Dosen Prodi Psikologi, Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB) Universitas Islam Indonesia (UII), Sus Budiharto, S.Psi., M.Si., Psikolog berhasil meraih gelar Doktor usai mempertahankan disertasinya berjudul “Menemukan Kesejatian: Konsep dan Dinamika Organisasi Autentik” di hadapan Tim Penilai dan Dewan Penguji Disertasi Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta pada sidang ujian terbuka hari Kamis, 11 Juli 2019 di UGM dengan predikat sangat memuaskan.

Menurut Sus Budiharto, keunggulan kompetitif suatu organisasi bersumber dari kemampuannya (segera) dalam beradaptasi menghadapi karakteristik lingkungan yang cepat berubah, penuh ketidakpastian, kompleks, dan ambigu atau apa yang populer dikenal sebagai ‘VUCA world’ (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity). Agar tujuan organisasi dapat tercapai, diperlukan dialog antarelemen di dalamnya hingga taraf menemukan, menyesuaikan, maupun melestarikan esensi yang dimiliki. Esensi organisasi terdiri dari nilai-nilai inti (core values) dan tujuan inti (core purpose) yang tidak berubah seiring berjalannya waktu. Penyesuaian diri dilakukan dengan senantiasa belajar, mengembangkan ide-ide baru, memberi respon secara kreatif, serta mengembangkan inovasi sebagai kunci untuk bertahan hidup. Inovasi mengacu pada proses pemecahan masalah secara integratif, dengan menerima dan menyatukan ide dari berbagai sumber secara menyeluruh. Dalam setting organisasi, adaptasi menghadapi perubahan dapat berlangsung pada praktik-praktik operasional dan kultural (cultural & operating practices), serta sasaran dan strategi yang spesifik (specific goals & strategies).

Kajian yang menekankan pada penemuan esensi suatu organisasi dikenal  dengan istilah organisasi autentik. Organisasi autentik adalah organisasi yang mandiri, dilandasi ketulusan, dan kejujuran  dalam memfasilitasi dan mendorong anggotanya untuk menjadi yang terbaik sehingga tercapai peningkatan kinerja institusi yang moralitasnya tetap terjaga. Organisasi autentik juga melekat di dalamnya tiga karakteristik utama, yaitu memiliki identitas yang kuat (they possess a sense of identity), mengamalkan nilai yang diyakini (they obsessively live their values), serta para pemimpinnya menjadi teladan dalam mengamalkan nilai-nilai organisasi (their leaders model the company’s values). Organisasi autentik lebih memberikan ruang terhadap elemen emosi yang positif, seperti keterpikatan (engagement), makna, pencapaian, serta  relasi yang positif. Di tengah terbatasnya rumusan konseptual dalam dinamika organisasi autentik, terbuka peluang untuk mempromosikan definisi operasional yang dapat digunakan sebagai basis pengembangan kajian tersebut.

Sus Budiharto menambahkan bahwa berdasarkan hasil kajian terhadap anggota organisasi industri di Amerika Serikat, diketahui bahwa organisasi autentik merupakan salah satu alternatif solusi tentang konsep dan desain organisasi dalam menghadapi lingkungan VUCA. Untuk menjadi autentik, organisasi perlu memastikan bahwa para anggotanya memiliki derajat penilaian yang tinggi ketika diukur dengan alat yang dinamakan DREAMS Scale, singkatan dari Different, Radical Honesty, Extra Value, Authenticity, Meaning, dan Simple Rules. Organisasi dianggap lebih autentik jika para anggotanya merasa dihargai perbedaannya, mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dalam organisasi,  merasakan tambahan kekuatan menjalani hidup melalui nilai yang dianut organisasi, dapat menjadi dirinya yang sejati saat bekerja, menemukan makna dalam bekerja, serta menjalani aturan organisasi yang tidak berbelit-belit.

Selain itu, perubahan lingkungan yang cepat, kompleks, dan tidak menentu juga dialami perguruan tinggi sebagai suatu jenis organisasi pendidikan. Organisasi perguruan tinggi secara umum berada dalam tahapan “mature industry” dalam siklus perkembangan organisasi, dengan karakteristik antara lain lambat berubah (slow to change), memiliki struktur yang kongkrit, serta kadangkala dianggap memfosil (fossilized), karena sedikitnya modifikasi dan inovasi baru. Sebagai organisasi, perguruan tinggi memiliki pilihan untuk tetap dinamis atau menurun (decline). Analisis dan perspektif yang tepat tentang kondisi organisasi dan lingkungan, dapat membantu proses revitalisasi perguruan tinggi (Manning, 2013).

Penelitiannya sendiri diawali dengan kajian pendahuluan terhadap 126 pegawai salah satu perguruan tinggi tertua asli Indonesia (PT A) menunjukkan bahwa para anggota organisasi memutuskan tetap bekerja pada organisasinya, karena merasa bahagia dan menemukan cinta. Perasaan tersebut dipengaruhi oleh kesediaan partisipan untuk bersyukur, beribadah, belajar, dan silaturrahim sebagai sikap dan perilaku yang autentik dalam organisasi. Dengan latar tersebut, penelitiannya mendedah permasalahan perihal apakah esensi dari organisasi autentik, serta bagaimana dinamika identitas, citra, dan budaya dari organisasi autentik.

Penelitian teersebut  dijalankan dalam dua tahapan, yakni (tahap pertama) dilakukan untuk mengetahui lebih dalam tentang fenomena sentral esensi organisasi autentik dengan pendekatan kualitatif melalui tujuh langkah metode meta-etnografi: (1) Getting started, (2) Deciding what is relevant to the initial interest, (3) Reading the studies, (4) Determining how the studies are related, (5) Translating the studies into one another, (6) Synthesizing translations, dan (7) Expressing the synthesis dan tahapan kedua dilakukan melalui studi kasus yang menindaklanjuti hasil penelitian tahap pertama untuk mengetahui bagaimana dinamika identitas, citra, dan budaya organisasi autentik, melalui studi kasus. Organisasi yang dijadikan fokus penelitian adalah suatu perguruan tinggi pertama asli Indonesia (PT A).

Dari kajian dan penelitian yang dilakukan, didapat hasil yang menunjukan bahwa organisasi autentik adalah organisasi yang mampu menemukan dan melestarikan nilai-nilai utama yang diyakini sejati, yang mendasari proses pengembangan organisasi, sehingga mampu beradaptasi terhadap dinamika lingkungan, serta menjadi rujukan bagi organisasi lain. Semua elemen dalam organisasi memiliki keinginan tulus untuk saling bekerja sama dalam semangat kejujuran, ketangguhan, keramahan terhadap ketidakpastian, dan keunggulan dari waktu ke waktu.  Organisasi autentik memiliki empat faktor, yaitu Truthfulness (kejujuran), Resilience (ketangguhan), Uncertainty friendly (keramahan terhadap ketidakpastian), dan Eminence (keunggulan), yang disingkat sebagai “TRUE”. Organisasi autentik bukan organisasi yang tidak konsisten (schizophrenic), sewenang-wenang (tyranny), peniru (inauthentic), dan menyimpang (malfeasance).

Hasil penelitian dan pembahasan pada Perguruan Tinggi A  diketahui bahwa perjalanan kehidupannya  (organization’s life cycle) terklasifikasi ke dalam lima fase: formasi (formation), transisi (transition), modernisasi (modernization), transformasi (transformation), dan autentikasi (authentication). Ditemukan indikator-indikator yang menunjukkan organisasi autentik, yaitu “ibadah dan perjuangan” sebagai nilai utama yang mendasari kualitas pengembangan organisasi untuk beradaptasi dalam dinamika perubahan lingkungan melalui kerja sama yang menghasilkan keberkahan, sehingga menginspirasi dan menjadi rujukan bagi organisasi lain. Dalam intensitas yang lebih sedikit, ditemukan pula adanya indikator tentang organisasi tidak autentik pada PT A, yang dilatari oleh isu ketidakkonsistenan, kesewenang-wenangan, penyalahgunaan, dan peniruan.

Pada akhirnya penelitian tersebut menghasilkan penjelasan baru dalam kajian perubahan dan pengembangan organisasi, terutama terkait teori organisasi dan organisasi yang autentik. Pemahaman akan organisasi yang autentik diharapkan dapat menjadi alternatif solusi bagi anggota organisasi untuk menjalani kehidupan yang lebih bermakna dan sejahtera bersama organisasi, dalam situasi dan kondisi lingkungan yang mudah berubah dan tidak menentu.

Untuk penelitian berikutnya, Sus Budiharto merekomendasikan untuk penambahan sumber data yang berasal dari percakapan media sosial yang membahas tentang suatu organisasi, sehingga citra organisasi bisa dilihat secara lebih nyata dan kongkrit. Strategi pemantapan kredibiltas penelitian berikutnya tentang dinamika suatu organisasi dapat ditambahkan dengan melakukan member checking kepada para partisipan untuk meningkatkan akurasi data yang telah dikumpulkan. Perlu dilakukan penelitian berikutnya mengenai validitas dan reliabilitas alat ukur organisasi autentik, faktor-faktor yang mempengaruhi organisasi autentik, dampak organisasi autentik terhadap kinerja organisasi, model organisasi autentik, serta intervensi untuk meningkatkan organisasi autentik.