ja_mageia

Selamat Datang di Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia
Indigenous Psychology, Apa dan Bagaimana? PDF Print E-mail
Written by Nur Haris Ali (Psikologi angkatan 2008)   
Monday, 18 April 2011 13:41

Image
Nur Haris Ali, Mahasiwa Prodi Psikologi Angkatan 2008
Prolog

Indigenous psychology adalah tema pada diskusi Psyche Apprentice Selasa (8/3) pekan ini. Istilah ini baru saya dengar ketika saya mengikuti National Psychology Debate Competition 2010 “Sense around you: Indigenizing Psychology” yang diselenggarakan Fakultas Psikologi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. “Indigenous psychology, apa ya?” demikian kira-kira celetuk hati saya ketika kali pertema mendengar isitilah itu.

Baiklah, dengan pengetahuan saya yang sangat terbatas, saya akan mencoba untuk mencari dan memahami apa itu indigenous psychology dari berbagai sumber. Tulisan saya berikut ini adalah hasil rangkuman dan pemahaman saya dari tulisan-tulisan di media online yang sudah saya baca. Tentu bagi Anda yang mau meng(k)oreksi tulisan dan hasil pemahaman saya ini, baik untuk masukan ataupun kritikan, akan saya apresiasi setinggi-tingginya.

Indigenous psychology, sepemahaman saya—mohon dikoreksi jika salah—sangat berkaitan erat dengan pengaplikasian teori psikologi “barat” ke dalam psikologi “timur.” Jika kita berbicara indigenous psychology, maka berarti kita juga akan berbicara mengenai perkembagan ilmu psikologi itu sendiri, kemudian mengarah kepada budaya orang setempat, dan terakhir penelitian psikologi. Tiga kata terakhir ini, menurut saya, selalu muncul ketika ada diskusi-diskusi yang membahas tentang indigenous psychology, termasuk diskusi kita pekan ini.

Sejarah

Psikologi dewasa ini mulai menguak dan mencari prinsip-prinsip universalitas, seperti munculnya Psikologi Positif, Psikologi Islami, dan psikologi-psikologi yang lain. Di satu sisi psikologi barat memang dibutuhkan, namun di lain pihak karakteristik kultural budaya setempat juga mulai mendapatkan perhatian. Artinya, untuk memahami perilaku manusia di belahan bumi lain harus digunakan basis kultur dimana manusia itu hidup. Selain itu, diperlukan juga adanya integrasi antara perspektif Barat dan Timur untuk mencari kesamaan-kesamaan dan atau menjawab permasalahan yang tengah dihadapi masyarakat setempat.

Kuang-Kuo Hwang (2004) dalam artikelnya berjudul “The epistemological goal of indigenous psychology: The perspective of constructive realism,” psikologi indigenus muncul kali pertama pada tahun 1970an di kawasan Asia. Pada waktu itu, banyak psikolog di negara non-barat yang mengadopsi konsep-konsep dan metodologi penelitian yang berkembang di barat untuk diaplikasikan di tempat asal mereka.

Namun, setelah diterapkan di tempat asal, ditemukan adanya ketidakrelevanan antara konsep barat dengan bahasan psikologi masyarakat setempat waktu itu. Konsep dan metodologi penelitian dari barat juga tidak mampu memecahkan permasalahan yang tengah dihadapi oleh masyarakat setempat dalam kehidupan sehari-harinya. Sehingga, dari situlah muncul indigenous psychology sebagai jawaban atas keprihatinan para psikologi non-barat. Bahasa mudahnya saya, indigenous psychology muncul—mungkin—sebagai  ketidakpuasan atas konsep psikologi “barat” dalam menjawab permasalahan psikologi masyarakat “timur”.

Definisi, Perkembangan dan Aplikasi

Kim and Berry (1993) mendefinisikan indigenous psychology sebagai “the scientific study of human behavior or mind that is native, that is not transported from other regions, and that is designed for its people.”

Kim, Yang and Hwang (2006) mengidentifikasi sepuluh karakterisktik dari indigenous psychology, yaitu:

  1. It emphasizes examining psychological phenomena in ecological, historical and cultural context.
  2. Indigenous psychology needs to be developed for all cultural, native and ethnic groups.
  3. It advocates use of multiple methods.
  4. It advocates the integration of "insiders”, "outsiders” and multiple perspectives to obtain comprehensive and integrated understanding.
  5. It acknowledges that people have a complex and sophisticated understanding of themselves and it is necessary to translate their practical and episodic understanding into analytical knowledge.
  6. It is part of a scientific tradition that advocates multiple perspectives, but not multiple psychologies or absolute relativism.
  7. Although descriptive analysis is the starting point of research, its final goal is to discover psychological universals that can be theoretically and empirically verified
  8. It is a part of cultural science tradition in which human agency, meaning and context are incorporated into the research design
  9. It advocates a linkage of humanities (which focus on human experience and creativity) with social sciences (which focus empirical analysis and verification).
  10. Two starting points of research in indigenous psychology can be identified: indigenization from without and indigenization from within

Indigenous psychology dapat juga didefinisikan sebagai pandangan psikologi yang asli pribumi dan memiliki pemahaman mendasar pada fakta-fakta atau keterangan yang dihubungkan dengan konteks kebudayaan setempat. Definisi ini, menurut Prof. Kusdwiratri Setiono, ada empat hal yang perlu diperhatikan, yaitu:

Pertama, pengetahuan psikologi tidak dipaksakan dari luar, melainkan dimunculkan dari tradisi budaya setempat; kedua psikologi yang sesungguhnya bukan berupa tingkah laku artifisial (buatan) yang diciptakan (hasil studi eksperimental), melainkan berupa tingkah laku keseharian; ketiga, tingkah laku dipahami dan diinterpretasi tidak dalam kerangka teori yang diimport, melainkan dalam kerangka pemahaman budaya setempat; keempat, psikologi indegenus mencakup pengetahuan psikologi yang relevan dan didesain untuk orang-orang setempat. Dengan kata lain, psikologi indigenus mencerminkan realitas sosial dari masyarakat setempat. Psikologi indigenus menurut Prof. Kusdwiratri Setiono, juga merupakan psikologi yang appropriate (cocok; tepat; pantas) untuk setiap budaya yang ada di negara manapun.

Prof. Sarlito Sarwono, guru besar Psikologi UI, juga menjelaskan bahwa keberadaan Psikologi di Indonesia saat ini memang sedang menghadapi beberapa permasalahan, antara lain apa yang sudah berhasil diterapkan di Barat tidak selalu dapat diterapkan di Indonesia. Hal ini bisa terjadi karena adanya perbedaan etnik dan kondisi masyarakat Negara kita, misalnya masyarakat desa dan kota. Sehingga, apa yang sudah berhasil diterapkan di satu etnik belum tentu sesuai untuk etnik lain.

Pada kenyataanya memang demikian. Selama ini, ilmu psikologi yang telah kita pelajari, masih difahami sebagai western psychology dengan mengasumsikan perilaku dan tingkahlaku manusia sebagai sesuatu yang universal. Padahal menurut Uichol Kim, seorang psikolog asal Korea, teori psikologi barat hanya memadai untuk memahami fenomena kejiwaan masyarakat barat saja sesuai dengan kultur sekuler dimana ilmu itu lahir.

Adanya indigenous psychology sebagai understanding people in context merupakan suatu terobosan baru dalam dunia psikologi karena mampu memahami manusia berdasarkan konteks kultural/budaya setempat. Hal ini juga sebagai bukti bahwa setiap perilaku manusia itu akan selalu dan pasti dipengaruhi oleh sistem nilai masyarakat setempat.

“Apakah indigenous psychology diperlukan?”

Sangat. Karena hal ini terkait “masalah” yang ditimbulkan oleh teori western psychology yang, selama ini kita gunakan.

Jika ditelusuri lebih mendalam, teori western psychology merupakan suatu teori yang disusun berdasarkan sampel orang-orang—bahkan beberapa sampel justru bukan manusia—barat dengan budaya orang barat. Teori tersebut kemudian digeneralisasikan untuk bisa diaplikasikan hampir di semua orang di dunia ini, termasuk di Indonesia. Padahal belum tentu teori tersebut sesuai dengan budaya semua negara. Maka, dengan adanya perbedaan yang terdapat di dalam budaya di tiap-tiap daerah ini, sangat menitikberatkan akan pentingnya indigenous psychology.

Beberapa tulisan yang pernah saya baca, indigenous psychology selalu saja dikaitkan dengan penelitian dan proses indigenisasi budaya. Proses untuk meng-indegenous psychology-kan suatu budaya itulah yang disebut dengan indigenisasi. Sehingga, tak jarang kita akan menemukan adanya istilah indigenisasi di beberapa penelitian tentang budaya.

Pun demikian, menurut Prof. Kusdwiratri Setiono, ada kedekatan antara pendekatan ingenus dengan pendekatan psikologi lintas budaya. Kedua pendekatan ini berbeda, namun sama-sama perlu digunakan secara bersamaan. Pendekatan psikologi indigenus mencakup indigenization from within dan pendekatan psikologi lintas budaya mencakup indigenization from without. Pendekatan indigenization from without membicararakan isu, konsep dan metode yang dikembangkan oleh komunitas ilmiah di barat—kebanyakan Amerika Serikat dan Eropa Barat—dan yang dipelajari di timur—kebanyakan negara dunia ketiga. Adapun indigenization from within mencakup studi tentang isu dan konsep yang mencerminkan kebutuhan dan realitas dari budaya tertentu—dalam hal ini, tentu akan banyak upaya untuk memodifikasi instrumen guna memasukkan perspektif indigenus/setempat.

Kim & Berry (1993) memberi contoh mudah untuk proses indigenisasi ini. Isu buta-huruf, kemiskinan, pembangunan nasional, dan psikologi desa, kata Kim & Berry, adalah isu yang tepat untuk India, tetapi belum tentu tepat untuk negara Industri (baca: negara maju). 

Contoh lain. Masih ingat waktu Amrozi yang justru tersenyum ketika dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan? Untuk memahami makna senyum dan aksi orang seperti Amrozi ketika dijatuhi hukuman mati, dibutuhkan proses indigenisasi juga.

Memahami senyum Amrozi, menurut Prof. Dr. Achmad Mubarok, tidaklah cukup hanya dengan membandingkan senyuman orang barat karena senyumannya itu bukan hanya berdimensi horizontal, tetapi juga berdimensi vertikal. Ia harus dicari akarnya pada budaya orang Jawa Timur, budaya santri, budaya pekerja wiraswasta dan budaya pejuang bersenjata (mujahid). Apalagi, Amrozi dan teman-temannya (Imam Samudera CS.) pernah terlibat dalam perang (fisik dan mental) melawan penjajah Uni Soviet di Afghanistan.

Indigenous psychology dianggap penting sejak munculnya teori-teori psikologi yang ingin bisa diberlakukan secara universal, tidak hanya di Eropa dan Amerika Utara saja. Tujuan ataupun goal dari indigenous psychology ini adalah untuk membuat science lebih teliti, sistematis dan universal yang secara teori maupun empirik bisa dibuktikan dimana pun berada.

Epilog

Kultur yang ada di masyarakat setempat seperti sejarah, geografik, politik, bahasa, filsafat dan juga keyakinan (agama) sangat memiliki pengaruh signifikan dalam perkembangan psikologis seseorang. Kultur yang dalam hal ini juga bersifat genetik, mampu membentuk diri kita untuk berperilaku sedemikian rupa baik dalam keadaan normal atau dalam menghadapi satu keadaan tertentu.

Indigenous pscyhology muncul kali pertama pada tahun 1970an sebagai pandangan psikologi asli pribumi dan memiliki pemahaman mendasar pada fakta-fakta atau keterangan yang dihubungkan dengan konteks kebudayaan setempat.

Dalam penerapan sebuah teori, dibutuhkan adanya kesesuaian konsep yang hendak dijadikan acuan secara universal sehingga mampu menjawab permasalahan yang tengah dihadapi masyarakat setempat. Sehingga, adanya indigenous Psychology ini bukanlah untuk mematahkan teori psikologi barat melainkan ingin melengkapi tujuan utama psikologi yaitu menjadi science yang bisa berlaku secara universal.

Demikian dan jayalah terus Psikologi Indonesia!

 


Judul ini pernah disampaikan pada DISKUSI RUTIN SELASA SORE “Psyche Apprentice” di Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya UII Yogyakarta, 8 Maret 2010

Nur Haris Ali adalah Mahasiswa Prodi Psikologi FPSB UII angkatan 2008. Prestasi: Juara II Mahasiswa Berprestasi  tingkat Universitas Islm Indonesia.