Penulis :

Narayana Mahendra Prastya (Dosen Prodi Ilmu Komunikasi FPSB UII)

Internet telah menjadi bagian dari aktivitas komunikasi kita sehari-hari. Data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2017 menunjukkan bahwa pengguna internet di Indonesia adalah 143,2 juta jiwa (atau sebesar 54,68% dari total penduduk Indonesia). Ada pun tiga besar layanan yang paling sering diakses adalah chatting (89,35%), media sosial (87,13%), dan search engine (74,84%).

Namun, internet seakan menjadi pisau bermata dua. Selain memberikan kemudahan dalam berkomunikasi dan berbagi informasi, teknologi ini juga tak jarang menimbulkan masalah bagi penggunanya. Dalam dua tahun terakhir misalkan, tidak sedikit orang yang harus berurusan dengan hukum akibat mengunggah pesan yang berisi ujaran kebencian, fitnah, provokasi, atau berita bohong. Bahkan beberapa di antaranya adalah orang yang memiliki tingkat pendidikan yang tinggi. bahkan hingga bergelar doktor hingga professor (baca:: “Hantam Hoax”, kominfo.go.id, 10 Januari 2017). Hal yang lebih parah lagi adalah saling “serang” di media sosial yang sampai mengakibatkan hilangnya nyawa (baca : “Setop! Politik Medsos Makan Nyawa di Madura”, www.detik.com, 27 November 2018).

Dalam menggunakan media sosial, individu perlu melakukan adaptasi dalam konsumsi informasi. Ini berkaitan dengan sifat internet (dan media sosial) yakni many to many atau komunikasi dari banyak orang ke banyak orang. Konsep many to many ini untuk membedakan aliran informasi antara media massa dengan media internet (McQuail, 2010). Di media massa (seperti surat kabar, radio, atau televisi), sudah jelas perbedaan siapa sumber informasi (yakni stasiun televisi, stasiun radio, atau perusahaan surat kabar tersebut), dan siapa penerima pesan (yakni penonton televisi, pendengar radio, atau pembaca surat kabar).

Sementara dalam arus informasi di media sosial, siapa pun bisa menjadi sumber informasi. Bahkan akun-akun anonim, yang tidak jelas kredibilitas informasinya, atau informasi yang sifatnya masih “katanya”, bisa lebih dipercaya masyarakat.

Mengapa informasi yang tidak jelas sumbernya atau tidak valid konten-nya bisa dipercaya? Puji Rianto (2016) menjelaskan bahwa fenomena ini terjadi karena individu akan memilih untuk mempercayai dan membagikan informasi yang sesuai dengan kebutuhan informasi, orientasi nilai, dan ideologi masing-masing, Internet menyediakan sumber informasi yang sangat beragam. Ini membuat kemudian orang menjadi asal memilih informasi, yang penting sesuai dengan kebutuhannya, tanpa memperhatikan kredibilitas sumber.

Dalam hal ini, kita bisa belajar dari kisah Nabi Musa AS dan Nabi Harun AS ketika harus menghadapi Fir’aun. Hal ini terdapat dalam Al-Quran Surat Thahaa (Q.S.20) ayat 43-44 yang artinya : “Pergilah kamu berdua (Nabi Musa AS dan Nabi Harun AS) kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka, bicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut. Mudah-mudahan ia akan ingat dan takut.”

Dari ayat tersebut, penulis berpendapat ada kalimat kunci yang (mungkin) relevan untuk diterapkan dalam berkomunikasi di era internet, yaitu :  “berbicara dengan lemah lembut saat menghadapi orang yang melamapaui batas “.  Ketika menghadapi orang yang bersikap lalim, zalim, dan mengakui sebagai Tuhan (melampaui batas), Allah memerintahkan utusan-Nya untuk bersikap lemah lembut ; mengapa kita tidak tidak bersikap kalem dan tetap tenang saat menghadapi orang yang (hanya sekadar) berbeda pandangan dengan kita?

Dalam merespon informasi yang ada di internet, kita harus memegang prinsip yang pertama adalah keterbukaan, yakni bersedia untuk menerima kritikan, perubahan, atau masukan; kedua adalah harus bersikap skeptisme, yakni tidak serta merta percaya terhadap informasi yang diterima dan ketiga merespon informasi secara interaktif, yakni menggunakan pengetahuan yang kita miliki untuk merespon sesuatu yang mungkin dirasa tidak tepat (Abrar, 2010).

Yang jelas, dalam merespon informasi yang beredar di internet, harus disadari bahwa kita akan berinteraksi dengan pengguna lain, yang berasal dari latar belakang yang berbeda dengan kita, yang memiliki kepentingan, cara pandang, dan ideologi yang berbeda dan tidak jarang bertentangan dengan kita. Itu sebabnya kita harus tetap tenang, tidak emosional, tidak terburu-buru meyakini informasi itu sebagai hal yang benar atau buru-buru menyalahkan, dalam merespon informasi yang ada di media sosial.

 

Referensi

Qur’an Karim dan Terjemahan Artinya (penerjemah : H. Zaini Dahlan). Yogyakarta: UII Press, 1999

Abrar, A.N. “Relasi Manusia dan Media Baru” dalam Diyah Hayu Rahmitasari (editor) Potret Manajemen Media di Indonesia. Yogyakarta : Total Media dan Komunikasi UII, 2010

McQuail, D. McQuail Mass Communication Theory. London, UK: SAGE, 2010

Rianto, P. “Media Baru, Visi Khalayak Aktif, dan Urgensi Literasi Media”. Jurnal Komunikasi Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia, 01 (02), 2016, hal. 90-96