Melalui penelitiannya yang berjudul From Street Art to Social Media: In Search of Alternative Public Service Media for Urban Javanese in the City of Yogyakarta, Indonesia (Dari Seni Jalanan ke Media Sosial: Mencari Media Layanan Publik Alternatif untuk Masyarakat Urban di Kota Yogyakarta, Indonesia), Dr.rer.soc. Masduki, S.Ag., M.Si., M.A berhasil tampil sebagai pemenang Urban Communication Research Grant 2020 yang diselenggarakan oleh The International Association for Media and Communication Research (IAMCR) dan The Urban Communication Foundation (UFC).  IAMCR merupakan asosiasi profesional global para peneliti media dan komunikasi yang pendiriannya difasilitasi oleh UNESCO pada tahun 1957. Asosiasi ini mempromosikan penelitian media dan komunikasi di seluruh dunia, dan menggelar konferensi tahunan yang dihadiri 1500 lebih akademisi komunikasi. Berkantor di Oregon, Amerika Serikat, IAMCR saat ini memiliki anggota aktif lebih dari 2.700, terdiri dari akademisi komunikasi dari lebih 100 negara di dunia.

Riset Masduki sendiri berkait erat dengan penggunaan media alternatif untuk advokasi lingkungan di kawasan perkotaan Jawa, khususnya Yogyakarta pasca-pemerintahan otoriter Suharto. Fenomena ini dilihat secara politis sebagai bentuk ‘penolakan’ atas media publik yang pada zaman otoriter Orde Baru dikelola pemerintah, yaitu RRI dan TVRI. Mobilitas harian yang tinggi dari warga perkotaan menimbulkan perubahan tatanan ekonomi, sosial, serta budaya, krisis permukiman di suatu daerah dan masalah kesehatan lingkungan. Yogyakarta sebagai tujuan wisata terbesar kedua di Indonesia memiliki problem yang jamak terjadi di kota-kota besar dunia, yaitu suburnya bisnis hospitality dan mall sejak 2014 yang memicu krisis air bersih dan kemacetan lalu lintas.

Merespon situasi ini, seniman jalanan dan aktifis lingkungan memakai formula protes sosial yang unik berupa mural dan poster di dinding kota yang kemudian tayang di media digital seperti YouTube sehingga dapat dikonsumsi oleh publik secara global. Yogyakarta telah menjadi ‘panggung’ untuk melakukan aksi protes sosial yang dituangkan melalui karya mural pada tembok dan sudut strategis kota. Media digital bebasis internet menyediakan ruang tidak terbatas untuk amplifikasi karya mural dan poster isu-isu publik, kontras dengan saluran media publik yang didirikan pemerintah otoriter Orde Baru, seperti RRI dan TVRI, yang justru mengabaikan mereka.

Lulusan program S-3 dari Institute of Communication Studies and Media Research (IfKW), University of Munich, Germany pada tahun 2019 ini menambahkan, komite hibah IAMCR/UFC melihat tiga aspek yang menjadi keunggulan riset ini: pencermatan atas konvergensi street media dan internet yang terhubung dengan platform media sosial sebagai alat advokasi sosial, pendekatan baru melihat potensi konvergensi ini sebagai alternatif media publik masa depan bagi warga kota, dan dipakainya kombinasi metode riset: analisis isi-etnografi dan analisis semiotik. Adapun riset riset sebelumnya terkait mural di Yogyakarta lebih terfokus kepada isi mural. Riset ini sendiri merupakan bagian dari road-map riset jangka panjang Masduki selaku dosen Ilmu Komunikasi UII: kajian media policy dan public service communication/media sebagai core academic-nya.

Mengingat situasi pandemic Covid-19 yang tidak memungkinkan penyelenggaraan konferensi IAMCR tahun 2020, maka seremoni pemberian award Urban Communication Research Grant 2020 akan dilakukan pada forum konferensi IAMCR 2021 di Nairobi, Kenya. Dalam kesempatan ini, Masduki akan mempresentasikan hasil risetnya pada panel khusus IAMCR.