Tujuan pendidikan Islam adalah untuk memastikan kita tetap sadar sebagai hamba Allah SWT dan bukan sekedar untuk memperoleh pekerjaan. Demikian penegasan yang disampaikan Rektor Universitas Islam Indonesia, Fathul Wahid, ST., M.Sc., Ph.D saat memberikan materi di kegiatan workshop integrasi Konsep Pendidikan Islam dalam Ilmu Sosial dan Humaniora: Penguatan Peta Jalan Visi dan Misi Akademik yang diselenggarakan oleh Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB) Universitas Islam Indonesia (UII), Rabu-Kamis, 28 – 29 Dzul Qa’idah 1140 H/31 Juli 2019-1 Agustus 2019 di R. Auditorium FPSB UII Lt. 3. Selain menghadirkan Fathul Wahid,  kegiatan yang diikuti oleh tenaga pengajar (dosen) FPSB UII tersebut juga menghadirkan Prof. Dr. Musa Asy’arie dan Dr. Adian Husaini sebagai pemateri.

Dekan FPSB UII, Dr. H. Fuad Nashori, S.Psi., M.Si., M.Ag., Psikolog dalam sambutannya mengemukakan bahwa FPSB UII sudah lama berikhtiar melakukan integrasi mata kuliah dengan nilai keislaman. Hal tersebut dilakukan dengan kesadaran bahwa integrasi ilmu dan agama memang merupakan amanah dari para pendiri UII.

Fathul Wahid pada awal paparannya memang menyitir tentang tujuan pendidikan Islam yang sesuai dengan hasil kesepakatan Konferensi Dunia Pertama tentang Pendidikan Islam yang digelar di Mekkah pada tahun 1977. Dalam kesepakatan tersebut secara jelas disebutkan bahwa pendidikan Islam merupakan proses pengajaran, bimbingan, pelatihan, dan keteladanan untuk mencapai pertumbuhan kepribadian manusia dalam semua aspeknya, baik fisik, intelektual, spiritual, imajinatif, keilmuan, bahasa, dan sebagainya, dilakukan secara individual maupun kolektif melalui cara mendorong seseorang guna mencapai kesempurnaan, sehingga sampai pada tujuan akhir yaitu pengabdian yang sempurna kepada Allah SWT.

Selebihnya, beliau menjelaskan tentang makna Ulul Albab yang dimaknai sebagai proses berfikir dan berdzikir dimana masing-masing proses dijabarkan dalam 2 ranah aktivitas besar, yakni aktivitas berpikir terkait fenomena alam (seperti penciptaan langit dan bumi, pergantian siang dan malam, dsb) dan fenomena sosial (seperti sejarah atau kisah masa lampau), serta aktivitas berdzikir yang terkait dengan vertikal transendental (seperti dalam situasi apapun) maupun horisontal vertikal (seperti menyambung silaturrahmi, membayar infak, menolak kejahatan dengan kebaikan, dll).

Selain itu, beliau juga menjelaskan terkait strategi untuk menggapai insan Ulul Albab tersebut, seperti meningkatkan integrasi (Islamisasi diri, aplikasi nilai Islam dalam organisasi/komunitas, integrasi nilai-nilai Islam dan disiplin ilmu, dll), mengasah sensitivitas (memaknai tanda-tanda, membaca berulan), memastikan relevansi (Allah tidak menciptakan sesuatu secara sia-sia), mengembangkan imajinasi (merencanakan masa depan, meninggalkan keuturan yang kuat), serta menjaga independensi (mandiri berpendapat, pertanggung jawaban personal, hati-hati bertindak, dll).

Sementara Prof. Dr Musa Asy ‘arie dalam kesempatan tersebut juga menegaskan bahwa manusia merupakan sentral dalam konsep pendidikan, baik manusia sebagai subyek, obyek atau pun tujuan pendidikan. Oleh karenanya, filsafat manusia merupakan landasan konsep dan proses pendidikan. “Karena pendidikan yang dilepaskan dari filsafat manusia akan menjadi pendidikan yang anti realitas. Pendidikan merupakan internalisasi nilai antara logika, etika dan estettika yang akan membentuk kepribadian, karakter dan integritas. Ilmu juga tidak pernah lepas dari agama. Hanya saja cara mengemasnya agar diminati para generasi millenial”, tuturnya.

Sedangkan Dr. Adian Husaini dalam materinya mengkritisi kondisi keengganan anak-anak maupun orang tua yang meletakkan pilihan pertama pada kampus Islam (baca: saat mendaftar studi lanjut S1). Kampus Islam saat ini pun banyak juga yang belum yakin kalau iman dan takwa itu laku dijual.

“Sekarang saatnya kampus2 Islam menjamin (pada orangtua) bahwa anak2 yang masuk ke sini (baca: kampus Islam) akan menjadi anak2 sholeh/hah”, pintanya.

Lebih jauh beliau mengungkapkan bahwa dunia global saat ini mengarah pada upaya membuang agama. Dunia masyarakat modern yang semakin maju mulai meninggalkan agama.

“Saat ini pendidikan kita menimbulkan ketakutan- ketakutan. Yang anaknya lulus TK takut tidak bisa melanjutkan ke SD favorit. Yang lulus SD, takut anaknya tidak dapat diterima di SMP favorit, yang lulus SMP pun demikian. Takut tidak diterima di SMA favorit”, imbuhnya.

Beliau juga menegaskan pentingnya adab yang didahulukan dibanding ilmu. Beliau berpesan agar jangan memberikan ilmu yang tinggi pada mahasiswa yang belum beradab, karena nanti hanya akan meluluskan mahasiswa yang jahat.

Kegiatan workshop diakhir dengan Focus Group Discussion (FGD).