Oleh : Fenty Puspitasari, S.Psi. (Tendik FPSB UII)–

Pada 17 Oktober 2020 lalu, akun instagram NASA mengunggah sebuah foto bulan disertai takarir (caption) menggelitik. “Apa yang Anda bawa jika pergi ke bulan?”. Setiap calon astronot memiliki wadah yang sangat terbatas untuk membawa barang-barangnya. Mungkin ini hanya proyek lucu-lucuan untuk mendukung misi NASA ke bulan tahun 2024, tapi sangat menarik mengamati banyak orang mengunggah foto barang yang ia pilih jika pergi ke bulan. Masing-masing orang hanya membawa benda yang penting agar sesuai dengan tempat penyimpanan yang terbatas.

Kondisi yang sangat berbeda dibandingkan dengan keseharian. Coba kita awali dengan mengamati sekitar. Di lemari pakaian, berapa banyak pakaian yang hanya tersimpan dan tak pernah dipakai dengan berbagai alasan? Di rak sepatu, adakah alas kaki yang masih saja berada di situ namun tak lagi dikenakan? Jangan lupa lihat juga alat olah raga yang tak tersentuh, buku yang masih berbungkus plastik, juga aksesoris otomotif yang menumpuk entah kapan akan digunakan. Rasanya kita dikelilingi benda-benda yang tidak esensial dalam keseharian.

Ada lagi yang hampir terlupa, bagaimana dengan makanan dan minuman? Kemudahan mendapat makanan yang disuka, entah memasak sendiri atau lewat layanan pesan-antar, membuat diri lupa bahwa perut ini punya keterbatasan. Dalam sehari, berapa banyak sisa makanan dibuang? Mari tengok isi kulkas dan lemari penyimpanan. Adakah bahan makanan yang sudah kadaluarsa tak bisa dikonsumsi? Sepertinya banyak sampah makanan yang kita hasilkan.

Berbahayakah bila seseorang hidup dengan terlalu banyak barang di sekitarnya?

Sebagaimana yang dipaparkan Marie Kondo dalam buku Joy at Work (2020), otak seseorang yang dikelilingi banyak barang akan sibuk memindai hal-hal di sekitarnya. Ia mengalami peningkatan kortisol dalam tubuh. Hal ini lebih jauh akan meningkatkan resiko terkena depresi, hipertensi, gangguan tidur, dan sakit jantung.

Banyaknya barang yang tidak dipakai juga akan menimbulkan banyak sampah. Dalam Al Quran surat Ar Rum ayat 30, Allah telah menggambarkan ketamakan manusia menghancurkan bumi. “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” Selain itu, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyatakan bahwa timbunan sampah di Indonesia pada tahun 2020 diperkirakan mencapai 67,8 juta ton. Lebih dari separuh sampah itu hanya menumpuk di TPA sehingga timbunan sampah dapat menyaingi tinggi Candi Borobudur. Tak cukup di situ, Indonesia menjadi negara produsen sampah pangan terbanyak kedua di dunia seperti yang disampaikan dalam “Food Sustainable Index” oleh The Economist Intellegent Unit bersama Barilla Center For Food and Nutrition Foundation (2018). Rata-rata tiap penduduk Indonesia membuang makanan sekitar 300 kg pertahun. Sampah makanan yang menumpuk di TPA akan menghasilkan gas metana yang berbahaya. Kebakaran dan longsor di TPA Leuwigajah adalah salah satu contoh nyata betapa dahsyatnya bencana akibat sampah. Lebih dari 150 orang meninggal akibat tsunami sampah tahun 2005 itu.

Lantas adakah cara mengatasi perilaku konsumtif dan menumpuk banyak barang?

 

Bersikap Qona’ah dan zuhud

Islam mengajak kita bersikap qonaah dan zuhud. Qonaah ialah merasa cukup dengan ketentuan Allah. Sedangkan zuhud berarti meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat. Dengan kedua sikap ini, kita diminta fokus pada hal-hal penting dan meninggalkan hal lain yang tidak esensial dalam hidup.

Pada manusia paling mulia, Nabi Muhammad ﷺ kita bisa mengambil teladan. Terdapat hadist riwayat Muslim yang begitu menyentuh. Saat itu Rasulullah ﷺ berbaring di atas tikar kasar berselimut kain sarung sederhana. Di sekelilingnya hanya ada segenggam gandum, daun penyamak kulit, dan sehelai kulit binatang. Sungguh tak ada tumpukan barang berharga, tak ada kemewahan. Hati siapa yang tak iba melihat kekasih Allah itu berada dalam kondisi teramat sederhana? Umar bin Khattab pun menangis. Ia membandingkan Rasulullah ﷺ dengan raja Romawi dan Persia yang dikelilingi limpahan harta. Dengan bersahaja, Rasulullah ﷺ menyapa Umar, “Wahai putra Khattab, apakah kamu tidak rela jika akhirat menjadi bagian kita dan dunia menjadi bagian mereka?” Masya Allah.

Perlu bagi kita yang manusia biasa ini untuk berkaca. Kita terlalu banyak memiliki hanya karena orang lain memilikinya. Kita memiliki banyak barang hanya karena ingin berkesan lebih di mata orang. Mengapa kita begitu terikat terhadap kepemilikan? Hingga akhirnya barang-barang itu yang menjadi majikan kita. Mereka merampas uang, waktu, tenaga, dan banyak hal dari diri kita.

Abdurrahman bin Auf adalah seorang sahabat Rasulullah ﷺ. Kepiawaiannya berdagang menjadi inspirasi yang tak habis dibahas hingga saat ini. Di sisi lain, beliau juga sangat dermawan. Banyak riwayat menceritakan berlimpahnya harta yang beliau berikan di jalan Allah. Abdurrahman bin Auf bersedekah dengan separuh kekayaannya saat itu, lalu memerdekakan ribuan orang, menyantuni veteran perang, hingga membagi hartanya untuk istri-istri nabi sepeninggal Rasulullah ﷺ. Karena kedermawanannya, Al-Hakim meriwayatkan dari Ummu Salamah bahwa Nabi Muhammad ﷺ pernah mendoakan agar Abdurrahman bin Auf mendapat minuman dari mata air surga.

Mungkin sebagian kita berkomentar, “Wajar saja Abdurrahman bin Auf dermawan. Harta beliau banyak berlimpah ruah”. Benar. Namun apakah semua orang kaya dermawan? Apakah yang bisa berbagi harus punya banyak harta? Tidak. Perasaan cukup dengan yang dimiliki sekaligus fokus pada hisab yang akan kita lalui menjadi kunci untuk ringan berbagi dan berbuat berbagai kebaikan. Mari selalu mengingat sabda Rasulullah ﷺ dalam Hadist Riwayat Tirmidzi bahwa Allah akan menanyakan perkara sangat penting pada manusia di hari akhir. Empat perkara itu adalah penggunaan umurnya, ilmunya, hartanya, dan tubuhnya semasa hidup.

 

Strategi praktis

Meneladani Rasululllah ﷺ dan sahabatnya, kita perlu menyusun ulang hidup agar tidak terlalu konsumtif dan tamak memiliki dunia. Hal sederhana bisa kita lakukan. Coba pilah barang-barang yang ada di rumah. Kita bisa mengkategorikan barang dalam tiga kelompok yakni barang yang masih dipakai, barang yang disumbangkan atau dijual, dan barang yang dibuang. Proses pemilahan ini terlihat mudah namun seringkali menguras tenaga fisik dan mental sehingga membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Kita hanya akan menyimpan barang-barang yang berguna dan menyenangkan hati sesuai kebutuhan. Singkirkan saja pemikiran “barang ini masih bagus mungkin bisa saya gunakan kapan-kapan” padahal sudah lebih dari enam bulan terabaikan. Sering sekali “kapan-kapan” itu tidak pernah terjadi. Barang masih layak namun tak lagi digunakan bisa dibagikan kepada yang memerlukan. Hal ini membuat barang jauh lebih bermanfaat daripada hanya kita simpan. Jika toh suatu saat kita membutuhkan, yakinlah Allah akan beri kemampuan untuk mendapatkannya kembali.

Saat memilah barang akan selalu ada kesulitan. Benda yang memiliki ikatan emosional sering menumpuk tanpa pernah digunakan. Baju anak-anak yang kekecilan, souvenir perjalanan, atau surat dari sahabat masa kecil. Simpan hanya benda yang memang terasa sangat menyenangkan dan pajang jika perlu. Sisa benda sentimental yang lain bisa kita singkirkan. Jika terasa sangat berat, kita bisa memfoto sisa barang kenangan sebelum disingkirkan dan tata rapi di folder komputer atau di cloud drive. Percayalah kenangan itu tersimpan di dalam diri walaupun benda fisik sudah tidak ada atau berubah menjadi dokumen digital.

Perlu pula kita tanamkan bahwa setiap kegiatan konsumsi itu berdampak pada bumi. Kita bisa mulai dengan membeli sesuai fungsi bukan sesuai gengsi. Mari mengonsumsi barang atau makanan yang dibeli sampai habis agar memperpanjang usia manfaatnya. Selain itu kita dapat menggunakan barang yang ada di sekitar saja untuk menekan laju konsumsi. Sisa hasil konsumsi juga hendaknya dibuang sesuai aturan. Pemilahan sampah walaupun sederhana bisa dilakukan. Semua kerepotan ini semoga cukup mengingatkan bahwa perjalanan menggunakan barang tidak berhenti sesaat setelah membeli. Cukup sudah mempertaruhkan kesehatan jiwa raga dan kondisi bumi untuk menanggung semua ketamakan kita. Ingat semua yang dilakukan dan dimiliki hari ini membutuhkan pertanggungjawaban

Ya, berat memang menjadi bijak dan bertanggung jawab. Namun bayangkan saja betapa repotnya mengepak barang jika diajak NASA mendadak ke bulan. Ini baru ke bulan. Apalagi nanti saat di akhirat, hisab makin jadi beban karena tumpukan barang yang khilaf kita kumpulkan.

Semoga Allah mudahkan kita berbuat kebaikan dan menjauhi keburukan.