Kepastian mitigasi resiko dari pademi Covid-19 saat ini menjadi sangat fundamental bagi para pemangku kepentingan dalam menentukan arah kebijakan ekonomi. Meski memporak porandakan perekonomian di banyak negara, namun sejatinya banyak juga peluang ekonomi potensial yang bisa digarap, dikembangkan atau bahkan diciptakan. Namun demikian, seyogyanya memang kesehatan rakyat tetap menjadi prioritas yang tak boleh diremehkan pemerintah dalam menentukan arah kebijakan ekonomi di masa pandemi.

Hal tersebut disampaikan oleh Gita Wirjawan, M.B.A, M.P.A dalam kegiatan kuliah perdana Program Studi Hubungan Internasional (HI) Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB) Universitas Islam Indonesia (UII), Jumat, 2 Oktober 2020. Selain Gita Wrijawan, kegiatan yang mengangkat dua tema besar, yakni The Political Economy of Covid-19; Challenges and Opportunities for Southeast Asia dan Advancing Digital Economy in the Covid-19 World: Challenges and Opportunities for Indonesia tersebut juga menghadirkan Wafa Taftazani, M.B.A sebagai pemateri. Sementara moderator dibawakan oleg Geradi Yudhistria, S.Sos., M.A. Kegiatan daring tersebut dibuka secara langsung oleh Rektor UII, Prof. Fathul Wahid, S.T., M.Sc., Ph.D.

Dalam sambutannya, Rektor menyampaikan pentingnya kerja kolektif dari semua pihak dalam menangani pandemi Covid-19. Negara yang menganggap serius terhadap ancaman Covid-19 tersebut terbukti lebih mampu dalam mengantisipasinya. Hal tersebut berbanding terbalik dengan beberapa negara yang meremehkan  pandemi Covid-19 sehingga banyak memakan korban jiwa.

Gita Wirjawan sendiri dalam paparannya banyak menyoroti dampak Covid-19 terhadap perekonomian negara berkembang maupun negara maju. Menurutnya, kondisi 7 bulan terakhir ini tidaklah mudah bagi semua negara. Pandemi telah menekan aktivitas perdagangan di kawasan Asia Tenggara yang berdampak juga pada menurunnya perdagangan global.

Selama 7 bulan ini pula menurut Advisory Board Chairman, School of Government and Public Policy (SGPP) Indonesia tersebut telah terjadi peningkatan level hutang yang dilakukan oleh negara, oleh korporasi maupun individu. Selama masa pandemi juga terjadi perubahan perilaku di masyarakat yang mulai dipaksa untuk terbiasa dengan aktivitas digital, mulai dari proses pembelajaran, pertemuan/sosialita, maupun perolehan informasi yang belum tentu terbukti kebenarannya.

Sedangkan Wafa Taftazani selaku pemateri kedua berpesan mengenai keilmuan HI secara khusus. “Ketika kalian lulus dari UII, kalian akan menghadapi dunia pasca pandemi yang pasti berubah dan dengan keadaan ekonomi yang luluh lantak. Maka semua tergantung pada apa nilai ekonomi (economic value) yang kalian bawa sehingga bermanfaat bagi orang lain, dan terapkan pengalaman dan pengetahuan di dunia HI untuk hal-hal yang nanti menjadi pilihan karier atau pilihan usaha kalian,” tuturnya.

Selebihnya, Wafa Taftazani  banyak menjelaskan tentang dampak digital economy yang saat ini sudah hampir melanda seluruh negara di dunia. Sistem pembayaran yang dulunya diawali dengan barter barang, kemudian mulai dikenalkan pembayaran menggunakan uang, menggunakan ATM (Automatic Teller Money), hingga saat ini menggunakan mulai banyak menggunakan uang digitial. Oleh karenanya, Master of Business Administration dari University of Cambridge ini mengajak peserta untuk bisa adaptif dengan perubahan global. Selain itu, pemerintah pun hendaknya mulai mempertimbangkan ekonomi digital pada kebijakan perekonian negara.