Model jurnalisme (sebuah media massa) menjadi sangat penting untuk ditentukan dalam rangka “tetap survive dan eksis” di tengah kemunculan teknologi digital yang membuat model bisnis media berubah saat ini. Teknologi digital memungkinkan pertumbuhan media sosial yang mengubah pola komunikasi sosial warga di internet, pola iklan perusahaan, dan pola konsumsi informasi. Muncul kompetisi antara platform vs publisher. Kondisi ini menuntut media untuk mencari model bisnis baru. Model yang unik dan tidak lagi bisa disebut siapapun bisa melakukannya.

Demikian disampaikan oleh Wahyu Dhyatmika, CEO Tempo Digital pada kegiatan Webinar Nasional bertema Model Bisnis Jurnalisme Digital di Indonesia yang diselenggarakan oleh Prodi Ilmu Komunikasi, Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB) Universitas Islam Indonesia (UII), Jumat, 10 Desember 2021.

Selain menghadirkan sosok yang akrab disapa Bli Komang tersebut, panitia juga menghadirkan Suwarjono (Pimred Suara.Com) serta Elin Yunita Kristanti (Wakil Pimred Liputan6.Com)sebagai pemateri. Kegiatan sendiri dimoderatori oleh Iwan Awaluddin Yusuf, Ph.D.

Lebih jauh Bli Komang menambahkan bahwa saat ini diversity sangat penting dan harus disadari oleh para pemain media. Jika mengejar satu pola bisnis yang sama, dikhawatirkan publik akan kehilangan kekayaan informasi. Pada jangka panjang akan menurunkan trust dan tingkat kepercayaan serta relevansi dan kredibiltas informasi itu sendiri.

Sementara Elin Yunita Kristanti menyatakan bahwa kecepatan dan ketepatan berita masih menjadi kunci penting untuk mendapatkan hati publik. Sedangkan Suwarjono banyak menyampaikan contoh2 program menarik yang bisa ditawarkan pada masyarakat.