dan situs, ratusan hingga ribuan orang akan segera membaca. Pada saat saya menulis tulisan-tulisan pendek yang diposting di facebook, umumnya sebuah tulisan sekitar 100-300 orang. Tentu semakin banyak kawan/pengikut, maka semakin luas daerah penyebarannya.  Kadang saya iseng beri komentar tulisan-tulisan lama di facebook. Ternyata masih ada orang yang mau membaca dan memberi komentar atas tulisan yang sudah beberapa tahun itu.

Motivasi Menulis

Setiap penulis memiliki motivasi. Motivasi menulis tidaklah tunggal. Di antara motivasi yang jamak itu, ada dua yang terpenting. Pertama adalah menyampaikan hal penting kepada orang lain untuk diperhatikan bahkan dilakukan. Para penulis memiliki keyakinan sendiri tentang apa yang dianggap penting. Sekalipun demikian, hal yang dianggapp penting oleh kebanyakan orang dan kebanyakan penulis adalah prinsip-prinsip hidup. Kisah-kisah atau ungkapan bisa berbeda, namun ada kesamaan ide pada berbagai tulisan, yaitu tersebarnya nilai-nilai atau prinsip kehidupan yang dimiliki penulisnya. Prinsip hidup seperti persaudaraan, keadilan, kebaikan hati, semangat hidup, pembersihan diri, kebahagiaan, adalah nilai-nilai yang akan terus menerus ditularkan, karena ide yang sebaliknya juga secara sengaja juga dipromosikan. Prinsip-prinsip penting untuk selalu diperjuangkan.

Sebagai contoh, dalam beberapa tahun terakhir ini saya suka menulis tentang pemaafan. Saya sendiri percaya bahwa memaafkan adalah sebuah bentuk kebaikan yang diperintahkan Allah. Karenanya, saya menulis topik ini dalam bentuk buku, publikasi internasional, publikasi ilmiah nasional, publikasi popular, selain video. Saya berharap dunia yang saat ini masih banyak diwarnai oleh dendam, kemarahan, sakit hati ini dapat berubah menjadi lebih dipenuhi pemaafan, kebaikan hati, dan cinta.

Kedua adalah menyampaikan hal-hal yang semestinya dijauhi atau dihindari agar keburukan dan kejahatan itu tak diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Kesenangan sesaat, kekerasan, keputusasaan, jalan pintas, adalah ide-ide buruk yang juga tersebar dan karenanya butuh orang-orang yang selalu mengingatkan kepada banyak orang. Pejuang anti jalan hitam ini ditantang untuk menyebarkan ide ini sekalipun secara umum mencegah keburukan yang sering berarti kesenangan itu secara psikologis lebih berat dibanding memperjuangkan kebaikan dan cinta.

Tulisan Sebagai Terapi

            Salah satu fungsi tulisan adalah sebagai terapi. Pada awal 2017, saya mengalami stroke ringan. Seringan-ringannya stroke, pastinya berdampak terhadap kehidupan orang yang mengalaminya, termasuk saya. Salah satu yang terpengaruh adalah kemampuan kognitif. Kemampuan memahami konsep yang kompleks rasanya menurun sekali. Begitu juga kemampuan berpikir mendalam jauh berkurang. Kalau mau menulis suatu konsep agak kompleks, rasanya kepala ini berat sekali. Alhamdulillah ada saran dari dokter yang menangani saya pascastroke. Beliau menyarankan agar saya membiasakan menulis hal-hal yang ringan dulu. Peristiwa-peristiwa baik yang terjadi di masa lalu adalah hal yang direkomendasikan untuk saya tulis.

Akhirnya saya praktikkan apa yang disarankan dokter. Saya memilih menulis berbagai peristiwa atau kejadian yang berisi kebaikan-kebaikan dari berbagai orang yang saya saksikan sendiri. Saya tulis beberapa kejadian waktu saya SMP, seperti tanggapan dua orang mentri bernama Prof Emil Salim dan Letjen Alamsyah Ratu Prawiranegara waktu saya menyurati mereka SMP. Tanggapan mereka menjadi sesuatu yang membuat saya merasa surprise. Saya juga beberapa kali mendapat postcard dari artis yang saya gemari waktu SMP, yaitu Iis Sugiyanto. Waktu saya menulis, saya juga mengingat peristiwa yang tak pernah saya lupa, yaitu kelompok cerdas cermat saya waktu SMP berhasil mengumpulkan skor 2.000 ketika pesaingnya mendapat skor 200. Intinya saya merasa lancar mengungkapkan berbagai peristiwa membahagiakan di waktu kecil.

Ketika saya menulis dan merasakan derasnya aliran tulisan dari otak dan tangan saya, saya merasa kehidupan menjadi cerah kembali. Saya yakin menulis membuahkan pengaruh yang luar biasa. Saya bayangkan dalam hayalan saya di otak saya ada gumpalan-gumpalan. Setelah saya mengalirkan deras apa yang tersimpan dalam otak itu, gumpalan-gumpalan itu terurai satu per satu. Otak saya terasa berproses mengalami normalisasi.

            Karenanya, ketika saya menuliskan hal-hal yang menegangkan dalam hidup saya, saya sudah yakin kemampuan otak saya sudah pulih semakin mendekati 100% walau secara jujur saya merasa belum bisa 100% seperti dulu. Saya merasa lancar ketika menceritakan suatu peristiwa di mana saya ditinggal oleh bus padahal laptop dan HP saya ada di dalam tas di bus tersebut. Saya juga merasa lancar ketika menceritakan berbagai peristiwa menegangkan lainnya.

Manfaat bagi Pribadi dan Orang Lain

Saya percaya ketika menuliskan pengetahuan, perasaan, pemikiran, dan pengalaman kita kepada orang lain, ingatan kita akan isi tulisan itu semakin panjang. Berdasar pengalaman, gagasan atau pemikiran yang saya tulis sendiri jauh lebih saya pahami dibanding dari apa yang tidak saya tulis. Itu artinya pengetahuan yang ditulis akan menjadi memori yang lebih panjang bagi saya.

Bagi orang lain, bila saya menuliskan apa yang menjadi pengetahuan, perasaan, pemikiran, dan pengalaman saya, maka orang lain akan membaca dan mengingatnya dalam memorinya. Orang lain ini akan membagi memorinya kepada orang lain lagi, dan san seterusnya. Itu artinya memori yang saya tulis dan kemudian dibagi orang lain dan dibagi lagi ke orang lain lagi akan menjadi ingatan bagi banyak orang dan akan diwariskan dari generasi ke generasi. Kalau dapat diwariskan dari generasi ke generasi, maka sudah pasti artinya adalah memori ingatan akan isi ungkapan kita akan bermur panjang.

Demikian. Wallahu a’lam bi ash-shawab. Bagaimana pendapat anda?

Oleh: Rizki Farani, S.Pd., M.Pd—-

Education field present domains which hold a wide variety of competency. The role of educators is not only implementing teaching and learning but also developing regulation and policy to support educational programs. Considering the scope of educators’ role, it is essential for educators today to foster their leadership skills in order to formulate solutions for educational problems. Northouse (2016) defines leadership as “a process whereby an individual influences a group of individuals to achieve a common goal”. In this definition, there are four key points of leadership: (a) leadership is a process, (b) leadership involves influence, (c) leadership occurs in groups, and (d) leadership involves common goals (Northouse, 2016). Those points imply that being a leader require us to work together in a group to achieve goals. It needs commitment to maintain motivation to work within the process of life.

In Islamic perspective, leadership is a part of religious practices. It becomes a foundation of social behaviour and leadership actions. Thus, Islamic leadership is considered as an important movement to transform educational system (Dakir & Fauzi, 2020). In addition to it, Al Qur’an emphasises the importance of leadership in Islam, for instance: surah Al-Baqarah verse 30: Read more

Oleh : Irwan Nuryana Kurniawan, S.Psi., M.Si —-

Maksudnya apa? Mengapa mendorong jadi mahasiswa-mahasiswa akhirat, bukannya jadi mahasiswa-mahasiswa world class university? Itu mungkin sebagian pertanyaan yang muncul dalam benak Anda begitu membaca judul tulisan ini.   Kita mulai diskusi tulisan ini dengan mengajukan pertanyaan balik. Misalnya ketika mahasiswa-mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) memiliki kualifikasi kompetensi world class university, apakah otomatis mahasiswa-mahasiswa tersebut memenuhi kriteria kualifikasi sukses, mulia menurut Allah Ta’ala dan Rasul-Nya? (Sebagai contoh kriteria dalam QS Al-Hujurat [49]:13). Read more

Oleh : Dr. Faraz——

Menangis itu biasa, bahkan menurut para ahli sebagai perilaku positif untuk kesehatan fisik maupun mental, tetapi bila puluhan ribu bahkan ratusan ribu orang menangis bersama, itu menjadi menarik untuk ditulis dan dibahas. Orang menangis biasanya saat sedih, tetapi tidak sedikit juga yang menangis saat gembira. Ada juga yang menangis saat marah atau frustasi. Bagaimana kita membayangkan orang menangis saat mendapat kebahagiaan yang luar biasa atau bagaimana pula kita membayangkan orang menangis saat marah besar dengan orang lain. Fakta menarik ini menguatkan pentingnya mengkaji fenomena menangis. Forum kajian termasuk dakwah tentang menangis relatif langka. Padahal banyak jejak tangis dalam Al Quran dan Hadist Nabi.

Ketika pasangan ganda putri bulutangkis Indonesia memenangkan pertandingan final melawan China pada olimpiade Tokyo belum lama ini, yang menakjubkan dan menangis bukan hanya pemain dan pelatih di lapangan, tetapi hampir seluruh rakyat Indonesia yang menyaksikan turut menangis atas kemenangan itu. Hari-hari selama pandemi Covid-19 mewabah di Indonesia, fenomena menangis tentu mengungkapkan hari-hari di Indonesia yang rata-rata kematian ratusan bahkan lebih dari seharinya. Tangisan yang belum pernah terjadi sebelumnya, karena menyaksikan ayah, ibu, suami, atau istri bahkan anak, dikebumikan dengan cara yang tidak biasa. Proses bagaimana memandikan, mensholatkan, dan menguburkan jenazah melalui cara yang jauh dari tradisi agama maupun budaya yang dianut. Bahkan banyak yang tidak melalui proses tersebut, pada awal-awal pandemi Covid di Indonesia, karena minimnya pengetahuan tentang Covid-19, Jenazah langsung dibawa ke pemakaman, hanya dapat melihat dari jarak jauh, bahkan banyak yang tidak tahu bagaimana anggota keluarga yang dicintainya itu dikuburkan. Inilah yang membuat mereka merasakan pedih yang sangat mendalam. Hatinya sangat penting, karena tidak dapat melakukan apa-apa. Menangis menjadi satu-satunya perilaku logistik yang paling mungkin menyertainya. Sekali lagi, apa untungnya membahas masalah “menangis” yang menurut etika publik sesuatu yang tidak perlu terjadi karena hanya mengumbar emosi dan bukan hal positif. Banyak orangtua yang tidak suka anaknya menangis. Seorang suami juga tidak begitu suka bila istrinya menangis. Dalam suasana sedih karena ditinggal orangtua, anak, istri atau suami, juga sangat tidak disukai menangis.

Menangis bagi bayi merupakan alat komunikasi yang paling utama dan adaptif sebagai mekanisme untuk bertahan hidup (Bartlett & McMahon, 2016). Bagi orang dewasa, menangis itu juga merupakan alat komunikasi, untuk menyampaikan pesan kepada orang lain bahwa dia dalam kondisi rentan, sedang kesulitan dan butuh pertolongan (Cornelius & Lubliner, 2003; Nelson, 2005) Menurut Hendriks, dkk., (2010), fungsi utama menangis adalah memberi perhatian kepada orang lain untuk membantunya dalam menemukan sumber-sumber penemuan, kemudian juga untuk mendapatkan perhatian, empati, dan dukungan dari orang lain. Manusia memiliki tiga jenis air mata, yakni air mata refleks, air mata yang terus menerus keluar ( continuous tear)), dan air mata emosional. Air mata mencerminkan membersihkan kotoran-kotoran, seperti asap dan debu dari mata. Air mata yang keluar terus-menerus akan melumasi mata dan membantu melindunginya dari infeksi. Air mata emosional yang terlupakan mengandung  hormon stres  dan racun lainnya. Para peneliti yakin bahwa menangis dapat mengeluarkan racun dari sistem tubuh (Florencia, 2020).

Dalam bahasa ilmiah, tangisan didefinisikan sebagai respons sekretomotor (sejenis neuron) yang memiliki karakteristik penting yaitu keluarnya air mata dari aparatus lakrimal, tanpa iritasi pada struktur okular. Hal ini sering disertai dengan perubahan pada otot-otot yang terlibat dalam ekspresi wajah, vokalisasi dan dalam beberapa kasus terisak-isak – menghembuskan napas yang kejang pada kelompok otot pernafasan dan tubuh (Vingerhoets, dkk., 2009). Menangis merupakan fenomena biopsikososial artinya menangis bukan hanya masalah biomedik, mengeluarkan air mata dan beberapa otot bergerak tinggi, tetapi juga masalah internal kejiwaan (psikologi) dan juga ada faktor sosial, seperti yang terjadi saat Greysia Polii dan Apriyani Rahayu saat meraih medali emas pada Olimpiade Tokyo 2020, semua penonton ikut menangis.

Menangis dalam perspektif psikologi

Perspektif psikologi, menangis itu merupakan sebuah reaksi yang biasanya muncul saat orang merasa sedih. Manusia menangis, hewan juga menangis. Tetapi menangis pada manusia yang memiliki fungsi yang berbeda. Manusia menangis tidak masalah bio-mekanis atau melembabkan mata (sama seperti pada hewan), tetapi juga berbagi emosi. Manusia menangis itu mengeluarkan perasaan takut, marah, bahagia, dan perasaan lainnya. Dengan menangis, tubuh akan memaksa seseorang untuk bernafas lebih dalam agar detak jantung lebih lambat dan sesak di dada dapat berkurang. Hormon dan zat-zat lain yang dapat memicu stres. Menangis dapat membantu kita melepaskan hormon endorfin atau “rasa enak” yang juga bisa mengurangi rasa sakit secara alami. Ketika seseorang menangis tubuh akan mengeluarkan seluruh racun (racun) yang terhenti sehingga setelah menangis kita akan merasa lebih kuat secara fisik dan mental. Pakar lain menyebutkan bahwa menangis itu membuat kita merasa lebih baik, dan mengurangi rasa stres. Kemudian menangis juga meningkatkan mood, dimana mood kita akan lebih baik menangis. Terakhir, menangis juga dapat membunuh bakteri yang ada di mata, karena air mata mengandung lisozim. Berdasarkan jenis kelamin, perempuan secara biologis memiliki jumlah hormon proclatin lebih tinggi dari laki-laki. Hormon ini punya kencenderungan yang mendorong seseorang untuk menangis. Sementara pada laki-laki hormon testosteron mengurangi kecenderungan seseorang menangis. Itulah sebabnya mengapa perempuan rata-rata lebih sering menangis dibandingkan laki-laki. Menurut Michael Trimble,

Menangis dalam perspektif Islam

Dalam Islam, menangis itu bukan berarti cengeng, lemah, rapuh, rentan dan membutuhkan pertolongan, seperti ilmu psikologi Barat menjelaskan. Islam sangat perhatian terhadap perilaku menangis. Dan bahwasanya Dialah Yang menjadikan orangutan laugh Dan Menangis. ” (QS. An-Najm : 43). Jadi siapa yang membuat manusia menangis? Jawabannya Allah, dengan segala prosesnya yang rasional. Menangislah kalian semua. Dan apabila kamu tidak dapat menangis maka pura-pura menangislah kamu” (HR.Ibnu Majah dan Hakim). Dalam konteks yang tepat, justru menangis justru lebih disarankan dalam Islam. Dalam berbagai ayat AlQuran maupun hadist disebutkan bahwa Allah sangat senang melihat hambanya menangis. Namun, menangis seperti apa yang sangat disukai dalam Islam? Seorang yang takut kepada Allah, akan mengakhiri hidupnya apakah hidupnya sudah sesuai antara apa yang diberikan Allah kepadanya dengan apa yang dia perbuat untuk Allah, kemudian dia menangis, karena apa yang dia berikan dalam bentuk pengabdian kepada Allah ternyata jauh lebih sedikit, bahkan tidak terlihat sama sekali. Menangis seperti ini akan berdampak pada seseorang untuk selalu memperbaiki dan memperbaiki, karena rahmat Allah tidak pernah bisa disaingi dengan ibadah dan perbaikan apapun juga. Rasulullah pernah bersabda,Andaikata kamu mengetahui apa yang aku ketahui, kamu semua akan sedikit tertawa dan banyak menangis ” (HR. Bukhari dan Muslim).

Rasa takut seperti ini akan membangun kecintaan manusia kepada Sang Pencipta. Allah sudah memberikan kepada manusia, segala hal secara gratis, yang sering dilupakan, misalnya udara (oksigen). Beberapa bulan terakhir ketika pandemi Covid-19 menyebar secara ganas di tanah air, banyak keluarga dibuat panik karena kesulitan mencari tabung gas (oksigen) untuk anggota keluarganya yang koma di rumah sakit. Banyak dari mereka yang berpikir dan malu selama ini baik-baik saja dan sehat tanpa menikmati oksigen secara gratis di alam bebas, tidak ada ucapan terima kasih kepada pemilik oksigen itu, Tuhan Allah Swt. Selama ini jarang beribadah, jarang melakukan kebaikkan, sebaliknya sering melakukan hal-hal yang dilarang agama, seperti berbohong, mengambil hak orang lain, berkhianat, dan banyak lagi. Perasaan seperti ini pada akhirnya menumbuhkan kesadaran untuk berbuat lebih baik lagi, sesuatu yang akan disukai atau dicintai oleh sang pemilik oksigen gratis di alam itu (baca: Allah). Indikator, bahwa kita benar-benar cinta kepada Allah, Tuhan yang selama ini telah banyak untuk kehidupan kita, maka kita akan mudah menangis ketika beribadah dan ketika mengingatnya (berzikir). Menangis dalam konteks ini dapat meningkatkan kekhusyuannya dalam beribadah dan peluang mendapat hidayah dari Allah. maka kita akan mudah menangis ketika beribadah (sholat) dan ketika mengingatnya (berzikir). Menangis dalam konteks ini dapat meningkatkan kekhusyuannya dalam beribadah dan peluang mendapat hidayah dari Allah. maka kita akan mudah menangis ketika beribadah (sholat) dan ketika mengingatnya (berzikir). Menangis dalam konteks ini dapat meningkatkan kekhusyuannya dalam beribadah dan peluang mendapat hidayah dari Allah. Dan mereka bersujud sambil menangis dan maka bertambahlah atas perasaan mereka khusyu’ ” (QS. Al-Isra: 109). Sang pecinta, apabila dibacakan ayat-ayat Allah, dia akan mengungkapkan kegembiraannya, sebagai bukti kecintaannya pada Allah (QS Al Anfal:2), dan kemudian akan menangis, karena hal itu tentu saja jauh dari harapan yang diharapkan Allah. Nabi Muhammad SAW., dijamin masuk surga oleh Allah, sering menangis malu dan merasa belum optimal beribadah karena Allah. Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu melihat mata mereka mencucurkan air mata karena kebenaran (Al Quran) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata, Ya Tuhan, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Quran dan kenabian Muhammad)”.  (QS.Al-maidah: 83). Dalam AlQuran surat Maryam, ayat 58 juga mengungkapkan hal yang sama, Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israel, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Jika dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemura kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis .”

Takut kepada siksaaan Allah kemudian menangis menjadi fenomena menangis dalam Islam. Salah satu kisah untuk itu dapat dikutip disini. Sahabat Ustman bin Affan, ketika ia berada di dekat kuburan, ia tertunduk dan menangis. Sahabat yang membantu bertanya, “ Mengapa menangis melihat kuburan wahai Amirul mukminin ”. Ustman menjawab, Rasulullah pernah berkata bahwa kuburan ini merupakan tempat persinggahan pertama dari beberapa persinggahan di akhirat, jika ia selamat maka ia dimudahkan, jika tidak selamat maka datang setelahnya kecuali lebih berat .”(HR. At-Tirmidzi). Menangis karena takut siksaan Allah karena lebih banyak dosa daripada kebaikkan juga diriwayatkan Ibnu Abbas  radhiyallahu ‘ , bahwa Nabi mengajarkan, “Ada dua buah mata yang tidak akan menuntut api neraka; mata yang menangis karena merasa takut kepada Allah, dan mata yang berjaga-jaga di malam hari karena menjaga pertahanan kaum muslimin dalam (jihad) di jalan Allah. (HR.At-Tirmidzi).

Sekali lagi, menangis itu adalah Sunnatullah. Bayi lahir pada umumnya menangis. Ini bisa beragam, tetapi yang pasti orang tua bayi itu umumnya bergembira dan bahagia. Sebaliknya, ketika anak manusia meninggal, meninggal dunia, umumnya keluarga inti, kerabat, sahabat dan tetangga dekat, menangis. Pertanyaannya apakah anak manusia yang meninggal itu menangis atau bergembira. Jawabannya kembali kepada diri masing-masing. Rasulullah berdoa, “ Tidak akan masuk ke dalam neraka, seseorang yang pernah menangis karena takut kepada Allah (HR. Tarmidzi). Semoga menangis tidak menjadi akhir hidup kita. Aamiin.

 

Oleh : Dr. H. Fuad Nashori, S.Psi., M.Si., M.Ag,.. Psikolog——

Pengantar

Tiga dekade lalu, ketika Samuel Huntington mencetuskan tesis bahwa benturan peradaban (clash civilization) di masa depan akan melibatkan Barat versus Islam (huntington_clash.pdf (uzh.ch), terbit ‘rasa bahagia’ sekaligus sebuah pertanyaan dalam hati saya. Tesis tersebut sekurang-kurangnya menunjukkan bahwa secara potensial komunitas Muslim masih diperhitungkan dalam percaturan global. Sebagai seorang Muslim, pemikiran tersebut menjadikan saya berbangga hati, namun tak urung membuat sanubari saya terusik dan bertanya: “Betulkah komunitas Muslim benar-benar memiliki kekuatan untuk memberi sumbangsih terbaik bagi masyarakat global?” Read more

Oleh: Astri Hapsari, S.S., M.TESOL —-

Pandemi COVID 19 telah membawa banyak perubahan dalam kehidupan sehari-sehari kita. Munculnya beragam varian baru virus berdiameter 65-125 nm (Shereen, Khan,Kazmi, Bashir, Siddique, 2020) ini menyebabkan resiko terjangkit semakin meningkat. Pada tanggal 27 Juni 2021, tercatat terdapat 21.342 kasus baru, dengan rata-rata kasus selama 7 hari berturut-turut sebesar 17.914 di wilayah Kabupaten Sleman.  Alhamdulillah pada saat revisi artikel ini akan dikirim, angka kasus COVID-19 di Kabupaten Sleman telah mengalami penurunan. Rata-rata kasus selama 7 hari berturut-turut menurun sebesar 2.532 kasus. Read more

Oleh: Dr. Iwan Awaluddin Yusuf, S.IP, M.Si—

“Every cloud has a silver lining”, “ada hikmah di balik setiap musibah”. Petuah bijak semacam ini pastilah bukan hal baru yang pernah kita dengar. Setiap kali ada musibah, kalimat itu sering disampaikan orang-orang di sekitar kita sebagai motivasi untuk membangkitkan semangat, mengajak berpikir positif, ataupun dalam rangka menyiratkan kepasrahan manusia sebagai mahluk yang lemah di hadapan takdir Allah Swt. Read more