Makna Minal Aidin wal Faizin

Oleh: Dr. H. Fuad Nashori, M.Si., M.Ag., Psikolog—-

Salah satu ajaran Islam dalam konteks hari raya adalah mendoakan diri dan orang lain yang telah menyelesaikan kewajiban menjalankan berbagai ibadah selama bulan ramadhan. Ucapan standar yang diajarkan oleh Nabi Muhammad adalah Taqabbalalahhu minna wa minkum shiyamana wa shiyamakum (yang artinya semoga Allah menerima amalanmu dan amalanku, puasamu dan pusaku). Di Indonesia, para ulama mengajarkan bagaimana menyampaikan doa kepada sesama muslim dengan ungkapan minal aidin wal faizin. Ucapan versi  lengkapnya adalah ja’alanallahu wa iyyakum minal aidin wal faizin. Artinya, “semoga Allah menjadikan kami dan anda orang-orang yang kembali dan beruntung”.

Tentang doa mana yang Anda pilih, silakan anda memilihnya. Mengikuti doa yang diajarkan Nabi Muhammad tentu menjadi prioritas. Namun, mengucapkan minal aidin wal faizin atau ja’alanahhahu wa iyyakum minal aidin wal faizin juga tidak ada masalah. Hal ini sebagaimana doa kita sehari-hari. Kita memprioritaskan doa yang diajarkan Allah melalui kitab suci al-Qur’an dan doa Nabi sebagaimana terlihat dari hadis Nabi. Namun, kita juga berdoa dengan ungkapan dan harapan yang khas kita. Tentu prinsip dari doa adalah memohon sesuatu yang baik dan terhindar dari keburukan kepada Allah swt.

Kembali kepada pokok bahasan kita, ada dua kata kunci yang perlu menjadi renungan kita, yaitu aidin (kembali) dan faizin (beruntung). Kita mulai dari ujungnya, yaitu beruntung.

Beruntung

Ujung atau bagian terakhir dari apa yang kita lakukan dalam kehidupan ini semestinya adalah menjadi orang yang bejo atau beruntung. Kita bersedia berpayah-payah dan menempuh jalan prihatin, termasuk melaksanakan berbagai amalan ramadhan, adalah karena ingin menjadi manusia yang beruntung. Beruntung diperoleh saat manusia sukses menggapai hari akhir yang hebat sebagaimana digambarkan oleh Allah dalam salah satu firman-Nya. “Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia beruntung” (QS Ali Imron: 185). Dapat digarisbawahi bahwa orang yang beruntung (faza, faiz) adalah orang yang terbebas dari neraka dan masuk ke dalam surga.

Kita tentu sangat berharap terbebas dari neraka yang kondisinya sangat mengerikan. Tentang neraka, banyak gambaran tentangnya sebagaimana dijelaskan di dalam al-Quran dan hadis Nabi. Bahan bakar api neraka adalah manusia dan batu (QS al-Baqarah:24). Air minum yang diteguk penghuninya adalah air mendidih yang menyebabkan putusnya usus-usus mereka (QS Muhammad:15) atau air mendidih dan nanah (QS an-Naba’: 24-25). Salah satunya jenis neraka adalah neraka jahanam, yang digambarkan secara jelas dalam sebuah hadis: “Demi Tuhan yang mengutusmu dengan kebenaran. Kalau dibukakan jahanam itu sebesar lubang jarum, maka akan terbakarlah bumi dan segala isinya karena panasnya” (HR Thabrani dari Umar bin Khattab). Ini menggambarkan betapa panas dan ganasnya api neraka.

Selain bebas dari neraka, kita tentu juga mengharapkan menjadi penghuni surga. Kita bersedia berlelah-lelah dan menempuh jalan prihatin seperti beramal di bulan ramadhan adalah agar kekal menghuni surga. Tentang surga, kita sudah sering mendengar deskripsinya dalam al-Qur’an dan hadis Nabi. Surga dipenuhi dengan fasilitas yang menakjubkan, seperti makan dan minum delicious yang bervariasi yang tiada habisnya. Bahkan selama di surga kita juga ditemani wanita yang disebut bidadari (hurun in) yang sangat menawan (QS Shad: 51-52).  “Sekiranya salah seorang wanita dari wanita-wanita ahli surga itu muncul di permukaan bumi, sungguh seluruh permukaan bumi akan penuh dengan bau harum, dan sungguh akan hilang cahaya matahari dan bulan” (HR Thabrani & Addhiya’ dari Said bin Amir). Tentang surga ini, Nabi bersabda bahwa keadaan surga yang sesungguhnya “belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan tak dapat dibayangkakan oleh khayalan manusia.”

Bahwa setiap orang yang beriman (kepada Allah, malaikat, kitab, rasul, hari akhir, takdir baik-buruk) akan masuk surga sudah menjadi keyakinan kita. Namun, apakah kita yakin akan terbebas dari api neraka?

Orang yang beruntung adalah mereka yang bukan hanya berhasil masuk surga, tapi juga terbebas dari api neraka. Sudah jamak kita pahami bahwa hari akhir itu bersifat kekal. Di sana hanya ada tiga kemungkinan manusia, yaitu kekal selamanya di surga, kekal selamanya di neraka, dan merasakan neraka dulu baru masuk surga. Sungguh celaka orang-orang yang dalam keabadiannya di hari akhir hanya berada di neraka. Orang yang meninggal dalam keadaan syirik, murtad, kafir, akan kekal di dalam api neraka. Sungguh beruntung orang yang dalam keabadiannya di hari akhir hanya merasakan surga. Para rasul, nabi, anak-anak yang meninggal sebelum usia akil baligh, dan sebagian orang yang beriman lainnya akan sepenuhnya ada di surga. Orang-orang yang sukses menjalani ramadhan dengan berbagai ibadah memiliki peluang untuk kekal selamanya hanya ada dalam surga!  Moga-moga kita termasuk golongan yang ini.

Apa yang kita lakukan sepanjang ramadhan akan mampu mengantarkan kita menjadi orang yang terbebas dari neraka. Bagaimana Ramadhan itu bisa membebaskan kita dari neraka? Pertama, yaitu memperbanyak amalan baik, seperti shalat tarawih dan witir, membaca-mendengar-menghafal al-Qur’an, dan sebagainya akan menghapus dosa. Yang menarik untuk dicatat adalah perbauatan baik dapat menghapus dosa-dosa yang dilakukan manusia selama hidupnya. Hal ini merujuk pada ayat suci Al-Qur’an: Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik itu menghapuskan (dosa dari) perbuatan-perbuatan buruk (QS Hud: 114). Dapat disimpulkan bahwa semakin banyak perbuatan baik semakin banyak dosa dapat dihapuskan atau dimaafkan. Kedua, yaitu berusaha menghapus dosa melalui istighfar dan taubat sebanyak-banyaknya dan sesering-seringnya. Seberapapun dosa manusia, pada dasarnya bisa diampuni. Bahkan ketika seseorang berbuat syirik, mereka tetap dapat pengampunan, asalkan nyawa masih dikandung badan dan bertobat atas syirik yang diperbuatnya.

Kembali Fitri

Bagian penting berikutnya dari doa pascaramadhan adalah kembali menjadi fitri (idul fitri). Artinya dengan melakukan berbagai ibadah selama ramadhan ini, kita akan kembali kepada keadaan saat kita pertama kali diciptkan. Bagaimana keadaan pertama kali kita diciptakan? Jawabnya adalah beragama secara lurus (QS al-Ruum: 30). Ibnu Taimiyyah menggambarkan tentang kondisi fitrah atau saat pertama kali manusia diciptakan, yaitu dalam keadaan beriman kepada Allah, mencintai Allah, berkomitmen untuk menaati Allah.

Tentang fitrah manusia, ditegaskan Allah bahwa sejak pertama kali keberadaannya, manusia sudah mempercayai Allah melalui suatu persaksian. “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’ Mereka menjawab: ‘Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi’. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)“ (QS al-A’raf 172).

Mengapa manusia harus kembali ke keadaan yang fitri? Tidak lain, karena dalam perjalanan hidupnya manusia banyak melakukan perbuatan yang menunjukkan keimanannya yang bermasalah, cinta yang berlebihan kepada selain Allah, dan memiliki berbagai komitmen yang bertentangan dengan ketaatan kepada Allah swt. Bentuk konkrit dari keimanan yang bermasalah adalah mudah mempercayai ramalan para dukun/peramal, menuhankan tokoh-tokoh yang dikaguminya, dan sebagainya. Cinta yang berlebihan kepada selain Allah ditunjukkan oleh mencintai harta secara berlebihan bahkan punya keengganan untuk berzakat-sedekah-infak , mencintai kekasih secara berlebihan, sebagainya. Komitmen yang bertentangan dengan ketaatan kepada Allah ditandai oleh kesukaan meninggalkan yang wajib seperti shalat dan menggemari hal-hal yang maksiat dan sia-sia malahan bangga dengan dosa-dosa yang dilakukannya.

Kalau orang mau merenung, berapa kali dosa yang ia perbuat dalam sehari. Akan ketahuan kalau dosa itu begitu banyak dan sering kita lakukan. Contoh perbuatan yang mudah menuai dosa adalah membicarakan kejelekan orang (ghibah), berprasangka buruk kepada orang lain, tidak mau memaafkan orang lain yang meminta maaf, melihat aurat yang tersaji di internet, berkata ketus dan menyakitkan, cuek dan tidak peduli terhadap orang lain yang membutuhkan perhatian, dan sebagainya.  Kalau dosa harian itu diulang-ulang, berapa banyak dosa yang dikumpulkan manusia dalam sebulan, setahun, lima tahun. Bagaimana pula kalau dosa itu dilakukannya puluhan tahun?

Dalam suatu hadis ditunjukkan bahwa setiap kali kita berdosa akan tertutup bagian tertentu dari hati kita. Semakin hari tentu semakin banyak. Hingga noktah itu menjadi kerak-kerak yang sulit dibersihkan.

Agar noda itu tidak semakin menebal dan mengeras, perlu usaha untuk membuatnya bersih kembali. Kita sangat beruntung karena Allah swt memudahkan ampunan dan rahmat kepada kita selama bulan ramadhan ini. Dengan ampunannya, dosa-dosa kita yang berkerak-kerak bisa dihapuskan secara regular. Coba bayangkan kalau tidak ada ramadhan. Proses pembersihan kembali dosa-dosa menjadi sangat sulit dilakukan. Ingatlah bahwa pembersihan dosa, di samping dilakukan melalui taubat dan istighfar, yang tak kalah penting adalah perbuatan baik. Ramadhan ini begitu banyak perbuatan baik yang pahalanya berlipat-lipat. Mulai dari tilawah-tadabbur-tahsin al-Qur’an, lalu berdoa, berzikir, bersedekah, berzakat, hingga I’tikaf. Salah satu yang paling diburu untuk menggelontorkan dosa-dosa adalah lailatul qadar. Dengan mendekatkan diri kepada Allah di malam hari, ada kesempatan bagi manusia untuk mendapatkan lailatul qadar. Pahala yang diperoleh orang beriman yang mendapatkan lailatul qadar adalah setara dengan kebaikan yang dilakukan secara terus menerus selama 83 tahun.

Memaafkan dan Meminta Maaf

Ada dosa yang hanya bisa dihapuskan oleh Allah dengan syarat tertentu. Dosa yang dimaksud adalah dosa menyakiti, menzalimi, atau melanggar hak anak Adam atau sesama manusia. Dosa ini hanya bisa diampuni oleh Allah bila kita mendapatkan pemaafan dari orang-orang yang kita sakiti.

Karenanya, salah satu hal yang patut kita lakukan di akhir ramadhan dan pascaramadhan adalah berjuang untuk mendapat pemaafan dari orang lain. Pertama adalah meminta maaf kepada semua orang yang berinteraksi dengan kita. Orang berinteraksi dengan kita ada yang melalui luring dan sekarang ini sebagian besar kita lakukan secara daring. Dosa kepada banyak orang dengan identitas yang tak jelas ini lebih sulit perjuangannya dibanding dengan mereka yang berkemungkinan bertemu via darat dengan kita, seperti teman sekantor, teman satu sekolah/kuliah, dan yang lain.  Silakan aktifkan medsos untuk mengajukan permohonan maaf secara umum, di samping yang tak kalah penting adalah meminta maaf melalui silaturrahmi. Kedua adalah permohonan maaf secara khusus kepada orang yang pernah kita rugikan.  Bagian yang ini mungkin termasuk yang paling sulit dilakukan. Sekalipun sulit, ini hal yang paling patut diprioritaskan. Bagaimana menurut Anda?

Dr. H. Fuad Nashori adalah dosen psikologi Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya UII