Posts

Dr. Hamidah Sampaikan Perkembangan Kaunseling Kerjaya di Malaysia

Perkembangan Kaunseling Kerjaya di Malaysia atau Perkembangan Bimbingan Karir di Malaysia. Demikian judul materi  yang disampaikan oleh Dr. Hamidah Sulaiman (Universitas Malaya-Malaysia) pada kegiatan kolokium dosen yang diselenggarakan oleh Program Studi Psikologi (Psi) Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB) Universitas Islam Indonesia (UII), Senin, 18 September 2017 di R. Audiovisual FPSB UII. Read more

Mahasiswa Psikologi UNISS Lakukan KKL di FPSB UII

“Fakultas Psikologi (Psi) Universitas Selamat Sri (UNISS)merupakan fakultas yang baru saja berdiri. Oleh karena itu kami ingin sekali belajar banyak ke Prodi Psikologi (psi) Fakultas Psikologi & Ilmu Sosial Budaya (FPSB) Universitas Islam Indonesia (UII) ini, karena kami juga alumni Psikologi UII”. Demikian ungkap Prapti Leguminosa, S.Psi., M.Psi, Dekan Fakultas Psikologi UNISS-Kendal yang juga alumni Prodi Psikologi FPSB UII saat mendampingi mahasiswanya melakukan Kunjungan Kuliah Lapangan (KKL) ke FPSB UII, Rabu, 10 Mei 2017. Rombongan sendiri diterima hangat oleh Dekan FPSB UII, Dr.rer.nat. Arief Fahmie, S.Psi., MA., Psikolog beserta perwakilan PSC, perwakilan Jafana dan juga tim Marcoms FPSB UII di ruang audiovisual lt.2.

Dalam KKL tersebut, mahasiswa Fak. Psikologi UINISS mendapatkan materi Konseling Qurani yang disampaikan oleh Susu Budiharto, S.Psi., M.Si., Psikolog. Menurut Pak Sus (Sapaan akrab Sus Budiharto) agama memang diturunkan untuk membimbing manusia agar hidup lebih bermakna dan bahagia di dunia dan akhirat. Jadi misi agama memang untuk membuat hidup manusia bahagia. Beliau juga menegaskan bahwasannya konseling Qur’ani merupakan salah satu aplikasi dari konseling Islami. Sedangkan konseling Islami sendiri diartikan sebagai aktifitas  bimbingan untuk mengembangkan akal pikiran, kejiwaan, keimanan, keyakinan agar dapat mengatasi problematika kehidupan dengan baik dan benar secara mandiri dengan berpedoman pada Al Quran dan Al Hadist.

Dalam kuliah tersebut, para mahasiswa diminta langsung praktek konseling Qur’ani. Masing-masing diminta untuk menulis/menceritakan masalah atau peristiwa/pengalaman mengesankan yang dialami beberapa waktu terakhir. Peserta kemudian diajak menghayati (berdiskusi) tentang eksistensi manusia dalam Al Quran, fungsi Al Quran sebagai petunjuk, penyembuh, rahmat, dan juga pembeda antara kebenaran dan kebatilan. Setelah bisa memahami hal itu, peserta diminta mengucapkan ayat Al Quran yang dihafal atau membuka Al Quran secara spontan dengan terlebih dahulu membaca ta’awudz, membaca salah satu atau beberapa ayat dengan terjemahannya. Dari apa yang dihafal/dibaca  tersebut peserta difasilitasi untuk mengetahui makna dari terjemah ayat tersebut dan diberi tanggapan bahwa ayat yang telah dibaca/dihafal adalah media memahami masalah/makna hidupnya.

Mahasiswa pun sangat antusias untuk menyampaikan permasalahan yang dihadapi sekaligus mereka ingin mengetahui jalan keluar / jawaban permasalahan yang dihadapi melalui makna Al Quran.

Usai mengikuti kuliah lapangan, mahasiswa mendapat kesempatan berkunjung ke Laboratorium Psikologi dan juga berdiskusi dengan komunitas Psychology Study Club (PSC).

NCIP 2017 Kaji Psikologi Akhlak Mulia

The 3rd National Conference on Islamic Psychology (NCIP) 2017 yang diselenggarakan oleh Prodi Psikologi (Psi) Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB) Universitas Islam Indonesia (UII) di Shantika Premier Hotel Yogyakarta pada tgl 16-17 Mei 2017 mengangkat Psikologi Akhlak Mulia sebagai tema besar. Menurut panitia penyelenggara, tema tersebut diangkat dengan semangat untuk mengembangkan kajian-kajian mengenai karakter unggul yang bersumber dari ajaran Islam dalam rangka menciptakan pribadi yang rahmatan lil ‘alamin, pribadi yang membawa kebermanfaatan bagi diri sendiri, masyarakat dan seluruh dunia.

Kegiatan yang diharapkan mampu mempertemukan para pakar, praktisi, akademisi, peminat dan pengamat Psikologi Islam maupun masyarakat umum dalam suatu forum yang bertujuan untuk mengembangkan jejaring dan kajian Psikologi berbasis Islam ini dibuka secara langsung oleh Wakil Rektor III Universitas Islam Indonesia, Dr-Ing. Ir. IlyaFadjarMaharika, MA, IAI.

Tampil sebagai pemateri adalah Prof. Dr. Malik Badri (IIIT sekaligus penemu psikologi Islam Modern), Dr.phil. Qurrotul Uyun, Psikolog (Dosen FPSB, Peneliti dan Praktisi Psikologi Islam), Dr. Ahmad Suharto (Pengasuh Ponpes Putri Gontor), dan Dr. Bagus Riyono, M.A (Dosen UGM, Peneliti dan Praktisi Psikolog Islam). Sedangkan Dr.Phil. Emi Zulaifah, M.Sc tampil sebagai moderator.

Dr. Malik Badri, MA sebagai pemateri pertama memberikan apresiasi tinggi atas diselenggarakannya NCIP 2017 tersebut. Dalam paparannya beliau menceritakan perkembangan keilmuan psikologi usai beliau melakukan kritikan pada tahun 1950 terhadap psikologi barat. Banyak ilmuan muslim yang saat itu marah dan tetap mempertahankan Freud. Dan beliau tidak menyangka bahwa apa yang beliau sampaikan telah berhasil membuat para ilmuan muslim gencar (baca: mencintai) mengkaji psikologi Islam. Saat ini pun para psikolog barat merasa ada sesuatu yang kurang dengan pendekatan psikologi yang mereka dilakukan. Mereka mencoba mencari pelengkap berupa psikologi spiritual ke arah Timur yang kemudian banyak dipengaruhi oleh agama Budha. Hal ini yang membuat Dr. Malik Badri cukup prihatin.

Beliau juga menegaskan bahwa akhlak mulia sudah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW.  Bahkan meski banyak mukjizat yang sudah Allah SWT tunjukan melalui rasulnya, karakter Nabi Muhammad SAW tetap menjadi mukjizat yang paling bagus yang ditunjukan Allah SWT pada manusia. Beliau juga menambahkan peran penting seorang ibu dalam memberikan sentuhan karakter pada anaknya.

Paparan kedua yang disampaikan oleh Dr. Bagus Riyono, M.A. banyak mengupas tentang konsep lapisan-lapisan jiwa. Pak Bagus mengawali dengan melihat pola pengutusan seorang rasul yang biasanya untuk memperbaiki kondisi sebuah peradaban (baca: peradaban yang hancur). “Ibnu Khaldun mengatakan bahwa ketika suatu bangsa terjebak dalam materialisme maka dipastikan akan jatuh. Ini kemudian akan diambil oleh kelompok lain yang dilandasi spiritual. Nabi diutus saat peradaban hancur, hingga peradaban tersebut bisa bangkit kembali. Begitu seterusnya dan ini sudah dimulai sejak Nabi Adam as. Hanya saja, Nabi Muhammad SAW itu diutus sebagai nabi terakhir. Sekarang sudah masuk jaman materialistik. Maka kita harus khawatir karena ini merupakan tanda-tanda kehancuran dunia”, ungkapnya.

Pak bagus juga menambahkan bahwa untuk bisa mengembangkan akhlak mulia diperlukan pengembangan 4 lapisan penting dari diri seseorang, seperti sensiing, reasoning, empathy, dan juga spiritual. Pada anak2 pun perlu dilatih faham empati, spirtual dan nilai-nilai kebaikan lainnya. Kekuatan spiritual itu yang paling luar biasa.

Sedangkan materi ketiga yang disampaikan Dr. Ahmad Suharto banyak mengupas manajemen pembentukan karakter atau akhlak mulia di pondok Pesantren Putri Gontor. “Kami tidak punya banyak teori. Tapi kami berusaha melakukan hal-hal yang baik”, ungkapnya. Beliau juga menegaskan bahwa pola pendidikan pesantren sudah dilakukan oleh para pejuang muslim sejak jaman dulu bahkan jauh sebelum kemerdekaan. Para pejuang juga ingin menjadikannya model pendidikan nasional.

“Metode terbaik adalah keteladanan. Santri itu 24 jam di kampusbersama ustadzah-ustadzahnya, sehingga mereka melihat keteladanan yang ada. Keteladagan lebih baik daripada ngomong seribu kali. Pembentukan akhlak/mentalitas tidak cukup dengan ngomong/teori, tapi juga harus dengan keteladanan”, tegasnya.

Sementara paparan terakhir disampaikan oleh Dr.phil. Qurrotul Uyun, S.Psi., M.Si., Psikolog melalui presentasinya yang berjudul Pengembangan Intervensi Psikologis Berbasis Psikologi Akhlak Mulia. Menurutnya sosok yang akrab disapa bu Uyun ini, sebenarnya ciri-ciri akhlak mulia yang sudah tersirat dalam Al Quran surat Al Mu’minun ayat 1-10, dimana seorang yang berakhlak mulia akan memiliki ciri-ciri seperti khusuk dalam sholat, menjauhkan diri dari perkataan yang tidak berguna, mau menunaikan zakat, senaniasa menjaga kemaluannya, memelihara amanah dan janjinya serta senantiasa memelihara shalatnya (tepat waktu, tidak melakukan hal-hal yang keji dan munkar, berjamaah, dll).

“Akhlak mulia itu bukan sekedar perbuatan yang dapat dilihat. Ini menyangkut hubungan mnusia pada Allah yang menjadi akar pendidikan akhlak mulia. Semua ibadah/pendidikan itu bertujuan untuk membersihkan hati (tazkiyatun nafs), sehingga akan lebih dekat/taat pada Allah SWT”, ungkapnya.

Usai penyelenggaraan konferensi, panitia NCIP juga menyelenggarakan workshop dengan menghadirkan pemateri Dr. Shukran untuk mengupas tentang Akhlak Mulia dalam Psikologi Industri dan Organisasi, Dr. Ahmad Rusydi & Irwan Nuryana Kurniawan, M.Si tentang Pengembangan Konstruk dan Alat Ukur Psikologi Akhlak Mulia, Drs. Adriano Rusfi, Psikolog yang membahas Pendidikan Berbasis Psikologi Akhlak Mulia, dan Sus Budiharto, M.Si., Psikolog yang menyampaikan tentang konseling Qurani.