Musibah itu adalah keniscayaan. Dihindarkan kayak apa ya ndak mungkin. Baik musibah kecil maupun musibah besar. Bahkan kalau kita dapat info dari kehidupan sebelum manusia seperti halnya jaman dinosaurus, itu juga musnah karena musibah. Candi Borobudur yang tinggi juga pernah terkubur saat erupsi besar Merapi. Yang namanya musibah ini kalau kita lihat asalnya ada yang memang betul2 dari Allah SWT (Gempa bumi, gunung meletus, dll), ada juga musibah karena ulah tangan manusia (perampokan, pembunuhan, dll). Demikian disampaikan oleh Ust. Muh. Ikhsan dalam kajian rutin Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB) Universitas Islam Indonesia (UII) bertema Mengambil Hikmah di Setiap Musibah, Jumat, 29 Januari 2021.

Lebih jauh ust. Muh. Ikhsan menyampaikan bahwa musibah itu kalau dirunut kurang lebih ada 5 makna. Makna yang pertama adalah Sebagai Ujian atau cobaan. “Makna ini untuk menguji siapa yang paling baik amalnya dan sabar. Ini sesuai dengan QS Al-Baqarah 155:  “Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar,” ungkapnya.  Sedangkan orang sabar menurut Al Quran adalah orang yang saat terkena musibah akan berkata innalillahi wainna ilaihi roji’un. “Keburukan maupun kebaikan yang menimpa manusia adalah musibah. Kehidupan dan kematian itu adalah ujian,” tambahnya.

Makna berikutnya adalah Sebagai Peringatan. “Biasanya ini diperuntukan bagi orang yang lalai. Kasus Tsunami aceh. Teman saya kebetulan Islam abangan. Dia anggota resque tim SAR yang tangguh. Ketika dikirim ke Aceh, dia melihat pandangan yang luar biasa dan merubah pandangannya. Pulang Aceh beliau menjadi Alim, sering ke masjid”,  tuturnya sembari menambahkan bahwa hal ini juga bisa untuk orang yang nekat seperti halnya kecelakaan saat berkendara dengan kecepatan tinggi.

Makna yang ketiga adalah Sebagai Kafarat Penebus Dosa.  menurut beliau kafarat tersebut berlaku untuk untuk dosa kecil maupun besar dengan syarat bisa menerima musibah dengan sabar dan ikhlas. “Bahkan lelah seorang muslim saat berjuang di jalan Allah bisa juga sebagai kafarat,” jelasnya.

Sedang makna yang lebih besar namun sulit diterima adalah musibah Sebagai Pengantar Menuju Mati Sahid. Makna ini menurutnya paling sulit diterima karena biasanya musibah itu menimbulkan susah, berlinang air mata, dll. Sedemikian besarnya karunia Allah, maka musibah itu bisa menjadi nikmat luar biasa. “Kalau sampai kena musibah dan meninggal, maka matinya adalah mati syahid. Di daerah konflik justeru berpotensi bisa mati syahid. Orang mati syahid akan memperoleh kemuliaan, diantaranya diampuni dosanya, dibebasakan dari siksa kubur, dijauhkan dari rasa takut saat dibangkitkan dari kubur, akan diberikan kemuliaan, akan dinikahkan dengan 72 bidadri, dan akan diberikan ijin memberikan syafaat bagi 70 orang anggotanya/keluarganya.  Musibah saat ini pun (tanah longsor, gempa bumi, banjir) juga berpotensi sebagai media mati syahid. Kita doakan mukmin yang meninggal tenggelam di Sriwijaya Air maupun terbakar kita doakan mati shaid. Orang yang tyerkena reruntuhan, ibu yang melahirkan, seseorang yang meninggal ketika sedang bekerja mencari nafkah, orang yang terkena wabah thoun (lepra), karena penyakit perut, orang yang fi sabilillah atau mewakafkan hidupnya di jalan Allah, dan  orang yang mati karena membela hartanya, nyawanya, kehormatannya juga mati sahid,” tegasnya.

Sedangkan makna yang kelima adalah Sebagai azab. Musibah ini pernah terjadi pada fir’aun dan bala tentaranya. Demikian juga yang mengenai umat Nabi Nuh (banjir), kaum luth (hujan batu) dll. “Kalau sebagai azab, itu tidak mengurangi dosanya,” tambahnya.

Namun beliau menyayangkan bahwasannya banyak orang melihat suatu musibah tidak mau menghubungkan dengan Allah. Mereka yang sekuler menganggap bahwa musibah itu betul2 karena faktor alam biasa.

“Hampir semua bencana terutama yang namanya azab, itu hampir 100 %  karena perilaku manusia. Yang durhaka, dzolim, maksiat, dll.  Penyakit aid, penyakit kelamin juga akibat perilaku manusia. Rasulullah mengatakan jika suatu kaum telah menghalalkan zina dan riba, maka dia merelakan dirinya untuk di azab. Marilah kita mulai berpikir yang namanya musibah itu terkait dengan perilaku manusia. Jaman Umar, pernah ada gempa. Umar langsung menyimpulkan ini pasti ada kemaksiatan di madinah. Bagaimana kita bisa menerima? Kuncinya ilmu. Ngaji. Diajarkan. Mahasiswa itu ketika lulus, ada yang sukses ada yang stagnan. Pernahkan kita memberikan ilmu pada mahasiswa ketika besok kamu stagnan, kamu harus begini. Mestinya itu kita ajarkan kepada mahasiswa kita!,” pungkasnya.