Kualitas ibadah seseorang bisa dilihat dari bagaimana orang tersebut berinteraksi dengan makhluk Allah yang lain. Ruang-ruang interaksi kita hari ini (termasuk di media sosial) harus diimbangi dengan istighfar. Karena jika tidak, maka dikhawatirkan akan berdampak pada menipisnya keimanan kepada Allah SWT. Seringkali kita tidak siap disadarkan orang lain. Saat kita melihat orang yang sepertinya tidak bener, kita cooling down dulu sebelum melontarkan makian. Saat kita menjustifikasi orang lain itu sombong (termasuk di media sosial), saat itulah kita sedang sombong. Tidak ada orang lain yang merasa dirinya lebih baik dari orang lain kecuali saat itu dia sedang sakit.

Demikian yang disampaikan oleh Ust. Tajul Muluk pada Pengajian Dosen dan Tenaga Kependidikan (Tendiks) Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB) Universitas Islam Indonesia (UII) bertema “Menuju Jalan Allah”, Jumat, 4 Jumadil Awal 1441 H/31 Januari 2020 di ruang auditorium FPSB UII.

Pengajar di Pondok Pesantren UII sejak 2016 itu pun menambahkan bahwa iman itu bisa rusak, kusam, lapuk sebagaimana lapuknya baju baru. Bahkan kehilangan keimanan itu tidak disadari oleh orang yang bersangkutan, tapi bisa dilihat oleh orang lain. “Kalau suatu saat ada kesempatan baik tapi kita tidak mau ambil bagian dan tidak ada perasaan menyesal sama sekali, itu merupakan tanda awal matinya hati atau lapuknya keimanan kita”, tuturnya.

Beliau pun menegaskan bahwa sebenarnya kita semua sedang berjalan menuju Allah SWT. Hanya saja, perjalanan yang dilalui tidaklah semulus yang diharapkan. Banyak kepentingan dunia atau syahwat dunia (utamanya syahwat kekuasaan) yang berpotensi besar menjadi rintangan menuju Allah SWT. Orang yang memiliki nafsu syahwat kekuasaan menurutnya akan lebih berbahaya dibanding dengan yang sekedar memiliki syahwat seksual. Mereka yang memiliki syahwat kekuasaan dampaknya akan jauh lebih besar atau lebih banyak merugikan sesama makhluk Allah lainnya manakala salah dalam mengemban atau menjalankan amanah kekuasaan tersebut.

Kepada para jamaah ustadz muda ini juga berpesan agar lebih bijak dalam menyikapi sesuatu yang jelek/buruk di media sosial, karena bisa jadi keburukan yang dilihat tersebut merupakan teguran atau peringatan secara tidak langsung dari Allah SWT agar kita terhindar atau tidak melakukan keburukan seperti yang kita lihat tersebut.

Mendekati akhir tausiyahnya belia mengajak jamaah untuk senantiasa membersihkan (menjaga kebersihan) hati dari ta’alluq (meniscayakan adanya keterkaitan dengan sesuatu yang berada di luar diri kita), karena orang yang merasa bisa melakukan ibadah atas kemauan diirinya merupakan perbuatan khibir/takabur. Khibir sendiri banyak ulama yang mengatakan selendangnya Allah. Barang siapa yang mengambil selendang Allah, maka Allah akan ambil kembali selendang itu